Liburan Berbekal Koper Kabin

 

Cerita soal liburan keluarga kami ke Jepang 7-12 Juni 2014 sudah ditulis oleh anak saya, Darrel.   Liburan ini sudah direncanakan jauh hari, sebagai bagian dari hadiah ultah untuk Darrel yang menyukai Jepang via komik dan animasi kartunnya.  Catatan Liburan Darrel bisa diikuti di Facebook saya, Uni Lubis.

Yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagaimana kami bertiga liburan sepekan ke Jepang dengan hanya bermodalkan koper kabin.

Travelling Light, alias cuma berbekal koper kabin sudah sering saya lakukan.  Pernah, di tahun 2007, saat jalan tol bandara Soetta terendam air di KM 27, dan menimbulkan kemacetan luar biasa, saya harus ke Norwegia, selama 5 hari.  Suhu di sana minus 6 derajat celcius karena sudah jelang Natal, salju tebal menutup jalan-jalan di Lillehammer, kota di Norwegia yang tahun 1994 pernah menjadi tuan rumah olimpiade musim dingin.  Untung saya hanya membawa koper kabin yang isinya 3 stel baju kerja termasuk celana panjang, 3 baju atasan, baju dalam dan legging pelapis untuk pelapis dingin, kaus kaki tebal, sarung tangan dan topi hangat.  Plus, sebuah overcoat yang cukup tebal yang saya tenteng.

Ketika jalan ke bandara demikian macet, sudah menempuh lima jam mobil, sementara waktu take-off tinggal 1 jam lag,i padahal jarak dari lokasi saya ke bandara masih sembilan km dan tak bergerak, saya putuskan ganti naik ojek.  Koper kabin dipangku di paha kanan.  Alhamdulillah sampai  10 menit sebelum check-in closed.  Bu Dubes Indonesia untuk Norwegia, Retno LP Marsudi yang menjemput di bandara Norwegia kaget melihat saya datang tanpa koper bagasi. “Cuma bawa ini, Mbak?”, tanya beliau.

Setelah itu, bepergian ke luar negeri hanya berbekal koper kabin buat saya menjadi hal biasa.  Sudah paham triknya.  Bahkan di saat musim dingin.  Bukan berarti saya tidak pernah bepergian ke LN membawa koper besar, bahkan pernah juga niat membeli koper tambahan hehehe.  Perjalanan pertama saya ke Norwegia di tahun 2005, misalnya, saya membawa koper besar dan pulangnya penuh dengan oleh-oleh khas Norwegia.  Biasanya perjalanan berikut ke negara yang sama saya sudah tidak bernafsu untuk belanja-belanja, kecuali kalau ada teman yang menitip cinderamata spesifik, misalnya magnet kulkas, tumbler, dan semacamnya.  Saya tidak pernah berjanji sih, tapi biasanya saya upayakan ;-).  So, bagi saya yang sudah beberapa kali ke Jepang, kali ini belanja bukan tujuan utama.

Biasanya, karena membawa anak, barang bawaan cukup banyak, sehingga harus menggunakan koper besar di bagasi.  Ini terjadi ketika kami liburan ke AS, Australia, Dubai, Paris dan beberapa tempat lain.  Kali ini, karena Darrel sudah cukup besar, memasuki usia 11 tahun, kami sekaligus ingin mengajarkan untuk lebih bisa mengurus diri sendiri.  Selama liburan, Darrel bertanggungjawab untuk membawa sendiri koper kabin beroda yang isinya baju dan keperluan selama sepekan.  Darrel juga membawa ransel yang isinya: iPad dan charger, jas hujan, payung, snacks termasuk keripik Ma’icih kegemarannya, tisu kering, tisu basah, handuk kecil, botol tempat minuman dan roti yang cukup mengenyangkan untuk sekali makan.  Oh, iya, masih ada 2 komik Naruto untuk bahan bacaaan di perjalanan panjang di pesawat menuju ke Jepang.

Cuaca di Jepang saat kami berkunjung dua pekan lalu cukup hangat, sekitar 17-27 derajat celcius.  Jadi masing-masing kami membawa kaus dan blus/kemeja tipis saja.  Saya menggulung baju-baju dan menatanya di dalam koper.  Ini menghemat tempat dan baju tetap rapi, tidak kusut. Masing-masing kami (saya, Darrel dan Mas Iwan ayah D), membawa empat buah kaus dan dua blus/hem, plus baju dalam untuk perjalanan 6 hari termasuk di perjalanan Jakarta-Tokyo pp.  Celana panjang 3 buah termasuk yang dipakai saat perjalanan. Masing-masing juga membawa selembar sarung dan celana tidur.  Sarung bisa digunakan untuk shalat juga.  Kami sudah perkirakan akan membeli beberapa kaus lagi di Jepang.  Misalnya, kaus kostum resmi tim nasional sepakbola Jepang di Piala Dunia 2014.  Kami koleksi kostum timnas berbagai negara.  Lalu, karena berkunjung ke Universal Studio, pastilah beli kaus untuk kenang-kenangan.  Ini menambah koleksi baju untuk digunakan selama perjalanan.

Baju digulung agar hemat tempat

Baju digulung agar hemat tempat

Menurut ramalan cuaca di Jepang sering turun hujan, masing-masing kami membawa payung lipat dan jaket hujan.   Nah, jas hujan ini bermanfaat saat kami harus menunaikan shalat di pojokan mal atau gedung…kami menggelar jas hujan untuk alas shalat.  di atasnya dilapisi sajadah.  Lumayan.  Masing-masing membawa syal dan topi, serta jaket yang ringan, cukup untuk menghangatkan badan saat di perjalanan atau jika jalan-jalan di malam hari.  Saya menyisipkan 3 syal beragam warna untuk mempercantik penampilan.  Maklum, liburan artinya banyak foto-foto kaaaaannnn ;-).  Jangan lupa: TONGSIS!! alias tongkat narsis untuk #selfie foto bertiga…incase nggak ada yang bisa dimintai tolong.

mie instan dan kotak plastik serba guna

mie instan dan kotak plastik serba guna

Kaus kaki, selain yang dipakai dalam perjalanan, saya menyisipkan masing-masing 1 pasang kaus kaki ganti.  Saya juga membawa satu stel sepatu keds lho, untuk variasi, karena selama di Jepang praktis tiap hari kami jalan kaki sekitar 5-7 km, naik-turun kendaraan umum terutama subway, alias kereta bawah tanah. Jadi, meskipun cuma bawa 1 koper kabin, saya bisa menyusupkan sepasang sepatu OR seperti gambar di atas ini.  Eh, masih bisa lho di atas semua susunan baju dan bawaan, saya membawa sebuah tas travel cangklong, bisa dihamparkan pipih di bagian paling atas, yang saat pulangnya bisa memuat beberapa tumbler, kue-kue Jepang, dan Kit-Kat Green Tea yang tersohor dan cuma ada di sana :-)

Meskipun kami bertiga biasa makan makanan ala Barat, maupun Jepang, saya punya kebiasaan selalu membawa mie instan setiap kali bepergian ke LN.  Rasanya beda, dan yang pasti insyaallah halal!!  Lengkap dengan saus sambal dalam kemasan.  Soalnya, kami sekeluarga hobi makan pedas.  Apalagi Darrel, makan keripik Maicih saja kudu level 10!!!, ampun dijey;-).   Kami juga membawa  6 bungkus mie instan, 10 sachet Milo dan 10 sachet Teh Tarik, plus kopi Kapal Api (bukan buzzer lhoooooo)…kalau teh sih mumpung di Jepang, konsumsi teh lokal yang sangat syedap.  Kalau ke negara lain saya juga bekal teh celup sih #teuteup.  Kali ini juga membawa Abon Cabe dan keripik kentang.  Saat bosen makanan boks ala Jepang, sarapan Nasi Onogiri ditaburi abon cabe sudah lezat dan cukup banget.  Di sana, mudah mencari keperluan sehari-hari, karena hampir di setiap pojokan ada Family Mart yang isinya mirip-mirip toko 7Eleven lah..saya juga mengkonsumsi banyak buah dan air putih selama perjalanan.

Membawa kotak plastik tahan panas serba guna juga jadi kebiasaan.  Gunakanya?  Untuk mengaduk mie instan setelah diguyur air panas.  Hotel-hotel di Jepang rata-rata menyediakan ketel air listrik, sehingga kita bisa memasak air.  Saat di Tokyo, kami menyewa Apartemen Akasaka yang menyediakan semua kebutuhan mulai dari pemasak air, microwave, wifi portabel, handuk, peralatan mandi sampai mesin cuci!!

wajib dibawa agar tetap selera "Indonesia"

wajib dibawa agar tetap selera “Indonesia”

Semua makanan dan keperluan bersama saya bagi-bagi di tiga koper kabin.  Kali ini saya tidak membawa laptop.  Niatnya beneran liburan.  D sudah membawa iPad, ayahnya membawa laptop. Jangan lupa bawa colokan bercabang tiga, agar begitu sampai di hotel bisa langsung nge-charge gadget-gadget.  Apalagi saya bawa tiga gadget.  Suami bawa dua. Belum lagi dua powerbank untuk cadangan energi gadget tercinta.  Handycam pun perlu diisi terus baterenya agar siap pake #okesip.

Di tiap koper saya juga menyisipkan lengkap fotokopi  dokumen perjalanan, termasuk fotokopi paspor dan tiket.  Tentu saja ada versi softcopy di gadget/laptop.  Namanya jaga-jaga.

Nah, apa lagi ya?  Dompet serbaguna untuk saya isinya:  3 masker penyegar wajah (saya menggunakannya malam hari di pesawat atau di hotel agar wajah tetap segar), sisir, pengikat rambut, jepitan, bedak, dua lipstik, krem pelembab wajah, body lotion, krem tabir surya, lip balm, eau de toilette, paket sikat gigi dan odol, disposable panties, tiga lembar pembalut, masker kertas  Ini paket rutin bagi saya.  Kalau bepergian saat musim dingin, saya tambah hand and body lotion yang lebih cocok untuk udara dingin.  Oh, jangan lupa deodorant roll-on agar bau badan tidak bikin orang menutup hidup hihihi….

Terkecuali yang khusus untuk perempuan, barang-barang di atas dalam ukuran mini juga diselipkan di koper Darrel dan ayahnya.  Saya juga selalu membawa seperangkat alat jahit yang mini itu, juga shower cap.  Biasanya bawa dari pembagian di pesawat dalam perjalanan sebelumnya, apalagi kalau kebetulan dapat jatah kelas bisnis. Biasanya ini kalau diundang menggunakan bujet negara lain hohoho….

Nah, ini modal liburan seminggu

Nah, ini modal liburan seminggu

That simple.  Jangan lupa bawa obat-obatan standar: obat diare, obat masuk angin, salonpas, handyplast.  Mas Iwan selalu membawa obat rheumatic.  Saya selalu membawa antibiotik, karena di LN khusus untuk antibiotik biasanya butuh resep dokter, tidak bisa dibeli bebas.  Males kan…Obat-obatan ini bermanfaat untuk pertolongan pertama, seandainya kita terserang sakitnya tengah malam.  Obat diare wajib dibawa ke mana-mana.  Namanya di negeri orang, makanan belum tentu cucok…jaga-jaga deh.  Obat-obatan lain sekarang ini mudah dibeli di berbagai apotik atau convinience store.

Yup, dengan trik di atas, kami berhasil melakukan perjalanan yang menyenangkan, mengenyangkan :-), sedikit bikin pegel karena banyak jalan seperti tulisan Darrel, tapi tetap meninggalkan kenangan.  Darrel belajar lebih mandiri dan bertanggungjawab selama perjalanan ini.  Nice move D!

Hallo dari depan Tokyo Imperial Palace ;-)

Hallo dari depan Tokyo Imperial Palace ;-)

Next trip, insyaallah, perlu bikin agenda perjalanan yang pake acara menginap di stasiun kereta api or bandara.  Kalau saya sudah beberapa kali.  Darrel belum pernah…so, jangan lupa selalu membawa bantal leher sehingga bisa “pelor”, alias nempel terus molor di mana pun ;-)

PS.  Untuk business trip alias jika bekerja, saya biasanya membuat tema warna.  Misalnya nuansa biru, nuansa ungu…dstnya.  Memudahkah dalam membawa tas dan sepatu.  Bukan berarti semua warna sama, malah jangan ragu bawa 1-2 baju yang warnanya “beda” banget untuk variasi.  Blus/celana putih dan litle back dress sangat membantu.  Tinggal dipakein blazer dan syal, beres deh.  Tentu saja dalam perjalanan ke LN selalu bawa blus batik/tenun ikat khas dari Indonesia.  Promosi dong ah;-)


Tak Mudah Menjadi Sahabat Pers

WP_20140223_001 (1)

 

SEKITAR 42 tahun lalu, tepatnya pada 7 Maret 1972, pemerintah mengangkat dewan komisaris untuk Pertamina. Harian Indonesia Raya mengomentarinya dengan sebuah tajuk rencana singkat. Mochtar Lubis, sang pendiri dan pemimpin redaksi koran itu berharap semoga dengan adanya dewan komisaris itu ketertiban keuangan di Pertamina dapat diwujudkan.

”Meskipun demikian, kita ingin mencatat bahwa dewan komisaris yang diangkat adalah menteri yang punya kesibukan sendiri yang melimpah-limpah. Dan mungkin kurang punya waktu untuk melakukan pengawasan yang diperlukan.”

Di alinea terakhir, Mochtar Lubis menulis: Sebuah perusahaan raksasa seperti Pertamina memerlukan dewan komisaris yang mempunyai waktu penuh, dan dapat melakukan pengawasan terus-menerus.

Kumpulan tajuk harian Indonesia Raya itu bisa Anda temui di buku ”Tajuk-Tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya”, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, 1997. Di toko, buku ini sekarang tak mudah lagi dicari. Alhamdulillah, kami menyimpannya dengan baik.

Harian Indonesia Raya dikenal sebagai media yang, ketika itu, menyoroti terus-menerus sepak terjang Pertamina dan direktur utamanya, Brigadir Jenderal Ibnu Sutowo. Bisa dimengerti, ketika itu Pertamina merupakan perusahaan negara terbesar di Indonesia. Kata orang bijak, semakin tinggi pohon, goyangan angin semakin kencang.

Beberapa kali koran Indonesia Raya menyoroti sepak terjang Pertamina, termasuk Jenderal Ibnu, yang dinilai di luar kepatutan. Pada tajuk bertanggal 25 November 1969, Mochtar Lubis menyoroti pengeluaran-pengeluaran Pertamina, yang anehnya tak diketahui Menteri Keuangan.

”Di samping pengeluaran besar yang besar untuk dana ini dan dana itu, ada pengeluaran Pertamina yang di luar bidang kerjanya. Misalnya hadiah peralatan golf yang mahal-mahal, yang dihadiahkan oleh Jenderal Ibnu untuk orang yang disenanginya atau diperlukannya,” tulis Mochtar.

Sehari kemudian, 26 November 1969, Mochtar Lubis membuat tajuk rencana yang ”lebih seram”. ”Kepala Hubungan Masyarakat telah mencoba membela segala tindakan pimpinan Pertamina menyusun anak-anak perusahaan. Pada dasarnya ia mengakui bahwa semua yang dilaporkan Indonesia Raya benar terjadi. Ia membandingkan dengan perusahaan Italia, ENI. Sebuah perbandingan yang keliru, karena Presiden Direktur ENI tidak pernah membagi-bagikan dana-dana ENI sebagaimana dilakukan pimpinan Pertamina ini.”

Melalui tajuknya, Mochtar Lubis mengajukan beberapa pertanyaan kepada pimpinan Pertamina. Di antaranya:

  1. Maukah dan dapatkah Saudara mengumumkan pemegang saham Tunas Travel Biro, Tunas Travel Ltd, maskapai asuransi, dan lain sebagainya?
  2. Siapakah yang mendapat komisi pembelian pupuk?
  3. Siapa-siapa pemegang saham Far Eastern Oil Company di Tokyo?
  4. Berapa harga seperangkat alat golf yang suka dihadiahkan oleh pimpinan Pertamina, dan siapa yang telah menerima hadiah?

Silakan baca buku  ”Pembangunan Ekonomi Indonesia: Pandangan Seorang Tetangga”, yang ditulis H.W. Arndt, guru besar Australian National University, dan diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press, 1991. Prof Arndt ini punya banyak murid di Indonesia, di antaranya (almarhum) Prof. Dr. Mubyarto, dari Universitas Gadjah Mada.

Di buku itu ada salah satu kutipan yang menerangkan kedahsyatan Pertamina di awal Orde Baru. Kira-kira bunyinya begini: kalau Anda berjalan di Jakarta, lalu mengambil batu, dan melemparkan ke belakang kepala Anda, besar kemungkinan batu itu jatuh di tanah milik Pertamina.

Salah satu alasan untuk menulis berita adalah unsur magnitude, alias besarnya dampak yang ditimbulkan oleh tulisan itu. Dengan memahami besarnya ukuran Pertamina, serta akibat yang terjadi bila si BUMN migas itu goyang, wajar bila Mochtar Lubis banyak menyoroti Pertamina.

****

Muncul pendapat yang menempatkan Mochtar Lubis dengan Ibnu Sutowo dalam posisi berseberangan. Dua tokoh ini –masing-masing adalah tokoh besar di bidangnya– ditempatkan sebagai sosok yang berseberangan. Dalam bahasa sekarang: mereka bukan sahabat.

 

Kata ”sahabat” sengaja saya munculkan untuk mengingatkan Anda pada peristiwa di Bengkulu pada 12 Februari 2014. Hari itu di Marlborough, benteng peninggalan Inggris , Presiden SBY mendapat anugerah Sahabat Pers. Anugerah itu diberikan oleh Ketua Dewan Pers, Prof. Bagir Manan, dan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia, Margiono.

PresidenSBY -sahabat pers

Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, Ketua Umum PWI, Margiono, dan Presiden SBY, saat Hari Pers di Bengkulu.

Sumber foto: http://www.presidenri.go.id.

 

Yang pasti, Presiden SBY adalah sahabat Pak Margiono. Presiden pernah datang waktu ulang tahun Rakyat Merdeka, media yang dipimpinnya, di Hotel Mulia, Jakarta. Kata Margiono ihwal penghargaan ”Sahabat Pers” itu, sahabat lebih memiliki makna yang mendalam dibanding saudara.

“Kalau teman ada banyak teman, seperti teman di meja makan. Tetapi, saat kita dalam keadaan susah, teman tersebut tidak ada. Ini berbeda dengan sahabat,” ujarnya. Selain penghargaan gelar “Sahabat Pers”, Presiden juga diberikan kesempatan memberikan orasi di hadapan masyarakat pers Indonesia.

Salah satu ciri sahabat itu, kalau menurut ajaran agama, adalah mau mengingatkan, sekalipun itu terasa pahit. Bukan ”yes man”. Bukan yang sembarang memuji. Karena masih ada segelintir orang yang jengah terhadap orang lain, apalagi bawahannya, yang berbeda pendapat.

Bila kriteria ”mau mengingatkan” ini yang dipakai, seharusnya Mochtar Lubis bisa dimasukkan ke dalam kelompok ”Sahabat Ibnu Sutowo”. Ia menyoroti jalan menyimpang yang ditempuh Ibnu Sutowo dalam mengendalikan Pertamina.

Sebagaimana kita ketahui, Pertamina di ujung era Ibnu Sutowo terjebak pada hutang luar negeri. Pertamina kesulitan mengembalikan kewajiban yang jatuh tempo, karena masalah likuiditas.

Seandainya Ibnu Sutowo mau mendengarkan kritik dari ”sahabatnya”, yaitu Mochtar Lubis, ihwal transparansi, kejujuran, perlunya memberantas korupsi, Pertamina di akhir masa Ibnu Sutowo pasti akan jauh lebih sehat.

****

Ada sebuah buku mengenai Ibnu Sutowo, yang sedikit menjawab kritik Mochtar Lubis. Buku itu berjudul ”Ibnu Sutowo. Saatnya Saya Bercerita!” Penyusunnya adalah Ramadhan KH, penulis kondang yang wafat pada 16 Maret 2006 akibat kanker prostat, di Cape Town, Afrika Selatan. Penerbitnya adalah National Press Club of Indonesia.

NPCI adalah organisasi yang dibentuk sekumpulan wartawan, dengan moto ”to protect the public”. Organisasi ini, sesuai yang tercantum di buku Ibnu Sutowo, beralamat di Indonesia Bazaar, Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Hotel Sultan, dulu dikenal sebagai Hotel Hilton, dimiliki keluarga Ibnu Sutowo.

Di halaman 250-251, Ibnu Sutowo menyatakan bahwa Indonesia Raya menuduh Pertamina tidak mau tunduk pada peraturan pemerintah, tidak mau diawasi. ”Saya dikatakan bukan manajer yang baik, karena tidak mau mendidik kader.”

”Koran Indonesia Raya juga menulis, katanya Pertamina dikuasai Ibnu Sutowo bersama segelintir orang dalam yang memperkaya diri dan merugikan negara. Dalam berhubungan dengan kontraktor asing, saya dikatakan lebih suka lewat calo-calo. Dicelanya juga pendirian Far East Oil Co. Ltd, yang dikatakan separuh modal Jepang, dan separuh modal Ibnu Sutowo.”

Sayangnya, Ibnu Sutowo tidak menjalin keterbukaan dengan media, ketika itu. Ia menjawab tudingan Mochtar Lubis melalui buku yang diterbitkan pada Desember 2008, jauh setelah koran Indonesia Raya dibredel, setelah Mochtar Lubis wafat, dan kasus yang dituduhkan itu sudah adem.

Di buku itu, Ibnu berkata, ”Saya berkata kepada Kepala Humas Pertamina, Marah Junis, tidak perlu diladeni mereka itu. Kita akan membuat headline sendiri dengan bukti kerja dan sukses-suksdes yang kita buat dalam pembangunan.”

”Saya pikir waktu itu, sebagian besar dari tuduhan yang dilemparkan ke Pertamina berpangkal pada salah pengertian. Mereka salah paham. Mereka tidak mengetahui dengan benar silsilah Pertamina sejak berdirinya, sejak mulai mendirikan Permina.”

***

Christianto Wibisono, wartawan senior yang ikut mendirikan Majalah TEMPO, memberi pengantar di buku Mochtar Lubis. Ia menilai, sikap Mochtar Lubis merupakan cermin wartawan yang tetap setia kepada profesi, walaupun mempunyai sikap bersahabat dan sealiran dalam politik.

Saya mengutipkan di sini sebagian isi pengantar yang ditulis Christianto. Ia mengambil contoh sikap kolumnis Walter Lippmann, yang pernah ditegur Presiden Lyndon Johnson. Walter Lippmann merupakan kolumnis dan reporter legendaris. Ia memenangkan dua hadiah Pulitzer, puncak anugerah jurnalistik Amerika, atas sindikat kolom korannya, ”Today and Tomorrow”, dan atas interviunya dengan Presiden Uni Soviet, Nikita Kruschev, pada 1961.

Walter Lippmann ditegur Presiden Lyndon Johnson atas kritiknya terhadap kebijakan Amerika Serikat tentang Perang Vietnam. ”Anda kan bisa keluar masuk Gedung Putih, breakfast, lunch, atau dinner dengan saya, empat mata. Kenapa Anda mesti menulis di koran, mengecam Perang Vietnam?”

Jawab Lippmann, ”Justru karena profesi saya wartawan, saya tetap harus menulis dan bisa berbeda pendapat dengan Anda. Walaupun kita tetap bisa berteman, tidak perlu bermusuhan.”

Sejak itu, Presiden Johnson mempersona-non-gratakan Lippman dari daftar tamu Gedung Putih. Pendek kata, Lippmann terkena cekal.

Memang tak mudah menjadi sahabat, apalagi sahabat pers.


Mossad (3): Tersungkur di Pelukan Selingkuhan

 

 

 

imam mughniyeh --respect discussion blogspot

Imam Mughniyeh. Foto: respectdiscussion.com

KEJUTAN    itu betul-betul datang dari Berlin, kota yang pernah menjadi ibukota Jerman Timur. Agen Mossad di kota itu, Reuven, bertemu dengan seorang informannya, penduduk asli Berlin. Si informan mendapat kabar bahwa Imam Mughniyeh baru saja mengoperasi plastik wajahnya,

Operasi itu berlangsung di sebuah klinik yang dulu dikelola Stasi, lembaga intelijen Jerman Timur. Ini memang klinik yang terkenal. Tak hanya piawai mengubah permukaan wajah, melainkan bentuk tulang. Di  masa lalu, klinik itu dipakai untuk mempersiapkan agen yang dikirim ke barat.

Melalui negosiasi alot, Reuven bisa mendapatkan file berisi 34 foto terbaru Imam Mughniyeh. Mossad membayar cukup mahal.

Kepala Mossad, Meir Dagan, memerintahkan anak buahnya untuk menganalisa foto yang didapat. Tulang rahang Imam Mughniyeh di bagian bawah dipotong, untuk memberi kesan wajahnya lebih sempit. Beberapa gigi depan dicopot, diganti yang lebih kecil. Bagian mata juga dibuat lebih sempit. Kaca mata diganti dengan contact lens.  Perubahan identitas dikompliti dengan mengganti warna rambut.

Foto profil Imam Mughniyeh yang dimiliki agen Mossad selama ini sama sekali tak berguna lagi.

Mossad pun merencanakan pembunuhan terhadap Imam Mughniyeh. Tak mungkin membunuhnya di negara Barat, karena ia hampir tak pernah berkunjung ke Barat. Wilayah lawatannya hanya negara-negara Timur Tengah yang jadi musuh Israel, terutama Iran dan Suriah.

 

MeirDagan--Jerussalem World News

 

Bekas Kepala Mossad, Meir Dagan. Foto: Jerusalempost.com.

Meir Dagan memerintahkan orang-orang terbaiknya untuk merumuskan aksi pembunuhan Imam Mughniyeh. Dari diskusi di kantor pusat Mossad, diketahui kemungkinan besar si buron akan berkunjung ke Damaskus pada 12 Februari 2008. Hari itu ada perayaan Revolusi Iran. Pejabat intelijen Iran dan Suriah juga hadir.

Setelah dipastikan bahwa Imam Mughniyeh bakal datang, sebuah pertanyaan lain muncul: ia akan datang dengan identitas apa, siapa yang akan menemani, jam berapa ia bertemu pejabat Suriah, kapan? Masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab intel Mossad, sebelum mereka merumuskan aksi.

Beruntung agen Mossad di Damaskus bekerja serius. Mereka mendapatkan informasi mengenai kendaraan apa yang bakal dipakai Imam. Bahkan mereka menanamkan peralatan penjejak ke mobil yang diduga bakal Imam Mughniyeh dan para pemimpin Hezbollah.

Agen pilihan Mossad dari unit operasi Kidon tiba di Damaskus dengan membawa peralatan pembunuh. Mereka membawa bahan peledak, untuk menghancurkan mobil yang bakal dikendarai Imam Mughniyeh.

Para agen Mossad mendapat informasi penting di saat-saat terakhir: Imam Mughniyeh memiliki selingkuhan di Damaskus. Ia selalu mengunjunginya, ketika berkunjung ke Damaskus, sendirian, tanpa membawa pengawal. Imam Mughniyeh bertemu selingkuhannya itu biasanya di sebuah apartemen rahasia, yang disiapkan Nihad Haidar, si perempuan cantik itu.

Untuk menguber Imam, anggota Mossad didatangkan. Satu orang dari Paris, dengan pesawat Air France. Orang kedua datang dari Milan, Italia, dengan pesawat Alitalia. Agen ketiga terbang dari Amman dengan Royal Jordan.  Dua orang menyamar sebagai pedagang mobil, dan agen ketiga mengaku sebagai pengusaha biro perjalanan.

Selepas dari bandara, mereka berputar-putar lebih dahulu, untuk memastikan bahwa situasi aman. Mereka baru berkumpul setelah yakin tak ada yang membuntuti.

Di sebuah garasi tertutup, mereka meramu bom, untuk ditanamkan pada sebuah mobil yang disewa. Bom berdaya ledak tinggi itu ditaruh di peralatan radio.

Sebuah tim Mossad lainnya mengawasi kedatangan Imam Mughniyeh dari Beirut. Apartemen yang diperkirakan bakal jadi tempat bertemu Imam dengan selingkuhannya, dipantau dari dekat. Tim ini membuntuti terus-menerus si target. Mereka juga memastikan bahwa Imam hadir dalam pertemuan di Kfar Soussa –ejaan lain menuliskannya sebagai Kafar Soussah.

Di kawasan elite yang terletak di jantung Damskus itu, Imam Mughniyeh rencananya bertemu Jenderal Muhammad Suleiman, tangan kanan Presiden Bashar al Assad, dan Duta Besar Iran yang baru. Jenderal Muhammad Suleiman adalah kawan dekat Presiden Assad.

Jenderal Mohammad Suleiman

Jenderal Muhammad Suleiman. Foto: penguinsix.com

Suleiman dipercaya Presiden Assad mengurusi proyek nuklir, urusan dengan Iran, dan berbagai proyek pribadinya. Enam bulan kemudian ia tewas, ditembak tepat di jidatnya di peristirahatannya di kawasan pantai. Ketika itu, Suleiman tengah duduk di meja makan menghadap pantai. Di kanan kirinya para tamu penting yang juga kawan dekatnya. Adalah agen Mossad yang menembaknya, dari tengah laut.

****

Si agen mengawasi dengan mata lekat apartemen tempat Imam Mughniyeh akan bersua Niha, si selingkuhan. Siang itu, seperti mereka harapkan, si sasaran menyelinap ke apartemen. Ia bersua kekasihnya hingga sore hari.

Sore itu, si agen melaporkan bahwa Imam Mughniyeh meninggalkan apartemen, menuju lokasi kedua. Seorang agen Mossad yang lain membuntutinya terus-menerus, dan melaporkan pergerakannya ke kantor pusat.

Agen Mossad yang lain sudah memarkir mobil yang diisi bom peledak, ke dekat tempat yang diperkirakan bakal menjadi lokasi Imam Mughniyeh menempatkan mobilnya selama ia bertemu dengan Jenderal Suleiman dan Duta Besar Iran. Si agen bergegas menuju bandara, begitu selesai memarkir mobilnya.

Sensor elektronik terus-menerus mengikuti pergerakan Mitsubishi Pajero yang dikendarai Imam Mughniyeh.

Semua berjalan sesuai rencana. Imam memarkir mobilnya di lokasi yang diperkirakan agen Mossad.

Jam 22.40, Imam Mughniyeh membuka pintu mobilnya. Ia turun, menutup pintu, dan melangkah. Pada saat itulah, sebuah mobil yang penuh bom meledak hebat. Bum… Goncangannya mengoyak keheningan malam Damaskus.

Imam Mughniyeh tewas. Damaskus berduka. Baru beberapa bulan sebelumnya reaktor nuklirnya diluluhlantakkan oleh Israel. Kini, duka lainnya menimpa.

Mossad memang sengaja memburu Imam Mughniyeh di Damaskus. Lembaga telik sandi ini ingin mengirim pesan: tak ada tempat yang aman bagi musuh Israel, sekalipun itu di jantung negara lawan.

***

Pada November 2008, enam bulan setelah tewasnya Imam Mughniyeh, pemerintah Lebanon mengumumkan telah membongkar jaringan intelijen Mossad. Ali Jarrah, 50 tahun, penduduk Lembah Bekaa, telah bekerja sebagai mata-mata Mossad selama 20 tahun. Ia mendapat upah US$ 7.000 sebulan.

Beberapa hari menjelang tewasnya Imam Mughniyeh, Ali Jarrah pergi ke Kafar Sousah, Damaskus. Ia diperlengkapi berbagai peralatan untuk memata-matai sasaran. Di antaranya: peralatan navigasi GPS, kamera, serta antena untuk berkomunikasi dengan agen Mossad.

Ali Jarrah mengakui bahwa apa yang ia lakukan adalah atas perintah Mossad.

Hezbollah berkali-kali menyebut bahwa, ”Mossad ada di balik tewasnya sang martir, Imam Mughniyeh, yang wafat sebagai sahid.”

Tapi Mossad tak mengakui keterlibatannya dalam operasi yang menewaskan Imam Mughniyeh.

Itu memang standar operasi intelijen: tak pernah mengakui atas aksi yang pernah dilakukannya.