HomeUncategorizedBer-Socmed Ria Ala Randi Zuckerberg

Ber-Socmed Ria Ala Randi Zuckerberg

 

Buku Randi Zuckerberg
Buku Randi Zuckerberg

Randi Zuckerberg sering diminta menceritakan kisah awal saat ia bekerja di Facebook. Randi, kakak Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, adalah orang yang pertama kali bekerja mengelola bagian pemasaran di raksasa media sosial itu. Menurut Randi, selain medium dan produk yang berkualitas, yang berperan besar membuat Facebook cepat menarik pengguna adalah fakta bahwa pengguna Facebook menggunakan nama asli. Mayoritas begitu. Jadi ada saling percaya diantara pengguna Facebook.

Randi, pendiri dan kepala eksekutif dari Zuckerberg media, menceritakan hal itu dalam bukunya, “Dot Complicated, How To Make It Through Life Online in One Piece.”. Saya membeli bukunya di toko buku di bandara Kuala Lumpur Internasional, bulan lalu. Menggunakan nama atau identitas asli adalah kultur yang dibangun sejak awal di Facebook. Soalnya, para pengguna pada awalnya membuka akun menggunakan alamat email yang didapat dari kampus. Kita ketahui bahwa Mark Zuckerberg mengembangkan medium ini saat ia kuliah di Universitas Harvard. Mark tidak menyelesaikan kuliah. Randi lulus studi psikologi di universitas bergengsi itu.

Apa yang diceritakan Randi ada benarnya, berdasarkan hasil survei bagaimana jurnalis di Indonesia menggunakan media sosial. Survei ini dilakukan oleh Dewan Pers pada 2011, kebetulan saya penanggung jawabnya. Hasil survei menggambarkan Facebook lebih dipercaya ketimbang media sosial lain termasuk Twitter sebagai sumber informasi bagi jurnalis yang menjadi responden. Alasannya? Trust. Adik saya yang jarang baca koran pun akan membuka tautan berita jika ada teman FB yang men-tag namanya.

Menurut Randi, menggunakan identitas asli juga membuat sesama pengguna FB relatif menjaga kalimat dalam berkomentar. Relatif ya. Bahkan tidak ketidaksetujuan disampaikan secara lebih sopan ketimbang debat di Twitter misalnya. Pengalaman selama kampanye pemilihan presiden sampai hari ini di Indonesia nampaknya anomali. Di FB saya melihat banyak orang menggunakan kata-kata kasar untuk mengomentari pendukung kandidat pesaing dari yang dia dukung. Pendukung Jokowi kasar ke pendukung Prabowo Subianto, begitu juga sebaliknya. Pilpres kali ini memang luar biasa sukses memecah masyarakat, bahkan keluarga dan perkawanan menjadi dua kubu besar.

Di bukunya, Randi yang juga editor kepala Dot Complicated, komunitas gaya hidup modern, membahas bagaimana kultur menggunakan identitas asli itu juga membuat FB efektif sebagai medium untuk menggerakkan kampanye sosial. “Keberanian dan sikap individu menginspirasi pihak lain untuk bergabung, karena individu itu muncul sebagai dirinya sendiri, berbagi sikap pribadi melalui Facebook,” kata Randi. Sikap pribadi itu menyebar melalui kekuatan media sosial.

“I am a passionate believer in the power of authentic identity,” ujar Randi. Dia giat mengkampanyekan bahwa anonimitas di internet harus dihindari, sebagai upaya untuk memaksimalkan manfaat internet untuk masyarakat. Menggunakan identitas asli juga membatasi aksi online bullying. “Who you are online will reflect more of who you are offline. Our digital selves are quickly become reflections of our actual selves,” kata Randi. Saat bekerja di Facebook, dialah sosok dibalik ide live streaming dengan CNN dan ABC, serta Facebook TownHall Meeting dengan Presiden Barack Obama.

Pada tahun 2013, Cambridge University membuat studi, menganalisa data profile 59 ribu pengguna Facebook di Amerika Serikat. Hasilnya, berdasarkan data “likes” saja, peneliti mampu memprediksi secara 95 persen akurat jenis jender (kelamin) dan kesukuan pengguna. Peneliti juga mampu memprediksi dengan ketepatan 85 persen, apakah pengguna memilih partai Demokrat atau Republik. Untuk mengetahui agama yang dianut pengguna yang dijadikan bahan studi, peneliti menghasilkan tingkat akurasi 82 persen. Bahkan, studi ini cukup berhasil mengetahui orang tua pengguna bercerai sebelum pengguna berusia 20 tahun. Tingkat akurasinya 60 persen. Not bad.

Randi membagi sejumlah catatan manfaat menggunakan identitas asli. Florence Detlor, seorang nenek berusia 101 tahun yang tinggal di Menlo Park, dan salah satu pengguna FB tertua, dapat berkomunikasi rutin dengan anak dan cucu serta kerabat lain. Aaron Durand, pengguna Twitter dari Portland, Oregon, menyelamatkan kios buku ibunya dari kebangkrutan. Aaron mengumumkan via akun Twitternya bahwa dia akan membelikan burrito bagi setiap orang yang belanja lebih dari US$ 50 dolar di kios buku ibunya. Kicauan ini tersebar luas. Kios buku itu kini masih beroperasi dan menjadi bisnis yang menguntungkan.

Ada lagi kisah yang romantis. Joao Crisostomo, warga New York berusia 68 tahun, bertemu kembali dengan Vilma Kracun, teman lama yang dikenalnya tahun 70-an. Joao kemudian pindah ke Brasil, berpisah selama empat dekade. Seorang teman kemudian berhasil menemukan Vilma via Facebook. Mereka janjian ketemu di Paris, jatuh cinta, lantas menikah pada April 2012. So sweet J

Di Indonesia saya yakin kita punya beberapa contoh soal kegunaan Facebook untuk gerakan sosial. Sejuta Facebooker support untuk Prita Mulyasari adalah salah satunya. Atau menghasilkan cinta lama bersemi kembali….??? silahkan cerita ya.

Randi juga membahas problem jika ada informasi personal yang terlanjur kita unggah ke dunia maya, dan kemudian belakangan kita sadar informasi itu bikin masalah. Sebuah foto saat Randi dan kawan-kawannya minum-minum di pinggir kolam renang jadi sumber gosip di Silicon Valley. “Nggak semua yang terjadi di Vegas, stay in Vegas,” kata Randi, mengutip sebuah kalimat yang populer.   Kalau itu terjadi, ada dua arus pendapat. Meminta yang menunggah mencabut informasi (termasuk foto) itu, atau mendiamkan saja dan berharap nggak banyak yang tahu. “Streisand Effect”, itu istilah yang digunakan ketika seorang figur publik gagal meminta foto rumah pribadinya dicabut dari internet. Iya, maksudnya si Barbara Streisand. Jadi, kalau Anda figur publik, protes atas tersebarnya informasi personal Anda justru akan membuat jadi rame.

Intinya sih Randi mengingatkan kita perlu hati-hati berbagi informasi di dunia siber. Kita nggak pernah tahu siapa yang akan memanfaatkan informasi itu. Tetap waspada #note2self.

Ini tips dari Randi Zuckerberg soal Achieving Tech-Life Balance in Your Own Online Identity.

# Be Your Authentic Self – Online and Offline. Aspek pro, membuat Anda mudah dikenali, dipercaya dan membangun identitas personal lebih besar ketimbang aspek kontra, penyalahgunaan data. Ya dipilih deh informasi yang mau dibagi ke publik.

 

# One Small Click of a Button, One Giant Heap of Repercussion. Informasi sekecil apapun meninggalkan jejak digital. Think before posting. – Untungnya Facebook ada fasilitas edit sekarang.

 

# Don’t Mess With Sorority Girls. Ini sih nasihat umum yaaa. Ngerti kan maksudnya??

 

# Drawing the Line Between “Public” and “Personal”. Btw, kalau kita nggak sreg sama postingan teman di FB, ya jangan segan-segan klik unfriend.

 

# Repost Unto Others as You Would Have Them Repost Unto You. Jadi, seperti di dunia nyata. Perlakukan postingan orang lain sebagaimana kamu ingin orang bereaksi terhadap postingan kamu.

 

Di bab lain, Randi menambahkan tips untuk dibagi ke anak-anak kita yang mulai berselancar di dunia internet.

 

# Your body is your business only. Think before you post revealing pictures

# Don’t bully or go along with other people who are bullying

# Only add ‘friends” online if you also know them in real life

# Always treat other with respect, the way you would want to be treated.

# If you are going to put something in writing, make sure you would be comfortable if it was reprinted in a newspaper.

# Only say something to someone online if you would also say it to that person’s face in real life

# Be careful with personal information about yourself or your family. Only share things with people you trust.

# Be vigilant againts predators, lurkers and bullies.

# Above all, guard your self and your dignity and stay safe

 

Sembilan tips untuk anak-anak itu menurut saya berlaku juga untuk orang dewasa. Untuk saya #hiks.

 

Lepas dari semua potensi bahaya yang mengincar di internet, saya sepakat dengan Randi, ibu seorang anak yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 50 Digital Players menurut media Hollywood Reporter.

 

“Work hard. Play hard. Post hard. Tweet hard. But most important, Live hard. Because we are way too legit to quit.”. Iyaa…ingat lagunya MC Hammer kan???

 

 

4 Comments

  1. November 24, 2014 at 1:21 pm — Reply

    wah gw harus beli buku ini.. bagus kayaknya..

  2. November 24, 2014 at 1:21 pm — Reply

    wah gw harus beli buku ini.. bagus kayaknya..

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *