HomeUncategorizedJusman SD: Atasi Calo di Bandara, Kog Solusinya Tutup Konter Tiket?

Jusman SD: Atasi Calo di Bandara, Kog Solusinya Tutup Konter Tiket?

Pengantar: Tulisan ini adalah status Facebook Pak Jusman Syafii Djamal, komisaris utama PT Garuda Indonesia. Sebagaimana saya sering sampaikan dalam blog ini, Pak Jusman juga mantan menteri perhubungan di era Pak SBY, menggantikan Hatta Rajasa, sampai akhir 2004.

****

Sesuai rencana menteri perhubunga, tanggal 15 Februari 2015, seluruh ticket counter di bandara akan dilarang. Alasannya untuk menghilangkan calo dan bagian dari reformasi bandara di Indonesia. Langkah menghilangkan calo memang dikehendaki semua orang. Aktivitas mereformasi bandara di Indonesia agar lebih nyaman, aman dan menyenangkan bagi semua penumpang sangat dinanti semua kalangan. Jadi kedua alasan yang dikemukakan memiliki fondasi untuk diterapkan.

Apakah itu langkah yang terbaik? Apakah tidak ada jalan lain untuk mereformasi bandara dan menghilangkan calo? Apakah menghilangkan “ticket counter” di bandara merupakan satu- satunya jalan keluar? Kalau jawabannya “Ya”, mengapa di bandara di Amerika Serikat dan Eropa kita masih menemukan ticket counter? Mengapa di bandara internasional kita jarang menemukan calo?

Saya tidak tahu pasti jawaban untuk itu. Akan tetapi saya memiliki pengalaman untuk mengelilingi boleh dikatakan hampir seluruh bandara di dunia. Mulai dari Bandara Petrovak dan Baikonur misalnya di Rusia dan Kazahstan, Bandara Ulan Bator di Mongolia, , Bandara Prestwick di Birmingham, Heatrow di London, Madrid , Zurich, Hamburg, Berlin di Eropa, Bandara Seattle, New York, Alaska di AS sampai Bandara Hongkong, Shanghai, Beijing di China, dan termasuk bandara di ujung Indonesia seperti Wakatobi, Nagan Raya, Silangit dan lain sebagainya. Kecil besar. Domestik maupun internasional.

Pengalaman saya memperlihatkan bahwa “counter ticket” di bandara merupakan sebuah tempat yang mirip seperti oase di Padang Pasir. Tempat dimana kita bisa menemukan tiket untuk kembali ke rumah jikalau dalam keadaan darurat (emergency). Kadangkala ia mirip seperti Ruang Gawat Darurat di rumah sakit, ketika kita “in the middle of nowhere dan crisis” mendengar berita emergency dari rumah.   Sedang menjadi turis atau sebagai orang yang sedang ditimpa berita kemalangan, tak ada jalan keluar kecuali go show ke bandara. Get the ticket whatever the price and go home. 

Bagi yang pernah  tersesat dan tak tahu mau ke mana berjalan di luar negeri, mau kembali ke rumah tak ada jalan lain, bandara adalah “escape road” nya. Tempat dimana pengembara menemukan oasis untuk menenangkan diri dalam perjalanan “back to home”

Kini tempat itu hilang begitu saja melalui sebuah surat keputusan ???

Apakah itu langkah yang baik ? Mungkin betul tapi apa manfaatnya jauh lebih besar dari mudharatnya untuk semua kalangan ?

Bagi saya setidaknya ada 2 alasan prinsip yang menyebabkan konter tiket di bandara itu perlu “exist” dan tetap dipertahankan keberadaannya.

Alasan Pertama, bersifat Tupoksi (tugas pokok dan fungi) Otoritas Penerbangan Sipil di semua Negara.  Berdasarkan ketentuan berlaku baik Undang Undang maupun Chicago Convention, aturan FAA maupun UU Penerbangan No 1.2009 Tugas Pokok dan Fungsi, serta Visi dan Misi Otoritas Penerbangan Sipili  adalah Dual Mission. Misi Pertama, untuk menjadi Pendorong, Penggerak dan Penjaga Eksistensi Maskapai Penerbangan agar tercipta lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi dan lahirnya profit untuk tumbuh dan berkembang sebagai Badan Usaha.

Misi Kedua : Menjadi Pendorong, Penggerak dan Penjaga tingkat Keselamatan dan Keamanan Penerbangan sesuai dengan Rule and Regulation berdasarkan standar International. Dua misi ini selalu ada dan selalu menjadi “Tupoksi” serta tugas dan kewajiban Otoritas Penerbangan Sipil diseluruh Negara.

Tahun 1996 ketika FAA mendapatkan tekanan atas terjadinya kecelakaan ValuJet, maskapai penerbangan Low Cost Carrier, Direktur FAA ketika berhadapan dengan Congress di Amerika, hampir lempar handuk dan menyerah angkat tangan. Ketika dicecar para Senator ia bilang :”Yang Mulia kami mohon ijin tidak dapat melaksanakan tugas kami sebagai Penggerak dan Pendorong kemajuan maskapai penerbangan dan industri aviasi di Amerika. Tugas itu berat sekali dan sering ada paradox, bertentangan di lapangan. Untuk mempromosikan industri aviasi kami harus memperhatikan dan membangun ecosystems agar terjadi kompetisi yang sehat, fairness dalam mengejar keuntungan. Kadangkala ada praktek banting harga di lapangan dan kami menyerahkan ke mekanisme pasar. Tapi akibatnya semua cari untung dan perawatan pesawat serta safety dikorbankan” . Bagi FAA itu wilayah bisnis dan mereka bilang tak punya keahlian di sana. Keahlian FAA kata David Hinson, ” Hanya Aviation Safety dan Aviation Security “.

Kisah kecelakaan ValuJet bisa dibaca di sini : http://en.wikipedia.org/wiki/ValuJet_Flight_592

Menurut David Hinson, Tupoksi mendorong dan mengembangkan ecosystems bisnis dalam Aviasi, di lapangan sering berbenturan dengan tugas kedua FAA yakni menjaga Safety and Security of the Aviation. “Kami minta satu tugas saja, yakni Aviation Safety, ” kata Hinson.

Apa jawaban Congress atas upaya lempar handuk Direktur FAA tersebut?

“No Sir. Dengan sangat menyesal kami tak dapat memenuhi permintaan Anda. Tugas FAA ada dua , yakni Aviation Safety and Promoting the Growth of the Industry. Itu amanat kami selaku senator pembuat Undang-undang. Anda harus bekerja untuk dua hal : “To protect public safety and to promote industry”. Anda harus hidup dengan dual mission tersebut. Selamat bekerja.

Dialog The FAA’s administrator, then was a onetime airline boss named David Hinson dengan para Senator dan Tim Penyelidik Keselamatan Penerbangan bentukan Presiden Clinton tahun 1996 tersebut amat terkenal untuk jadi reference bagi para pengelola Otoritas Penerbangan Sipil didunia. Apalagi ketika sedang capek dan marasa lelah karena tekanan pekerjaan.

 

Ditulis dalam report kurang lebih begini. “After a good night’s sleep Hinson might have tried to repairt he damage. Instead he appeared two days later at a Senate hearing in Washington sounding like an unrepentant Prussian: “We have a very professional, highly dedicated, organized, and efficient inspector workforce that do their job day in and day out. And when we say an airline is safe to fly, it is safe to fly. There is no gray area.”

Jawaban ditengah krisis kepercayaan pada FAA tahun 1996 an tersebut kemudian menjadi tonggak . Sampai saat ini FAA memiliki dual role function yakni : Promotion Aviation Safety. And Promoting Airline and Aviation Industry.

Setelah tahun 2001 ,setelah Tragedi September 11, Tupoksi FAA tentang Aviation Security dipindah ke Homeland Security dan ada lembaga khusus namanya TSA, Transportation Security Agency yang terpisah dari FAA. Sebelumnya menyatu.

Alasan kedua adalah alasan praktek di lapangan .  Selama ini bagi maskapai penerbangan di dunia ticket counter di bandara adalah tempat Premium Airline mengelola dan mengembangkan ruang yang menyenangkan bagi “frequent flyer” untuk mengelola “miles, upgrading class”, serta tempat bagi penumpang transit atau Go Show untuk menemukan dan membeli tiket baru, sehingga mereka tak perlu harus ke kota atau membuka buka laptop dan kehilangan kesempatan untuk berangkat di hari itu.

Karenanya maskapai penerbangan premium pada umumnya melakukan investasi agar di counter itu, ada lounge dan tempat di mana penumpang  merasa nyaman dan merasa aman. Bagi pelanggan ukuran kenyamanan ticket counter menyatu dengan brand maskapai penerbangan. Disana dibangun citra maskapai penerbangan. Lounge itu  dikelola oleh mereka yang penuh senyum, cantik, ganteng bersahabat dan menyenangkan serta amat profesional.

Jika itu hilang dan penumpang hanya bertemu “screen, laptop, dan mesin pengelola tiket”, kemana lagi kita bisa menemukan suasana “romantic of humanity and culture” semua diganti mesin dan kita jadi robot ???

Di ticket counter dan Lounge, seolah tiap pelanggan yang dalam keadaan emergency diperlakukan dan dilayani sebagai seorang raja. Customer is a King. Mana ada raja terus menerus buka laptop dan berkeringat untuk mencari dimana ada kursi kosong tanpa bantuan orang lain ??

Bagi maskapai penerbangan LCC ticket counter adalah tempat mereka mengembangkan pola manajemen Revenue dengan lebih baik. Prinsip siapa yang mampu membayar mahal mengapa harus membayar murah dan siapa yang tidak mampu membayar mengapa tidak tidak bisa pergi melalui pesawat terbang dengan tiket murah?

Prinsip every body can fly penggeraknya ada di ticket counter bandara. Mereka yang Go Show adalah customer yang siap membayar tiket dengan harga terjangkau dan lebih mahal. Sebab pada umumnya mereka berada dalam situasi emergency entah itu karena mendapatkan berita ayah dan ibunya wafat, abang atau adiknya tewas atau profesor, guru dan mereka yang dicintainya gugur di medan tugas. Kemana lagi mereka akan mendapatkan tiket jika tidak di bandara?

Cari online bagaimana caranya ??? Banyak orang pensiunan, orang tua, mantan ini dan mantan itu yang tidak mau menyusahkan orang lain tetapi gagap teknologi dan tak mau berurusan dengan handphone ingin bertemu dengan mereka yang penuh senyuman, ramah dan menyenangkan di bandara. Tidak dengan screen dan laptop atau smartphone. Mereka memerlukan sentuhan manusiawi. Dimana di Indonesia adalah gudang mereka orang-orang yang selalu tersenyum. Sekarang diganti dengan robot dan mesin ???

Lantas bagaimana dengan calo? Banyak cara lain. Kita memiliki Kepolisian Republik Indonesia yang memiliki kecanggihan untuk melacak segala jenis jaringan. Amati saja keahlian Densus 88 melacak jaringan teror. Saya fikir urusan calo di bandara dan stasiun serta pelabuhan urusan kecil bagi mereka untuk diselesaikan.

Selain itu di bandara juga ada Manajemen Bandara yang punya keahlian, keberanian dan keprigelan dalam mengelola segala jenis persoalan pelik. Ada aparat yang seharusnya menjadi back up. Pastilah mereka dapat menyelesaikan soal itu. Semua pasti bersedia bekerja profesional untuk membuat bandara di seluruh Indonesia, aman, nyaman dan menyenangkan bagi semua orang. Ada banyak cara dan metode untuk menghilangkan calo. Tak perlu membakar rumah hanya untuk mengusir tikus, itu kata pepatah Indonesia yang terkenal. Tak perlu gunakan meriam untuk membunuh nyamuk, kata orang orang di jalanan. Ada banyak pencuri berkeliaran, kenapa kita harus pindah rumah ??

Karena alasan alasan diatas saya merasa bahwa  ticket counter di bandara sangat diperlukan. Mohon jangan dihilangkan.

Ini permintaan dari seorang yang pernah pengalaman menjadi “frequent flyer” selama hampir tujuh tahun lebih dari tahun 1982 hingga 1990. Dan hingga saat ini juga masih begitu.

Mohon dimaafkan. Ini just food for thought. Salam

 

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *