Dari COP 21 Paris Akan Diluncurkan Inisiatif Kurangi Makanan Sisa

Terdapat enam Inisiatif kerjasama bidang Pertanian dan Pangan yang disepakati oleh negara dan organisasi anggota LPAA. Apa saja?

Presiden Jokowi menyampaikan pidato di COP 21, Paris, 30 November 2015. Foto oleh Hotmangaraja Panjaitan

Presiden Jokowi menyampaikan pidato di COP 21, Paris, 30 November 2015. Foto oleh Hotmangaraja Panjaitan

PARIS, Prancis – Pemerintah, bersama organisasi pangan dan pertanian, menyepakati enam inisiatif kerjasama untuk merespon ancaman yang dihadapi kedua sektor itu karena perubahan iklim.

Upaya ini dilakukan melalui LPAA, yaitu Lima Paris Action Agenda, yang didirikan pemerintah Peru dan Perancis dan Kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Peru adalah tuan rumah Conference of Parties (COP) 20 yang diadakan tahun lalu.

“Ancaman perubahan iklim sangat nyata bagi kehidupan jutaan petani. LPAA berkomitmen melindungi petani dan mengurangi emisi gas rumah kaca,” demikian keterangan pers organisasi ini.

Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling serius terkena dampak perubahan iklim. Kemarau makin panjang membuat kekeringan serta mengancam panen tanaman pangan, yang ujungnya mengancam kehidupan petani dan ketahanan pangan.

Sektor pertanian juga menyumbang 24 persen emisi gas karbon yang mendorong terjadinya perubahan iklim itu sendiri.

Inisiatif yang diluncurkan LPAA fokus pada empat wilayah kunci. Fokus tersebut terdiri dari kualitas tanah pertanian, sektor peternakan, kehilangan makanan dalam proses produksi dan makanan sisa, serta metode berkelanjutan dalam proses pertanian dan ketahanan petani.

Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk menggelontorkan bantun dana dan pengetahuan dari negara maju dan negara berkembang. Tujuannya, membantu para petani agar dapat menjadi pemain kunci dalam pembangunan rendah karbon dan masa depan ketahanan iklim.

Panel diskusi COP 20, di Lima, Peru, diskusikan dampak perubahan iklim bagi petani dan nelayan. Foto oleh Uni Lubis

Panel diskusi COP 20, di Lima, Peru, diskusikan dampak perubahan iklim bagi petani dan nelayan. Foto oleh Uni Lubis

Enam inisiatif kerjasama itu adalah:

1. “Inisiatif 4/1000”: Tanah untuk ketahanan pangan dan iklim

Tujuannya melindungi dan melindungi ketersediaan karbon di tanah, sehingga bisa mengurangi emisi gas karbon. Inisiatif 4/1000 per tahun untuk menyimpan ketersediaan karbon di tanah dilakukan dengan manajemen tanah yang lebih sehat.

2. Life beef carbon

Diinspirasi dari program di Perancis, tiga negara Eropa lainnya, yaitu Irlandia, Italia dan Spanyol melakukan upaya menekan banyaknya jejak karbon dari kegiatan peternakan sapi. Targetnya mengurangi 15 persen emisi karbon dalam 10 tahun ke depan, di empat negara itu.

3. Program adaptasi untuk petani kecil

Menyediakan dana sampai 285 juta dolar AS untuk membantu petani kecil meningkatkan kemampuan produksi secara berkelanjutan. Targetnya, pada 2034 hasil dari bantuan pendanaan ini akan mengurangi 80 juta ton emisi gas rumah kaca dan memperkuat ketahanan 8 juta petani kecil

4. Transisi 15 negara di Afrika Barat ke agro-ecology.

Promosi terhadap transisi negara di kawasan ini ke agro-ecology, atau pertanian berbasis lingkungan melibatkan tidak hanya 15 negara. Tapi juga Burkina Faso dan Ghana, serta lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan Bank Eropa. Ini merupakan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, yang akan menjangkau 25 juta rumah tangga petani pada 2025.

5. Inisiatif pembangunan biru

Inisiatif ini melibatkan pelbagai mitra yang dipimpin Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Gerakan pembangunan biru untuk mendukung ketahanan iklim, ketahanan pangan, pemberantasan korupsi dan pengelolaan kehidupan secara berkelanjutan di kawasan pesisir pantai, terutama di negara kepulauan kecil.

Target dari kerjasama ini untuk mengurangi emisi karbon sampai 10 persen dari proses produksi di sektor perikanan. Selain itu, terdapat 10 negara yang menjadi target dalam waktu lima tahun (dan 25 persen dalam 10 tahun), serta pengurangan kegiatan mencari ikan secara berlebihan sebesar 20 persen di negara target dalam lima tahun (50 persen dalam 10 tahun)

6. Inisiatif selamatkan pangan (Inisiatif global soal makanan yang rusak dan mubazir).

Kerjasama di bawah koordinasi FAO ini cukup unik. Dengan melibatkan lebih dari 500 perusahaan dan organisasi dari industri dan penggiat sipil, inisiatif selamatkan pangan bertujuan mengurangi makanan rusak, terbuang dan sisa dalam proses produksi pangan.

Tantangan dari kerjasama ini adalah inovasi lintas bidang untuk memastikan tidak ada makanan yang mubazir dalam proses dari pertanian ke “garpu”.

Inisiatif ini akan diluncurkan dalam beberapa hari ke depan. Upaya ini akan mengurangi emisi gas rumah kaca, karena kontribusi dari makanan yang rusak, terbuang dan sisa ini terhadap emisi karbon mencapai setara dengan 3,3 giga ton per tahun.

Dalam forum LPAA, Indonesia diwakili perwakilan dari Kadin Shinta Widjaya, Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit Mansuetus Darto, dan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Abdon Nababan.

“Bagi Indonesia yang kini fokus pada ketahanan pangan, inisiatif untuk mendukung petani kecil yang paling mendesak,” kata Shinta kepada Rappler.

Saat ini ada 16 negara termasuk Indonesia yang sudah menandatangani kerjasama inisiatif dalam kerangka LPAA.

Menurut data FAO, nilai makanan sisa yang terbuang mencapai 750 miliar dolar AS setiap tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*