Jokowi, Netizen dan Suara Publik

Jokowi mulai terganggu dengan pemberitaan media yang mengkritisinya. Dia memonitor suara publik melalui media sosial.

Presiden Joko Widodo merasa sudah mulai terganggu dengan pemberitaan media. Foto oleh Romeo Gacad/AFP

Presiden Joko Widodo merasa sudah mulai terganggu dengan pemberitaan media. Foto oleh Romeo Gacad/AFP

“Jadi gini. Perlu juga saya sampaikan setiap hari saya selalu memantau, mengikuti jalannya proses di MKD, selalu saya ikuti. Saya ingin agar MKD melihat fakta-fakta yang ada, lihat fakta-faktanya. Yang kedua, dengarkan suara publik, dengarkan suara masyarakat, dengarkan suara rakyat.”

Ucapan di atas adalah jawaban Presiden Joko “Jokowi” Widodo menjawab pertanyaan jurnalis di Istana Negara, Selasa (15/12). Sebelum dicegat jurnalis untuk menjawab pertanyaaan itu, Jokowi memberikan sambutan pada penyerahan Penghargaan Keterbukaan Informasi Badan Publik tahun 2015.

Dalam acara itu Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara mengumumkan Kementerian Keuangan menjadi juara kesatu dalam penilaian keterbukaan informasi publik badan publik sepanjang 2015. Kementerian pekerjaan umum dan perumahan juara kedua, kementerian perindustrian di peingkat ketiga.

“Rakyat yang menginginkan pemerintah yang cepat dan responsif terhadap keluhan-keluhan. Untuk itu, pemerintah di semua tingkat, pusat dan daerah, institusi, universitas semua badan publik kementerian, dan yang lainnya harus segera berubah ke arah pemerintah yang terbuka, yang good government,” kata Jokowi dalam sambutannya.

Menurut Jokowi, Indonesia berada pada era baru dimana pola komunikasi diantara pemerintah dan rakyat berubah. Rakyat menginginkan transparansi, keterbukaan informasi, yang interaktif, yang dialogis dan pemerintahan yang responsif.

“Sekarang ini era keterbukaan, sangat sulit menutupi hal-hal yang misalnya enggak baik. Ya enggak bisalah. Eranya sudah era keterbukaan seperti ini. Jadi, saya selalui sampaikan beritakan kepada masyarakat, beritakan kepada publik, sampaikan apa adanya, kalau kesulitan sampaikan, dengarkan suara rakyat, dengarkan suara publik, dengarkan suara masyarakat karena respons secepatnya, karena eranya seperti itu. Jadi sudah enggak ada pilihan,” kata Jokowi. Ada penekanan kalimat.

Jokowi memantau Twitter

Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki mengatakan Jokowi memang memantau perkembangan isu di publik, baik melalui media maupun media sosial. Belakangan, akun twitter @Jokowi mulai aktif berkicau lagi. Tiga hari lalu misalnya, akun @jokowi berkicau soal sampah:

@jokowi; Masih gagal paham, kok ada pemilik mobil buang sampah di jalan seenaknya. Perilaku memalukan – Jkw

Inisial Jkw menunjukkan kicauan asli dari Jokowi. Istilah “gagal paham” sering digunakan pengguna Twitter.

Jadi, Jokowi memang memantau suasana kebatinan dan diskusi di media sosial terutama Twitter.

“Ada beberapa akses untuk memonitor Twitter. 1, beliau buka sendiri, 2. Adareport hasil pantauan media tracking,” kata Teten ketika saya tanyai, Rabu pagi (16/12).

Menurut Teten, laporan pelacakan media dilakukan oleh tim komunikasi yang strukturnya ada di bawah presiden langsung. Termasuk di sini adalah Teten sendiri.

Boleh jadi karena rajin memonitor suara publik, membuat Jokowi akhirnya marah ketika sidang MKD untuk Setya Novanto dinyatakan tertutup. Saat itu perasaan netizen, atau pengguna internet terutama di media sosial, memang kesal dan marah atas keputusan MKD, atau Mahkamah Kehormatan Dewan yang terkesan melindungi bosnya, ketua DPR Setya Novanto.

Jokowi juga mengapresiasi sudut pandang netizen. Saat bertemu dengan seratusan blogger yang sering menulis di Kompasiana, di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (12/12), Jokowi menyampaikan harapannya agar agar para blogger lebih banyak lagi menulis suatu tulisan yang memberi rasa optimisme kepada publik. ”Tulisan-tulisan yang menyadarkan pentingnya integritas, pentingnya kejujuran harus ditumbuhkan,” kata dia.

Presiden memberi contoh ketika ekonomi melambat, sebenarnya semua negara mengalami perlambatan. Bahkan beberapa negara besar di dunia seperti Rusia mengalami pertumbuhan yang minus. Tidak jarang presiden atau perdana menteri dari suatu negara yang bertanya kepada presiden bagaimana negara sebesar Indonesia mempunyai pertumbuhan 4,8 persen. turun dari 5 ke 4,8 jurusnya apa. “Tapi di kita sendiri banyak yang menulis resesi, anjlok,” ungkap Presiden.

Jokowi terganggu pemberitaan media?

Jokowi rupanya terganggu dengan pemberitaan media massa yang mulai kencang melancarkan kritik ke pemerintahannya. Dia menyampaikan dalam bentuk meminta agar media memberikan optimisme kepada publik terutama dalam melalui masa pelambatan ekonomi. Saya mendapatkan informasi ini dari Ilham Bintang, pemimpin redaksi Cek & Ricek, yang mengikuti acara buka puasa bersama pemimpin redaksi lainnya di Istana pada bulan Juli.

Ketika bertemu dengan masyarakat korban semburan Lumpur Sidoardjo di Lapindo, (25/8), Jokowi kembali mengulagi harapannya agar media memberitakan yang positif, tidak hanya yang negatif.

President Joko Widodo saat merayakan pelantikannya sebagai presiden. Foto oleh AFP

President Joko Widodo saat merayakan pelantikannya sebagai presiden. Foto oleh AFP

Kinerja media yang bersikap partisan dalam kampanye pemilihan presiden 2014 banyak menuai kritik publik. Masalahnya, saat kampanye Jokowi juga diuntungkan oleh media yang bersikap partisan, habis-habisan membelanya. Ketika sudah duduk di kursi presiden, media mulai melancarkan kritik. Termasuk yang pernah mendukung Jokowi sebagai capres. Ini lumrah. Presiden Barack Obama yang naik dengan popularitas sedunia pun mengalami hal sama. Beda saat kampanye, beda setelah berkuasa.

Sebenarnya media banyak menampilkan feature yang memberikan optimisme dan inspirasi. Memang tidak selalu ditempatkan di halaman depan. Yang menjadi isu utama dan ditempatkan sebagai kepala berita di halaman depan dan menjadi isu yang digeber di media daring dan televisi adalah isu kontroversial. Misalnya soal kontroversi skandal #PapaMintaSaham yang melibatkan Setya Novanto dan orang-orang di kabinet Jokowi. Orang-orang yang menjadi sumber kegaduhan. Ini yang dibaca Jokowi, dan sebagian besar kita konsumen media.

Media melaporkan, karena memenuhi segala kategori layak berita: magnitude, controversy, name make news, public interest.

Mungkin Jokowi juga perlu memastikan bahwa kegaduhan seperti itu tak perlu lagi terjadi. Dan kita bisa fokus mendorong isu yang menebarkan optimism bahwa pemerintahan ini ada di jalan yang benar dan bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*