HomeUncategorizedSEMANGAT BISA, SRI YANG PERKASA

SEMANGAT BISA, SRI YANG PERKASA

Seorang perempuan paraplegia bertekad melintasi jalanan sepanjang Sumatera. Sri Lestari menempuh 2500 km dari Titik Nol Kilometer di Sabang, menuju Ibukota Jakarta. Sri ingin para difabel dapatkan haknya, aksesibilitas.

Artikel Di Rolling Stone Indonesia
Artikel Di Rolling Stone Indonesia

“Bisa kog, Mbak.”

Jemari tangannya erat menggenggam pegangan di pinggiran jalan ram yang mengantar pengunjung menyusuri ruang-ruang di Museum Tsunami di Banda Aceh. Wajah Sri Lestari agak memerah. Nafasnya ‘ngos-ngosan’, ketika menggerakkan kursi rodanya, menuju lantai dua museum yang dibangun untuk mengenang tragedi tsunami di Aceh, Desember 2004. Jalan ram untuk pengunjung dibuat memutar. Museum itu cukup ramah bagi penyandang disabilitas seperti Sri. Di beberapa titik memang ada sedikit tanjakan, sehingga Sri tak kuasa mengayuh roda kursinya kendati sudah berupaya bolak-balik. Terpaksa dibantu. Padahal, Sri tak ingin merepotkan orang lain.

 

Sri Lestari menyusuri ram Museum Tsunami Di Banda Aceh
Sri Lestari menyusuri ram Museum Tsunami Di Banda Aceh

Dua hari di akhir pekan pertama September ini saya sengaja menemui Sri di Banda Aceh. Saya mengajaknya ke museum, lalu ke Ujong Pancu, menyusuri pinggiran Pantai Ulee Lhue, menikmati indahnya matahari terbenam. Sri nampak sabar melayani permintaan sudut pengambilan gambar oleh dua pewarta yang mengikuti perjalanannya sore itu. Sehari sebelumnya sebelumnya, tanggal 5 September, Sri memulai perjalanan dari titik nol di kota Sabang, Nangroe Aceh Darussalam. Ia mengayuhkan kursi roda yang sudah dimodifikasi dengan mesin motor, menyebrang ke kota Sabang menggunakan ferry. Di akun Twitter ada fotonya, dibantu tiga orang saat menaiki ferry menuju dek. “Maaf ya pak, bikin bapak2 repot angkat ke dek kapal, karena tak ada ram yang buat difabel sepertiku L,” cuit akun Twitter @sriklaten.

Sabtu malam, 6 September, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menjamu Sri dan relawan dari United Cerebral Palsy Roda Untuk Kemanusiaan (UCPRUK) di sebuah restoran di Banda Aceh. Sri bekerja di yayasan yang berkantor di Yogyakarta. “Perjalanan Mbak Sri menyusuri Indonesia, dimulai dari Aceh, sangat menginspirasi. Saya merasa diingatkan agar lebih serius mewujudkan Banda Aceh sebagai kota yang ramah bagi saudara-saudara kita yang difabel,” kata Walikota Illiza. Pertemuan Sri dengan walikota yang mengundang lengkap seluruh jajaran di kantornya, difasilitasi Forum Jurnalis Perempuan Indonesia di kota Serambi Mekkah.

Menikmati keindahan Indonesia mulai dari ujung barat, pantai-pantai di Pulau Weh menjadi pengalaman menggetarkan batin untuk Sri, yang paraplegia, mengalami lumpuh separuh badan bagian bawah karena kecelakaan yang dia alami saat berusia 23 tahun. Selama 10 tahun, Sri yang tinggal di Manisrenggo, Klaten ini terbaring di rumah karena kehilangan dua kakinya. Kecelakaan itu merenggut kebebasan dan kemandiriannya.

“Saya merasa membebani keluarga. Mau keluar rumah harus menyewa kendaraan,” tutur Sri saat kami menikmati matahari terbenam di Ujong Pancu. Angin semilir menyapu wajahnya yang sumringah. Semangat hidupnya tinggi.   Kata-kata, “bisa kog,” berkali-kali saya dengar dari Sri manakala kami melewati jalanan yang terjal di pinggir pantai, ram menanjak di museum, halaman restoran yang berbatu, juga mampir ke hotelnya mengambil helm pelindung kepala.  Memiliki kursi roda membuat semangat Sri bangkit, untuk melihat dunia luar dan beraktivitas layaknya orang lain. Dia menjadi pekerja sosial di UCPRK.

Sri meraih kembali kebebasan dan kemandiriannya.

Mengambil hikmah tsunami

Setiap hari Sri Lestari yang tamat sekolah menengah atas ini melakoni jarak sekitar 60 kilometer dari rumahnya ke tempat bekerja. Tugasnya adalah mendatangi difabel yang membutuhkan kursi roda yang khusus didesain untuk mereka. UCPRUK menyediakan kursi roda khusus, termasuk untuk anak-anak. Di Yogyakarta yayasan ini juga melakukan pelatihan bagi penyandang disabilitas.

Di Banda Aceh, saat Walikota Illiza dan Dinas Sosial melepas perjalanannya menuju kota berikutnya, Sri menyerahkan secara simbolik, dua kursi roda untuk Alfan Al-Farizy (4,5 tahun) dan Haznah Dalila Zuhra (4 tahun). Dua anak ini mengalami lumpuh karena demam tinggi sejak usia satu tahun. Berlinang air mata Sri ketika mengusap lengan kecil Alfan, yang siang itu nampak lelah dan mengantuk. Malam sebelumnya kedua anak ini menjalani pengepasan (fitting) kursi roda yang disediakan oleh UCPRUK. “Dalam perjalanan di Aceh ini kami menyerahkan 40 kursi roda bagi teman difabel,” kata Heny Prabaningrum, direktur UCPRUK.

Sri dengan Walikota Illiza SD dan dua anak kecil penyandang disabilitas
Sri dengan Walikota Illiza SD dan dua anak kecil penyandang disabilitas

Perjalanan kali ini dimulai dari Aceh, karena Sri ingin bertemu dengan saudara-saudara warga propinsi yang pernah mengalami tragedi tsunami yang terbesar dalam 50 tahun terakhir. Sri yakin mendapatkan suntikan semangat tambahan dari kebangkitan korban tsunami menata kembali hidupnya.

Data dari Dinas Sosial NAD, ada 50 ribu difabel di propinsi itu, 3000 diantaranya usia anak. Di Indonesia, sekitar 10 persen, atau 24 juta peduduk adalah difabel.

Banyak yang belum terjangkau fasilitas dan akses untuk bisa hidup mandiri. Organisasi Buruh Dunia (International Labor Organisation) yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat bahwa penyandang disabilitas kebanyakan dikepung kemiskinan, sehingga tidak punya akses ke pendidikan, latihan, pekerjaan, apalagi fasilitas kesehatan.

Penyandang disabilitas perempuan seperti Sri dalam posisi yang lebih rentan karena tak punya akses ke ketrampilan yang dapat menopang hidupnya. ILO juga mencatat, sekitar 15 persen populasi dunia diisi penyandang disabilitas. Mereka adalah kelompok minoritas terbesar. Dunia kehilangan potensi pertumbuhan ekonomi 3-7 persen atas kegagalan menyediakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas agar bisa berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat termasuk kegiatan ekonomi.

Semangat, Bisa

“Di setiap kota, saat bertemu dengan teman-teman difabel yang memilih di rumah saja, merenungi kondisinya, saya memberikan semangat. Lihat, saya bisa mengunjungi kota-kota di Indonesia dan bekerja. Kamu harus bisa juga,” kata Sri saat kami bicara di museum Tsunami. Sebuah bengkel di Klaten membantu membuat modifikasi motor yang memiliki bak berukuran 1×1,2 meter dipasang di samping sepeda motor. Sri mengayuhkan kursi rodanya ke dalam bak, lantas mengendarai bak yang telah dirangkai dengan stang sepeda motor. Seperti kendaraan beroda tiga. Inilah alat transportasinya. Biaya modifikasi sepeda motor itu sekitar Rp 4,5 juta.

Tahun lalu Sri melakukan perjalanan darat juga, dari Monas, di Jakarta menuju Denpasar, Bali. Di sepanjang jalan sejauh 1000 km Sri menemukan teman-teman baru dan berbagi inspirasi. Tahun ini, ia akan menempuh sekitar 2500 km sebelum tiba di Jakarta, tanggal 10 Oktober 2014. “Saya berharap perjalanan ini mampu mengetuk hati masyarakat agar memperhatikan hak-hak kelompok difabel. Kami ingin akses yang sama untuk beraktivitas, termasuk menggunakan fasilitas transportasi publik, “ ujar perempuan berusia 40 tahun ini. Komunitas yang mendukung perjalanannya di berbagai kota termasuk Disability Motor Club (DMC) dan Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Ketika merampungkan tulisan ini, Sri tengah berada di Medan. Saya membuka kembali beragam peraturan yang pernah dibuat untuk mendukung hak bagi penyandang disabilitas. Misalnya UU No 25/2009 tentang Layanan Publik. Pasal 29 menyatakan bahwa penyedia layanan umum harus memberikan layanan khusus kepada penyandang disabilitas sesuai dengan peraturan. Sudahkah kota-kota dan ibukota negara sebagai etalasenya memenuhi pasal ini? Ingatan saya melayang ke sejumlah jembatan penyebrangan di Jakarta yang begitu curam, juga trotoar yang rusak di sana-sini dan tidak mungkin dilalui pengguna kursi roda seperti Sri atau kawan-kawan saya yang tunanetra.

Ada juga UU No 4/1997 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Pemerintah No 43/1998 tentang Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas. Ada kuota 1 persen untuk penyandang disabilitas di perusahaan pemerintah dan swasta. Pasal 5 mengatakan, “setiap penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan.”

Sri Lestari, perempuan perkasa bertubuh mungil menyediakan waktu dan tenaganya menempuh ribuah kilometer diterpa terik matahari. Perjuangannya mengingatkan saya akan segala peraturan yang sudah ada. Teman saya Elisa Sutanudjaja menulis di blog-nya, soal kota yang ramah bagi semua dalam semua aspeknya, baik fisik maupun sosiologi. Kota yang ramah bagi semua warganya, pasti ramah untuk Sri dan penyandang disabilitas lainnya. Sri Lestari mendapatkan komitmen itu dari Walikota Sabang dan Walikota Banda Aceh. Saya berharap komitmen itu menular ke kota-kota yang ia singgahi dan menginspirasi kota lainnya yang membaca liputan media mengenai perjalanan Sri. Pengguna Twitter bisa mengikuti perjalanannya yang menggunakan hastagh #DiarySri

Saat makan malam bersama Sri, saya bertanya, “Selama perjalanan ini apa yang membuat staminanya terjaga, Mbak? “ . “Saya minum air putih saja. Tidak minum yang lain. Itupun saya jaga agar tidak sering ingin ke toilet,” jawab Sri.

Saya membayangkan toilet yang ditemui di sepanjang jalur Trans Sumatera. Berapa banyak yang mudah diakses Sri? Bagaimana dengan….ah, daftarnya panjang.

Bertemu Sri Lestari dan mendengarkan kisahnya, seperti mengarungi dalamnya sumur kehidupan. Setiap teguk dari airnya, mengalirkan semangat menyegarkan. ###

Uni Z. Lubis,

Jurnalis

* Tulisan ini dimuat di Majalah Rollingstone Indonesia edisi Oktober 2014

# Jika Anda terinspirasi dengan kisah Sri Lestari, silahkan artikel ini diteruskan ke teman-teman.

Hari ini, Sabtu, 11 Oktober 2014, Perkumpulan Alumni Eisenhower Indonesia mengadakan Diskusi Publik soal Aksesibilitas bagi Penyandang Disabilitas, sekaligus menyambut kedatangan Sri Lestari di ibukota Jakarta.

4 Comments

  1. tri s marty
    October 14, 2014 at 1:42 pm — Reply

    terima kasih sharingnya mba Uni. Semangat selalu ya

    • October 22, 2014 at 11:12 pm — Reply

      sama-sama, trims sudah berkunjung

  2. tri s marty
    October 14, 2014 at 1:42 pm — Reply

    terima kasih sharingnya mba Uni. Semangat selalu ya

    • October 22, 2014 at 11:12 pm — Reply

      sama-sama, trims sudah berkunjung

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *