HomeInspirasiMuslim Muda Ini Cerita Soal Hidup di Paris Pascateror 13 November

Muslim Muda Ini Cerita Soal Hidup di Paris Pascateror 13 November

Ada yang berubah pascadua serangan teroris. Tapi, ada juga semangat yang tetap menyala.

PARIS PASCATEROR. Ayoub Abdelkadir berbincang dengan Maria Edna di Paviliun Indonesia di COP 21 Paris. Foto oleh Uni Lubis/Rappler.com
PARIS PASCATEROR. Ayoub Abdelkadir berbincang dengan Maria Edna di Paviliun Indonesia di COP 21 Paris. Foto oleh Uni Lubis/Rappler.com

PARIS, Prancis – Ada yang berubah dari kebiasaan Ayoub Abdelkadir sejak terjadinya tragedi berdarah Jumat malam, 13 November 2015. Malam itu, enam lokasi di kota Paris diserang teroris.

“Tiap Jumat malam, biasanya saya dan teman-teman kongkow, minum kopi di kafe sampai larut malam. Sejak serangan 13 November itu, saya memilih tinggal di rumah. Masih khawatir,” kata anak muda ini.

Kami berbincang di sela-sela acara Conference of Parties (COP) 21, yang berlangsung di Kompleks Ekspo Le Bourget, di utara Paris, Selasa malam, 1 Desember.

Ayoub dan rekannya menjadi relawan di Paviliun Perancis. Anak muda kelahiran Aljazair, 25 tahun lalu ini, khusus datang ke paviliun Indonesia untuk mengikuti pemaparan Maria Edna, soal konservasi Harimau di Tambling Wildlife Nature Conservation.

“Saya kagum banget sama kamu. Kok berani mengurusi harimau, mengambil foto dari jarak 15 meter,” kata Ayoub kepada Maria.

Saya menikmati perbincangan dua anak muda beda negara yang sama-sama menyenangi dan peduli terhadap lingkungan hidup dan perubahan iklim.

Orang tua Ayoub masih tinggal di Aljazair. Ayoub yang memiliki dua orang saudara, laki-laki dan perempuan, datang ke Paris setahun lalu untuk meneruskan kuliah di tingkat pascasarjana. Dia mengambil studi kimia dan lingkungan di Universitas Paris 13, yang juga dikenal dengan nama University of Paris North.

Dia tinggal di sebuah apartemen kecil di area Pantin, 30 menit naik Metro, kereta komuter di kota ini. Selain kuliah, Ayoub juga magang bekerja di sebuah perusahaan tak jauh dari kampusnya.

Sejumlah kerabat Ayoub sudah lebih lama tinggal di Perancis. Di negeri ini ada sekitar 7 persen imigran dari Aljazair.

“Ada kecenderungan orang di Paris lebih curiga terhadap orang yang mengenakan kostum ‘aneh’, sejak serangan ke kantor Charlie Hebdo dan serangan 13 November,” kata Ayoub.

Dia menceritakan pengalamannya belum lama ini ketika seorang lelaki menggunakan baju gamis panjang dan memelihara janggut naik Metro.

Seorang perempuan di Metro berkomentar, “Seharusnya Anda tidak berada di sini dan berpakaian seperti itu. Tapi, penumpang yang lain tidak memasalahkan. Buat saya ini hal yang berubah. Di Paris kita biasa banget melihat orang berpakaian ‘aneh’ untuk ukuran lokal. Sebelumnya tidak menjadi masalah. Sekarang ada orang yang jadi lebih sensitif dan merasa terganggu,” kata Ayoub kepada saya.

Ayoub mengakui sebagian imigran di Paris, terutama yang beragama muslim, berada pada situasi yang serba salah. Hal ini setelah dua tragedi terakhir yang melibatkan kelompok radikal yang membawa identitas Islam. Paris memang memiliki sejarah panjang potensi konflik akibat diskriminasi yang dirasakan imigran.

“Tapi sebenarnya mayoritas masyarakat di sini terbiasa hidup berdampingan dengan berbagai suku bangsa dengan beragam agama dan kepercayaan. Paris adalah kota yang multicultural,” tutur Ayoub.

Di masjid yang biasa didatangi Ayoub, penceramah agama menyampaikan pelaku terror berdarah itu mungkin saja beragama Islam. Tapi mereka tidak mewakili umat Islam. “Kami selalu mengatakan bahwa Islam itu agama yang mengajarkan kedamaian. Bukan kekerasan,” ceritanya.

Di Perancis, penceramah agama biasanya mereka yang sudah mendapatkan semacam lisensi dari pemerintah lokal.

“Urusan kebebasan pers di Perancis luar biasa bebas. Tapi untuk hal-hal tertentu misalnya soal ustad dan penceramah agama, biasanya harus ada semacam ijin dari pemerintah,” kata Ayoub.

Berapa lama situasi trauma akibat serangan 13 November akan dirasakan penduduk Paris?

“Enam bulan, mungkin. Bahkan bisa setahun. Sangat bergantung kepada kemampuan pemerintah mengangkap tuntas jaringan teroris, motifnya, dan mencegah serangan lain,” ujar Ayoub.

Dia juga berharap akar masalah yang menjadi lahan subur masuknya bibit radikalisme ditangani dengan baik. “Islam bukan teroris. Orang Islam sudah menjadi bagian dari negara ini sejak lama. Saya membaca buku sejarah yang menyampaikan bahwa agama Islam masuk ke Perancis jauh sebelum agama lain,” lanjutnya.

Pada Abad ke-9, memang pasukan Islam menguasai kawasan selatan Perancis, setelah mereka kalah di Spanyol. Jumlah penduduk yang menganut agama Islam di Perancis, ada di posisi kedua terbanyak setelah yang beragama Katolik.

Jumlahnya setara dengan 5-10 persen dari populasi Perancis yang tercatat sekitar 63 juta. Tak ada data pasti sebenarnya soal demografi berdasarkan agama dan kepercayaan. Undang-Undang di Perancis melarang sensus penduduk berdasarkan agama dan kepercayaan. Angka-angka yang ada berdasarkan jajak pendapat, sesuatu yang dikecualikan oleh Undang-Undang.

“Saya tahu banyak analisa soal potensi konflik di Perancis, khususnya di Paris. Tapi saya yakin soalnya bukan pada Islam dan pemeluknya. Yang terjadi baru-baru ini adalah imbas dari sikap politik terhadap apa yang terjadi di Suriah dan Irak. Ini yang juga perlu disadari pemerintah Perancis,” kata Ayoub.

“Saya datang ke Paris ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Kualitasnya tentu lebih baik dari di negara saya. Saya berharap Paris menjadi kota yang aman, sebagaimana yang saya rasakan selama ini. Kota dengan semangat multikultural. Saya berharap bisa menikmati malam di akhir pekan, bersama teman-teman, tanpa rasa takut lagi,” ujar Ayoub.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *