Benarkah Serangan Teroris di Jakarta Gagal?

Ada pertanyaan soal jumlah pelaku yang tewas dalam serangan ke area Sarinah. Lima orang atau enam?

Situasi di kawasan Sarinah usai terjadi peledakan dan baku tembak pada 14 Januari 2016. Foto oleh Adi Weda/EPA

Situasi di kawasan Sarinah usai terjadi peledakan dan baku tembak pada 14 Januari 2016. Foto oleh Adi Weda/EPA

Jika polisi tidak melakukan serangkaian penangkapan terduga teroris pada Desember 2015, mungkin serangan teroris akan memakan lebih banyak korban.

“Jika polisi tidak memotong jalur penyelundupan senjata dari Filipina Selatan, maka pasokan senjata yang digunakan untuk serangan teroris di Indonesia akan berakibat lebih fatal,” ujar petinggi lembaga anti-teroris yang saya temui di lokasi kejadian di depan area pusat perbelanjaan Sarinah, Kamis, 14 Januari.

Kemarin, Jakarta diguncang ledakan bom dan tembak-menembak yang terjadi di sekitar area Sarinah di jalan utama, Jalan MH Thamrin. Jika merujuk kepada kronologi versi polisi, maka sasaran awal adalah Gedung Sarinah.

Enam orang menggunakan ransel memasuki mal itu sekitar pukul 10:30 WIB, tapi dihambat oleh petugas keamanan karena diduga membawa bom. Petugas satuan pengamanan membawa mereka ke pos Polisi yang ada di seberang Gedung Sarinah.

Tiga di antaranya meledakkan diri di pos itu. Tiga lainnya melarikan diri ke arah kedai kopi Starbucks yang ada di Menara Cakrawala (Gedung Skyline), di samping Sarinah. Di antara kedua gedung, ada Jalan Wahid Hasyim.

Cerita selanjutnya bisa disimak di kronologi ledakan versi Polda Metro Jaya.

Sejauh ini, penjelasan resmi menyatakan ada tujuh tewas termasuk lima pelaku, dan 24 luka berat, termasuk lima polisi. Data ini bersumber dari kepolisian, termasuk dari Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jendral Tito Karnavian, dan dikuatkan oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung dalam jumpa pers di kantor Presiden, Kamis sore.

Jumpa pers digelar setelah Presiden Joko “Jokowi” Widodo berkunjung ke lokasi dan mengadakan rapat terbatas di kantornya setelah itu. Ratas juga diikuti Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti, Pangdam Jaya Mayor Jenderal TNI Teddy Lhaksamana, dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Panjaitan.

Tito Karnavian dalam jumpa pers itu mengatakan, lima pelaku teror berhasil dilumpuhkan, tewas. Saat dilakukan penggeledahan terhadap pelaku teror yang berhasil ditembak mati, pihaknya menemukan enam bom siap ledak di dalam tasnya. Semuanya adalah bom rakitan.

“Total ada enam bom; lima kecil sebesar kepalan tangan atau granat tangan rakitan dan satu lagi bom besar sebesar kaleng biskuit. Itu berhasil kita amankan,” kata Tito.

Selain itu polisi juga mengamankan senjata rakitan berjenis FN yang akan dibawa ke Mabes Polri untuk dijadikan bahan penelitian dan juga barang bukti.

Pramono Anung mengatakan bahwa dari tujuh orang korban meninggal dunia, lima adalah pelaku dan dua orang lainnya korban dari masyarakat.

“Dua korban dari masyarakat tersebut terdiri dari satu warga negara Kanada dan satu lagi warga negara Indonesia (WNI). Yang luka jumlahnya 15 bertambah 5, hingga menjadi 20 orang. Lima tambahan itu dari polisi,” ucap Pramono.

Untuk akurasi informasi, Kamis malam, Pramono mengirimkan keterangan tertulis kepada saya melalui aplikasi pesan WhatsApp.

Presiden Jokowi saat tiba di lokasi peledakan di kawasan Sarinah, 14 Januari 2016. Foto oleh Roni Bintang/EPA

Presiden Jokowi saat tiba di lokasi peledakan di kawasan Sarinah, 14 Januari 2016. Foto oleh Roni Bintang/EPA

Sampai di sini ada yang menimbulkan pertanyaan. Kronologi versi Polda Metro Jaya menunjukkan bahwa ada enam orang yang berusaha masuk ke Gedung Sarinah. Artinya, mereka dalam satu grup pelaku teror di area tersebut kemarin.

Mengapa Tito dan Pramono menyebut ada lima pelaku meninggal dunia? Mungkinkah di antara dua korban dari masyarakat sipil adalah pelaku juga? Atau ada pelaku yang berhasil kabur? Sampai tulisan ini dibuat belum ada konfirmasi dari pihak kepolisian.

Saya meliput ke lokasi kejadian kemarin. Setelah melakukan jumpa pers di lokasi, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Budi Gunawan mengatakan kepada saya, bahwa ada satu korban tewas orang asing yang belum diketahui identitasnya.

“Kita masih cek, apakah dia masyarakat biasa, atau bagian dari pelaku juga,” kata Budi kepada saya. Ia menyebut ada jenazah yang wajahnya menyerupai warga etnis Uighur, tapi belum bisa dipastikan.

Jumpa pers Budi Gunawan yang didampingi Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso dan Kapolda Tito Karnavian itu berlangsung sekitar pukul 13:00 WIB, selama tiga puluhan menit. Saat itu Budi mengatakan bahwa ada 14 korban, enam tewas. Empat di antara yang tewas adalah pelaku teror dan dua adalah warga sipil termasuk orang asing. Makin sore jumlah korban bertambah.

Sebagai pengingat, pada 23 Desember 2015, polisi menangkap dua terduga teroris di Bekasi, dengan inisial AM dan AL. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan mengatakan bahwa AL adalah warga dari Uighur. Ini adalah suku terbesar di Provinsi Xinjiang di Tiongkok. Mayoritas beragama Islam.

AM dan AL ditangkap di dua lokasi yang berbeda. AM lebih dulu ditangkap di perumahan di wilayah kecamatan Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat.

AM ditangkap karena kepemilikan surat mobil yang meragukan. Dalam penelusuran selanjutnya, polisi menangkap AL di sebuah rumah kontrakan dan mendapati barang-barang yang biasa digunakan untuk merakit bom.

Kapolri Badrodin Haiti mengatakan salah satu dari yang ditangkap di Bekasi ada kaitannya dengan gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Kata Badrodin, mereka merencanakan aksi teror di akhir Desember 2015.

Penangkapan kedua terduga teroris di Bekasi itu adalah rangkaian dari pengejaran aparat keamanan, polisi dibantu TNI, dalam membongkar jaringan teroris terkait ISIS.

Pada 18-19 Desember 2015, polisi menangkap lima orang yang diduga akan melakukan serangan ke beberapa lokasi di Indonesia pada malam Natal dan tahun baru.

“Mereka merencanakan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu perhatian internasional dengan melakukan aksi teror,” kata Anton Charliyan.

Menurut Anton, dari investigasi polisi terungkap kawanan tersebut berencana menyerang sejumlah kota pada Desember 2015, dan menargetkan fasilitas yang vital bagi ekonomi, pejabat tinggi kepolisian, dan pejabat tinggi pemerintahan serta mereka yang memiliki agama yang berbeda dengan Islam.

Targetnya termasuk dua kota di Jawa dan masing-masing satu di Kalimantan dan Sumatera. Menurut Anton, ditemukan kaitan antara para terduga teroris itu dengan ISIS.

Saat itu saya sempat mengontak Tito Karnavian. Bagaimana dengan pengamanan Jakarta selama Natal dan tahun baru? “Meski Jakarta tidak menjadi target dalam temuan atas penangkapan itu, tapi kewaspadaan tetap tinggi,” kata Tito.

Dalam beberapa bulan terakhir, terutama sejak aksi serangan teroris yang mengguncang kota Paris, polisi melakukan pelacakan terhadap pembicaraan telepon beberapa jejaring teroris dan gerakan radikal, terutama mereka yang sudah menyatakan diri mendukung ISIS.

“Pasokan senjata dan amunisi bom biasanya datang dari Filipina Selatan. Kami menghentikan mereka di tengah laut,” ujar petinggi Detasemen Khusus 88 Anti-teror.

Pada 4 Januari 2016, sebuah video yang beredar di forum jihad menunjukkan gambar dan rencana pembentukan provinsi ISIS di Mindanao, Filipina Selatan.

Dalam video itu terungkap bahwa tokoh militan Islam di wilayah selatan Filipina ingin mendirikan Mindanao Wilayat, sebagai provinsi ISIS.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti saat mengumumkan penangkapan lima terduga teroris terkait jaringan ISIS bulan lalu, mengatakan bahwa polisi mengamati komunikasi di antara sel teroris, termasuk komunikasi melalui situs dan media sosial, dokumen digital lainnya termasuk hasil pemeriksaan terhadap terduga teroris, termasuk jaringan Poso, Sulawesi Tengah, yang dikendalikan oleh Santoso.

Sampai kini Santoso, alias Abu Wardah, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) itu masih buron. Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Idham Azis meyakini bahwa Santoso dan 21 pengikutnya bersembunyi di kawasan hutan Poso pesisir.

Anton Charliyan mengatakan bahwa pada November 2015 polisi menemukan pesan akan ada “konser” di Indonesia pada Desember. Ini diartikan sebagai rencana serangan teroris.

Kelompok Mujahidin Indonesia Timur dibai'at kepada ISIS. Sumber: BNPT

Kelompok Mujahidin Indonesia Timur dibai’at kepada ISIS. Sumber: BNPT

 Akhir Desember 2015, polisi menangkap tujuh teroris, sebagai bagian dari operasi Camar Maleo I sampai IV. Operasi ini berakhir pada 9 Januari 2016, dan dibuat untuk menangkap jejaring teroris seiring dengan meningkatnya aktivitas terkait ISIS di Indonesia.

Selama setahun, operasi Camar Maleo yang dipimpin Polri dengan dukungan TNI berhasil menangkap 24 orang terduga teroris. Tujuh anak buah Santoso tewas dan 17 lainnya dalam proses hukum.

Operasi Camar Maleo memakan korban di pihak aparat. Dua polisi dan seorang anggota TNI tewas, empat polisi luka-luka. Pengejaran teroris dilakukan sampai keluar masuk hutan dan kawasan pegunungan.

Polisi menyita sejumlah barang bukti kegiatan yang diduga terkait aksi teror, seperti senjata api, amunisi, bom rakitan, bahan pembuat bom, senter, pakaian, dan bendera ISIS. Dalam konferensi pers usai rapat kerja di Kementerian Pertahanan, Selasa pekan ini, 12 Januari, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa kelanjutan operasi Camar Maleo bergantung pada keputusan Polri.

Saya mendengar bahwa dalam rapat terbatas terkait serangan teroris di Jakarta kemarin, operasi pengejaran teroris akan dilanjutkan dengan nama sandi yang berbeda.

Kamis kemarin, bersamaaan dengan serangan teror di Jakarta, polisi menembak mati terduga teroris di pegunungan Poso. Badrodin belum mengetahui identitas yang bersangkutan. Terduga teroris ini diyakini bagian dari jaringan Santoso.

Pasca serangan di Jakarta, polisi juga menangkap tiga orang terduga teroris di Cirebon. Mereka diduga terkait dengan ISIS dan mengetahui serangan ke area Gedung Sarinah.

Serangan teroris ke area Sarinah gagal?

Pagi ini saya ditelepon stasiun televisi Sky News yang berpusat di London untuk melakukan wawancara secara langsung melalui Skype.

Mereka bertanya apakah saya setuju bahwa serangan teroris di kafe Starbucks dan Pos Polisi di kawasan Sarinah, kemarin gagal? Karena korban tewas non pelaku “hanya” dua orang? Yang luka-luka pun jumlahnya tidak semasif, misalnya, serangan di kota Paris?

Mereka, dan banyak orang lain, membandingkan dampak serangan teroris ke area Sarinah dengan serangan teroris di Paris. Korban tewas lebih banyak. Dalam serangan 13 November 2015 ke enam lokasi, 130-an tewas.

Sejumlah barang bukti hasil penyisiran aparat di Kabupaten Poso yang digelar di Mapolda Sulawesi Tengah di Palu, pada 31 Desember 2015. Foto oleh Basri Marzuki/Antara

Sejumlah barang bukti hasil penyisiran aparat di Kabupaten Poso yang digelar di Mapolda Sulawesi Tengah di Palu, pada 31 Desember 2015. Foto oleh Basri Marzuki/Antara

Satu nyawa pun sangat berharga. Jadi, menurut saya, syukur alhamdulillah jumlah korban tidak banyak. Sedikit atau banyak korban atas serangan teroris, tidak menurunkan kadar kecaman dan kesedihan terhadap aksi yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan yang universal, apapun alasannya.

Saya ke lokasi kejadian sekitar satu jam setelah ledakan bom dan tembak-menembak. Jalan Thamrin, dari ujung depan Hotel Grand Hyatt di Bundaran Hotel Indonesia sampai ke Patung Air Mancur di depan Bank Indonesia ditutup. Belasan mobil anti peluru kepolisian dan Brigade Mobil, termasuk Casspir, kendaraan lapis baja yang diproduksi Afrika Selatan, ada di sana.

Ratusan tim anti-teror dan sejumlah pasukan TNI ikut mengamankan area. Pula beberapa anjing pelacak. Ratusan tim dari media ada di lokasi, begitu juga masyarakat yang ingin tahu.

Saat saya di lokasi, sesosok mayat pelaku bom bunuh diri masih tergeletak di depan pos Polisi yang hancur kena serangan bom berdaya ledak rendah. Satu bom masih melekat di tubuh mayat itu. Polisi memutuskan meledakkan bom tersebut, agar mayat dapat dievakuasi ke rumah sakit. Secara ledakan memang tidak menggelegar keras. Boom… asap tebal mengepul.

Praktis dalam waktu 1,5 jam setelah kejadian, polisi berhasil mengendalikan situasi. Menemukan enam bom rakitan yang belum meledak. Memastikan tidak ada alat peledak lain yang masih membahayakan.

“Coba kita lihat kemarin itu, dalam waktu beberapa saat Kapolda sudah di lokasi. Tim Densus dan polisi juga di lokasi. Artinya aparat bekerja profesional dan cepat,” kata Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Sekitar dua jam setelah kejadian, Wakapolri Budi Gunawan menggelar jumpa pers di tengah jalanan di depan Gedung Sarinah.

Beberapa saat sebelum jumpa pers, ratusan wartawan menyerbu masuk ke jalanan yang ditutup, naik ke atas jembatan penyeberangan di depan Gedung Sarinah untuk mengambil gambar. Televisi melakukan siaran langsung. Saya merasa aman dikelilingi para petugas keamanan yang bersenjata lengkap. Keadaan terkendali.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Panjaitan tiba di lokasi tak lama setelah konferensi pers Wakapolri.

Sekitar pukul 15:00 WIB, Kapolri Badrodin Haiti tiba di lokasi. Ia baru saja tiba setelah mengikuti kunjungan Presiden Jokowi ke Cirebon. Badrodin hadir di lokasi sekitar 15 menit. Setelah dia pergi, polisi memutuskan membuka jalanan yang tadinya ditutup.

Masyarakat dan awak media menyerbu tempat kejadian perkara, mengambil gambar dari dekat, baik di pos Polisi maupun kedai Starbucks. Tentu tanpa melanggar garis polisi.

Jadi, proses penanganan seketika, termasuk olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) berlangsung dalam waktu empat jam setelah kejadian. Tergolong cepat.

Pukul 16:20 WIB, Presiden Jokowi tiba di lokasi, hanya meninjau 10 menit lalu kembali ke Istana. Sesudah rapat terbatas, menjelang Maghrib, digelar jumpa pers yang memunculkan nama Bahrun Naim sebagai otak serangan ke kawasan Sarinah.

Kita bisa mengikuti perkembangan situasi saat terjadinya serangan bom di area sekitar kawasan Sarinah di sini.

Signifikansi Sarinah

Mari kita lihat dari pemilihan lokasi. Gedung Sarinah adalah pusat perbelanjaan pertama di Indonesia, dibangun di era Presiden Sukarno. Sebuah simbol kegiatan ekonomi.

Di sana ada banyak restoran, termasuk waralaba asal Amerika Serikat, McDonald’s. Di sekitar mal ada Kedutaan Besar Perancis dan Kedutaan Besar Jepang.

Di seberang Sarinah ada kantor perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tak jauh dari Sarinah ada Gedung Bank Indonesia (BI), juga Bundaran Hotel Indonesia yang menjadi salah satu landmark kota Jakarta.

Dibandingkan dengan mal mewah lain di ibukota, Sarinah terkesan mudah diakses. Kiri-kanan dan depan ada jalan keluar langsung ke jalan umum.

Serangan ke Sarinah gagal karena ditolak masuk satpam. Ini sesuai dengan kronologi versi polisi.

Kedai Starbucks yang diserang bom dan tembakan ada di Menara Cakrawala di samping Gedung Sarinah. Antara keduanya dipisahkan Jalan Wahid Hasyim. Kafe Starbucks itu berada dalam area gedung, tepatnya di pojokan.

Di sebelah Kafe Starbucks ada restoran waralaba Burger King. Kedua merek ini berasal dari AS. Sudah jelas, serangan teror di lokasi ini akan mengundang perhatian internasional. Potensi korban warga asing juga tinggi mengingat dekat dengan kantor yang dihuni para ekspatriat.

Posisi Starbucks yang di sudut areal, cukup dekat ke jalan raya yang cukup sibuk, persimpangan antara Jalan MH Thamrin dan Jalan Wahid Hasyim, membuatnya mudah dijangkau.

Seorang yang berniat jahat bisa naik motor, atau jalan kaki, berhenti sejenak di trotoar jalan dan melemparkan bahan peledak atau menembaki lokasi itu. Bandingkan dengan posisi restoran McDonald’s yang jaraknya agak jauh dari jalan raya MH Thamrin.

“Jadi, pilihan lokasi direncanakan matang. Belum lagi dengan fakta bahwa Istana Presiden hanya berjarak sekitar dua kilometer dari lokasi,” kata seorang sumber di kepolisian.

Mirip serangan Paris

Sejumlah kelompok Indonesia yang menyatakan dukungan terhadap ISIS. Sumber BNPT

Sejumlah kelompok Indonesia yang menyatakan dukungan terhadap ISIS. Sumber BNPT

Posisi kedai Starbucks mirip dengan kafe-kafe yang diserang teroris di Paris, November 2015. Mudah diakses dari jalanan. Lokasi di pojok persimpangan jalan. Jadi, ada benarnya jika disebutkan bahwa serangan ke kedai Starbucks diinspirasi oleh serangan teroris di Paris.

Sekarang, mengapa menyerang pos Polisi? Menembaki polisi? Apakah benar sebagaimana temuan dalam investigasi polisi di penangkapan terduga teroris di Jawa Tengah dan Jawa Barat, bahwa kelompok terkait ISIS juga mengincar polisi?

Dari kronologi polisi, terkesan bahwa tiga pelaku meledakkan diri dengan bom yang ada pada dirinya, karena kepepet, diserahkan satpam Gedung Sarinah. Padahal satpam biasanya tidak bersenjata dan dari pelaku yang tewas polisi menemukan senjata FN dan granat tangan.

Kalau memang tidak menargetkan polisi, mengapa harus meledakkan diri? Bukankah itu pos polisi lalu lintas? Apakah polisi lalu lintas yang berjaga saat itu membawa senjata pula sehingga membuat pelaku yang enam orang itu panik — tiga memutuskan untuk meledakkan diri, sementara tiga lainnya lari ke Starbucks?

Di halaman kafe kopi tersebut, satu orang meledakkan diri dengan bom yang dia bawa. Dua menembaki pengunjung yang panik. Baku tembak kemudian terjadi dengan polisi yang baru tiba di lokasi.

Ada tim Polda Metro Jaya yang kebetulan berada di dekat area itu. Sebagai informasi, ada dua pos polisi yang tak jauh dari depan Sarinah, yaitu di Bundaran HI dan di kawasan Taman Monas dan Istana.

Sampai di sini, beralasan analisis yang mengatakan bahwa serangan Kamis siang di area Jalan MH Thamrin adalah serangan yang gagal. Pelaku nampak amatiran. Panik. Tentu ini juga bisa dibantah.

Dari rekaman gambar yang beredar, salah satu pelaku yang belakangan diketahui bernama Afif, nampak cukup dingin dan tenang manakala menyeberang jalan membawa senjata. Proses menjadikan seseorang menjadi “pengantin” alias pelaku bom bunuh diri memang tidak seketika. Ada persiapan fisik dan mental. Juga janji akan mati syahid alias langsung masuk ke surga.

Afif disebut sebagai mantan jihadis di Aceh yang pernah dipenjara selama tujuh tahun di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Ada yang menyebut dia berasal dari Karawang. Ada pula yang menyebut bahwa Afif berasal dari Sumedang.

Dia direkrut oleh tokoh spiritual jaringan militan Aman Abdurachman yang kini mendekam di penjaga Nusakambangan, Cilacap. Polisi belum memberikan konfirmasi mengenai hal ini.

Jurnalis multimedia Rappler, Febriana Firdaus, tengah melakukan peliputan di Solo, dan mendapatkan konfirmasi dari sumber di sana, bahwa Afif adalah sosok yang membawa senjata dalam serangan di kawasan Sarinah.

ORGANIZER. Bahrum Naim is the man alleged to be behind the terrorist attacks in Jakarta. Sourced by Rappler

ORGANIZER. Bahrum Naim is the man alleged to be behind the terrorist attacks in Jakarta. Sourced by Rappler

Di Solo, Febriana juga mendapatkan informasi lebih dalam mengenai sosok Bahrun Naim, yang disebut oleh Tito Karnavian sebagai otak yang merencanakan serangan di Jakarta kemarin.

Penelisikan Rappler terkait sosok Bahrun Naim bisa dibaca di sini.

Tito menyebutkan bahwa Bahrun Naim kini berada di Raqqa, Suriah, pusat kegiatan ISIS. Bahrun juga dikenal memiliki kaitan dengan jaringan Santoso dan Mujahidin Indonesia Timur.

Dia pernah dipenjara selama 2 tahun 6 bulan karena menyimpan secara ilegal lebih dari 533 butir peluru senjata laras panjang dan 32 peluru senjata 9 mm. Setelah bebas, dia pergi ke Raqqa bergabung dengan ISIS.

Pengadilan tidak menjeratnya dengan UU Anti-Terorisme, melainkan hanya UU Darurat tentang Kepemilikan Senjata Api dan Bahan Peledak.

“Motif Bahrun Naim merencanakan serangan teror di Jakarta adalah dalam rangka rivalitas kepemimpinan ISIS di kawasan Asia Tenggara,” kata Tito.

Di kawasan ini, ISIS sudah menancapkan jejak di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Selain di empat negara itu, pola serangan yang direncanakan Bahrun mirip dengan yang terjadi di Paris dan Turki.

Bahrun dianggap ingin menjadi pemimpin dalam Khatibah Nusantara, yang mengenalikan jejaring ISIS di Asia Tenggara.

Masalahnya, polisi Indonesia yang mendapatkan pasokan informasi dari Polisi Federal Australia, Biro Investigasi Federal AS (FBI), dan Polisi Singapura tidak mau rentetan teror bom yang terjadi selama kurun waktu 2000 sampai 2009 terulang.

Fakta bahwa serangan di Jakarta menggunakan bahan peledak dan senjata rakitan yang sepenuhnya lokal, menunjukkan upaya mencegah masuknya senjata dan bahan berdaya ledak tinggi cukup efektif.

Bayangkan jika teror di kawasan Sarinah menggunakan senjata otomatis yang canggih, dan bom berdaya ledak tinggi, maka korban akan lebih banyak.

Serangan teroris di Jakarta juga mengingatkan satu hal. Deradikalisasi belum berjalan baik. Bahrun Naim dan Afif pernah dipenjara. Hidup di balik hotel prodeo tak membuat keyakinan mereka akan misi “jihad” tak surut.

Ini yang justru paling berbahaya. Sebagaimana berbahayanya mereka yang pergi bergabung dengan ISIS ke Suriah dan atau Irak, untuk kemudian kembali ke tanah air dan membangun sel-sel lokal di sini. Merencanakan teror baru dengan pengetahuan yang lebih. Bagi sebagian dari mereka, penjara adalah sekolah untuk menjadi lebih radikal.

ISIS juga dianggap lebih berbahaya karena trampil menggunakan komunikasi berbasis Internet, termasuk media sosial untuk merekrut calon anggotanya.

Ada banyak pekerjaan rumah bagi aparat keamanan pasca serangan teroris di Jakarta. Pekerjaan rumah yang sama beratnya bagi publik. Bagi kita sebagai warga. Karena keyakinan mereka, serangan ISIS tidak akan berhenti sampai di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*