HomeUncategorizedKenangan Ramadan Saat Kuliah

Kenangan Ramadan Saat Kuliah

[My Ramadhan Stories – Hari 4]

Dari mengantri saat memasak nasi goreng sampai dapat kiriman takjil dari pengagum. #aha

Acara Buka Puasa Bersama Korps Mahawarman, IPB. (Foto oleh Uni Lubis)
Acara Buka Puasa Bersama Korps Mahawarman, IPB. (Foto oleh Uni Lubis)

Sabtu (20/6) saya ke Bogor. Alumni korps resimen mahasiswa Batalyon VII Suryakencana, Mahawarman, mengadakan acara buka puasa bersama (bukber). Acara ini membawa saya mengunjungi deretan ruang-ruang kelas di komplek Fakultas Peternakan Institut Pertanian IPB di Jalan Raya Gunung Gede, Bogor. Ancer-ancernya sih gampang, yaitu Mesjid Al Ghifari yang menjadi penanda komplek itu. Markas Komando Yon VII ada di belakang masjid. Karena yang hadir cukup banyak, 50-an orang, acara bukber dipindah ke salah satu ruangan kelas, berjalan kaki sekitar 100 meter dari Mako. Aroma yang khas meruap dari kandang sapi di sepanjang jalan menuju ruang kelas. Sapi-sapi itu adalah bagian praktik lapangan mahasiswa/I Fakultas Peternakan.

Pulang dari acara bukber, usai Maghrib, saya mengajak suami dan anak mampir makan malam di deretan warung di belakang Rumah Sakit Palang Merah Indonesia, di Jalan Padjajaran. Hampir semua warung penuh. Habis bukber kog mampir warung? Iya, karena kan saya membawa keluarga. Tidak enak mengambil porsi untuk peserta. Lebih penting untuk adik-adik yang notabene anak kos (senior pengertian, hehe).

Sambil makan Udang dan Ikan Asin Gabus Penyet, saya bercerita nostalgia saat kuliah di IPB, 26-30 tahun lalu.  Saya masuk IPB tahun 1985. Sempat kos di Perumahan Bogor Baru. Kalau tidak naik angkot, ya jalan kaki saja dari rumah tinggal ke kampus di Baranangsiang, Jalan Padjajaran. Tempat kami makan, Sabtu malam itu, adalah jalur berangkat-pulang selama setahun pertama. Kemudian saya pindah kos di Jalan Malabar No 1. Di rumah Pak Ir. Hidir Sastraamadja, persis di depan gerbang kampus IPB. Jalan kaki 5 menit sudah sampai di ruang kelas. Kemudahan yang kadang membuat malas, karena justru suka leha-leha. Datang last minutes, kebagian duduk paling belakang J

Bulan Ramadan di Bogor saat itu lumayan syahdu #tsaah. Tidak ada perbedaan soal kewajiban pelajaran.  Mahasiswa/I IPB saat itu sudah terbiasa kuliah atau ujian bahkan di hari Sabtu dan Minggu. Bulan puasa, paling ada jeda cukup sehingga waktu berbuka puasa dinikmati dengan khusyu. Habis itu ada kuliah malam ya biasa saja.

Uang saku dari orang tua terbatas. Jaman saya kuliah, mi instan belum happening sebagai penganan andalan mahasiswa. Saat itu untuk lauk makan sahur paling abon, kering tempe kiriman Ibu. Yang uangnya rada berlebih biasanya sempat membeli lauk, entah sepotong ikan atau ayam, saat berbuka puasa. Menggoreng tempe dan tahu sudah nikmat banget. Dicocol sambal buatan sendiri.

Bisa makan di restoran cepat saji KFC yang ada di seberang Tugu Kujang, paling sekali dalam sebulan. Rasanya sudah wah banget. Kudu nabung dulu, menyisihkan uang saku. Teman saya Ardi Wirda (@awemany) dikasi uang saku banyak. Jadi, setiap hari dia makan di Kedai Asih di Mal Bogor Inter Nusa. Mal itu terbakar, sampai sekarang masih tutup.

Bersama senior dan yunior Yon VII Suryakencana, Mahawarman. Foto oleh Uni Lubis
Bersama senior dan yunior Yon VII Suryakencana, Mahawarman. Foto oleh Uni Lubis

Di tempat kos saya, ada 30 an mahasiswi. Kompor  cuma dua. Jadi, kalau mau memanaskan makanan atau membuat nasi goreng, misalnya, kudu ngantri. Sama halnya ngantri ke kamar mandi yang  cuma ada dua.

Anak-anak IPB rajin memanfaatkan Ramadan untuk bisnis kecil-kecilan menjual makanan berbuka puasa. Mulai dari kolak, bubur kacang ijo, serabi, kue-kue bisa dipesan untuk diri sendiri ataupun diantarkan ke teman, dan tentu saja: pacar #uhuk:p. Jadi salah satu nostalgia yang mengesankan adalah mendapat kiriman talkjil berbuka puasa disertai kartu ucapan dari karton manila warna merah jambu yang bertuliskan: met buka puasa ya, with love #eaaaaa J. Kirim-kiriman takjil juga bisa buat pedekate alias pendekatan kepada yang ditaksir. Kadang pengirimnya disamarkan dan bikin penasaran #aha;-)

Tradisi itu masih ada saat ini tapi makin kurang. Kebanyakan membeli penganan takjil di berbagai sudut kampung atau dekat kampus. Sama halnya belakangan setiap bulan Ramadan di kampung-kampung termasuk dekat tempat saya tinggal saat ini, setiap 5-10 meter ada yang menjual takjil. Yang dijual mirip-mirip: kolak biji salak, bubur kacang ijo, bubur sumsum dan sop buah. Kadang saya berpikir, betapa kerasnya persaingan berjualan takjil ya?

Saya berharap meski ekonomi agak lesu saat Ramadan kali ini, para penjual takjil tetap laris manis. Di Twitter ada yang mention ke saya, mengatakan bahwa penjualan takjil tahun ini terasa lesu. Semoga membaik di hari-hari ini.

Kamu punya cerita apa saat Ramadan di kampus? ###

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *