HomeInspirasiReuni 30 Tahun, Grhasita Dukung Gaya Hidup Hijau

Reuni 30 Tahun, Grhasita Dukung Gaya Hidup Hijau

Bogor (08/10/2015). Alumni IPB Angkatan 22 akan menggelar reuni akbar 30 tahun pada Minggu (11/10), di Gedung IICC, Botani Square, Bogor.  Acara bakal diikuti oleh tidak kurang dari 700 alumni yang datang dari seluruh Indonesia.  Angkatan 22 memulai studi di IPB pda 1985.  Kesempatan berkumpul digunakan untuk menyukseskan program IPB Green Campus.  “Ide program diluncurkan oleh Rektor pada Dies Natalis IPB September lalu, dan akan uji coba Oktober ini.  Angkatan 22 meluncurkan Green-22” kata Akhmad Mukhlis Yusuf, mewakili panitia reuni 30 tahun Ghrasita.

September lalu, Rektor IPB Prof. Herry Suhardiyanto mengatakan, “Untuk menuju green campus, IPB akan melakukan beberapa kegiatan seperti mendorong penggunaan sepeda, mendorong penggunaan mobil listrik, mendorong penggunaan bis berbahan bakar gas, dan mengurangi penggunaan motor dan mobil di dalam kampus.”

Grhasita bermakna Rumah Persemaian.  Tema besar Reuni Akbar Grhasita ini adalah “Menguatkan Kebersamaan, Meluaskan Kemanfaatan”, kepedulian Grhasita kepada tiga pemangku kepentingan yang telah berjasa pada perkembangan pengabdian para alumni, diantaranya Almamater IPB, sesama Alumni dan masyarakat pelaku pertanian dalam arti luas.

Selama proses menjelang reuni, setahun terakhir,  anggota Grhasita yang telah berkiprah di berbagai bidang telah mengisi pembekalan pra-wisuda kepada para calon wisudawan, terutama untuk berbagi pengalaman dan sikap hidup bagaimana mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan kewirausahaan, serta membantu networking dengan industri.

Tiga diantara berbagai kegiatan yang dimotori alumni Grhasita adalah:

– Green Tempe 22, sebagai bagian dari Indonesia Tempe Movement, yang dipelopori Wida Winarno (Bogor)
– Model Peternakan Sapi Perah Terpadu yang dipelopori Taryat Ali Nursidik (Subang), dan
– Kewirausahaan Sosial yang dipelopori Akhmad Supriyatna (Serang).

Pertama, Green Tempe 22 adalah gerakan untuk keberlanjutan warisan bangsa melalui usaha dan edukasi tempe berkualitas, membangun jejaring retail nasional dan internasional, pemanfaatan limbah industri tempe untuk pakan ternak, menanam benih dengan bekerja sama dengan balai benih, membuat pelatihan tempe yang lebih efisien, membuat berbagai variasi tempe, edukasi supplier untuk industri tempe, mengembangkan berbagai produk dengan konsep tempe, merancang strategi branding tempe sebagai identitas Indonesia.

Gerakan ini menarik perhatian masyarakat, karena secara tradisional pembuatan tempe biasanya membutuhkan air dan bahan bakar yang relatif banyak terutama untuk proses pencucian, perebusan dan perendaman. Dan, industri tempe biasanya menghasilkan limbah yang cukup banyak baik berupa air cucian dan air rebusan.

Terinspirasi oleh Indonesia Tempe Movement (IHT), Green Tempe 22, menawarkan solusi untuk keberlangsungan industri tempe di masa depan di tengah keterbatasan sumber daya alam (air) dan sumber energi, dengan memperkuat praktek teknologi produksi tempe yang lebih hemat air, bahan bakar dan limbah yang sedikit dengan kualitas terbaik, berstandar internasional sekaligus memenuhi persyaratan gizi dan protein alternatif.
Gerakan ini dinamakan “Green Tempe 22”.

Saat ini sudah dilakukan dua kali pelatihan, dan animo masyarakat cukup besar.  “Kami akan membuka kesempatan pelatihan membuat beragam tempe bagi masyarakat luas,” ujar Wida Winarno, alumi jurusan Teknologi Pangan dan Gizi IPB.

Kedua, Model Masyarakat Sapi Perah Terpadu yang dikembangkan Taryat Ali Nursidik juga menginspirasi para alumni dan masyarakat untuk menguatkan posisi tawar peternak kepada pelaku industri hilir melalui kelompok usaha para peternak, sehingga dapat meningkatkan harga jual, keberlanjutan usaha, fasilitas pendidikan, pendapatan tambahan dari keuntungan koperasi, pasokan energi biomassa, dan pengolahan limbah secara ekonomis lainnya.

Ekosistem model masyarakat sapi perah terpadu ini secara resmi berdiri sejak tahun 2010 di Subang, dan masyarakat aktif berkelompok sejak tahun 2007. Lebih dari 200 anggota Gapoknak kini hidup lebih sejahtera dibandingkan sebelum usaha berkelompok.

Kepeloporan Taryat Ali Nursidik ini telah mendapat banyak apresiasi dari masyarakat dan media nasional.

Ketiga, Gerakan Kewirausahaan Sosial dipelopori oleh Akhmad Supriyatna, yang sejak lebih dari 10 tahun lalu mendirikan sekolah alternatif SMA Bina Putera.

Dengan dukungan para sahabatnya, Yatna, nama panggilannya, mendirikan sekolah yang bersahaja untuk menggerakan anak-anak untuk berani bermimpi melalui sekolah. Tak seperti sekolah lain setingkat SLTA di Kecamatan itu.

Terletak di Kampung Sebe Karamat, Desa Rancasumur, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, sekolah ini lebih mudah dijangkau melalui Stasiun Maja dan lebih dekat ke Kabupaten Lebak bila dijangkau melalui jalur darat, dibandingkan Ibu Kota Kabupaten Serang.

Di daerah yang dulu sangat minus, pada tahun 2004 berdiri SMA Bina Putera yang mengadopsi model sekolah moving class dan laboratorium alam yang menekankan pada kreativitas kepemimpinan dan self-centered learning. Para siswa banyak berinisiatif dan mengelola kegiatan sekolah secara mandiri. Guru lebih banyak bersifat sebagai fasilitator dan pendampingan.

Hasilnya luar biasa, SMA Bina Putera benar-benar menjadi Rumah Persemaian kader-kader pemimpin yang berkarakter maju dan kreatif. Lulusannya banyak menembus kampus-lampus PTN terbaik dan bekerja di berbagai bidang.

Sebagai mantan jurnalis, Yatna, juga menulis buku yang inspiratif yang berjudul Pagar Hati, dan sering menuangkan tulisannya melalui webiste sekolah binaputera.org.

Ketiga gerakan kepedulian di atas adalah sebagian contoh dari kesadaran dan wujud nyata para alumni IPB Angkatan 22, yang lebih memaknai Reuni Akbar 30 tahun pada 11 Oktober 2015 sebagai hari peneguhan komitmen untuk meluaskan kemanfaatan hidup untuk orang lain.

Komitmen dinyatakan di Rumah Persemaian Almamater IPB, yang telah berjasa menggembleng semua.

Wida, Taryat, Yatna adalah tiga contoh, diantara banyak yang lainnya. Semua karya tersebut diperoleh dari hasil penempaan oleh Kampus Rakyat IPB, yang bila mengutip pandangan alm Prof. Andi Hakim Nasoetion;
“Perguruan tinggi bertujuan untuk membekali mahasiswa untuk melatih cara berpikir runtun, mampu mengidentifikasi masalah di masyarakat, dan menawarkan solusi atas di permasalahan masyarakat”.

“Reuni Akbar bukan akhir dari komitmen, melainkan penguatan komitmen untuk terus bekerja bersama-sama,” kata Ojat Sujatnika, yang memimpin panitia reuni akbar ini. Masing-masing alumni memilih bidang-bidang kepedulian, model-model yang telah dikembangkan Wida, Taryat dan Yatna. Selain model-model pengabdian kemanfaatan hidup lainnya.

Indonesia sedang bekerja, salah satu agenda besarnya adalah mewujudkan kedaulatan pangan dan menggairahkan masyarakat untuk menerapkan gaya hidup hijau, green living.###

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Ahmad Mukhlis Yusuf
(0816630415)

Odjat Sujatnika

(081294494985)

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *