HomeUncategorizedUmat Islam Xinjiang: Kami Bebas Berpuasa

Umat Islam Xinjiang: Kami Bebas Berpuasa

Untuk setiap 300 umat Islam di Xinjiang tersedia satu masjid. Pemerintah Tiongkok membantu biayai sekolah untuk calon imam dan khotib. Mereka membantu redam masuknya paham ekstrimisme dan radikal.

Warga Muslim Uighur berdoa setelah salat Jumat di Kashgar, Xinjiang, Tiongkok, pada 24 Mei 2013. Foto oleh EPA/How Hwee
Warga Muslim Uighur berdoa setelah salat Jumat di Kashgar, Xinjiang, Tiongkok, pada 24 Mei 2013. Foto oleh EPA/How Hwee

Setiap tahun, pemerintah otonomi Xinjiang memberangkatkan sekitar 3.000 jemaah haji. Ini kuota yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi bagi penganut agama Islam di provinsi Xinjiang, yang terletak di barat daya Tiongkok.

Xinjiang berbatasan dengan 8 negara, termasuk Khazaktan, Rusia, dan Mongolia. “Mereka membiayai sendiri perjalanan haji itu. Syaratnya ya standar, yaitu punya kemampuan fisik dan mental serta mampu. Pemerintah provinsi memfasilitasi,” kata Wakil Presiden Xinjiang Islamic Institute Alimu Reheman di Urumqi, Minggu, 2 Agustus.

Saat ini ada sekitar 10.000 penganut agama Islam di Xinjiang yang telah melakukan ibadah haji ke Mekkah, Arab Saudi.

“Konstitusi Tiongkok secara jelas menyatakan bahwa rakyat di negeri ini bebas memilih agama dan melakukan kegiatan beribadah, sekaligus bebas untuk memilih tidak beragama,” kata Alimu.

Alimu berasal dari suku Uigur, suku terbesar di Xinjiang yang dihuni 55 suku termsuk 13 suku asli: Uighur, Han, Kazakh, Hui, Khalkhas, Mongol, Tajik, Xibe, Manchu, Ozbek, Rusia, Daur, dan Tartar.

Dari suku asli itu, suku Uighur, Khazak, Hui, Tajik, Ozbek dan Tartar mayoritas beragama Islam.

Pemerintah pusat Tiongkok yang dikuasai Partai Rakyat Cina yang berorientasi pada komunis juga membantu dana senilai 250 juta Ren Min Bi (Yuan) atau sekitar Rp 5,5 miliar, untuk membangun kampus baru Xinjiang Islamic Institute yang terletak di kawasan industri tak jauh dari Urumqi yang merupakan ibu kota Xinjiang.

Luas kampus baru itu sekitar 10 hektar, bisa menampung lebih dari 1.500 siswa, dan akan memiliki masjid dengan kapasitas 1.000 jemaah. “Dukungan dari pemerintah pusat dan otonomi termasuk penyediaan tanah,” kata Alimu.

Kampus Xinjiang Islamic Institute saat ini ada di tengah kota dan memiliki sekitar 280 siswa tingkat akademi dan universitas dengan 70-an pengajar. Kampus mulai beroperasi tahun 1987.

Perguruan tinggi ini mendidik calon imam dan khotib untuk mengisi ceramah di masjid-masjid. Di Xinjiang ada lebih dari 24.400 tempat ibadah, termasuk untuk Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan kepercayaan lain seperti Saman. Dari jumlah itu, 24.200 adalah masjid.

“Untuk setiap 300 umat Islam, ada satu masjid. Di tempat baru seperti calon kampus kami, di zona industri, meskipun belum mencapai 200 umat Muslim di sekitarnya, pemerintah memberikan izin juga,” kata Alimu.

Sebanyak 200-300 an umat Islam yang tinggal di sebuah lokasi bisa mengajukan pendirian masjid.

Di Indonesia, sebagaimana kita ketahui, pemerintah mengatur minimal 90 orang pemeluk agama tertentu bisa mengajukan pendirian rumah ibadah, termasuk masjid.

Siswa di Islamic Institute belajar mengenai Al Qur’an dan hadits, sikap patriotik dan ideologi negara, budaya dan aspek agama Islam lain. Materi budaya memiliki porsi 30%, sedangkan materi pendidikan terkait agama Islam 70%.

Anak-anak TK berjalan-jalan di depan sebuah masjid di Beijing, Tiongkok, pada 24 Oktober 2013. Foto oleh Adrian Bradshaw/EPA

Anak-anak TK berjalan-jalan di depan sebuah masjid di Beijing, Tiongkok, pada 24 Oktober 2013. Foto oleh Adrian Bradshaw/EPA

Lembaga pendidikan ini sudah meluluskan sekitar 1.000 orang yang bertugas menjadi imam dan khotib. Setiap siswa membayar 2.500 Yuan per tahun. Awalnya digratiskan, biaya sepenuhnya dari pemerintah.

“Tapi karena gratis, sebagian siswa ada yang tidak serius belajar. Kemudian kami kenakan biaya yang tergolong ringan. Di perguruan tinggi lain biaya sekolah minimal 10.000 Yuan,” kata Alimu.

Ada 29.000 orang di Xinjiang yang bekerja di bidang terkait agama termasuk di pemerintahan provinsi dan lembaga pendidikan. Setiap masjid memiliki imam dan khotib yang gajinya dibayar oleh pemerintah. Besaran gaji imam dan khotib bervariasi dari 2.000 Yuan sampai 6.000 Yuan per bulan, bergantung standar masjid. Di wilayah paling kecil, township, tentu lebih kecil.

“Selain itu imam juga mendapatkan tambahan penghasilan dari umat Islam di masjid itu,” kata Alimu.

Setelah lulus kuliah lima tahun, siswa disebar kembali ke daerahnya untuk menjadi imam dan khotib. “Lulusan kami menjadi inti dari penyebaran ajaran agama Islam, yang mengajarkan damai dan semua hal-hal baik. Ini juga acara untuk membendung masuknya gerakan ekstrimis ke anak-anak muda di Xinjiang,” kata Alimu.

Baru-baru ini ada 4 orang asli Uighur dipenjara oleh polisi di Indonesia karena ingin bertemu dengan kelompok ekstrim di Indonesia. Mereka dicurigai bergabung dengan Islamic State (ISIS).

Pemerintah Indonesia menyatakan kegiatan ISIS yang ingin mendirikan negara berdasarkan Islam di Suriah dan Irak sebagai kegiatan terlarang.

“Terorisme dan ekstrimisme mengancam semua umat Islam di seluruh dunia. Aksi terror ISIS membuat wajah Islam tercoreng. Umat Islam di Xinjiang, sebagaimana umat Islam lain termasuk di Indonesia, adalah korban ulah mereka,” kata Alimu.

Keterlibatan warga dari Xinnjiang dalam kegiatan ISIS juga diakui pemerintah Tiongkok.

Saat saya dan sejumlah teman jurnalis dari Indonesia dan Malaysia mengunjungi kampusnya, dia ditemani tiga pengajar di Islamic Institute Xinjiang. Kampus sepi karena tengah libur panjang.

Dua hari sebelum bertemu Alimu saya bertemu dengan sejumlah pejabat lokal Xinjiang yang bertugas di kantor urusan luar negeri, pemerintah otonomi Xinjiang.

“Berita yang tersebar di Internet mengenai larangan umat Islam untuk menjalani puasa di bulan Ramadan itu tidak benar. Umat Islam bebas melakukan ibadah sesuai ajaran agama,” kata Wu Guanrong, deputi direktur di kantor urusan luar negeri.

Wu Guanrong juga anggota partai berkuasa di Tiongkok. Menurutnya, semua umat agama di Tiongkok berpegang pada aturan hukum.

“Sebenarnya tidak dilarang. Tapi anak muda banyak yang tidak berpuasa karena tidak kuat dan khawatir mengganggu aktivitas kerja maupun sekolah,” kata Ahmad, sebut saja demikian.

Anak muda ini beragama Islam dan bekerja di kantor pemerintahan otonomi Xinjiang. Menurut Ahmad, toleransi beragama di daerahnya cukup baik.

“Misalkan di bulan puasa, teman saya yang beragama bukan Islam ingin mengajak bertemu, makan siang. Dia akan tanya, ‘Kamu puasa nggak? Kalau puasa, ya kita ubah waktu ketemu’,” tutur Ahmad.

Menjalankan ibadah secara lebih disiplin dilakukan ketika masih kecil dan oleh orang-orang tua. “Kalau sudah sekolah dan bekerja, terkadang tidak ada waktu,” kata Ahmad sambil tersenyum.

Di Xinjiang, hampir semua restoran menyajikan makanan halal. Saya merasa nyaman.

Saat ini populasi Xinjiang adalah sekitar 22,5 juta penduduk. Separuhnya tinggal di kota seperti Urumqi yang dihiasi gedung tinggi tak kalah dengan kota kosmopolitan.

Sebanyak 46,4% penduduk adalah dari etnis Uighur. Dari suku terbesar ini pula asal gubernur yang dipilih oleh warga. Itu sebabnya Xinjiang termasuk satu dari 6 daerah yang memiliki otonomi khusus.

Di wilayah lain gubernur biasanya dari etnis Han, yang menjadi mayoritas penduduk Tiongkok. Di Xinjiang, suku Han ada 39,3% dan suku Khazaks 7,08%. Sisanya suku-suku utama lainnya.

“Sejarah Islam di Xinjiang sudah berusia 2.000an tahun. Ajaran-ajaran baru dalam Islam tentu tidak mudah masuk,” kata Alimu ketika saya tanyai soal adakah penganut Ahmadiyah.

Mayoritas penganut Islam di Xinjiang adalah sunni dan mengikuti ajaran Imam Hanafi. Suku Tajik yang memiliki garis keturunan dari Iran, ada yang menganut syiah.

“Mereka juga bebas menjalankan ibadahnya,” kata Alimu.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *