Translate »
  • Arabic
  • Chinese(Simplified)
  • English
  • French
  • German
  • Indonesian
  • Japanese
  • Russian
  • Mengenang Umi, Lindu Aji dan Dwi

    Posted on November 25, 2011 by in Jurnalisme, Social Media

     

     

    Kampanye hentikan kekerasan terhadap perempuan. Gambar dari internet.


    I Got Flowers Today

    I got flowers today.

    It wasn’t my birthday or any other special day.

    We had our first argument last night,

    And he said a lot of cruel things that really hurt me.

    I know he is sorry and didn’t mean the things he said.

    Because he sent me flowers today.

     

    I got flowers today.

    It wasn’t our anniversary any other special day.

    Last night, he threw me into a wall and started to choke me.

    It seemed like a nightmare.

    I couldn’t believe it was real.

    I woke up this morning sore and bruised all over.

    I know he must be sorry.

    Because he sent me flowers today.

     

    I got flowers today,

    and it wasn’t Mother’s Day or any other special day.

    Last night, he beat me up again.

    And it was much worse than all the other times.

    If I leave him, what will I do?

    How will I take care of my kids?

    What about money?

    I’m afraid of him and scared to leave.

    But I know he must be sorry.

    Because he sent me flowers today.

     

    I got flowers today.

    Today was a very special day.

    It was the day of my funeral.

    Last night, he finally killed me.

    He beat me to death.

    If only I had gathered enough courage and strength to leave him,

    I would not have gotten flowers…today. 

    By Paulette Kelly

    © Copyright 1992 Paulette Kelly 

     

    Puisi di atas saya temukan dalam halaman pertama sebuah laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga yang dibuat sebuah lembaga PBB.  Kita mudah menemukan puisi itu melalui mesin pencari di dunia maya.  Sebuah puisi yang didedikasikan kepada perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

    Hari ini, dunia memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan  (International Day of Violence Against Women).  Sejak hari ini pula, dilakukan beragam kegiatan selama 16 hari mengkampanyekan kekerasan terhadap perempuan, yang akan menemukan puncaknya pada tanggal 10 Desember 2011, ketika dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia.

    Linimasa di akun Twitter saya sejak pagi penuh dengan kicauan terkait Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.  Komnas HAM Perempuan memilih fokus pada kekerasan seksual terhadap perempuan, yang persentasenya memang tinggi. Tengok saja berita ini: http://www.detiknews.com/read/2011/11/24/170417/1775022/10/perkosaan-marak-komnas-perempuan-kampanye-16-hari-antikekerasan

    Entah mengapa hari ini saya justru teringat pada kisah tragis yang menimpa Umi, Lindu Aji dan Dwi. Tahun lalu, tepatnya 11 Agustus 2010, impitan ekonomi membuat Umi Latifa (25) nekad bunuh diri dengan membakar diri di kamar mandi rumah kontrakannya Tragisnya, ia juga membakar kedua anaknya yang masih balita, Lindu Aji (3,5) dan Dwi (2,5). Ketiganya akhirnya meninggal dunia.

     *******

    Berita soal Lindu Aji di detik.com.

    Lindu Aji dan Dwi sempat kritis dengan luka bakar lebih dari 50% dan dibawa ke RS Sardjito di Yogya untuk penyelamatan. Namun, luka bakarnya terlalu parah.  Ibu dan dua anak itu meninggal dunia. Dalam surat wasiat yang ditinggalkan Umi kepada suaminya, Slamet, Umi meminta suaminya membayarkan utang senilai Rp 20.000 ke warung dekat rumah mereka di Papringan, Catur Tunggal, Depok, Sleman.

    Seorang ibu membakar diri dana anaknya karena utang Rp 20.000! Tragedi.  Nuansa ini mengharu-biru linimasa Twitter saat itu, yang dipicu oleh berita soal Umi yang dimuat portal detikcom: http://www.detiknews.com/read/2010/08/11/200854/1418567/10/terlilit-utang-rp-20-ribu-ibu-ajak-dua-anaknya-bakar-diri

    Haru, sedih, prihatin, bercampur dengan perasaan geram dan marah. Kemiskinan membuat Umi nekat.  Apakah hanya kemiskinan? Mengapa tetangga demikian tak peduli?  Benarkah tetangga tak peduli?  Pemilik warung yang diutangi Umi pun nampak kaget mengetahui gara-gara utang Rp 20.000, Umi bunuh diri.

    Ada kesaksian tetangga yang menyatakan Umi sempat cekcok dengan suaminya.  Kesaksian ini dibantah polisi yang memeriksa kasus bunuh diri ini.  Bagaimana pun, pertanyaan terus menggema: Masak sih, gara-gara utang Rp 20.000 nekad bunuh diri????

     

    Mengapa Umi juga membawa serta anaknya ke alam baka????? Beragam spekulasi termasuk soal Umi tak tega meninggalkan anaknya di dunia muncul dari kalangan tetangga dan keluarga dekat…mengapa??

    Kisah Umi menjadi awal persinggungan saya dengan sebuah ’gerakan sosial’ melalui medium media sosial.  Malam itu saya berkenalan lewat dunia maya dengan @pungkas, @danrem, @nataliatanyadji dan @alissawahid, mencoba memastikan Lindu Aji, bocah yang tengah sekarat itu, diselamatkan tim dokter di RS Sardjito.

    Para penggiat Twitter ramai-ramai mengumpulkan dana untuk biaya rumah sakit.  Pungkas menjadi sukarelawan yang sepanjang malam menunggui di RS, sampai lintang-pukang mencari obat yang dibutuhkan. Kisahnya didokumentasikan oelh @mumualoha berikut ini:

    http://www.virtual.co.id/blog/social-media/bagaimana-keterhubungan-di-media-sosial-mendorong-orang-untuk-berbuat-kebaikan/

     

    Berbuat baik melalui jaringan sosial.

    Umi bunuh diri.  Bukan dibunuh.  Apalagi oleh suaminya, sebagaimana yang digambarkan dalam puisi Paulette Kelly di atas.  Setidaknya tidak terbukti ada pihak lain yang secara fisik terlibat dalam bunuh diri itu kecuali dirinya sendiri.  Buat saya, dibunuh atau bunuh diri sama saja dampaknya.  Umi menjadi korban kekerasan, yang dipicu antaralain oleh kemiskinan, dan problem ikutannya.  Tipikal yang dijumpai dalam beragam riset yang dilakukan mengenai kekerasan yang menimpa perempuan dalam rumah tangga.  Perempuan mengalami kekerasan dalam beragam format: fisik, mental, verbal, seksual, sampai kekerasan terhadap organ reproduksi.

    Ada banyak kisah semacam Umi di negeri kita.

     

    September  tahun ini  badan PBB untuk kesehatan, WHO, merilis laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.  Saya sampaikan bagian pembukanya:

     

    Violence against women

    Intimate partner and sexual violence against women

    Fact sheet N°239
    Updated September 2011


    Key facts:

    • Violence against women – both intimate partner violence and sexual violence against women – are major public health problems and violations of women’s human rights.
    • A WHO multi-country study found that between 15–71% of women reported experiencing physical and/or sexual violence by an intimate partner at some point in their lives.

      Stop violence against women. Gambar dari internet.

    • These forms of violence result in physical, mental, sexual, and reproductive health and other health problems, and may increase vulnerability to HIV.
    • Risk factors for being a perpetrator include low education, past exposure to child maltreatment or witnessing violence between parents, harmful use of alcohol, attitudes accepting of violence and gender inequality. Most of these are also risk factors for being a victim of intimate partner and sexual violence.
    • School-based programmes to prevent relationship violence among young people (or dating violence) are supported by the best evidence of effectiveness. Other primary prevention strategies, such as microfinance combined with gender equality training and community-based initiatives that address gender inequality and communication and relationship skills, hold promise.
    • Situations of conflict, post conflict and displacement may exacerbate existing violence and present new forms of violence against women.

    Lengkapnya dapat dibaca di:  http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs239/en/

     

    Hari ini, dunia memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.  Saya terkenang Umi, Lindu Aji dan Dwi##

     

     

2 Responses so far.

  1. I’ve been browsing online more than 2 hours today, yet I never found any interesting article like yours. It’s
    pretty worth enough for me. In my view, if all web owners and bloggers made good content as you did, the
    net will be much more useful than ever before.

  2. Gambar Lucu says:

    Sweet blog! I found it while browsing on Yahoo News. Do
    you have any suggestions on how to get listed in Yahoo News?
    I’ve been trying for a while but I never seem to get there! Appreciate it


Translate »