HomeUncategorizedJusman S. Djamal: Belajar Mobnas Kog Dari Malaysia?

Jusman S. Djamal: Belajar Mobnas Kog Dari Malaysia?

Melalui akun Facebook, saya mengundang Pak Jusman Syafii Djamal untuk bercerita soal perjalanan proyek atau program mobil nasional di Indonesia. Beliau adalah lead designer mobil “Maleo”, yang pada 1993 menjadi pilot project mobil nasional Indonesia untuk pertama kalinya.  Proyek ini dilaksanakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.  Pak Jusman, sebagaimana sering saya sampaikan, juga pernah menjadi presiden direktur PT Dirgantara Indonesia (sebelumnya PT Nurtanio yang memproduksi CN 235 dkk).  Pernah menjadi menteri perhubungan dan kini komisaris utama PT Garuda Indonesia.  Saya pernah bersama-sama Pak Jusman mengunjungi Kansai Green Park Industry di Osaka, Jepang.  Saat itu kami bersama pemilik Panasonic Indonesia, Rachmat Gobel, meninjau pabrik batere listrik tenaga surya, dan juga mobil listriknya.

Ini  komentar Pak Jusman atas pertanyaan saya, soal kerjasama feasibility study pengembangan mobil nasional antara perusahaan Indonesia yang dipimpin mantan kepala Badan Intelijen Negara A.M. Hendropriyono dengan Proton, Malaysia.  Kerjasama ditu diteken kemarin di Kuala Lumpur, disaksikan Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.  Jokowi berkunjung ke pabrik Proton.  Hadir juga mantan PM Malaysia Datok Mahathir Muhamad, yang juga inisiator dan “bapak” Proton.  Oleh ekonom dari Malaysia, proyek mobil nasional ini diulas secara luas sebagai proyek gagal.

****

Pak Jusman:

Yang saya ingat pada tahun 1995, untuk merayakan tahun Emas Indonesia Merdeka (50 tahun Indonesia Merdeka) semua engineer, semua saintist dan ekonom Indonesia berlomba menunjukkan keunggulan dan kemampuannya untuk menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri diatas kakinya sendiri.  Diantaranya dengan merekayasa mobil , kereta api, kapal dan pesawat terbang.  Ada tekad bersama sebagai bangsa kita mampu swasembada pangan dan swasembada kemampuan teknologi  sendiri.

Presiden Suharto kemudian mencanangkan tekad untuk membuat MOBNAS, mobil nasional.  Akan tetapi kebijakan ini kemudian dikenal sebagai kebijakan yang “cronyism”,  sebab entah siapa yang mengusulkan sehingga Presiden Suharto menunjuk mobil Timor sebagai Mobnas.  Kerjasama KIA , produk  mobil dari Korea Selatan dengan PT Timor dengan pelbagai fasilitas insentif  fiskal dan proteksi.   Sementara Subronto Laras kalau tidak salah me-launching “Mobil Rakyat” , kerjasama dengan Mazda.  Bakrie mencanangkan Beta 97 MPV,  Shinivasan merancang Truk Perkasa,  dan Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS)  merancang bangun mobil sendiri bernama “Maleo”.

Maleo menggandeng perusahaan perancang bangun Australia untuk belajar tatacara merancang bangun mobil dari stylish, tear down, digitizing, clay model hingga jadi prototype dan membuat detail desain sendiri.   Akibat langkah ini  industri mobil Jepang, Amerika dan Eropa protes ke WTO  (organisasi perdagangan dunia) karena dianggap Indonesia menempuh kebijakan proteksi pasar dan bertentangan dengan arus liberalisasi pasar yang diinginkan WTO.

Saat itu  karena Indonesia dilanda krisis ekonomi , dalam sidang sidang WTO delegasi Indonesia kedodoran menghadapi tekanan industri mobil Jepang, Eropa dan Amerika yang bersatu.  Indonesia kalah dan kemudian WTO kalau tidak salah menghukum Indonesia dan kita diminta membatalkan program Mobnas karena dianggap melanggar aturan WTO.

Kebetulan Tahun 1996 itu saya diminta oleh boss saya,  Ir. Sutadi Suparlan,  untuk mendampingi beliau memimpin tim 100 engineer Indonesia belajar rancang bangun dan rekayasa mobil di Australia.  Ada 4 prototype dihasilkan.  Sayang krisis ekonomi 1997 mengubur cita-cita itu.  Nasib Maleo sama dengan nasib N250 pesawat terbang 50-70 penumpang yang kebetulan saya diberikan kesempatan oleh Prof.Dr.Ing.Bj Habibie untuk menjadi chief project engineer-nya.

Jika N250 menghasilkan 2 jenis prototype yang satu berkapasitas 50 penumpang (P1), yang kedua berkapasitas 70 penumpang (P2).  Kedua pesawat prototype ini pernah dibawa terbang keliling Indonesia. Sementara yang prototype No. 1 yang diberi nama “Gatotkoco”,  pernah dibawa terbang dari Jakarta hingga Paris.  Accumulated flying hour-nya 800 jam terbang.

Sayang kemudian proyek N250 ini dimasukkan kedalam letter of intent IMF, dan tidak mendapatkan dana untuk dikembangkan lebih lanjut.   Mati sebelum berkembang.

Dengan kata lain saya ingin mengatakan bahwa rekayasa dan rancang bangun mobil, kereta api, kapal dan kapal terbang telah pernah berhasil dilaksanakan oleh putra-putri Indonesia. Pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa penguasaan teknologi telah berhasil dilaksanakan oleh putra putri Indonesia.

Kemampuan putra-putri Indonesia untuk merancang bangun dan memproduksi produk berteknologi tinggi menurut hemat saya tidak perlu diragukan. Apalagi generasi muda saat ini saya yakin jauh lebih jenius dan lebih pintar. serta lebih menguasai teknologi dibanding generasi saya.   Alangkah sedihnya jika para engineer muda ini tidak diberi kesempatan untuk merancang bangun Mobil Nasional nya sendiri.  Apalagi harus belajar dari Malaysia yang dalam sejarahnya baik engineer Indonesia maupun engineer Malaysia memiliki kapasitas yang berada dalam level sama,  akan tetapi dalam banyak kasus engineer Indonesia satu langkah lebih maju.

Sayang kalau kita harus belajar membuat Mobnas dari Malaysia.

Sepertinya kini kita yang dahulunya dikenal menjadi Guru akan berubah status menjadi murid engineer Malaysia. Sedih juga. Alangkah baiknya kalau mau belajar merancang bangun dan memproduksi Mobnas saya sarankan belajar dari gurunya yakni Jepang, Jerman atau Amerika. Sebab industri otomotif  itu kelihatan mudah dikembangkan, tetapi karena padat teknologi dan padat kapital serta memiliki mata rantai Global Value Chain Network yang menggurita, industri ini lebih sukar dikuasai, sama sukarnya dengan menguasai dan mengembangkan industri pesawat terbang.

Pada masa kini jauh lebih bermanfaat jika yang dikembangkan adalah industri komponen.  Dimana Indonesia jauh memiliki keunggulan dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand. Apalagi pasar domestik Indonesia jauh lebih besar daripada Malasysia. Mungkin value added dan Value Chain Global Network berupa industri komponen dan suku cadang akan jauh lebih tinggi dan dapat digunakan untuk menciptakan lapangan kerja serta mengurangi defisit neraca perdagangan yang jadi isu strategis seperti dewasa ini. Tapi jika itu yang dianggap terbaik oleh Pemerintah, apa boleh buat.   We follow the leader. Salam

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *