HomeEkonomi/Bisnis4 hal tentang Indonesia di KTT Perubahan Iklim COP 21

4 hal tentang Indonesia di KTT Perubahan Iklim COP 21

Benarkah delegasi Indonesia didominasi pihak swasta? Apa misi khusus Jokowi?

Presiden Jokowi disambut Presiden Perancis Francois Hollande dan Sekjen PBB Ban Ki-moon, saat memasuki arena KTT Perubahan Iklim, di Paris, 30 November 2015. Foto dari Setkab.go.id
Presiden Jokowi disambut Presiden Perancis Francois Hollande dan Sekjen PBB Ban Ki-moon, saat memasuki arena KTT Perubahan Iklim, di Paris, 30 November 2015. Foto dari Setkab.go.id

Presiden Joko “Jokowi” Widodo memimpin langsung delegasi Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim, atau Conference of Parties (COP) 21, di Paris, Perancis, yang dimulai hari ini, Senin, 30 November.

Dalam kesempatan ini, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon 29 persen, demi mencapai tujuan bersama, yakni menghentikan suhu pemanasan bumi agar tidak melebihi 2 derajat Celsius.

Berikut 4 hal yang perlu kamu ketahui tentang delegasi Indonesia di COP 21:

Tugas delegasi Indonesia

Memperjuangkan kepentingan negara untuk menjalankan pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim (climate resilience).

Caranya adalah dengan mengurangi secara signifikan tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim dan kemiskinan. Intended Nationally Determined Contribution (INDC) adalah agenda yang diperjuangkan. Tugas dilakukan melalui jalur negosiasi, jalur penjangkauan (outreach), dan kampanye (campaign).

Indonesia juga memanfaatkan COP 21 di Paris untuk menginformasikan kepada komunitas internasional mengenai program Nawa Cita pemerintahan Jokowi.

Siapa saja delegasi Indonesia?

Delegasi Indonesia berjumlah 412 orang, mulai dari presiden, menteri dan pejabat setingkat menteri, para penasihat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Utusan Khusus Presiden Untuk Perubahan Iklim.

Lembaga negara seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga diundang sebagai delegasi.

Tim negosiasi ada 60-an, melibatkan lintas kementrian dan lembaga. Ada juga wakil dari lembaga penelitian dan kampus. Kalangan lembaga swadaya masyarakat tercatat 60 orang termasuk wakil dari Solidaritas Perempuan, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), WWF, dan Greenpeace.

Kalangan swasta ada 30 orang, termasuk dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Asosiasi Kehutanan dan Sawit, serta pengelola komunikasi seperti Yayasan Perspektif Baru yang dipimpin Wimar Witoelar.

“Kurang dari 20 persen anggota delegasi yang dibiayai oleh negara,” kata Ketua Paviliun Indonesia Agus Justianto, yang juga staf ahli Menteri LHK Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam.

47 sesi diskusi panel di Paviliun Indonesia

Agus Justianto Ketua Paviliun Indonesia di COP 21 diwawancarai media di sela COP 21, Paris, Perancis, pada 30 November 2015. Foto oleh Uni Lubis/Rappler
Agus Justianto Ketua Paviliun Indonesia di COP 21 diwawancarai media di sela COP 21, Paris, Perancis, pada 30 November 2015. Foto oleh Uni Lubis/Rappler
Selain mengikuti negosiasi dan berbicara dalam acara side events, alias diskusi panel di luar pertemuan pemimpin, Indonesia memanfaatkan paviliun sebagai ajang menjangkau dan kampanye.

Ada 47 sesi diskusi dan presentasi yang akan digelar di Paviliun Indonesia sejak 30 November sampai 11 Desember 2015.

Menurut Agus, sejauh ini biaya sewa dan pengelolaan paviliun sepenuhnya dari kontribusi swasta dan lembaga yang mengisi acara.

“Biayanya sekitar Rp 8,5 miliar, untuk ukuran 250 meter persegi. Sejak empat tahun terakhir memang paviliun Indonesia di acara COP didukung oleh swasta,” kata Agus.

Tiga tahun sebelum COP 21, paviliun Indonesia dikelola Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Kini dikelola langsung oleh Kementerian LHK.

Misi khusus Jokowi

Menurut keterangan tim komunikasi presiden, Ari Dwipayana, dalam sesi bicara bagi pemimpin COP 21, Jokowi akan menyampaikan dukungan penuh Indonesia bagi keberhasilan COP 21, sekaligus dukungan moral kepada Perancis di tengah maraknya aksi terorisme yang melanda Paris. Jokowi juga akan meminta dukungan dunia atas kebakaran hutan dan lahan gambut yang melanda Indonesia.

Selain itu, Jokowi juga akan menyampaikan kontribusi Indonesia dalam isu perubahan iklim, terutama dalam mendorong terealisasinya secara penuh prinsipcommon but differentiated responsibility. Hal ini penting agar negara berkembang dapat berkontribusi lebih besar dalam isu perubahan iklim.

“Kita memberikan dukungan politik, sama seperti konferensi sebelumnya, komitmen, karena kita berada pada posisi yang tepat 17 ribu pulau, kalau terjadi kenaikan permukaan air laut,” kata Jokowi di Bandara Halim Perdanakusuma sebelum bertandang ke Paris, Minggu pagi, 29 November.

Selain itu, di sela-sela pelaksanaan konferensi di hari pertama ini, Jokowi juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Serbia Tomislav Nikolic, Perdana Menteri Kerajaan Norwegia Erna Solberg, Perdana Menteri Kerajaan Belanda Mark Rutte, dan Presiden Peru Ollanta M. Humala Tasso.

Jokowi juga dijadwalkan untuk menghadiri Forest Event yang digagas oleh Norwegia, Inggris, dan Peru serta dijadwalkan pula untuk menghadiri Mission Innovation Event.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *