HomeInspirasiJokowi Menginspirasi Saya dengan Kapsul Impiannya

Jokowi Menginspirasi Saya dengan Kapsul Impiannya

Kebiasaan menguburkan kapsul waktu dilakukan oleh pemimpin untuk metode komunikasi dengan generasi mendatang

Jokowi memasukkan pesan impiannya ke dalam kapsul waktu. Foto oleh Agus Suparto/Istana Kepresidenan
Jokowi memasukkan pesan impiannya ke dalam kapsul waktu. Foto oleh Agus Suparto/Istana Kepresidenan

Gara-gara Presiden Joko “Jokowi” Widodo menulis tujuh harapan dalam kapsul impiannya, pada 30 Desember 2015, saya tergerak untuk mencari tahu, mengapa seorang pemimpin ingin memberikan “warisan” semacam kapsul waktu untuk dibuka berpuluh tahun kemudian. Kapsul impian Jokowi yang dibuat di Merauke, Papua, akan dibuka 70 tahun kemudian.

Ketika menuliskan impiannya, Jokowi mengingatkan bahwa, “Sekarang menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan, bukan menunggu terwujud. Mimpi tidak akan terwujud dengan sendirinya, harus diupayakan dengan segenap keyakinan.”

Jadi, Jokowi seperti memberikan target dan memacu rakyat Indonesia untuk mencapai target itu. Kegiatannya dimulai awal tahun dan dinamai Ekspedisi Kapsul Waktu.

Menurut laman Wikipedia, kapsul waktu adalah sekumpulan informasi dan benda, biasanya ditujukan sebagai metode mengomunikasikan masa sekarang dengan orang-orang di masa depan. Manfaatnya, informasi atau benda-benda ini bisa membantu arkeologis, antropologis, atau sejarahwan.

Para tokoh pemimpin meninggalkan kapsul waktu berisi informasi dan benda yang bisa menginspirasi generasi masa depan, berdasarkan pengalaman faktual di masa kini.

Pada tanggal 15 Januari 1988, sebagai bagian dari perayaan ulang tahun mendiang Dr. Martin Luther King Jr., pejuang hak-hak sipil dan pejuang bagi kaum minoritas di Amerika Serikat, keluarganya menguburkan kapsul waktu berisi benda-benda Dr. King Jr.

Istri Dr. King Jr, Coretta Scott King, menyimpan beberapa benda di dalam kapsul yang terbuat dari aluminium, untuk dibuka pada 15 Januari 2088. Isinya adalah pidato yang disampaikan Dr. King Jr saat menerima hadiah Nobel Perdamaian, buku Alkitab yang biasa digunakan Dr. King Jr., dan sejumlah benda kenangan lain.

Kapsul waktu Dr. King Jr. dikubur di dekat Western Plaza, Washington DC. Lokasinya tak jauh dari Gedung Putih dan daerah komersil di ibu kota AS, tempat terjadinya kerusuhan termasuk pembakaran oleh massa yang marah akibat pembunuhan Dr. King Jr., pada April 1968.

Awal Januari 2015, Museum of Fine Arts di Boston membuka sebuah kapsul waktu yang dipercayai sebagai yang pertama dilakukan oleh pemimpin di AS. Kapsul waktu itu dikubur di area State House Massachusetts pada 4 Juli 1795, atau 20 tahun setelah kemerdekaan AS. Pemimpin Boston saat itu, Gubernur Samuel Adams, menguburkan sejumlah benda dalam kapsul waktu yang sempat ditemukan pada 1855.

Isi dari kapsul waktu Gubernur Adams itu, mulai dari koin terbuat dari tembaga dan perak dari mata uang yang berlaku saat itu, hingga plakat terbuat dari perak, dan beberapa edisi koran. Lagi-lagi, para pemimpin yang menguburkan benda-benda itu ingin memberikan informasi kepada generasi saat ini ketika kapsul waktu itu dibuka, apa dan bagaimana kehidupan pada saat itu, tahun 1795.

Kapsul Impian Jokowi agak beda. Isinya impian presiden ke-7 Indonesia itu mengenai Indonesia 70 tahun dari sekarang, dan pekerjaan rumah bagi kita semua untuk mencapai itu.

Meskipun saya bukan sekelas pemimpin negeri, menurut saya ide membuat kapsul waktu itu baik juga kita tiru. Semacam kapsul waktu personal yang bisa ditemukan oleh anak-cucu kita kelak.

Saya berpikir mengenai apa yang akan saya masukkan dalam kapsul waktu untuk dibuka 50 tahun dari sekarang. Kira-kira isinya ini:

  • Tiga jenis koran yang terbit pada hari pertama 2016. Pilihannya Kompas, Republika, dan Jawa Pos. Saatnya tepat, karena hari-hari ini kita tengah bicara senjakala media cetak. Edisi awal tahun biasanya isinya evaluasi tahun lalu dan proyeksi tahun ke depan. Jadi mestinya, sih, kaya informasi.
  • Buku biografi Lee Kuan Yew, From Third World to First. Buku ini berkesan buat saya dan menjadi referensi transformasi politik dan ekonomi tidak hanya Singapura, tetapi juga ASEAN dan kawasan Asia Pasifik. Bermanfaat untuk informasi generasi mendatang.
  • Buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Membaca buku ini kita mendapatkan informasi bagaimana seorang inovator melahirkan inovasi, plus, mengetahui perkembangan dunia teknologi informasi dan siapa saja pemainnya. Iya, saya juga punya banyak buku terkait termasuk soal Silicon Valley. Tapi, Isaacson menurut saya berhasil menggambarkan sosok Jobs dan nama besar lain seperti Bill Gates dan lainnya dengan kaya nuansa. Mungkin ada yang bertanya, mengapa buku? Bukankah informasinya bisa dibaca secara digital? Saya memilih buku, karena pasti bisa dibaca 50 tahun ke depan, oleh mata telanjang. Kalau memberikan dalam bentuk tautan URL, apalagi dalam bentukflashdisk, saya khawatir 50 tahun lagi sistem medium Internet sudah berubah, berkembang. Bagaimana mengakses jejak digital mungkin berubah caranya.
  • Tulisan tangan resep masakan favorit, yaitu rendang, sambal goreng ati sapi, dan sayur udang tauco. Saya tidak tahu apakah 50 tahun dari sekarang cucu dan cicit masih doyan makan makanan seperti yang kita makan saat ini, atau sudah melahap segala bentuk makanan dalam bentuk pil yang punya efek kenyang (seperti di film-film Hollywood). Tapi saya berharap jika mereka ingin memasaknya, ada resepnya. Bukankah ada di digital? Namanya warisan, kan lebih romantik jika ditulis tangan, bukan?
  • Beragam jenis mata uang rupiah, baik lembaran kertas dan koin. Karena saat ini orang Indonesia juga terbiasa menggunakan mata uang dolar AS, maka saya akan masukkan juga lembaran dolar AS dan koinnya. Berikut catatan tentang kurs alias nilai tukar saat ini.
  • Kaset lagu favorit. Kaset??? Terlalu jadul. Kalau pun saya menempatkan kaset, harus dengan radio tape-nya. Lebih baik telepon pintar seri terbaru yang bisa saya isi playlist lagu-lagu favorit saya. Salah satunya adalah Hotel California oleh The Eagles dan Indonesia Pusaka gubahan Ismail Marzuki.
  • Foto keluarga yang lengkap, ketika ibu saya masih hidup. Lebaran 2013 kami membuat foto itu di studio. Tahun 2014, ibu saya meninggal dunia. Jadi keluarga saya punya satu foto keluarga saat semua masih hidup. Saya juga akan memasukkan satu foto keluarga dari sisi keluarga besar suami. Saya akan memasukkan juga foto beberapa peristiwa menarik dan penting yang pernah saya liput. Misalnya, kenangan soal tsunami 2004 di Aceh dan konferensi perubahan iklim COP 21 di Paris yang hasilnya cukup historis.
  • Beberapa foto rumah yang saya tempati saat ini. Juga foto-foto kota Jakarta dan Yogyakarta.
  • Kumpulan tulisan 100 Hari Jokowi-JK, dan sejumlah tulisan saya yang diterbitkan Rappler pada 2015. Semoga tulisan itu memberikan gambaran bagaimana situasi Indonesia saat ini. Generasi mendatang bisa belajar dari benar dan salahnya proses yang tengah terjadi saat ini.
  • Selembar baju hamil saat mengandung anak saya, Darrel. Saya masih menyimpan beberapa sebagai kenang-kenangan. Sentimental banget, ya.

Nah, saat ini itu yang terpikir oleh saya, sebagai isi dari kapsul waktu yang akan saya kuburkan. Soal berikutnya dikuburkan di mana? Tidak ada jaminan bahwa anak cucu dan cicit saya akan tinggal di tempat yang sama, bukan? Jadi, mungkin saya akan simpan dalam sebuah kontainer plastik yang akan saya titipkan turun temurun.

Apakah kalian terinspirasi Jokowi dan berminat mewariskan kapsul waktu juga?

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *