HomeUncategorizedLIBURAN KE PANTAI INDRAYANTI

LIBURAN KE PANTAI INDRAYANTI

 

Pantai Indrayanti di siang hari
Pantai Indrayanti di siang hari
Ombak Pagi di Pantai Indrayanti
Ombak Pagi di Pantai Indrayanti
Gerbang Resto dan Pantai Indrayanti
Gerbang Resto dan Pantai Indrayanti

Pantai Indrayanti.  Kog bisa namanya kayak nama orang?

Pertanyaan itu selalu mengemuka saat mendengar nama salah satu pantai di Kabupaten Gunung Kidul ini. Informasi di internet pun menyajikan nama “Pantai Indrayanti”.  Padahal, pemerintah daerah menamai pantai yang terletak di Kecamatan Tepus ini dengan sebutan “Pantai Pulang Syawal”.  Mengapa?  “Nggak tahu Bu.  Memang dulunya pantai ini rame kalau libur riyoyo,” ujar Si Mbak penjual oleh-oleh di Pantai Indrayanti.  Riyoyo maksudnya adalah Lebaran, Hari Raya Iedul Fitri.

Menurut cerita penduduk di sana, nama Indrayanti diambil dari nama istri Pak Arif, pemilik restoran makanan laut yang pertama di kawasan pantai berpasir putih ini. Restoran Indrayanti yang berdiri sekitar tujuh tahun lalu lantas menjadi pusat keramaian di sepanjang sekitar 1 km yang menjadi kawasan Pantai Indrayanti.  Praktis, pantai ini semacam dikelola pihak swasta, yakni pemilik restoran.  Di pantai yang terletak persis di pinggir jalan raya menuju kawasan pantai-pantai Selatan ini berdiri belasan gazebo dan tempat makan.  Ada yang menggunakan meja dan kursi, ada yang gaya lesehan, yang bisa menampung 100-an pengunjung.  Musim libur lebaran tahun ini pengunjung membludak sampai Restoran Indrayanti kewalahan melayani tamu yang hendak makan.  Padahal di sekitar situ ada puluhan warung makan lainnya.

Tebing Timur Pantai Indrayanti
Tebing Timur Pantai Indrayanti
Liburan Lebaran bersama keluarga
Liburan Lebaran bersama keluarga

Tahun ini, sejak awal saya merencanakan liburan Lebaran ke Pantai Indrayanti.  Yup, ini tekad yang dirancang sejak saya mengikuti #roadtrip2Pacitan bersama komunitas Tread Safety Light-nya Mas @karman_mustamin tiga bulan lalu.  Ketika itu saya dijanjikan mengunjungi beberapa pantai di Gunung Kidul dan Pacitan.  Berhubung banyak masalah teknis di jalan bersama rombongan jip saat itu, kami cuma kebagian mengunjungi satu pantai, yakni Pantai Klayar.  Pantainya indah.  Saya jadi bertekad menelusuri pantai-pantai di kawasan ini.

Saya penasaran dengan cerita seputar kecantikan Pantai Indrayanti dan sejumlah pantai di Gunung Kidul.  Awal Ramadan saya riset via internet.  Informasi soal Pantai Indrayanti tersedia.  Meski tidak banyak.  Malah seragam informasinya.  Beberapa situs seperti melakukan “copy paste” tulisan.  Yang juga  minim adalah informasi tempat menginap.  Padahal, saya ingin menikmati matahari terbenam (sunset) dan matahari terbit (sunrise) di sana, bersama keluarga, yaitu anak dan suami.  Adik dan adik ipar, Andi dan Maya juga ikut liburan ke Yogya tahun ini dan berminat menikmati wisata pantai.

sunset di Pantai Indrayanti
sunset di Pantai Indrayanti

 

sunrise di Pantai Indrayanti
sunrise di Pantai Indrayanti
ramai suasana Libur Lebaran
ramai suasana Libur Lebaran

Saya sempat bertanya via Twitter, di mana menginap di Pantai Indrayanti? Ada yang memberikan informasi “di rumah keong”.  Lainnya menjawab, “biasanya sih menginap di tenda, Mbak.”   Adik dan keponakan juga cerita, mereka pernah ke pantai ini, tapi tidak menginap.  Pulang pergi saja.

Akhirnya saya mendapatkan kontak pengelola sebuah guest house, yakni Walet Guest House, dari pengelola situs www.yogyes.com yang men awarkan paket wisata di sekitar Yogyakarta.  Dia memberikan no kontak Pak Hartono, pengelola Walet Guest House yang letaknya persis di seberang Restoran Indrayanti.

Oke, cerita soal penginapan di Pantai Indrayanti akan saya ceritakan di tulisan berikutnya, yang judulnya: PENGINAPAN DI PANTAI INDRAYANTI DAN SEKITARNYA

Menuju Pantai Indrayanti tidak sulit.  Dari Yogyakarta jaraknya sekitar 70 kilometer, ke arah Wonosari terus ke selatan.  Berlima kami berangkat mengendarai mobil yang dikemudikan Mas Iwan, suami.  Alhamdulillah jalan tidak macet, meski cukup ramai dengan pemudik dari berbagai kota.  Kami sempat berhenti makan siang di Restoran Niela Sary, di kawasan Playen, Wonosari.  Restoran ini menyajikan hidangan khas Gunung Kidul: lodeh lombok ijo, teri lombok ijo, gudeg kacang panjang, oseng daun pepaya, beragam bacem dan nasi merah.  Ada juga penganan gathot dan tiwul.  Masakannya lumayan enak, sistemnya prasmanan jadi siap saji.  tempatnya bersih dan menyediakan mushola juga.

Menu Gn Kidul di Resto Niela Sary Playen, Wonosari
Menu Gn Kidul di Resto Niela Sary Playen, Wonosari
Spanduk selamat datang
Spanduk selamat datang

Usai makan siang perjalanan menuju Pantai Indrayanti dilanjutkan.  Jaraknya sekitar 30 km lagi.  Memasuki kawasan pantai-pantai, ada pos penjagaan yang memungut retribusi Rp 5000 per orang.  Kendaraan tidak dikenai biaya.

Menyusuri kawasan menuju Pantai Indrayanti, kami sempat melewati sejumlah orang yang tengah giat menawarkan mengunjungi Pantai Pok Tunggal.  Rupanya ini pantai yang baru dibuka. Cara menawarkannya agak serem sih.  Anak-anak muda berkaus hitam seolah hendak menghentikan mobil yang lewat untuk mengajak ke Pantai Pok Tunggal yang lokasinya harus masuk ke dalam dari pinggr jalan raya.  Di kiri-kanan ada semacam hutan.  Asri.  Jalanan aspal mulus, berkelok-kelok.  Perlu kewaspadaan dalam berkendaraan mobil dan motor.

Sebuah spanduk selamat datang berwarna kuning menyambut pengunjung yang memasuki kawasan Pantai Indrayanti.  Keriuhan mulai terasa.  Siang itu, empat hari setelah Lebaran,  ribuan orang memadati kawasan ini. Ratusan mobil termasuk bis dan motor memadati tempat parkir yang disediakan masyarakat setempat.  Suasana ramenya beda-beda tipis lah sama Pantai mini electronic cigarette Kuta di Bali.  Yang membedakan, pengunjung di Pantai Indrayanti nyaris semuanya adalah orang Indonesia.  Kebanyakan ya berasal dari sekitarnya termasuk Yogya.  Berlibur ke kawasan ini suasananya merakyat sekali.  Menikmati pantai pun gratis.  Kalau mau lebih menghemat, bawa saja tikar dan makanan dari rumah.  Kalau mau menginap, bisa mendirikan tenda atau tidur beralaskan tikar beratapkan langit dan bintang.  Tsaaah;p

Area parkir di Pantai Indrayanti
Area parkir di Pantai Indrayanti

 

Payung teduh
Payung teduh

Yang males repot, selain menginap di rumah tamu yang kini menjamur di sekitar kawasan itu, bisa juga menyewa payung ukuran besar untuk berteduh.  Tarif sewa berikut tikar Rp 20.000, sampai selesai.  Rata-rata pengunjung menghabiskan waktu 4-8 jam leyeh-leyeh di pantai.

Kami menginap di Walet Guest House.  Lokasi strategis, pengelolaan lumayan bagus.  Mereka juga mengoperasikan Dapur Walet, resto yang letaknya berseberangan dengan Resto Indrayanti.

Pantai di situ bersih.  Tempat sampah ada di beberapa tempat.  Pengelola mengingatkan agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan.  Kalau ketahuan, denda Rp 10.000.  Keren.

Pengunjung yang tidak tinggal di rumah tamu atau penginapan bisa memanfaatkan kamar mandi dan toilet yang banyak tersedia di sepanjang panjang.  Tarif untuk mandi Rp 3.000, sementara buang air besar/kecil Rp 2000.   Ada juga deretan toilet yang hanya menyediakan kotak uang, untuk diisi secara sukarela. Bisnis ruangan toilet menjamur di sepanjang pantai-pantai.  Don’t worry.

Toilet banyak tersedia
Toilet banyak tersedia

Kami tiba di Pantai Indrayanti sekitar Pukul 14.30 wib.  Setelah istirahat dan menengok pantai yang dipenuhi pengunjung, saya istirahat di penginapan.  Mas Iwan menggunakan sepeda lipat menelusuri pantai-pantai lain di sepanjang 12 kilometer sampai ke Pantai Baron.  Darrel sibuk mengisi tenaga di iPad-nya;-)

Resto Indrayanti
Resto Indrayanti

Saya memilih untuk melongok ke beberapa penginapan.  Sekalian survei.   Di kiri-kanan jalan dijajakan kaus tematik Pantai Indrayanti, celana pendek, juga penganan dan oleh-oleh lokal seperti Ikan Pari goreng, udang goreng tepung dan keripik rumput laut.  Keripik harganya Rp 2000-an per kantung plastik, ikan pari goreng Rp 25.000 per seperempat kilogram.

Ikan Pari dan Udang Tepung Goreng
Ikan Pari dan Udang Tepung Goreng

 

Keripik untuk oleh-oleh
Keripik untuk oleh-oleh
Menara Life Guard
Menara Life Guard

Selain bersih dan terawat dengan baik, Pantai Indrayanti dilengkapi menara Life Guard.  Tak kurang dari 10 petugas mengawasi dengan seksama kegiatan pengunjung yang menikmati deburan ombak.  Pantai Selatan dikenal dengan ombaknya yang cukup tinggi.  Bisa mencapai 4 meter.  Selain itu, pantai-pantai ini juga dikenal memiliki banyak Ubur-ubur.  Tersengat Ubur-ubur dampaknya adalah ruam di kulit.  Pedih dan panas.  Banyak anak-anak yang menjerit kesakitan setelah menginjak atau memegang Ubur-ubur, hewan berwarna biru bening bagaikan balon.

hati-hati dengan Ubur-ubur
hati-hati dengan Ubur-ubur

Setiap saat dari menara Life Guard petugas mengingatkan agar pengunjung tidak masuk ke air juga ombak meninggi.  “Kalau ada hewan seperti balon warna biru jangan dipegang.  Berbahaya,” itu peringatan yang diulang-ulang.  Mereka juga menyediakan pertolongan pertama bagi yang tersengat Ubur-ubur atau menginjak bulu-babi.  Keamanan dan kenyamanan diperhatikan.  Nice.

Pantai Indrayanti memang cantik.  Debur ombak berpadu dengan hembusan angin, membuat terik matahari tidak terasa menyengat.  Menjelang matahari terbenam, ratusan orang sibuk menikmatinya.  Banyak yang naik ke tebing sebelah barat yang sudah dilengkapi jalur setapak berupa tangga.  Menikmati matahari terbit bisa dilakukan dengan mendaki tebing di sebelah timur Pantai Indrayanti.  Suhu udara cukup sejuk, 17-19 derajat celcius.  Kipas angin di kamar penginapan pun tak perlu dinyalakan.

Menu di Resto Indrayanti
Menu di Resto Indrayanti
Menu makan siang menggiurkan
Menu makan siang menggiurkan
pose sebelum makan siang
pose sebelum makan siang

Kami tak mendapat kesempatan makan malam di Resto Indrayanti karena penuh, tapi bisa menikmati masakan yang lezat saat jelang makan siang keesokan harinya.  Untuk mendapat meja pun harus pesan sejak pagi.  Benar-benar masa panen bagi resto ini.

Mushola
Mushola
Omah Suket
Omah Suket
 Tampak dalam Omah Suket
Tampak dalam Omah Suket
Toilet di dalam Omah Suket
Toilet di dalam Omah Suket

Di kawasan Restoran Indrayanti juga disediakan mushola dan tiga tempat menginap yang bentuknya seperti rumah adat Papua, Honai.  Namanya “Omah Suket”.  Artinya “Rumah Rumput” karena atapnya dibuat dari jalinan rumput.  Ruangan berukuran 3×3 meter persegi dengan kasur ukuran double dan memiliki toilet di dalam ini bisa disewa seharga Rp 300.000/malam.  Letaknya persis di dalam komplek resto, di pinggir pantai.  Menurut saya agak kurang nyaman bagi yang menghendaki sedikit privasi.  Maklum, keluar dari pintu kamar di Omah Suket, langsung bertemu puluhan kursi dan meja makan dan keriuhan pengunjung pantai.

Rasa penasaran atas keindahan Pantai Indrayanti terpenuhi.  Keasyikan liburan singkat, cuma semalam, di luar perkiraan.  Kami sepakat ingin kembali lagi ke sana menikmati pantai yang indah lebih lama.  Lagipula, selain Pantai Indrayanti yang secara infrastruktur paling baik untuk menerima pengunjung, kami juga menemukan pantai-pantai kecil lain yang tak kalah indahnya.   Liburan Lebaran kali ini terasa beda dan mengesankan. #end

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 Comments

  1. September 8, 2013 at 9:35 am — Reply

    belum sempet ke pantai ini, tapi keliatannya udah rame bgt ya. klo diliat sekilas sama aja kyk pantai kukup 🙂

  2. September 8, 2013 at 9:35 am — Reply

    belum sempet ke pantai ini, tapi keliatannya udah rame bgt ya. klo diliat sekilas sama aja kyk pantai kukup 🙂

  3. October 10, 2014 at 10:11 am — Reply

    Everything is very open with a precise description of the challenges.
    It was truly informative. Your site is very helpful. Thanks for sharing!

    • October 13, 2014 at 7:05 pm — Reply

      your welcome. Because I had difficulty to find information about these beautiful beaches. So I think better to write more details when I got there.

  4. October 10, 2014 at 10:11 am — Reply

    Everything is very open with a precise description of the challenges.
    It was truly informative. Your site is very helpful. Thanks for sharing!

    • October 13, 2014 at 7:05 pm — Reply

      your welcome. Because I had difficulty to find information about these beautiful beaches. So I think better to write more details when I got there.

  5. Nita Sangkala
    September 13, 2015 at 9:29 pm — Reply

    Good description

    • September 14, 2015 at 12:20 am — Reply

      thanks sudah mampir dan baca yaa

  6. Nita Sangkala
    September 13, 2015 at 9:29 pm — Reply

    Good description

    • September 14, 2015 at 12:20 am — Reply

      thanks sudah mampir dan baca yaa

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *