HomeUncategorizedInovasi di Tiongkok: Apa sih yang nggak bisa dibuat mereka?

Inovasi di Tiongkok: Apa sih yang nggak bisa dibuat mereka?

Tiongkok tak lagi andalkan “made in China” yang konotasinya murah dan kualitas rrendah. Presiden Xi Jinping dorong BUMN jadi pendorong inovasi teknologi.

Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Dabancheng, Xinjiang. (Foto oleh Uni Lubis)
Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Dabancheng, Xinjiang. (Foto oleh Uni Lubis)

Made in China, mungkin bisa dikategorikan kampanye promosi pemasaran paling sukses. Tak perlu memasang iklan miliaran dolar, popularitas istilah “made in China” mendunia. Content is the king. Istilah “made in China” popular karena produk yang murah harganya, kualitas lumayan, dan bisa ditemui dalam berbagai bentuk: dari peniti, tongkat narsis alias “tongsis”, katin bermotif batik, peralatan elektronik, obat-obatan, sepatu sampai tikar seperti rotan. Kalau kita berkunjung ke negara lain, cinderamata dari negeri itu pun “made in China”.

“Apa sih yang nggak bisa dibuat oleh mereka?” Pertanyaan ini selalu mengemuka. Perusahaan di Tiongkok selalu bisa membuat produk apapun yang dikembangkan negeri dengan teknologi yang lebih dahulu maju seperti negara barat dan Jepang, dan memproduksinya secara massal dengan harga murah. Produksi dalam skala ekonomi yang besar untuk melayani pasar domestik dengan 1,4 miliar penduduk adalah kunci murahnya harga jual ke konsumen. Alasan lain adalah upah tenaga kerja yang rendah dan kemampuan meniru produk pabrikan negara lain. Ini yang kerapkali bikin jengkel para innovator.

Minggu lalu saat berada di Beijing, saya membaca kepala berita di koran China Daily soal kunjungan Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang ke China Academy of Sciences. Dalam pertemuan itu, PM Li menggarisbawahi peran penting inovasi teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negeri Tirai Bambu itu. “Orang China tidak bisa lagi hanya bergantung pada kerja kleras,” katanya kepada ratusan peneliti dari China Academy of Sciences, dalam avcara di Gedung Rakyat, di Tiananmen Square (27/7).

“Kita harus bergantung kepada kemampuan intelijensia yang datang dari sains dan teknologi,” kata PM Li. Acara itu digelar untuk memperingati 60 tahun akademi tempat menggodok strategi pengembangan industri berbasis teknologi di Tiongkok. PM Li mengingatkan, bahwa negeri tujuan ekspor produk “made in China” juga bebenah, meningkatkan kemampuan teknologi. Ini menjadi ancaman bagi produk asal Tiongkok yang tak bisa lagi mengandalkan upah buruh dan spesifikasi kualitas paspasan. PM Li merujuk kepada pengembangan industri di negara di kawasan Asia Tenggara dan Amerika Selatan yang selama ini dibanjiri produk murah asal Tiongkok.

Dari Indonesia misalnya, pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo berupaya mengurangi defisit perdagangan dengan memangkas impor produk berkualitas rendah dari Tiongkok. “Kami kurangi sampai senilai US$ 1 Milyar dolar,” kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dalam acara halal bil halal dengan jurnalis senior, Minggu (26/7), hanya sehari sebelum acara yang digelar PM Li di Beijing. Di dalam negeri Tiongkok hadapi pelambatan ekonomi dan kian mahalnya upah buruh, di luar negeri berhadapan dengan kebijakan pemerintah yang keberatan pasar domestiknya dibanjiri produk Tiongkok berkualitas rendah.

Apa yang disampaikan PM Li sebenarnya bagian dari program The Silk Road Economy Belt dan 21st-Century Maritime Silk Road yang digagas Presiden Xi Jinping tahun 2013. Dalam berbagai kunjungan ke perusahaan Tiongkok, Presiden Xi memerintahkan agar industri di Tiongkok memacu inovasi produk, seraya beradaptasi terhadap pelambatan ekonomi. Tiongkok merevisi pertumbuhan ekonominya menjadi 7 opersen, paling rendah dalam seperempat abad terakhir.

Mendorong produk hasil inovasi dilakukan melalui peran badan usaha milik negara. Ketika berkunjung ke sebuah raksasa farmasi di kota Yanbian, di Changchun-Jilin_Tumen Development Pilot Zone, Presiden Xi mengingatkan pentingnya perusahaan menghasilkan obat-obatan yang memiliki kualitas dan keamanan yang tinggi. “Meningkatkan kualitas produk farmasi melibatkan kemampuan manajemen, teknologi dan moralitas,” kata Presiden Xi. Dia menggarisbawahi pentingnya memastikan agar setiap obat yang diproduksi perusahaan Tiongkok aman dan dipercaya kemampuannya.

Inovasi, inovasi, inovasi. Mantra ini menjadi pegangan dalam pengembangan industri di Tiongkok. Selama sepekan di Beijing dan Xinjiang Uighur Autonomous Region, saya menyaksikan secara langsung bagaimana pemerintahan Tiongkok membangun pusat-pusat industri berbasis inovasi teknologi. Awalnya mereka mengadopsi teknologi dari sejumlah negara maju di barat. Pada fase itu, Tiongkok membuka lebar-lebar investasi asing dan melayani kedatangan mereka dengan menyediakan beragam fasilitas termasuk listrik dan infrastruktur jalan. Investor dikasi “karpet merah”.

“Kami memberikan segalanya, sambil mempelajari teknologi mereka. Memang ada yang harus dikorbankan,” kata seorang pejabat senior di kementerian luar negeri Tiongkok. Hasilnya nyata. Ketika membangun teknologi “high speed rail” misalnya, Tiongkok tidak segan berguru kepada E2-1000 Kawasaki Heavy dari Jepang, Regina Bombardier Brasil, SM3 Alston Perancis dan Velaro-E Siemens Jerman dalam membangun “teknologi high speed rail”. Kini, Tiongkok memiliki jalur kereta api superdept terpanjang di dunia.

Ketika berkunjung ke kampus Lenovo, di Haidian Beijing, saya mendapatkan paparan proses inovasi di perusahaan penghasil perangkat laptop yang kini menguasai 38 persen pasar dunia. Lenovo bahkan berhasil mengakuisisi saham raksasa komputer IBM, padahal pada 1986, Legend, nama awal perusahaan, menjadi agen produk IBM untuk wilayah Tiongkok. Tahun 2005 Lenovo mengakuisisi divisi komputer personal IBM.

Tahun 2012 Lenovo memasuki produk telpon seluler pintar dan hanya dalam dua tahun berhasil merajai pasar ponsel Tiongkok. Lenovo mengakuisisi Motorola, perusahaan ponsel asal AS dan NEC, raksasa teknologi Jepang. Minggu lalu Lenovo meluncurkan laptop paling ringan di dunia dan ponsel pintar yang bisa menerjemahkan percapakan suara.

Tahun 2003-2004, Goldwind, perusahaan pembangkit listrik tenaga angina berbasis di Xinjiang, menerapkan teknolagi dari Vensys, Jerman. Tahun 2008, Goldwind yang kini berusia 16 tahun mengakuisisi kepemilikan mayoritas di Vensys. Goldwind menjadi perusahaan pemasok pembangkit tenaga angin terbesar di dunia dan mulai ekspor turbin anginnya ke AS dan Kuba pada 2008. Jumat lalu (31/7) saya berkunjung ke pabrik turbin angin Goldwind Science Technology di Urumqi Economic and Technological Development (UETD) Zone, di Xinjiang. Selasa (4/8) saya menyaksikan ribuan turbin angin Goldwind dipasang di gurun pasir dalam perjalanan ke kota Turpan, ke arah timur dari Urumqi. Berlawanan dengan tudingan negara maju seperti AS, Tiongkok sangat gencar mengembangkan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Soal ini saya ceritakan dalam tulisan lain.

Tiga perusahaan di atas adalah contoh bagaimana prusahaan Tiongkok, baik milik pemerintah maupun swasta, menjadikan inovasi teknologi sebagai cara untuk memenangi pasar domestik dan ekspor.
Minggu lalu Tiongkok juga meluncurkan dua satelit untuk meningkatkan kemampuan Beidou Navigation Satellite System, yang dipandang sebagai pesaing bagi teknologi navigasi dari AS, Rusia dan Perancis. Beidou akan dikembangkan menjadi navigasi global, tak kalah dengan GPS produksi AS. Peluncuran satelit-satelit itu menjadikan Tiongkok sebagai pemain penting dalam Sistem Navigasi Global.

Di layar CCTV, televisi Tiongkok, saya menyaksikan diskusi antara para ahli satelit navigasi dari AS, Tiongkok dan Inggris membahas sukses peluncuran dua satelit Beidou. Ketiganya sepakat, pasar domestic yang besar akan membuat Beidou menjadi pemuncak dalam teknologi navigasi yang tidak hanya bermanfaat untuk petunjuk arah, tapi juga untuk bidang pertanian sampai industri pertahanan.
Jadi, apa sih yang nggak bisa dibuat mereka? ###

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *