Tak Mudah Menjadi Sahabat Pers

WP_20140223_001 (1)

 

SEKITAR 42 tahun lalu, tepatnya pada 7 Maret 1972, pemerintah mengangkat dewan komisaris untuk Pertamina. Harian Indonesia Raya mengomentarinya dengan sebuah tajuk rencana singkat. Mochtar Lubis, sang pendiri dan pemimpin redaksi koran itu berharap semoga dengan adanya dewan komisaris itu ketertiban keuangan di Pertamina dapat diwujudkan.

”Meskipun demikian, kita ingin mencatat bahwa dewan komisaris yang diangkat adalah menteri yang punya kesibukan sendiri yang melimpah-limpah. Dan mungkin kurang punya waktu untuk melakukan pengawasan yang diperlukan.”

Di alinea terakhir, Mochtar Lubis menulis: Sebuah perusahaan raksasa seperti Pertamina memerlukan dewan komisaris yang mempunyai waktu penuh, dan dapat melakukan pengawasan terus-menerus.

Kumpulan tajuk harian Indonesia Raya itu bisa Anda temui di buku ”Tajuk-Tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya”, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, 1997. Di toko, buku ini sekarang tak mudah lagi dicari. Alhamdulillah, kami menyimpannya dengan baik.

Harian Indonesia Raya dikenal sebagai media yang, ketika itu, menyoroti terus-menerus sepak terjang Pertamina dan direktur utamanya, Brigadir Jenderal Ibnu Sutowo. Bisa dimengerti, ketika itu Pertamina merupakan perusahaan negara terbesar di Indonesia. Kata orang bijak, semakin tinggi pohon, goyangan angin semakin kencang.

Beberapa kali koran Indonesia Raya menyoroti sepak terjang Pertamina, termasuk Jenderal Ibnu, yang dinilai di luar kepatutan. Pada tajuk bertanggal 25 November 1969, Mochtar Lubis menyoroti pengeluaran-pengeluaran Pertamina, yang anehnya tak diketahui Menteri Keuangan.

”Di samping pengeluaran besar yang besar untuk dana ini dan dana itu, ada pengeluaran Pertamina yang di luar bidang kerjanya. Misalnya hadiah peralatan golf yang mahal-mahal, yang dihadiahkan oleh Jenderal Ibnu untuk orang yang disenanginya atau diperlukannya,” tulis Mochtar.

Sehari kemudian, 26 November 1969, Mochtar Lubis membuat tajuk rencana yang ”lebih seram”. ”Kepala Hubungan Masyarakat telah mencoba membela segala tindakan pimpinan Pertamina menyusun anak-anak perusahaan. Pada dasarnya ia mengakui bahwa semua yang dilaporkan Indonesia Raya benar terjadi. Ia membandingkan dengan perusahaan Italia, ENI. Sebuah perbandingan yang keliru, karena Presiden Direktur ENI tidak pernah membagi-bagikan dana-dana ENI sebagaimana dilakukan pimpinan Pertamina ini.”

Melalui tajuknya, Mochtar Lubis mengajukan beberapa pertanyaan kepada pimpinan Pertamina. Di antaranya:

  1. Maukah dan dapatkah Saudara mengumumkan pemegang saham Tunas Travel Biro, Tunas Travel Ltd, maskapai asuransi, dan lain sebagainya?
  2. Siapakah yang mendapat komisi pembelian pupuk?
  3. Siapa-siapa pemegang saham Far Eastern Oil Company di Tokyo?
  4. Berapa harga seperangkat alat golf yang suka dihadiahkan oleh pimpinan Pertamina, dan siapa yang telah menerima hadiah?

Silakan baca buku  ”Pembangunan Ekonomi Indonesia: Pandangan Seorang Tetangga”, yang ditulis H.W. Arndt, guru besar Australian National University, dan diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press, 1991. Prof Arndt ini punya banyak murid di Indonesia, di antaranya (almarhum) Prof. Dr. Mubyarto, dari Universitas Gadjah Mada.

Di buku itu ada salah satu kutipan yang menerangkan kedahsyatan Pertamina di awal Orde Baru. Kira-kira bunyinya begini: kalau Anda berjalan di Jakarta, lalu mengambil batu, dan melemparkan ke belakang kepala Anda, besar kemungkinan batu itu jatuh di tanah milik Pertamina.

Salah satu alasan untuk menulis berita adalah unsur magnitude, alias besarnya dampak yang ditimbulkan oleh tulisan itu. Dengan memahami besarnya ukuran Pertamina, serta akibat yang terjadi bila si BUMN migas itu goyang, wajar bila Mochtar Lubis banyak menyoroti Pertamina.

****

Muncul pendapat yang menempatkan Mochtar Lubis dengan Ibnu Sutowo dalam posisi berseberangan. Dua tokoh ini –masing-masing adalah tokoh besar di bidangnya– ditempatkan sebagai sosok yang berseberangan. Dalam bahasa sekarang: mereka bukan sahabat.

 

Kata ”sahabat” sengaja saya munculkan untuk mengingatkan Anda pada peristiwa di Bengkulu pada 12 Februari 2014. Hari itu di Marlborough, benteng peninggalan Inggris , Presiden SBY mendapat anugerah Sahabat Pers. Anugerah itu diberikan oleh Ketua Dewan Pers, Prof. Bagir Manan, dan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia, Margiono.

PresidenSBY -sahabat pers

Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, Ketua Umum PWI, Margiono, dan Presiden SBY, saat Hari Pers di Bengkulu.

Sumber foto: http://www.presidenri.go.id.

 

Yang pasti, Presiden SBY adalah sahabat Pak Margiono. Presiden pernah datang waktu ulang tahun Rakyat Merdeka, media yang dipimpinnya, di Hotel Mulia, Jakarta. Kata Margiono ihwal penghargaan ”Sahabat Pers” itu, sahabat lebih memiliki makna yang mendalam dibanding saudara.

“Kalau teman ada banyak teman, seperti teman di meja makan. Tetapi, saat kita dalam keadaan susah, teman tersebut tidak ada. Ini berbeda dengan sahabat,” ujarnya. Selain penghargaan gelar “Sahabat Pers”, Presiden juga diberikan kesempatan memberikan orasi di hadapan masyarakat pers Indonesia.

Salah satu ciri sahabat itu, kalau menurut ajaran agama, adalah mau mengingatkan, sekalipun itu terasa pahit. Bukan ”yes man”. Bukan yang sembarang memuji. Karena masih ada segelintir orang yang jengah terhadap orang lain, apalagi bawahannya, yang berbeda pendapat.

Bila kriteria ”mau mengingatkan” ini yang dipakai, seharusnya Mochtar Lubis bisa dimasukkan ke dalam kelompok ”Sahabat Ibnu Sutowo”. Ia menyoroti jalan menyimpang yang ditempuh Ibnu Sutowo dalam mengendalikan Pertamina.

Sebagaimana kita ketahui, Pertamina di ujung era Ibnu Sutowo terjebak pada hutang luar negeri. Pertamina kesulitan mengembalikan kewajiban yang jatuh tempo, karena masalah likuiditas.

Seandainya Ibnu Sutowo mau mendengarkan kritik dari ”sahabatnya”, yaitu Mochtar Lubis, ihwal transparansi, kejujuran, perlunya memberantas korupsi, Pertamina di akhir masa Ibnu Sutowo pasti akan jauh lebih sehat.

****

Ada sebuah buku mengenai Ibnu Sutowo, yang sedikit menjawab kritik Mochtar Lubis. Buku itu berjudul ”Ibnu Sutowo. Saatnya Saya Bercerita!” Penyusunnya adalah Ramadhan KH, penulis kondang yang wafat pada 16 Maret 2006 akibat kanker prostat, di Cape Town, Afrika Selatan. Penerbitnya adalah National Press Club of Indonesia.

NPCI adalah organisasi yang dibentuk sekumpulan wartawan, dengan moto ”to protect the public”. Organisasi ini, sesuai yang tercantum di buku Ibnu Sutowo, beralamat di Indonesia Bazaar, Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Hotel Sultan, dulu dikenal sebagai Hotel Hilton, dimiliki keluarga Ibnu Sutowo.

Di halaman 250-251, Ibnu Sutowo menyatakan bahwa Indonesia Raya menuduh Pertamina tidak mau tunduk pada peraturan pemerintah, tidak mau diawasi. ”Saya dikatakan bukan manajer yang baik, karena tidak mau mendidik kader.”

”Koran Indonesia Raya juga menulis, katanya Pertamina dikuasai Ibnu Sutowo bersama segelintir orang dalam yang memperkaya diri dan merugikan negara. Dalam berhubungan dengan kontraktor asing, saya dikatakan lebih suka lewat calo-calo. Dicelanya juga pendirian Far East Oil Co. Ltd, yang dikatakan separuh modal Jepang, dan separuh modal Ibnu Sutowo.”

Sayangnya, Ibnu Sutowo tidak menjalin keterbukaan dengan media, ketika itu. Ia menjawab tudingan Mochtar Lubis melalui buku yang diterbitkan pada Desember 2008, jauh setelah koran Indonesia Raya dibredel, setelah Mochtar Lubis wafat, dan kasus yang dituduhkan itu sudah adem.

Di buku itu, Ibnu berkata, ”Saya berkata kepada Kepala Humas Pertamina, Marah Junis, tidak perlu diladeni mereka itu. Kita akan membuat headline sendiri dengan bukti kerja dan sukses-suksdes yang kita buat dalam pembangunan.”

”Saya pikir waktu itu, sebagian besar dari tuduhan yang dilemparkan ke Pertamina berpangkal pada salah pengertian. Mereka salah paham. Mereka tidak mengetahui dengan benar silsilah Pertamina sejak berdirinya, sejak mulai mendirikan Permina.”

***

Christianto Wibisono, wartawan senior yang ikut mendirikan Majalah TEMPO, memberi pengantar di buku Mochtar Lubis. Ia menilai, sikap Mochtar Lubis merupakan cermin wartawan yang tetap setia kepada profesi, walaupun mempunyai sikap bersahabat dan sealiran dalam politik.

Saya mengutipkan di sini sebagian isi pengantar yang ditulis Christianto. Ia mengambil contoh sikap kolumnis Walter Lippmann, yang pernah ditegur Presiden Lyndon Johnson. Walter Lippmann merupakan kolumnis dan reporter legendaris. Ia memenangkan dua hadiah Pulitzer, puncak anugerah jurnalistik Amerika, atas sindikat kolom korannya, ”Today and Tomorrow”, dan atas interviunya dengan Presiden Uni Soviet, Nikita Kruschev, pada 1961.

Walter Lippmann ditegur Presiden Lyndon Johnson atas kritiknya terhadap kebijakan Amerika Serikat tentang Perang Vietnam. ”Anda kan bisa keluar masuk Gedung Putih, breakfast, lunch, atau dinner dengan saya, empat mata. Kenapa Anda mesti menulis di koran, mengecam Perang Vietnam?”

Jawab Lippmann, ”Justru karena profesi saya wartawan, saya tetap harus menulis dan bisa berbeda pendapat dengan Anda. Walaupun kita tetap bisa berteman, tidak perlu bermusuhan.”

Sejak itu, Presiden Johnson mempersona-non-gratakan Lippman dari daftar tamu Gedung Putih. Pendek kata, Lippmann terkena cekal.

Memang tak mudah menjadi sahabat, apalagi sahabat pers.


Mossad (3): Tersungkur di Pelukan Selingkuhan

 

 

 

imam mughniyeh --respect discussion blogspot

Imam Mughniyeh. Foto: respectdiscussion.com

KEJUTAN    itu betul-betul datang dari Berlin, kota yang pernah menjadi ibukota Jerman Timur. Agen Mossad di kota itu, Reuven, bertemu dengan seorang informannya, penduduk asli Berlin. Si informan mendapat kabar bahwa Imam Mughniyeh baru saja mengoperasi plastik wajahnya,

Operasi itu berlangsung di sebuah klinik yang dulu dikelola Stasi, lembaga intelijen Jerman Timur. Ini memang klinik yang terkenal. Tak hanya piawai mengubah permukaan wajah, melainkan bentuk tulang. Di  masa lalu, klinik itu dipakai untuk mempersiapkan agen yang dikirim ke barat.

Melalui negosiasi alot, Reuven bisa mendapatkan file berisi 34 foto terbaru Imam Mughniyeh. Mossad membayar cukup mahal.

Kepala Mossad, Meir Dagan, memerintahkan anak buahnya untuk menganalisa foto yang didapat. Tulang rahang Imam Mughniyeh di bagian bawah dipotong, untuk memberi kesan wajahnya lebih sempit. Beberapa gigi depan dicopot, diganti yang lebih kecil. Bagian mata juga dibuat lebih sempit. Kaca mata diganti dengan contact lens.  Perubahan identitas dikompliti dengan mengganti warna rambut.

Foto profil Imam Mughniyeh yang dimiliki agen Mossad selama ini sama sekali tak berguna lagi.

Mossad pun merencanakan pembunuhan terhadap Imam Mughniyeh. Tak mungkin membunuhnya di negara Barat, karena ia hampir tak pernah berkunjung ke Barat. Wilayah lawatannya hanya negara-negara Timur Tengah yang jadi musuh Israel, terutama Iran dan Suriah.

 

MeirDagan--Jerussalem World News

 

Bekas Kepala Mossad, Meir Dagan. Foto: Jerusalempost.com.

Meir Dagan memerintahkan orang-orang terbaiknya untuk merumuskan aksi pembunuhan Imam Mughniyeh. Dari diskusi di kantor pusat Mossad, diketahui kemungkinan besar si buron akan berkunjung ke Damaskus pada 12 Februari 2008. Hari itu ada perayaan Revolusi Iran. Pejabat intelijen Iran dan Suriah juga hadir.

Setelah dipastikan bahwa Imam Mughniyeh bakal datang, sebuah pertanyaan lain muncul: ia akan datang dengan identitas apa, siapa yang akan menemani, jam berapa ia bertemu pejabat Suriah, kapan? Masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab intel Mossad, sebelum mereka merumuskan aksi.

Beruntung agen Mossad di Damaskus bekerja serius. Mereka mendapatkan informasi mengenai kendaraan apa yang bakal dipakai Imam. Bahkan mereka menanamkan peralatan penjejak ke mobil yang diduga bakal Imam Mughniyeh dan para pemimpin Hezbollah.

Agen pilihan Mossad dari unit operasi Kidon tiba di Damaskus dengan membawa peralatan pembunuh. Mereka membawa bahan peledak, untuk menghancurkan mobil yang bakal dikendarai Imam Mughniyeh.

Para agen Mossad mendapat informasi penting di saat-saat terakhir: Imam Mughniyeh memiliki selingkuhan di Damaskus. Ia selalu mengunjunginya, ketika berkunjung ke Damaskus, sendirian, tanpa membawa pengawal. Imam Mughniyeh bertemu selingkuhannya itu biasanya di sebuah apartemen rahasia, yang disiapkan Nihad Haidar, si perempuan cantik itu.

Untuk menguber Imam, anggota Mossad didatangkan. Satu orang dari Paris, dengan pesawat Air France. Orang kedua datang dari Milan, Italia, dengan pesawat Alitalia. Agen ketiga terbang dari Amman dengan Royal Jordan.  Dua orang menyamar sebagai pedagang mobil, dan agen ketiga mengaku sebagai pengusaha biro perjalanan.

Selepas dari bandara, mereka berputar-putar lebih dahulu, untuk memastikan bahwa situasi aman. Mereka baru berkumpul setelah yakin tak ada yang membuntuti.

Di sebuah garasi tertutup, mereka meramu bom, untuk ditanamkan pada sebuah mobil yang disewa. Bom berdaya ledak tinggi itu ditaruh di peralatan radio.

Sebuah tim Mossad lainnya mengawasi kedatangan Imam Mughniyeh dari Beirut. Apartemen yang diperkirakan bakal jadi tempat bertemu Imam dengan selingkuhannya, dipantau dari dekat. Tim ini membuntuti terus-menerus si target. Mereka juga memastikan bahwa Imam hadir dalam pertemuan di Kfar Soussa –ejaan lain menuliskannya sebagai Kafar Soussah.

Di kawasan elite yang terletak di jantung Damskus itu, Imam Mughniyeh rencananya bertemu Jenderal Muhammad Suleiman, tangan kanan Presiden Bashar al Assad, dan Duta Besar Iran yang baru. Jenderal Muhammad Suleiman adalah kawan dekat Presiden Assad.

Jenderal Mohammad Suleiman

Jenderal Muhammad Suleiman. Foto: penguinsix.com

Suleiman dipercaya Presiden Assad mengurusi proyek nuklir, urusan dengan Iran, dan berbagai proyek pribadinya. Enam bulan kemudian ia tewas, ditembak tepat di jidatnya di peristirahatannya di kawasan pantai. Ketika itu, Suleiman tengah duduk di meja makan menghadap pantai. Di kanan kirinya para tamu penting yang juga kawan dekatnya. Adalah agen Mossad yang menembaknya, dari tengah laut.

****

Si agen mengawasi dengan mata lekat apartemen tempat Imam Mughniyeh akan bersua Niha, si selingkuhan. Siang itu, seperti mereka harapkan, si sasaran menyelinap ke apartemen. Ia bersua kekasihnya hingga sore hari.

Sore itu, si agen melaporkan bahwa Imam Mughniyeh meninggalkan apartemen, menuju lokasi kedua. Seorang agen Mossad yang lain membuntutinya terus-menerus, dan melaporkan pergerakannya ke kantor pusat.

Agen Mossad yang lain sudah memarkir mobil yang diisi bom peledak, ke dekat tempat yang diperkirakan bakal menjadi lokasi Imam Mughniyeh menempatkan mobilnya selama ia bertemu dengan Jenderal Suleiman dan Duta Besar Iran. Si agen bergegas menuju bandara, begitu selesai memarkir mobilnya.

Sensor elektronik terus-menerus mengikuti pergerakan Mitsubishi Pajero yang dikendarai Imam Mughniyeh.

Semua berjalan sesuai rencana. Imam memarkir mobilnya di lokasi yang diperkirakan agen Mossad.

Jam 22.40, Imam Mughniyeh membuka pintu mobilnya. Ia turun, menutup pintu, dan melangkah. Pada saat itulah, sebuah mobil yang penuh bom meledak hebat. Bum… Goncangannya mengoyak keheningan malam Damaskus.

Imam Mughniyeh tewas. Damaskus berduka. Baru beberapa bulan sebelumnya reaktor nuklirnya diluluhlantakkan oleh Israel. Kini, duka lainnya menimpa.

Mossad memang sengaja memburu Imam Mughniyeh di Damaskus. Lembaga telik sandi ini ingin mengirim pesan: tak ada tempat yang aman bagi musuh Israel, sekalipun itu di jantung negara lawan.

***

Pada November 2008, enam bulan setelah tewasnya Imam Mughniyeh, pemerintah Lebanon mengumumkan telah membongkar jaringan intelijen Mossad. Ali Jarrah, 50 tahun, penduduk Lembah Bekaa, telah bekerja sebagai mata-mata Mossad selama 20 tahun. Ia mendapat upah US$ 7.000 sebulan.

Beberapa hari menjelang tewasnya Imam Mughniyeh, Ali Jarrah pergi ke Kafar Sousah, Damaskus. Ia diperlengkapi berbagai peralatan untuk memata-matai sasaran. Di antaranya: peralatan navigasi GPS, kamera, serta antena untuk berkomunikasi dengan agen Mossad.

Ali Jarrah mengakui bahwa apa yang ia lakukan adalah atas perintah Mossad.

Hezbollah berkali-kali menyebut bahwa, ”Mossad ada di balik tewasnya sang martir, Imam Mughniyeh, yang wafat sebagai sahid.”

Tapi Mossad tak mengakui keterlibatannya dalam operasi yang menewaskan Imam Mughniyeh.

Itu memang standar operasi intelijen: tak pernah mengakui atas aksi yang pernah dilakukannya.


Mossad (2): Memburu Si Rangkap Sembilan

 

Imad_Mughniyah

Imam Mughniyeh. Sumber: wikipedia.org

SAYA akan menukilkan kisah bagaimana jaringan intelijen Israel bergerak terus, ulet, demi memburu seseorang yang dianggap sebagai musuh negara. Kisah perburuan si musuh Israel ini melibatkan kerja tim, keuletan, dan network. Bagi Anda yang banyak bergerak di dunia reportase, keuletan ini bisa menjadi inspirasi dalam bekerja.

Orang yang diuber Mossad ini namanya Imam Mughniyeh. Lembaga intelijen Amerika CIA dan Biro Investigasi Federal FBI menudingnya sebagai dalang pemboman Kedutaan Amerika di Beirut pada 18 April 1983, yang menewaskan 63 orang. Aksi lain yang dilakukan Imam Mughniyeh, antara lain:

beirutattacktimecover

Cover story TIME mengenai pemboman markas marinir Amerika di Beirut.

 

  • 23 Oktober 1983 — membom markas Marinis Amerika Serikat, Beirut, menewaskan 241 orang.
  • 23 Oktober 1983 — membom markas tentara khusus Perancis, di Beirut, menewaskan 58 orang.
  • Menculik dan membunuh agen CIA William Buckler; penyerangan Kedutaan Amerika di Kuwait, membajak TWA Airlines, membajak dua pesawat Kuwait.

Lembaga intelijen Israel punya daftar lebih lengkap. Selain beberapa aksi di atas, Imam Mughniyeh bertanggungjawab atas sejumlah aksi ini:

  • 4 November 1983, membom Markas Tentara Israel, di Tyre, Lebanon, 60 orang tewas.
  • 10 Maret 1985, menyerbu iring-iringan tentara Israel di Metullah, perbatasan Lebanon-Israel, 8 tewas.
  • 17 Maret 1992, membom kedutaan Israel di Argentina, 29 tewas.
  • 18 Maret 1994, membom pusat kegiatan Yahudi di Buenos Aires, Argentina, 86 tewas.

Namun untuk menguber Imam Mughniyeh bukan perkara gampang. Ia tidak mau diwawancara. Tidak mau difoto atau wajahnya divideo. Data yang ada, dia lahir pada 1962 di Lebanon Selatan, penganut Syiah, kawasan tempat tinggalnya dikenal sebagai pendukung berat PLO. Wajahnya bagaimana, sosoknya seperti apa, tak diketahui.

Ia diibaratkan hantu.

                                             ****

Imam Mughniyeh drop out dari SMA. Setelah itu, ia bergabung dengan Al Fatah, faksi bersenjata di PLO –orang Israel menyebutnya sebagai ”faksi teroris di PLO”. Ia menjadi pengawal khusus Abu Ayad, wakil Ketua PLO Yaser Arafat. Di Fatah, ia menjadi anggota Brigade 17, pasukan khusus yang dikenal pemberani.

Para agen Israel betul-betul kesulitan menghadapi Imam Mughniyeh. Mereka menghadapinya dengan penuh kewaspadaan. Nama Imam pun kondang sebagai anggota pasukan Al Fatah yang kreatif, berwibawa, tapi misterius.

 

Dalam sebuah operasi penyerangan, Imam belum tentu nongol. Atau, kalaupun nongol, ia hadir belakangan. Keberaniannya juga tak diragukan. Ketika membom markas marinir Amerika di Beirut yang menewaskan ratusan orang itu, usianya baru 21.

Adalah idenya, yang menempatkan seorang ”pengantin” mengendarai truk penuh bermuatan bom peledak, digiring menabrak markas marinir.

Markas itu runtuh, menimpa ratusan tentara di bawahnya.

Data pribadi yang diketahui hanyalah ia menikah dengan sepupunya, punya satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Tingginya 170 cm, berat 60 kilogram. Ada sebuah foto yang didapat intelijen Israel, tapi itu foto lama. Padahal Imam Mughniyeh rajin operasi plastik, untuk penyamaran.

Imam Mughniyeh dengan cepat menjadi pahlawan bagi Palestina. Dan ia sadar, bahwa dirinya diburu terus-menerus oleh intel Israel dan Amerika.

Untuk mengatasi hal ini, maka Imam bersikap paranoid. Ia kerap mengganti ajudannya. Terhadap orang kepercayaannya pun ia ekstra waspada. Tiap malam, ia tidur di tempat yang berbeda. Agen intelijen Israel menyebutnya sebagai ”teroris dengan nyawa rangkap sembilan”.

David Barkai, agen Mossad yang pernah bertugas di Unit 504, mengatakan bahwa Imam Mughniyeh memiliki profil sulit ditebak. Ia susah dicari. Semakin gencar perburuan oleh Mossad, semakin samar sosok yang diuber itu. ”Ia tak punya masalah perempuan, alkohol, uang, atau narkoba,” kata David.

****

Pada 1988 sebetulnya Imam Mughniyeh hampir tertangkap agen Perancis.  Pemerintah Amerika memasok informasi kepada badan intelijen Perancis, bahwa si buron tengah naik pesawat yang akan berhenti sementara di Paris.

CIA juga melengkapi informasinya dengan foto serta paspor palsu yang digunakan. Pemerintah Perancis membatalkan rencana penangkapan itu. Mereka khawatir, tindakan terhadap Imam Mughniyeh akan membahayakan nasib warganya di Timur Tengah, dan warga Perancis yang tengah disandera. Imam Mughniyeh pun melenggang.

Tahun itu, aksinya menjadi-jadi. Pemboman terhadap kedutaan besar Israel di  Buenos Aires dilakukan. Bum. Puluhan korban jatuh. Tak hanya itu. Penyerangan terhadap warga Yahudi dan orang Israel di Argentina beberapa kali terjadi.

Dua tahun kemudian, markas kegiatan Yahudi di Buenos Aires dibom. Sebanyak 86 orang meninggal.

Cara kerja pemboman itu sama: sebuah truk dimuati penuh bahan peledak, disopiri oleh pembom yang siap bunuh diri.

Tim intelijen dari Amerika dan Israel yang bergegas ke Buenos Aires kemudian menggelar penyelidikan. Mereka menyimpulkan, beberapa kejadian teror terhadap Yahudi dan Israel di Buenos Aires dilakukan orang yang sama: Imam Mughniyeh.

Israel yang marah pada 1992 itu melakukan aksi balas dendam. Dengan serangan helikopter, pemimpin Hezbollah, Sheikh Abbas Al-Musawi, ditembak. Ia tewas.

Setelah wafatnya Sheikh Abbas, Imam Mughniyeh terpantau berada di Teheran. Ia bertemu dengan Komandan Garda Revolusi, Mohsen Rezaee, dan Menteri Intelijen, Ali Fallahain. Mereka membentuk tim operasi untuk melakukan aksi lagi di Buenos Aires. Tim ini gabungan dari pasukan berani mati Hezbollah dan intelijen Iran.

Berbagai aksi yang dilakukan Imam Mughniyeh membuatnya menjadi musuh Israel nomor satu.

****

Pada 1994, Imam Mughniyeh lolos dari sebuah upaya pembunuhan. Ia terlihat di Beirut, ketika sebuah bom mobil yang diletakkan di dekat mesjid meledak. Bom itu menghancurkan toko milik Fuad Mughniyeh, saudara Imam.

Sesuai rencana, Imam harusnya datang berkunjung ke rumah Fuad. Namun di saat-saat terakhir ia membatalkan kunjungannya. Ia pun selamat. Dan predikat Imam Mughniyeh sebagai ”teroris dengan nyawa rangkap sembilan” makin tersemat.

Beberapa pekan setelah ledakan bom itu, petugas keamanan Lebanon, bersama Hezbollah menangkapi beberapa orang sipil yang dituding sebagai pelaku aksi pemboman itu. Tertuduh utama adalah Ahmed Halek.

Kata polisi, ”Halek dan istrinya memarkir mobilnya di dekat toko milik Fuad Mughniyeh. Ahmed Halek lalu masuk ke mobil, memastikan bahwa Fuad ada di dalam toko, lalu keluar dan menarik pemicu bom.”

Yang ia tak duga, meski ada Fuad di situ, Imam Mughniyeh ternyata batal datang.

Menurut koran Lebanon, As-Safir, Ahmed Halek bertemu pejabat senior Mossad di Cyprus. Ia mendapat ilmu tata cara membuat bom mobil, dan menduitinya US$ 100.000.

Ahmed Halek dieksekusi tak lama setelah penangkapannya.

 

Pada 2002, Mossad mendapat kabar bahwa Imam Mughniyeh ikut mengapalkan 50 ton senjata untuk milisi bersenjata Palestina. Juga tersiar rumor bahwa ia telah menjadi komandan Hezbollah. Imam juga terlibat dalam aksi Brigade Al Quds, yang dikendalikan Iran.

Laporan lain menyebutkan: Imam Mughniyeh sekali lagi mengoperasi plastik wajahnya.

Informasi yang masuk Mossad cukup akurat karena lembaga intelijen Israel itu merekrut beberapa orang terpilih yang anti-Hezbollah. Mereka tinggal di desa tempat keluarga Imam Mughniyeh. Bahkan kabarnya ada salah satu sepupu Imam yang menjadi agen Mossad.

Dari si sepupu inilah Mossad mendapat kabar bahwa Imam Mughniyeh mengoperasi wajahnya di Eropa, dan kembali ke Lebanon dengan wajah yang sama sekali berbeda.

Kini Mossad punya tantangan baru: menelusuri klinik operasi plastik, untuk mendapatkan identitas Imam Mughniyeh termutakhir.

Mereka mendapatkan kejutan itu dari Berlin….

 

(Bersambung ke bagian 3).