HomeUncategorizedBerkicau tentang Mbak Whitney

Berkicau tentang Mbak Whitney

 

 

Twitter kembali menunjukkan keampuhannya menjadi sarana breaking news dan berita eksklusif. 

@acarvin: Meanwhile, TMZ reports Whitney Houston has died, citing AP.

Saya tidak mencatat jam berapa persisnya saya me Re-Tweet kicauan Andy Carvin di atas Minggu pagi.  Andy Carvin adalah social media strategist di National Public Radio (NPR), AS.  Saya pernah hadir dalam sesinya di Social Media Weekend, di Columbia Graduate Journalism School, NY tahun lalu.  Dia menanjak namanya karena aktif menginformasikan perkembangan yang terjadi seputar Revolusi di Mesir dan negara di Timur Tengah yang kita kenal dengan sebutan fenomena “Arab Spring”.

Bagi saya, mengikuti linimasa (timeline) @acarvin, membuat saya cukup untuk tahu perkembangan revolusi di Timteng.  Dia juga lumayan teliti dalam meminta verifikasi atas informasi yang dia  ReTweet, yang bersumber dari jurnalis maupun blogger aktivis pro demokrasi di Timteng. Andy dan NPR belajar banyak soal keharusan akurasi dan verifikasi dari sejumlah peristiwa terdahulu termasuk ketika NPR memberitakan kematian Anggota Kongres Gabrielle Giffords.  Info yang ternyata salah.

Kembali ke tweet soal kematian Whitney Houston, Minggu pagi (12/2), bangun tidur kesiangan, saya menikmati linimasa. Andy Carvin tengah mendiskusikan sebuah video mengenai mesjid Al Aqsa yang seolah-olah baru, diunggah orang ke linimasi Twitter, tetapi sebenarnya video/gambar itu sudah lama.  Lalu dia bicara soal kemalasan orang termasuk jurnalis melakukan verifikasi gambar.  Well, saya setuju, lalu  memberikan hestek #EthicsOnImages pada komentarnya ini.

Sesaat kemudian saya membaca kicauan dia soal kematian Whitney Houston.  What?!!!  Andy mengutip The Associated Press, kantor berita terkemuka.  Rupanya akun Twitter @AP  telah melakukan BreakingNnews mengenai kematian penyanyi bersuara emas itu sesaat sebelumnya.

Kicauan @AP ini di Re-Tweet ribuan kali.

Sejauh ini,  saya mempercayai akurasi akun media sosial AP.  Bukan karena editornya adalah @EricCarvin, jurnalis senior yang kebetulan adiknya Andy Carvin.  Tetapi sebagai sebuah kantor berita yang harus memasok berita ke berbagai media di dunia, dan kini bersaing dengan kecepatan media sosial pula, AP membangun standar akurasi dan verifikasi yang tinggi.

We would  rather be behind and be right than be ahead  and  be wrong,” kata seorang jurnalis senior di AP, sebagaimana dikisahkan dalam artikel ini: http://www.poynter.org/latest-news/regret-the-error/160456/how-aps-conditions-for-accuracy-protected-it-from-false-paterno-giffords-death-reports/.  Artikel tersebut membahas soal rumor kematian pelatih football terkenal di AS Joe Paterno, juga berita kematian anggota kongres Gabriel Giffords dalam peristiwa penembakan di Arizona tahun lalu.

Di era media digital, awak redaksi AP  membangun sistem komunikasi yang memastikan dilakukannya verifikasi atas setiap informasi yang mereka terima.  Setiap reporter, editor  sampai redaktur pelaksana yang bertugas selalu mendiskusikan informasi yang beredar termasuk yang sudah dimuat oleh media terkemuka lainnya.  Prinsipnya, AP hanya memuat berita yang sudah dikonfirmasi langsung oleh jurnalis AP, dan tidak mempercayai informasi lain bahkan jika dimuat oleh media besar sekalipun.

Dalam berita kematian Whitney Houston,  AP tercatat sebagai “media tradisional” pertama yang melansir informasi itu melalui akun Twitternya.  Menggunakan akun media sosial sebagai sarana melakukan Breaking News sebenarnya sesuatu hal yang baru bagi AP.   Mereka memanfaatkannya secara hati-hati, termasuk ketika melakukan “berita bantahan” atas kematian Joe Paterno yang sudah dimuat berbagai media termasuk CBS TV.

Meski akun Twitter @AP  yang pertama melansir berita Whitney Houston meninggal dunia, sebenarnya ada akun lain yang 27 menit lebih dulu menyampaikan pesan itu, yakni akun @chilemasgrande tweeted this

Entah siapa pemilik akun yang memasang bio: get busy living or get busy dying! d an berlokasi di Sunrise Manor, NV ini.  Yang jelas akunnya baru,  sejak 4 Februari 2012, dan baru berkicau 48 kali.   Saat saya menulis ini dan mengecek akun Twitternya,  @chilemasgrande yang memasang foro profil seorang lelaki, hanya mengirim satu  pesan terkait kematian Whitney Houston, dan memiliki follower 15 orang dan following 13 orang.

Bahkan setelah akun ini dibahas dalam artikel berjudul:  “2.5 Million Tweets An Hour As News of Whitney Houstons Death Spreads, yang menyebutnya sebagai akun yang pertama kali berkicau soal kematian Whitney Houston, follower akun ini cuma bertambah 1, dan kicauannya menngenai kematian Whitney hanya di ReTweet oleh 1 orang saja.  Baca: http://topsylabs.com/2012/02/12/2-5-million-tweets-an-hour-as-news-of-whitney-houstons-death-spreads/

Mengapa akun yang mendapatkan scoop dengan mengabarkan kematian salah satu Diva terbesar dalam sejarah musik pop itu tak mendapat respon dari pengguna Twitter?  Saya menduga karena persoalan kredibilitas.  Membaca linimasanya, kelihatan bahwa yang  bersangkutan berkicau secara random, bahkan sedikit bernuansa galau.  Lagipula tak lama kemudian akun @AP  yang dikenal kredibilitasnya memasok informasi yang sama dan bahkan sudah diverifikasi. Kicauan @chilemasgrande tenggelam dalam reaksi atas kicauan @AP.

Meski kicauan @chilemasgrande tak mendapat banyak sambutan, sekali lagi terbukti kecepatan seorang warga dalam menyampaikan sebuah informasi yang berkembang menjadi “News of The day”, bahkan mungkin “News of The Week’.  Sepanjang hari ini hampir semua media internasional terutama yang berbasis di AS memberitakan kematian Whitney, berikut reaksi atas kematiannnya justru menjelang ajang Grammy Award, yang membesarkan namanya karena ia memenanginya berkali-kali.

CNN membuat Breaking News selama lima jam sejak pertama kali mendapatkan konfirmasi atas kematian Whitney Houston.  Apa yang menjadi fokus siaran selain mencoba mewawancarai orang yang dianggap dekat dengan almarhumah? Ya membahas ucapan dan reaksi duka cita yang disampaikan para selebriti dunia atas kematian Whitney Houston.  Mulai dari  komentar penyanyi kondang @MariahCarey, @LennyKravitz sampai @BarbraStreisand.

Barbra menuliskan pesan Twitter: Se had everything, beauty, magnificent voice. How sad her gifts could not bring her the same happiness they brought us.  Membahas komentar dari selebriti dunia via akun Twitternya jelas lebih mudah ketimbang mencoba menelpon atau mewawancarai langsung.  Soal verifikasi?  Boleh jadi CNN mengandalkan pada verifikasi atas keaslian akun Twitter.

Nama-nama di atas sudah ditempeli status ‘verified’ oleh pengelola Twitter. Media sosial menjadi cheap tools of news gathering itu sesuatu yang nyata.  Pekan ini Dewan Pers akan melansir hasil survei penggunaan konten media sosial sebagai bahan pemberitaan. Bagaimana hasilnya? Tunggu saja

Kematian Whitney Houston kembali membuktikan keampuhan Twitter sebagai sarana Breaking News.  Dalam tulisan saya di blog ini, saya membahas soal ini dan mengutip managing director ABC Mark Scott:

“I think Twitter may emerge as the outstanding way of disseminating suprising breaking news.  In my experience in newsroom, the biggest stories always arrived in 140 characters or less: “Princess of Wales dead”. “Plane hits World Trade Center.” (Scott, 2009), http://unilubis.com/2011/11/04/twitter-antara-jurnalisme-saluran-berita-dan-ekspresi-personal-2/

Dalam kasus kematian Joe Paterno di atas,  akun Twitter @AP  yang notabene adalah media tradisional memainkan peran sebagai “most trusted guide” bagi publik, lembaga verifikasi atas informasi yang bersumber dari warga pengguna media sosial. Tak heran jika posisi pengelola akun media sosial di berbagai organisasi media tradisional menjadi penting untuk menjaga kredibilitas media yang bersangkutan.. Baca artikel di Poynter soal ini:  how social media editors increasingly find themselves combating misinformation.)

Soal Mbak Whitney sendiri, sebenarnya saya punya banyak curhat pribadi.  Kalimatnya terasa klise, tapi saya melewati masa remaja bersama lagu-lagunya yang punya lirik sangat kuat dan dalam.  Tetapi saya tidak ingin membahasnya di sini. Bagi Anda yang kangen lagunya Mbak Whitney, silakan klik link berikut ini. I will always love you.

Bersama berjuta orang yang kehilangan, sehari suntuk saya menumpahkan rasa duka saya di Twitter.  Mbak Whitney, I Have Nothing, to say, but I Will Always  Love You…

 

##

 

 

 

 

 

8 Comments

  1. DV
    February 13, 2012 at 7:47 am — Reply

    Nice post! Social media nan sporadis memang harus diimbangi dengan benar tidaknya isi itu sendiri.

    May The Voice’s Soul is in heaven now…

  2. DV
    February 13, 2012 at 7:47 am — Reply

    Nice post! Social media nan sporadis memang harus diimbangi dengan benar tidaknya isi itu sendiri.

    May The Voice’s Soul is in heaven now…

  3. February 13, 2012 at 8:20 am — Reply

    Tulisan keren mbak..#RIPWhitney 🙁 #np I have nothing, my fave song

  4. February 13, 2012 at 8:20 am — Reply

    Tulisan keren mbak..#RIPWhitney 🙁 #np I have nothing, my fave song

  5. February 13, 2012 at 8:37 am — Reply

    Apik tenan mbak yu…
    Sy jd terinspirasi nulis soal akun yg pertama beritain tp gk banyak respon/difollow hihihi..

  6. February 13, 2012 at 8:37 am — Reply

    Apik tenan mbak yu…
    Sy jd terinspirasi nulis soal akun yg pertama beritain tp gk banyak respon/difollow hihihi..

  7. February 13, 2012 at 1:32 pm — Reply

    thanks for commenting…DV, Jeung Enny, Dian….kalau baca Mashable ternyata ada akun yg lebih dulu dari si anak Nevada itu…yg tantenya kerja sama WH…anyway busway, keduanya akun personal juga sih…

  8. February 13, 2012 at 1:32 pm — Reply

    thanks for commenting…DV, Jeung Enny, Dian….kalau baca Mashable ternyata ada akun yg lebih dulu dari si anak Nevada itu…yg tantenya kerja sama WH…anyway busway, keduanya akun personal juga sih…

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *