HomeUncategorizedHarga Stabil, Daya Beli Turun?

Harga Stabil, Daya Beli Turun?

[My Ramadhan Stories – Hari 5]
Ramadan dan Lebaran di tengah ketidakpastian membuat konsumen cenderung menahan uang untuk menabung.  Daya beli turun, dan jelang masuk sekolah juga menjadi alasan menahan nafsu belanja.
Pasar Prawirotaman Yogya. Foto oleh Uni Lubis
Pasar Prawirotaman Yogya. Foto oleh Uni Lubis

Sebagaimana dugaan awal, tidak gampang disiplin menulis setiap hari.  Terutama jika ada pekerjaan mendadak lain yang datang.  Menyiapkan dua presentasi mengenai bioteknologi.  Ok, mari kita mulai lagi #MyRamadanStories2015, begitu saya menyebutnya, atau #ceritaramadan untuk Rappler Indonesia.  Kali ini tentang beberapa pasar dan menurunnya daya beli.

Awal Minggu ini saya berkunjung ke Pasar Grosir Blok A Tanah Abang.  Tidak ada maksud khusus sebenarnya.  Apalagi mau memborong baju?  Saya ke sana ingin menikmati keriuhan suasana pasar tekstil dan garmen paling kondang sedunia.  Pengunjungnya bukan hanya dari Indonesia, melainkan dari berbagai penjuru dunia termasuk Afrika dan Timur Tengah.   Pasar ini dikelola oleh perusahaan yang dimiliki Djan Faridz, bos Partai Persatuan Pembangunan versi Koalisi Merah Putih.

Ketika saya ke sana, suasana cukup rame.  Menuju ke lobi harus menempuh jalan memutar. Macet angkutan kota dan mobil adalah pemandangan rutin di kawasan ini.  Masuk ke lobi, puluhan orang duduk menunggu kendaraan, atau kelelahan.  Saya menelusuri kios-kios di lantai dasar dan lantai 1.  Deretan kios baju muslim cukup ramai.  Sebagian memasang harga secara jelas.  Rp 75.000, Rp 100.000, atau potongan diskon menarik.  “Supaya pembeli minimal mau bertanya,” kata salah satu penjual.  Di sebelahnya, ada penjaga yang menguap, terkantuk-kantuk.  Rupanya kiosnya sepi pembeli.

Saya bertanya ke kios penjual baju muslim impor dari Korea Selatan.  Menggunakan model berpenutup kepala (hoodie).  Berapa harga sepotong baju?  Dia menyebut harga di atas Rp 400.000.  Tahun lalu saya pernah membeli baju sejenis di Thamrin City.  Harganya sama.  Tapi tahun ini pembelian menurun.  “Biasanya, minggu pertama seperti ini, omset Rp 17 jutaan per hari.  Sekarang 6-7 jutaan,” kata Mbak penjaga kios.  Mereka masih berharap pembelian meningkat pekan ini sampai pekan depan, ketika Tunjangan Hari Raya sudah diterima karyawan.  Tapi itu pembelian eceran.  Di Pasar Blok A mereka bertumpu kepada penjualan partai besar, dengan sistem kodian.

Saya mengunjungi seorang teman yang memiliki kios di sana.  Dia saya kenal saat tahun 2009, televisi tempat saya bekerja saat itu membuat acara bincang-bincang calon presiden di tengah pasar.  Tiga kandidat presiden hadir, yakni Bu Megawati Sukarnoputri, Pak Jusuf Kalla dan calon petahana Pak Susilo Bambang Yudhoyono.  Para calon wapres juga hadir, yaitu Pak Wiranto dan Pak Prabowo Subianto.  Teman saya menjual seprei.  Biasanya cukup ramai dibeli menjelang Lebaran.  Kali ini omset bisnisnya menurun 30 persenan.

Ada yang omsetnya stabil.  Pakaian anak-anak. Tradisi membelikan baju baru untuk anak-anak merayakan Lebaran tak pernah surut.  Orang tua seperti saya tak lagi menganggap penting menggunakan baju baru.  Kalau ada rejeki, kata pembeli yang saya temui sedang menawar sebuah baju muslim, “beli yang harganya lebih murah.  Yang penting baju baru.”  Ibu ini akan mudik ke Jawa Tengah.  Dia membeli oleh-oleh untuk kerabat.  Anggaran belanja oleh-oleh dipangkas.  “Soalnya Lebaran bersamaan dengan jelang masuk tahun ajaran sekolah.  Kan harus bayar uang awal tahun ajaran dan seragam,” kata dia.

Pagi ini saya mampir ke Pasar Ngasem di Yogya.  Harga barang-barang stabil.  Sayuran, cabai merah, bawang dan tempe tahu masih harga sebelum Ramadan.  “Nggak dinaikkan.  Kalau naik, nanti kami dipanggil.  Kan baru didatangi pemeriksa,” kata seorang penjual.  Presiden Joko “Jokowi” Widodo memang menginstruksikan menteri agar harga kebutuhan pokok selama Ramadan dan Lebaran dijaga tetap terjangkau, barang tersedia.

“Siapa yang menaikkan harga barang kebutuhan pokok akan saya kejar,” kata Jokowi.  Menilik situasi di Pasar Ngasem, ancaman itu cukup efektif.  Bahwa ada kecenderungan mengerem belanja karena situasi ekonomi yang tidak menentu.  Ekonom Faisal Basri yang kini dilaris ditugasi pemerintah Jokowi untuk memberantas mafia di sektor ekonomi menyoroti lambatnya belanja pemerintah, yang ujungnya termasuk terlambatnya pembayaran honor  dan gaji.

Upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan berbagai cara.  Dari sisi pasokan, kebutuhan pokok dijaga.  Operasi pasar digelar secara nasional.  Program Gerai Maritim diluncurkan.  Pemerintah juga akan menerbitkan aturan yang menaikkan batas Penghasilan Tak Kena Pajak menjadi Rp 3 juta.  Ini kabar gembira bagi perusahaan dan pekerja.  Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro berharap beleid baru ini bisa menggenjot konsumsi domestik yang selama ini jadi andalan pendorong pertumbuhan ekonomi. ###

 

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *