HomeUncategorizedApa Warisan SBY? Salah Satunya Peralihan Kekuasaan Yang Bermartabat

Apa Warisan SBY? Salah Satunya Peralihan Kekuasaan Yang Bermartabat

Hari ini SBY berusia 66 tahun. Presiden pertama yang dipilih secara langsung, dan memimpin dua periode. Banyak meninggalkan Pe-Er, ada yang bagus, ada yang menuai kritik. Apa saja?

SBY saat tiba di bandara di Naypyidaw, Myanmar, 10 Mei 2014. Foto oleh AFP
SBY saat tiba di bandara di Naypyidaw, Myanmar, 10 Mei 2014. Foto oleh AFP

Natashya Gutierrez, jurnalis multimedia Rappler, meminta saya menulis mengenai Susilo Bambang Yudhoyono. SBY, presiden ke-6 Indonesia itu, hari ini genap berusia 66 tahun. SBY lahir di Pacitan, 9 September 1949. Dia menikah dengan Kristiani Herrawati dan dikaruniai dua putra, Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Dari kedua putranya, SBY dan Ani mendapatkan dua cucu, yaitu Almira Tunggadewi, putri Agus Harimurti dan Anissa Pohan, serta Airlangga Satriadhi, putri Edhi Baskoro dan Siti Ruby Aliya Rajasa.

Kenangan meliput SBY begitu banyak, sampai bingung mau memulainya dari mana.

Tanggal 9 September 2004, pagi hari, di hari ulang tahun SBY saya berdiri di trotoar depan rumah pribadi SBY di Cikeas, Bogor. SBY pergi dengan keluarga, tapi akan segera kembali. Saya ditugasi kantor, TV7 (kemudian menjadi Trans7), untuk mewawancarai SBY, yang memenangi pemilihan presiden 2004. Belum dilantik sih. Sekitar jam 8.30 wib, mobil SBY mendekati rumah. Dia membuka kaca jendela. Melihat saya, dia menyapa. Saya lantas meminta waktu wawancara. Doorstop itu akhirnya menjadi wawancara khusus 30 menit, dengan 2 kamera (kameraman saya minta menunggu di mobil sebelumnya, agar tidak dihalau penjaga).

SBY meminta waktu untuk berganti pakaian. Saya datang tanpa riasan wajah. Cuek saja. Ketika saya telpon kantor menginformasikan bahwa saya dapat wawancara khusus itu, produser sempat bertanya, “yakin mau wawancara tanpa make up? Apa kami kirim perias ya?” Ini standar format wawancara khusus. Saya jawab, ya nggak perlu. Nggak sempat. Cuek aja. Wawancara itu tentang program kerja sebagai presiden. Dalam perjalanan kembali ke kantor di Wisma Dharmala, Jalan Jendral Sudirman, dari radio saya mendapat kabar. Ada bom meledak di depan kedutaan besar Australia, di kawasan Kuningan, Jakarta.

Saya sempat mengirim pesan pendek ke nomor telpon seluler SBY, menginformasikan ledakan bom. Ancaman terorisme menjadi salah satu tantangan terbesar bagi presiden Indonesia yang pertama kali dipilih melalui pemilihan presiden secara langsung.

Saya cukup lama meliput kegiatan SBY, meskipun tidak nge-pos di Istana. Kenal dengan SBY sejak saya bekerja di majalah mingguan Panji Masyarakat, ketika SBY menjabat Asisten Sosial Politik Kepala Staf Sospol ABRI, tahun 1998. SBY juga menjabat wakil ketua Fraksi ABRI di MPR. Majalah Panji Masyarakat meliput kiprah ABRI secara kritis. Saya ingat, bahwa permintaan wawancara dari kami di Panji Masyarakat selalu diterima. Padahal, kami belum sebesar minggguan berita yang sudah lebih dulu eksis . Panji Masyarakat sebelumnya adalah majalah Islam, warisan almarhum Buya Hamka. Akhir 1996, saya dan tim diminta merevitalisasi dan menghidupkan kembali majalah yang sempat mati suri.

“Saya harus menerima majalah Panji, karena pemberitaannya bernuansa khusus,” ujar SBY. Sejak saat itu saya melihat sosok SBY memiliki bibit politisi sejati. Maksudnya? Politisi sejati bisa duduk bersama dan bersikap ramah bahkan terhadap orang yang mengkritisinya. Itu terjadi sampai kini. Belum lama ini saya memenuhi undangan untuk ikut berdialog dengan SBY mengenai situasi ekonomi yang melambat. Dialog berlangsung di rumah pribadinya di Cikeas. SBY memberikan sejumlah masukan yang bisa dilakukan oleh Presiden Jokowi untuk mengurangi dampak krisis bagi rakyat, berdasarkan pengalaman tahun 2008.

Mantan Presiden SBY saat diskusi soal ekonomi melemah di kediamannya, 27 Agustus 2015. Foto oleh Uni Lubis
Mantan Presiden SBY saat diskusi soal ekonomi melemah di kediamannya, 27 Agustus 2015. Foto oleh Uni Lubis

Sebagian menganggap, dengan memberikan komentar dan masukan, SBY belum “move on” sebagai pensiunan presiden. Saya termasuk yang berpendapat bahwa Jokowi perlu mendengar masukan SBY, mengingat SBY berhasil menjadi presiden untuk dua periode dengan landslide, alias memang telak. Jokowi baru bekerja selama 10 bulan sebagai presiden. Ketika SBY menjadi presiden, dia kerapkali meminta masukan dari Presiden ketiga, B.J. Habibie. Bahkan, SBY pernah mengundang mantan wapresnya, Jusuf Kalla, untuk dapat masukan.

Saya sering ditanyai, apa warisan SBY? Pertanyaan ini muncul dari kalangan diplomat asing yang mengajak saya makan siang atau ngopi, juga muncul dalam beragam diskusi dan seminar internasional yang saya ikuti. Jawaban saya biasanya begini, “SBY membawa Indonesia ke panggung diplomasi dunia. Memasukkan Indonesia ke kelompok G-20 yang beranggotakan negara maju dan negara berkembang dengan potensi ekonomi penting.” Dari G-20 sampai mendorong penurunan emisi karbon di ajang konperensi Perubahan Iklim, kontribusi SBY dan Indonesia mendapat apresiasi.

Soal G-20 dan relevansinya dengan ekonomi Indonesia, itu hal lain lagi. Saya pernah mengkritisi hal ini dan bertanya kepada SBY di pesawat terbang saat kami pergi ke KTT G-20 di Toronto, Kanada, tahun 2010. Saya menuliskannya dengan lengkap kesan meliput SBY di G-20 untuk majalah Rolling Stone Indonesia dengan judul G-20, Identitas Internasional Buat Indonesia, Panggung Bagi SBY.

Meliput SBY ke luar negeri sangat melelahkan. Apalagi kalau negara yang dikunjungi memiliki beda waktu cukup panjang dengan waktu Indonesia. AS misalnya, berbeda 12 jam dengan waktu di Indonesia. Pagi di New York atau Washington, DC, malam di Jakarta. Agenda SBY selalu padat dan baru selesai jam 22.00 waktu setempat. Setelah itu kami jurnalis sibuk menulis naskah berita, dan buat televisi, mengedit gambar dan mengirimkannya. Tahu-tahu sudah tengah malam atau bahkan dini hari, pekerjaan selesai. Mata merem sebentar, jam 7 pagi sudah harus siap di lobi hotel untuk meliput kegiatan presiden.

Sabtu atau Minggu pun SBY berkegiatan. Jika di luar negeri waktu rilek hanya separuh hari terakhir, itupun diisi dengan pergi ke toko buku. Jika ada waktu lebih luang, seperti saat kami ke Rio de Janeiro untuk menghadiri temu bisnis dengan pengusaha Brasil, di tahun 2009, SBY mengajak rombongan untuk main voli pantai di Copacabana. Jurnalis diajak ikut main voli. Bu Ani duduk menyaksikan di pinggir lapangan darurat. Saya ikut sebentar. Keder dengan smash para anggota pasukan pengaman presiden yang ikut main voli. Tentara kog dilawan;-)
SBY punya koleksi ribuan buku yang tersusun rapi di rumahnya di Cikeas. Dia suka membaca. “Biasanya saya membeli buku terkait ekonomi atau politik internasional,” kata SBY.

Hobi bos membuat sekelilingnya juga merasa wajib membaca apa yang dibaca presiden. Siapa tahu diajak diskusi atau ditanyai? Ini terjadi saat kunjungan ke Boston, September 2009. SBY diundang menyampaikan pidato di John F. Kennedy Harvard School of Government. Dalam perjalanan dari Jakarta, SBY mengajak serta ekonom, termasuk Christianto Wibisono. Christianto memberikan sebuah buku kepada SBY, judulnya Geopolitics of Emotion, How Cultures of Fear, Humiliation, and Hope are Reshaping The World. Buku ini ditulis oleh Dominique Moisi.

SBY membaca buku itu dalam perjalanan dari Jakarta. Di tengah perjalanan panjang dia muncul dari kabin presiden ke deretan bangku kelas bisnis yang ditempati para menteri dan petinggi Istana. Kami para pemimpin redaksi juga duduk di dekat situ. SBY merekomendasikan membaca buku itu. Ketika ada kesempatan berkunjung ke toko buku Harvard, puluhan buku Moisi ludes dibeli rombongan SBY. Mulai dari menteri, sekretaris militer sampai kepala biro membeli buku Moisi, guru besar peneliti dari Perancis.

SBY senang pidato panjang. Tidak jarang membuat yang mendengar mengantuk. Lalu, ditegur. Menurut saya, setiap kali pidato, SBY menyiapkannya dengan serius, termasuk berdiskusi dengan penulis pidato andalannya, Dino Patti Djalal. Beda dengan Presiden Jokowi yang biasanya hanya pidato singkat. Saya belum berkesempatan bertanya apakah Jokowi juga suka membaca buku? Pidatonya biasanya singkat dan langsung ke sasaran.

Menjadi presiden, seringkali merasa sendiri. Feel alone. Rupanya itu juga yang dialami SBY. Dia menceritakan hal ini dalam bukunya, yang berjudul “Selalu Ada Pilihan”, di halaman 277. SBY misalnya, merasa “sendiri” ketika harus mengambil keputusan penting, termasuk menyelesaikan konflik di Aceh secara damai dan menghentikan operasi militer di sana. Kalau gagal, bisa mengancam eksistensinya sebagai presiden yang baru berusia setahun.
SBY juga mengaku merasa sendiri saat harus menaikkan harga Bahan Bakar Minyak sebanyak dua kali di tahun 2005 dan satu kali di tahun 2008. “Di masa lalu banyak sekali pemerintah atau pemimpin yang jatuh karena menaikkan harga BBM,” kata SBY.

Menurut saya, soal Aceh dan menaikkan BBM, SBY tidak sendiri. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengambil peran penting dan bahkan menjadi bumper bagi SBY dalam mengambil keputusan berisiko tinggi dan tidak populer bagi publik.

Ada banyak kisah liputan SBY. Terlalu banyak untuk diceritakan dan akan membuat Anda pembaca mengantuk juga;-). Lima tahun pertama menurut saya kinerja SBY cukup moncer. Buktinya dia dapat suara lebih dari 60 persen saat pilpres 2009, untuk masa jabatan kedua. SBY-Boediono mengalahkan pasangan Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto.

Memasuki periode kedua mulai banyak riak, dan masalah. Kasus bail-out Bank Century adalah yang paling menonjol. SBY dianggap kurang membela Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menuai kritik atas penyelamatan bank itu. Kritik paling keras datang dari Wapres JK. Sri Mulyani menjadi bulan-bulanan politisi non Partai Demokrat, dan kemudian memilih menyingkir ke AS menjadi direktur pengelolaa Bank Dunia. Banyak yang menyesalkan sikap SBY, mengingat Sri Mulyani adalah sosok penting dibalik sukses SBY mengelola ekonomi Indonesia melewati turbulensi ekonomi dan keuangan global di tahun 2008.

Menurut saya, perlakuan yang dialami Sri Mulyani itu membekas sampai kini. Sejak itu birokrasi memilih enggan mengeksekusi proyek, kuatir terjebak dalam pelanggaran kebijakan yang mengantarkan ke balik jeruji penjara. Buat apa ambil keputusan, kalau akhirnya pimpinan lepas tanggung jawab?

Di masa SBY, penindakan atas pelanggaran Hak Asasi Manusia juga melempem. Kasus meninggalnya jurnalis Udin masih misteri. Meninggalnya aktivis Munir juga tak kunjung tuntas. Utang Luar Negeri membengkak.

Sebanyak 325 kepala daerah tersangkut kasus korupsi, sering dijadikan klaim sukses SBY memberantas korupsi. Masalahnya, kasus ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi yang notabene independen dari presiden. Jadi, bukan prestasi SBY. Apalagi kemudian orang dekat SBY di Partai Demokrat yang didirikannya bersama Bu Ani, terpaksa meringkuk di penjara karena kasus korupsi. Mulai dari ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang belakangan renggang hubungannya dengan SBY, anggota DPR RI Angelina Sondakh sampai mantan mengteri olahraga dan pemuda Andi Mallarangeng yang dikenal sangat dekat dengan SBY dan pernah menjadi juru bicaranya selama lima tahun periode pertama.

SBY memang meletakkan sejumlah fondasi ekonomi termasuk kerjasama ekonomi bilateral maupun multilateral. SBY juga berhasil menjaga stabilitas politik selama 10 tahun memimpin. Stabilitas diperlukan untuk menjalankan roda pembangunan ekonomi. SBY bersikap populis dan peduli akan popularitasnya, sehingga gagal mengeksekusi sejumlah rencana pembangunan infrastruktur jalan, karena enggan menggusur warga. By the way, dari kacamata penggiat HAM ini bagus. Tapi dari kacamata pebisnis SBY dianggap kurang tegas. Mau melihatnya dari kaca mata yang mana, silakan.

Karena sikap populis juga, belakangan merebak kasus terkait intoleransi dan diskriminasi.

Menurut saya, dengan sejumlah kritik dan kekurangan, SBY lulus 10 tahun memimpin. Nilainya mungkin bukan cum laude. Memang tidak ada pemimpin dunia yang dapat nilai cum laude, tidak juga Barack Obama yang memicu euforia saat terpilih sebagai presiden AS tahun 2008.

Last but not least, kudos bagi SBY atas penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014 yang berlangsung aman dan transparan. Dia memberikan memorandum jabatan kepada penggantinya, Presiden Jokowi. Peralihan kekuasaan yang mulus dan bermartabat, dibandingkan dengan yang kita alami sebelumnya. Untuk itu saya berterima kasih kepada SBY. Ada yang sependapat dengan saya?
Selamat Ulang Tahun, Pak SBY, semoga panjang umur dan sehat.###

4 Comments

  1. Rahwana
    September 10, 2015 at 2:43 pm — Reply

    Tulisan yang factual sekaligus human tentang SBY. Kalau boleh menilai, SBY dapat A+ untuk periode pertama tetapi hanya B+ atau A- untuk periode kedua.

    • September 14, 2015 at 12:18 am — Reply

      thanks sudah berkunjung dan menuliskan komentarnya

  2. Rahwana
    September 10, 2015 at 2:43 pm — Reply

    Tulisan yang factual sekaligus human tentang SBY. Kalau boleh menilai, SBY dapat A+ untuk periode pertama tetapi hanya B+ atau A- untuk periode kedua.

    • September 14, 2015 at 12:18 am — Reply

      thanks sudah berkunjung dan menuliskan komentarnya

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *