• Menjadi delegasi RI ke ASEM-Intefaith Dialogue ke-7 di Manila

    Posted on November 7, 2011 by in Jurnalisme, Kepemimpinan, Media

    Selama dua hari, pada 13-14 Oktober 2011, Pemerintah Filipina menjadi tuan rumah 7th ASEM Interfaith Dialogue (ASEM-IFD7).  Forum dialog antar-agama ini dimulai pada tahun 2005 di Bali, Indonesia, melibatkan para pemuka antar agama, akademisi dan praktisi media, dan tentu saja pihak pemerintah di negara peserta, di kawasan ASEAN dan Eropa. Pertemuan pertama di Bali menghasilkan Bali Declaration, yang lengkapnya dapat dibaca di sini:

    http://www.mfa.gov.cy/mfa/mfa2006.nsf/All/8E0BCAC61202FE67C22571D3002724EA/$file/Bali%20Declaration.pdf

     

    Deklarasi Bali menjadi pijakan bagi negara-negara di kawasan ASEAN dan Eropa untuk menjalin kerjasama, membangun saling pengertian mengenai dialog antar agama, di saat dinamika dunia yang diwarnai potensi konflik antar agama dan antar etnis.

    Setelah itu, IFD digelar di beberapa negara termasuk Turki, Cina dan kemudian yang ke-7 di Manila.  Tema besar yang dibahas di Manila adalah “Harnessing The Benefits and Addresing The Challenges of Migration Through Interfaith and Inter-Cultural Dialogue”.  Acara digelar di Sofitel Hotel, dan melibatkan sekitar 300-an peserta, delegasi dari negara di ASEAN dan Eropa.

    Pertemuan di Manila menjadi kesempatan pertama bagi saya untuk bergabung dalam ASEM-IFD7. Saya pernah menjadi anggota delegasi RI (yang dikoordinir Kemenlu RI) saat dialog antaragama regional di Perth, Australia, 30 Oktober 2009. Dialog ini menghasilkan Perth Declaration yang detilnya dapat dibaca di sini http://www.dfat.gov.au/asean/rid_declaration_0910_perth.pdf

    Kesempatan berikutnya adalah mengikuti Indonesia-US Interfaith Dialogue yang digelar di Jakarta, 25-27 Januari 2010, sebuah forum dialog antar agama bilateral yang berkembang setelah intensitas dialog antar agama yang digelar di berbagai kawasan.  Ini adalah informasi singkat mengenai dialog Indonesia-US http://indonesia-oslo.no/foreign-minister-opens-indonesia-us-interfaith-diadlogue/

               Pada kedua pertemuan di atas, peran saya adalah sebagai anggota delegasi dan peserta.  Forum seperti ini biasanya menghadirkan sejumlah pidato pada rangkaian acara pembukaan, lantas peserta dibagi ke kelompok kerja sesuai tema yang dibahas.  Di Perth misalnya, saya menjadi fasilitator diskusi di kelompok kerja mengenai peran media.

     

    Rapat anggota delegasi Indonesia

    Di IFD7, Manila, delegasi Indonesia dipimpin oleh Dubes RI di Manila, Y. Kristiarto S. Legowo.  Saya mengenal Pak Dubes saat ia bertugas sebagai juru bicara Kemenlu beberapa tahun lalu.  Sudah 1,5 tahun Pak Kristianto bertugas di Manila dan Kepulauan Palau. Anggota delegasi adalah Ketua PP Muhamadiyah dan Ketua

    Gudeg yogya, menu makan siang delegasi di KBRI Manila.

    Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Prof Dien Syamsudin,   Sekjen Religions for Peace Indonesia yang juga Ketua Umum Forum Kristiani Jakarta  Theopilus Bela, Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Romo Benny Susetyo Pr.

    Anggota lain adalah saya sendiri, Pemimpin Redaksi AN TV, F. Bernard Loesi, staf Direktorat Diplomasi Publik, Kemenlu RI, Maria P. Kusumanegari, staf Direktort Kerjasama Intra Kawasan Amerika dan Eropa, Kemenlu RI, serta Titik Nahilal Hamzah, Fungsi Pensosbud KBRI Manila.

    Ada 3 kelompok kerja yang digelar dalam ASEM-IFD7.  Kelompok 1 membahas tema diskusi: Fostering Social Harmony and Mutual Understanding between Migrant and Host Communities through Interfaith and Intercultural Dialogue.  Dalam rapat persiapan delegasi, diputuskan Prof Dien Syamsudin dan Pak Theopilus Bela serta Titik Nahilal Hamzah mewakili peserta dari  Indonesia di kelompok 1.   Prof Dien juga menjadi salah satu pembicara dalam pre-event, Interfaith Youth Roundtable on Migration.

    Kelompok kerja 2 membahas tema diskusi: Promoting Dialogue among Migrant Communities of Different Faiths”. Romo Benny Susetyo dan Maria Kusumanegari ditugasi menjadi peserta mewakili Delegasi RI dalam kelompok kerja ini. Tema migrasi diambil mengingat tuan rumah Filipina dan negara Eropa berkepentingan dengan tema ini.  Filipina adalah salah satu negara “pengekspor” tenaga kerja ke Luar Negeri.

    Indonesia tidak terlalu berkepentingan di kelompok ini, mengingat tenaga kerja Indonesia sebagian besar ditempatkan di negara yang relatif sama secara agama dan budaya, misalnya di Timur Tengah dan Malaysia.

    Karena itu, fokus delegasi RI pada ASEM-IFD7 adalah pada kelompok kerja 3 yang membahas tema diskusi:  “Utilizing New Media in Forging Mutual Trust and Confidence in Multi-ethnic and Multi-religious Societies” –dalam bahasa mudahnya, ”Memanfaatkan Media Baru untuk Mendorong Saling Percaya di Masyarakat yang Multietnis dan Multiagama”.

         Kemenlu RI menugasi saya menjadi pembahas di kelompok kerja ini, yang menghadirkan presentasi dari Carolyn O,. Arguillas, editor Minda News, sebuah penerbitan online  dari Mindanao, kawasan yang terus-menerus didera konflik di  Filipina Selatan.  Pembicara kedua adalah Yuriy Boiko, Counsellor, Department of Assistance to Integration, Federal Migration Service, Rusia.

    Bertindak sebagai rapporteurs di kelompok kerja 3 adalah Thomas M Orbos, Presidential Task Force on Interfaith Initiatives on Values Formation Office of The Executive Secretary Philippines (haduh panjang bener jabatannya yaa ;-)), Cecille Joyce Lao dai UNIO-DFA Filipina, serta Enya Reyes dari Uni Eropa. Di kelompok 3 ini saya didampingi oleh Bernard Loesi dari Kemenlu RI.

    Poin yang saya sampaikan sebagai pembahas dalam diskusi di kelompok 3 adalah: lansekap perkembangan media di Indonesia pasca reformasi 1998, perkembangan pesat new media (termasuk media sosial), kinerja media pro dan pewarta media dalam meliput peristiwa bernuansa konflik antaragama maupun antaretnis.  Kebetulan, belum lama kita mengalami hiruk-pikuk pemberitaan terkait “Peristiwa 11 September 2011”, ketika sejumlah bentrok antar warga pecah di Ambon, dipicu oleh tewasnya seorang tukang ojek.

    Salah satu bentuk jurnalisme damai menyusul kerusuhan di Ambon.

    Peristiwa yang mendahuluinya, serta akibatnya bisa disebut mirip dengan apa yang terjadi saat rusuh Ambon 1999.  Sebuah konflik yang lantas berkembang menjadi konflik bernuansa agama (padahal akarnya bukan agama), dan dampak serta traumanya masih terasa sampai hari ini.  Kita juga punya pengalaman meliput konflik Poso dan Aceh.

    Yang membedakan antara rusuh Ambon 1999 dengan peristiwa September 2011, adalah kualitas pemberitaan media dan peran media baru, dalam hal ini media sosial.  Kualitasnya jauh membaik.  Terjadi kontrol masyarakat yang begitu intens via media sosial, tetapi juga pelaksanaan dari konsep jurnalisme damai yang begitu baik dari teman-teman wartawan di lapangan.

    Intinya, saya menyampaikan best-practices, pengalaman kinerja media baru di Indonesia dalam membangun harmoni antaragama dan antaretnis.  Tentu masih banyak kekurangan yang harus kita perbaiki, selain begitu banyaknya potensi pelanggaran etika sebagaimana dalam peliputan tragedi Cikeusik, juga peliputan hambatan beribadah bagi jamaah Gereka Kristen Indonesia Yasmin.

    Sampai hari ini, pengguna Twitter selalu deg-degan setiap Minggu pagi, kala memantau #GKIYasmin, hestek yang digunakan untuk update peristiwa itu.

    Hal lain yang saya sampaikan adalah bahwa proses belajar adalah proses yang seharusnya dilakukan kontinu, terutama saat membangun pemahaman antar-agama, terutama bagi media.  Saya mengambil contoh gamangnya media di Norwegia dan Eropa (juga AS) saat meliput apa yang kita kenal dengan “Norway Mass-Killing”, ketika seorang pemuda melancarkan aksi teror dengan bom mobil yang memakan korban jiwa 69 tewas.

    Kisahnya dapat diikuti di  http://en.wikipedia.org/wiki/2011_Norway_attacks.  Pelaku, Anders Behring Breivik, pemuda Norwegia berusia 32 tahun yang diidentifikasi aparat di sana sebagai aktivis ekstrimis garis sayap kanan,  http://en.wikipedia.org/wiki/Anders_Behring_Breivik.

     

    Bagaimana media di sana memberitakan?  Seketika saat peristiwa menjadi “Breaking News”, media menebar dugaan bahwa pelakunya terkait dengan Al-Qaida.  Jelas, yang dituduh kelompok yang terkait dengan agama Islam.  Lantas, ketika ternyata pelakunya bukan beragama Islam, alih-alih menggunakan label teroris yang biasanya segera disematkan ke pelaku teror beragama Islam, media gunakan label “madman”, “monster:, atau “maniac”.

                Charlie Brooker dari media yang dikenal cukup independen, Guardian menganalisnya dalam artikel berjudul “The News Coverage of The Norway Mass-Killing Was Fact-Free-Conjecture”, http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2011/jul/24/charlie-brooker-norway-mass-killings. Padahal, para jurnalis dan praktisi media dari Indonesia dan Norwegia pernah memprakarsai Global Intermedia Dialogue (GIMD), sebagai respon atas kontroversi pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW oleh kartunis Jylland Posten yang dimuat di sebuah media di Denmark  http://en.wikipedia.org/wiki/Jyllands-Posten_Muhammad_cartoons_controversy.

    Wakil Presiden Filipina membuka dialog antara-agama ASEM-Eropa

    Pemuatan ini menimbulkan reaksi keras di sejumlah negara berpenduduk Muslim. Korban banyak jatuh di Pakistan. Media dipandang terlalu mengagung-agungkan “Freedom of Expression” tanpa mempertimbangkan sensitivitas isu terkait antar agama dan budaya.

    Mengenai GIMD dapat dibaca di http://www.intermediadialogue.org/. GIMD berlangsung tiga kali, 2006, 2007 dan 2008, dan diikuti oleh 125 wartawan dari 61 negara.  Dialog disusun, direncanakan dan dilaksanakan secara independen oleh praktisi media media negara yang tergabung dalam sebuah panitia pengarah bersama –saya berkesempatan menjadi salah satu anggotanya –, namun secara prinsip dan pendanaan mendapatkan dukungan dari pemerintah kedua negara, yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Norwegia Jens Stoltenberg –profilnya bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Jens_Stoltenberg.

    Setelah berdialog tiga kali, nampaknya pemerintah kedua negara merasa sudah cukup bagi para wartawan untuk memahami pentingnya bersikap sensitif tanpa harus mengurangi kemerdekaan berekspresi dalam peliputan terkait kemajemukan agama dan budaya.  Dialog dihentikan.  Lalu, datanglah peristiwa Oslodan Utoya di atas.

    Itu sebabnya sebagai wakil delegasi RI, dalam pembahasan saya menekankan perlunya dilanjutkan dialog, pertukaran pengalaman antarwartawan (dan kini juga praktisi media baru) dalam memastikan bahwa produksi konten media memperhatikan betul etika jurnalistik yang berlaku universal, termasuk misalnya, minimizing harm, dalam peliputan konflik. Wartawan di Indonesia melakukannya dengan mendorong diberlakukannya konsep jurnalisme damai. Negara lain mungkin menyebutnya “good journalism”.

    Diskusi di kelompok 3 berlangsung hangat, seru dengan perdebatan yang selalu muncul dalam forum internasional yang membahas media.  Misalnya, antara wakil negara yang belum menerapkan pers bebas  seperti Cina, Vietnam, bahkan Malaysia, dengan negara Eropa yang mayoritas menjunjung tinggi pers bebas.

    Pertemuan dua hari itu di Manila menghasilkan Pernyataan Manila.  Syukur alhamdulillah kepentingan delegasi Indonesia dalam ASEN-IDF7 praktis masuk dalam pernyataan akhir. Termasuk soal Peran Media yang sebenarnya pernah menjadi faktor kunci dalam Bali Declaration saat ASEM-IFD1  di atas.

    Menyangkut kelompok kerja 3 di mana saya bertugas, berikut muatan yang ada dalam Pernyataan Manila, termasuk rekomendasi tindak-lanjut, seluruhnya ada 27 poin deklarasi dan 18 rekomendasi. Cuplikan terkait peran media baru adalah:

     

    Manila Statement On ASEM Interfaith Dialogue on Migration

    23. We noted that new media such as blogs, social networks, online newspapers, and other information and communinations. Technology-based media have increased people-to-people interaction and have interlinked multi-ethnic and multi- religious societies in a globalized world

    24. We agreed that new media provides new opportunities for promoting mutual trust, tolerance and respect among multi-ethnic and multi-religious societies. We recognize the importance of consumer/producer awareness and related activities

    25. We explored ways and exchanged best practices on how to maximize the use of new media to support the aims of interfaith and intercultural dialoge among migrant and host communities

    26. We explored how to encourage awareness amongst consumers/producers of new media as an important means to promote cultural and religious sensitivities, of both migrant and host communities

                                                                  Recommendations

    11. To encourage awareness of cultural and religious sensitivities amongst consumers and producers of new media

    12. To promote media literacy in the interest of balanced coverage of the concerns of both migrant and host communities

    13. To build an interfaith and intercultural, multi-ethnic and multi-religious interactive platform in social networking sites that will provide host and migrant communities with basic information as foundation for furthering mutual understanding

    18. To promote exchange program and scholarships to create networks among media personnel in Asia and Europe, as encouraged in the 2005 Bali Declaration

     

    Selengkapnya mengenai Pernyataan Manila  dapat diikuti: http://www.aseminfoboard.org/content/documents/7th_ASEM_IFD_-_Manila_Statement.pdf.

     

    Diskusi di kelompok kerja lain ternyata lumayan seru juga.  Berikut catatan dari Pak Theopilus Bela, sebagaimana disampaikan lewat email kepada saya:

    Dalam kelompok pertama ada pembahasan tentang sulitnya kaum minoritas mempertahankan jati dirinya serta sulitnya mendirikan rumah-rumah ibadah . Sebagai contoh dikemukakan pelarangan mengenakan jilbab dan burkah bagi wanita Muslim serta dilarangnya membangun mesjid dan menara mesjid di beberapa negara Eropa .

    Bersama anggota delegasi.

    Hal ini berdampak negatif pada negara-negara Asia yang berpenduduk mayoritas Muslim dimana kaum minoritas Kristen menemukan kesulitan dalam mendirikan gereja . Juga diperdebatkan tentang bahaya adanya politisi radikal seperti GertWilders dari Belanda yang amat membenci umat Muslim. Ucapan-ucapan menghasut dari politisi Belanda tersebut dapat berdampak negatip bagi kaum minoritas Kristen di Asia .

    Delegasi dari Kamboja mengatakan bahwa ada banyak buruh migran negerinya yang bekerja di Thailand dan dari mereka itu ada yang bekerja secara legal dan ada pula yang ilegal . Baru-baru ini pihak tentara Thailand telah menembak mati para buruh migran ilegal dari Kamboja . Namun dalam kelompok kerja pertama ada kesepkatan untuk tidak menuding atau mengkambing-hitamkan  sebuah negara peserta kongres.

    Acara  pembukaan Kongres ASEM ke-IFD7 pada hari Kamis tanggal 13 Oktober pagi dimulai dengan doa oleh tiga  tokoh agama yang terdiri dari Mgr. Juanito S. Figura, Sekertaris Jenderal Konperensi Para Uskup Katolik Filipina (CBCP), Uskup Efraim M. Tendero, Direktur Nasional Dewan Gereja-Gereja Pantekosta di Filipina dan Bai Omera D. Dianalan-Lucman, Sekertaris Komisi Nasional Kaum Muslim Filipina .

         Setelah acara doa, tiba giliran para penyelenggara Kongres ASEM-IFD7 memberi kata sambutan mereka . Seperti diketahui bahwa yang menjadi tuan rumah acara Kongres ASEM-IFD7 ini ialah Filipina dan Finlandia secara bersama . Maka dari itu yang memberi kata sambutan di pagi hari itu ialah Mr. Rafael E. Seguis, Menteri Luar Negeri Filipina dan Nyonya Paivi Raisanen, Menteri Dalam Negeri dan Urusan Gereja dari Finlandia serta Mr. Guy Ledoux, Duta Besar Uni Eropa untuk Filipina sebagai pihak penyelenggara kongres.

    Setelah kata sambutan dari tiga pejabat pemerintah tersebut maka tibalah giliran Mr. Jejomar C. Binay, Wakil Presiden Filipina menyampaikan keynote speech serta secara resmi membuka Kongres ASEM ke-7 itu .

    Kemudian para anggota delegasi dari 30 negara Asia dan Eropa mendengarkan kata sambutan dari para pejabat tinggi Finlandia, Rumania, Spanyol dan Cina . Ikut memaparkan makalah pada pagi hari itu Mr. Ovais Sarmad, Direktur Lembaga Pengelolaan Migrasi dan Ny. Carmelita S. Dimzon dari Lembaga Kesejahteraan Buruh Migran Filipina . Juga ikut membawakan makalah ialah Ny. Professor Datin Dr. Azizan binti Baharuddin dari Center for Civilizational  Dialogue, University of Malaya, Malaysia.

    Dua hari di Manila, rasanya cukup kenyang saya mendapatkan informasi terkait perkembangan dialog antar agama dan implikasinya dalam berbagai ruang kehidupan, termasuk isu migrasi.  Menjadi delegasi yang harus memperjuangkan masuknya kepentingan Indonesia, sebuah pengalaman yang berharga pula.  Sesuatu banget lah pokoknya.

    Keikutsertaan saya dalam ASEM-Interfaith Dialogue itu menyiapkan saya untuk pindah ke konperensi yang juga digelar pada 14 Oktober, di Manila juga,  di mana saya menjadi salah satu pembicara juga, yakni Media Asia ICRC Conference: Reporting on Violence and Emergencies.  Laporannya telah saya share dalam tulisan berjudul: Meliput Anak.

    Dua hari, dua konperensi, puluhan makalah dan diskusi.  Wow…saya merasa kaya batin…###

One Response so far.

  1. Edward says:

    An іmpressive share! I have just forwarded this onhto a colleague who had been doing a little hοmework on this.
    And he actually bought mе dinner simply because I discovered it ffoг him…
    lol. So allow me to reword this…. Thank YOU foг the meal!!
    But yeah, thanx for spending the time to discuss this ttopic here on your
    website.

    Also visit my website :: webpage (Edward)