HomeUncategorizedEkonomi Melemah, SBY Ajak Semua Pihak Bantu Jokowi

Ekonomi Melemah, SBY Ajak Semua Pihak Bantu Jokowi

Sikap sedia payung sebelum hujan penting untuk antisipasi krisis.  SBY mengingatkan pentingnya menjaga daya beli rakyat kelas bawah.

Mantan Presiden SBY saat sampaikan keterangan pers soal ekonomi melemah di kediamannya, Cikeas, Jawa Barat, 27 Agustus 2015. Foto oleh Uni Lubis
Mantan Presiden SBY saat sampaikan keterangan pers soal ekonomi melemah di kediamannya, Cikeas, Jawa Barat, 27 Agustus 2015. Foto oleh Uni Lubis

Datang ke kediaman Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis malam (27/8), seperti nostalgia buat saya.  Sampai tahun ke tujuh pemerintahannya, saya beberapa kali ke sana, untuk wawancara maupun dalam forum dialog dengan pemimpin redaksi. Saya banyak mengkritisi kebijakan Presiden SBY, terutama ketika kasus korupsi melanda lingkar terdekatnya.  Begitu pula manakala urusan pribadi seperti bertautan dengan urusan kenegaraan.  Misalnya, memberikan buku-buku diri, istri dan anak, sebagai souvenir saat acara tujuh belasan di istana.  Kritik saya sampaikan via media sosial.

Saya mendapat pesan bahwa Pak SBY rada terganggu dengan kritik saya. Meski demikian, beberapa kali kesempatan bertemu, Pak SBY masih menyapa dengan senyum. Begitu juga Bu Ani.  Pasangan yang menurut saya sangat memahami dan menjadi pelaku aktif dalam percaturan politik di tanah air dalam satu dekade terakhir.  Karena itu juga, meskipun ada dua undangan lain, semalam saya memilih untuk hadir di acara dialog dengan SBY.  Ini upaya cover both sides. Undangan saya terima sehari sebelumnya, via juru bicara Partai Demokrat, Imelda Sari.  Ketika situasi tengah gonjang-ganjing karena ancaman krisis ekonomi, pengalaman memerintah Indonesia selama 10 tahun pasti berharga untuk didengar.

Itulah yang saya sampaikan semalam ketika diberi kesempatan berkomentar.  Dialog dihadiri puluhan peserta, pemimpin media dan jurnalis senior.  Acara diadakan di ruangan perpustakaan, tempat SBY sering mengadakan rapat dengan jajaran kabinetnya atau menerima tamu.  Bu Ani SBY ada di sana, seperti biasa mendampingi sang suami.  Ada mantan menteri sekretaris negara Sudi Silalahi yang juga orang sangat dekat dengan SBY.  Mantan menteri Amir Syamsudin dan Roy Suryo juga ada.  Keduanya kader Partai Demokrat.  Lainnya adalah beberapa fungsionaris Partai Demokrat.  Putra kedua SBY, Ibas, juga ikut menyimak pemaparan sang ayah.

Sebagaimana diduga, tema pembicaraan adalah menyangkut pengalaman menangani krisis ekonomi, terutama krisis ekonomi 2008.  SBY menjelaskan dengan runut.  Dia sudah menyiapkan slide presentasi.  Ketika menjelaskan bagaimana pemerintahannya menangani krisis 2008, saya teringat saat meliput perjalanan SBY menghadiri pertemuan puncak pemimpin negara anggota G-20, di Washington, DC, Oktober 2008. Salah satu laporan saya dari acara bisa dibaca di sini.

Dalam laporan itu, nampak bahwa saat itu SBY menekankan kepada upaya melindungi rakyat lapisan bawah yang paling terkena dampak krisis dan mencegah pengangguran.  Pro poor dan pro job dalam menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi.  Semalam, hal itu digarisbawahi.  SBY mengingatkan bahwa proyek infrastruktur yang tengah dipromosikan pemerintahan Jokowi itu bagus, tetapi butuh waktu untuk merealisasikannya.  “APBN harus digunakan terutama untuk jaring pengaman, untuk memastikan rakyat miskin bisa terus belanja.  Investasi digenjot, karena ini menjaga pertumbuhan ekonomi tetap di atas 5 persen.  Kalau di bawah itu, apalagi di bawah 4 persen, saya kuatir dengan pengangguran,” kata SBY.

BI sudah merevisi angka pertumbuhan ekonomi, yang tahun 2015 diperkirakan hanya 4,9 – 5,1persen, dari target 5,2 persen.  IMF bahkan membuat perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah, 4,3 persen.  Semoga IMF salah.

10 direktif SBY saat krisis 2008

Karena mengikuti dari dekat bagaimana SBY menangani krisis 2008, semalam jadi forum “penyegaran”buat saya.  SBY menyampaikan slide presentasi 10 direktif penanganan krisis berjudul “Memelihara Momentum Pertumbuhan, Selamatkan Perekonomian Kita dari Krisis Global”.  Tanggalnya 15 Oktober 2008.  Dalam buku “Selalu Ada Pilihan” yang ditulis SBY, saya juga menemukan 10 direktif itu, yang disampaikan pada 6 Oktober 2008. Isinya senada:

  1. Kita tetap harus optimis, bersatu dan bersinergi untuk memelihara momentum pertumbuhan, serta untuk memelihara dan mengatasi dampak krisis keuangan AS
  2. Dengan kebijakan dan tindakan yang tepat, serta dengan kerja keras, kita upayakan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi 6 persen
  3. Optimalkan APBN 2009 untuk tetap memacu pertumbuhan dan membangun social safety net (jaring pengaman sosial).
  4. Dunia usaha (sektor riil) harus tetap bergerak, meskipun ekspansi bisa berkurang, agar pajak dan Penerimaan negara tetap terjaga dan pengangguran tidak bertambah
  5. Cerdas menangkap peluang (opportunity) untuk melakukan perdagangan dan kerjasama ekonomi lainnya dengan dunia.
  6. Mari kita lakukan (lagi) kampanye besar-besaran untuk mengkonsumsi produk dalam negeri.
  7. Mari kita perkokoh sinergi dan koordinasi diantara pemerintah, Bank Indonesia dengan jajarannya dan swasta/dunia usaha.
  8. Hentikan dan ubah sikap ego-sektoral dan “business as usual”.
  9. Tahun 2008-2009 adalah tahun politik dan pemilu, mari lakukan politik non partisan, utamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan kelompok.
  10. Mari lakukan komunikasi yang tepat dan bijak dengan rakyat.

“Ada kalanya dunia usaha saya minta berbagai beban (burden sharing) dengan pemerintah, bahwa di kala negaranya sedang sulit, mereka bersedia mengurangi keuntungannya,” kata SBY dalam buku itu.  Semalam, dia memgulangi hal ini.

Sedia payung sebelum hujan

SBY menyambut baik kebijakan pemberian tax holiday untuk menarik investasi.  “Dunia usaha susah. Tidak ada salahnya memberikan insentif agar mereka tidak melakukan pemutusan hubungan kerja,” kata dia. Tapi itu tidak cukup.  SBY mengingatkan jangan segan untuk mengakui jika ada kekurangan, misalnya soal bahan pangan.   “Kalau memang belum bisa memenuhi sendiri, terpaksa impor ya lakukan.  Karena stabilisasi harga sangat penting,” kata SBY.

SBY mengatakan kondisi saat ini belum krisis, karena beberapa aspek fundamental situasinya lebih baik dibandingkan dengam 2008, apalagi 1998.  “Tapi kita harus sedia payung sebelum hujan.  Antisipasi, cermati betul,” kata dia.

Protokol saat krisis perlu dibuat.  Birokrasi butuh payung hukum.  Semalam SBY mengakui, kasus bail-out Bank Century perlu menjadi pelajaran soal pentingnya protokol krisis.  Presiden Jokowi makin sering mengingatkan birokrasi di pusat maupun daerah untuk menyerap anggaran pembangunan.  Banyak yang takut salah administratif dan berakhir di penjara.

Masukan  SBY untuk Jokowi

Usai berdialog, SBY didaulat untuk menyampaikan pokok pikirannya kepada pers secara terbuka.  Selain berpengalaman memimpin 10 tahun menjadi presiden, SBY juga pendiri dan ketua umum Partai Demokrat, yang memiliki jumlah kursi cukup signifikan di parlemen.  Ada enam poin yang disampaikan SBY, usulan kepada Pemerintahan Presiden Jokowi.

Pertama, SBY meminta pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi agar tidak terus menurun. Pertumbuhan di bawah empat persen akan memicu PHK, pengangguran dan kemiskinan.  “Dunia usaha perlu stimulus untuk ekspansi. Rakyat perlu dibantu untuk bisa membeli,” kata SBY.

Kedua, SBY mengharapkan pemerintah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Perlu ada  terobosan untuk mengembalikan harga kebutuhan pokok dalam angka yang wajar dan memastikan stoknya tersedia. “Harga daging di atas Rp 120.000, Rp 130.000 bahkan Rp 150.000, menyulitkan pedagang dan konsumen,” kata dia.

Ketiga, SBY menyarankan pemerintah memberi insentif kepada pelaku usaha. Saat menangani krisis 2008, komunikasi intensif dilakukan dengan dunia usaha.  “Komunikasi tidak hanya terbuka, yang diliput media.  Komunikasi tertutup, rapat berjam-jam merumuskan solusi kita lakukan bersama,” ujar dia.

Keempat, SBY berharap pemerintah menjaga nilai tukar rupiah tidak tembus Rp 15.000 per dolar AS. “BI harus berkoordinasi secara baik dengan kementerian keuangan.  Pak Agus Marto saya yakin bisa berkoordinasi dengan Pak Bambang, juga dengan Pak Darmin Nasution menko perekonomian,” kata SBY.  Jika nilai Rupiah melemah menembus Rp 15.000, dampaknya sangat berat bagi perekonomian.

Ketika saya menulis artikel ini, di sesi pagi, nilai tukar Rupiah menguat, menjadi Rp 14.068 per 1 Dolar AS menurut data Bloomberg.  Kemarin, Rupiah ditutup di angka Rp 14.133.

Kelima, SBY mengingatkan pentingnya memanfaatkan ruang fiskal untuk memberikan stimulus bagi ekonomi. Angka di APBN harus dibuat dengan pas.  Target pajak jangan kegedean. “Saya kira pemerintah sudah mengerti. Pastikan fiskal di tangan pemerintah, realistik, tepat sasaran, targetnya jelas. Jangan sampai tidak pas penerimaan dan pembelanjaan,” ujarnya. APBN-P menjadi sarana untuk mengoreksi rencana proyek.

Keenam, SBY berharap pemerintah dapat menjaga kepercayaan publik di tengah gejolak ekonomi. “Meski berat, kita semua tahu ini karena pengaruh global. Saya tidak menyalahkan pemerintah, Presiden, yang penting tenangkan rakyat.Pemerintah perlu terbuka. Pemerintah punya solusi, punya kebijakan, dan jalankan.  Masalah ekonomi juga terjadi di era saya” kata SBY.

Saya bertanya kepada SBY, bagaimana persisnya solusi untuk menjaga surplus ekspor di tengah melemahnya harga komoditas, melemahnya ekonomi negara tujuan ekspor dan menurunnya daya beli.  SBY tidak menjawab spesifik pertanyaan itu, kecuali mengharapkan pemerintah punya terobosan.

SBY percaya bahwa Presiden Jokowi mampu merumuskan solusi kebijakan yang tepat.  Ada sejumlah figur yang kompeten dalam bidang ekonomi, seperti Wapres Jusuf Kalla yang notabene menjadi wapres SBY saat krisis 2008. Ada Menko Perekonomian Darmin Nasution yang menjabat Dirjen Pajak saat 2008, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menko Maritim Rizal Ramli yang menjadi kolega SBY di pemerintahan Presiden Abdurrachman Wahid dan Megawati Sukarnoputri.  Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang notabene wakil menkeu di masa pemerintahan SBY yang kedua, serta Gubernur BI Agus Martowardojo yang pernah menjadi menteri keuangan SBY.  “Ada juga Bu Megawati yang pasti membantu Presiden Jokowi dalam menghadapi ancaman krisis ini,”  kata SBY.

Saat Krisis, Kembali Ke Khittah

Pagi ini saya membaca tulisan Jusman Syafii Djamal, mantan menteri perhubungan yang kini menjabat direktur utama PT Garuda Indonesia.  Dia menulis mengenai sosok dan pemikiran Christine Lagarde, direktur pengelola Dana Moneter Internasional (IMF).  MInggu depan, Christine Lagarde akan berkunjung ke Indonesia.  Tulisan itu membahas  3 V, yaitu Velocity, Variance dan Volatility.

Intinya, saat krisis, kembali ke khittah.  Kalau kontribusi terbesar dalam pertumbuhan ekonomi kita adalah konsumsi domestik, maka ini perlu dijaga minimal stabil.  Jika daya beli turun karena harga naik, maka harus dijaga agar harga stabil, dengan mengurangi dampak kelangkaan.  Tambah pasokan.  Begitu seterusnya.  Mirip dengan yang disampaikan SBY.

Menurut saya dalam beberapa hari terakhir, Presiden Jokowi sudah melakukan sejumlah hal yang diusulkan SBY. Dia sudah bertemu dengan pengusaha dan BUMN.  Jokowi saya dengar juga akan membentuk tim-tim kecil untuk membahas secara lenbih detil per bidang, apa yang perlu dilakukan sebagai solusi kondisi ekonomi yang melambat.

Minggu ini Jokowi dan kabinetnya akan meluncurkan paket kebijakan yang sifatnya besar dan menyeluruh untuk atasi pelambatan ekonomi. Kita menunggu sambil memelihara optimisme.  Moga-moga tidak hujan.  Kalaupun hujan, jika pandai memanfaatkan peluang, bakal ada sinar matahari yang hangat setelah hujan berhenti.###

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *