HomeUncategorizedHARAP-HARAP CEMAS DI AKHIR COP 20

HARAP-HARAP CEMAS DI AKHIR COP 20

#100HariJokowiJK #Hari48

Longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, akibatkan setidaknya 12 orang tewas dan ratusan lainnya hilang. Foto oleh @nurmansali/Twitter
Longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, akibatkan setidaknya 12 orang tewas dan ratusan lainnya hilang. Foto oleh @nurmansali/Twitter

Debat merumuskan teks akhir dari Pentagonito, Lima, masih berkutat antara lain soal komitmen pendanaan untuk adaptasi Perubahan Iklim.  Niat baik berhadapan dengan kepentingan nasional.

“How many CoPs will it take for us to really see any tangible results? We have been going from CoP to CoP and every time we are given so many assurances, and expectations are raised, but the gaps are getting wider,” he said.

“There has been a clear commitment of $100bn a year but how are we really being offered? Even when they make those pledges how do we know how much is going to materialise? There is no point of knowing that behind the wall there is a big source of funds available unless we can reach it,” he said.

“We are told it is there in a nice showcase, but we don’t get to meet it. We don’t get to access it. These are difficult issues for us.”

Kalimat di atas milik Ahmed Sareer, negosiator dari Maldives di konperensi perubahan iklim, COP 20, di Lima, Peru.  Acara tahunan yang digelar sejak negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui Konvensi Kerangka PBB dalam Perubahan Iklim (UNFCCC) di  KTT Bumi di Rio de Janeiro, 22 tahun lalu itu, berlangsung di Peru tanggal 1-12Desember ini.  Saat tulisan ini dibuat, negosiasi final tengah berlangsung, molor beberapa jam dari jadwal awal.  Kalimat Sareer dikutip dari laporan wartawan Guardian, Suzanne Goldenberg (@suzyji).

Banyak suara-suara pesimis datang dari kalangan penggiat kemasyarakatan dan negara berkembang yang  mengikuti negosiasi draf pernyataan Lima.  Draf dari COP 20 diharapkan menjadi bahan “siap teken” untuk COP 21 yang akan berlangsung di Paris, tahun depan.  Tak heran jika KTT di Lima juga disebut “Climate Talk, From Lima To Paris”.  Dari kalangan negara maju, pertemuan di Pentagonito, markas kementerian pertahanan Peru ini, dimulai dengan optimisme.  Salah satunya adalah karena bulan lalu, dua penghasil emisi karbon terbesar, AS dan Tiongkok, mengumumkan komitmen memangkas emisi gas karbon rumah kaca.  Dua negara besar ini biasanya menjadi penghalang tercapainya kesepakatan.

Optimisme itu meredup.  Sampai jam-jam terakhir jadwal negosiasi di Pentagonito, gap antra kelompook negara kaya dengan negara berkembang dan miskin melebar.

Baca selengkapnya

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *