Pasca bom Istanbul, bandar udara semakin bikin khawatir

Pasca serangan ke bandara Brussels dan Istanbul, keamanan bandara kian mengkhawatirkan. Di mana titik lemah terjadinya kejahatan?

Penumpang berlarian ke luar bandara setelah terjadi 3 kali ledakan bom bunuh diri di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki, pada 28 Juni 2016. Foto oleh Sedat Suna/EPA

Penumpang berlarian ke luar bandara setelah terjadi 3 kali ledakan bom bunuh diri di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki, pada 28 Juni 2016. Foto oleh Sedat Suna/EPA

Ledakan bom bunuh diri di bandara Attaturk, Istanbul, Turki, pada Selasa malam waktu setempat, 28 Juni, betul-betul mengguncang perasaan. Bom itu meledak di tempat kedatangan, ketika para calon penumpang baru saja tiba, atau tengah ngobrol dengan keluarga yang menjemputnya.

Tiga bom meledak hampir bersamaan. Jumlah korban yang meninggal terus berubah. Mula-mula 10, lalu 30, dan terakhir 41 orang. Kita berharap angka ini tidak bertambah. Jumlah korban luka jauh lebih banyak, mencapai 239. Angka-angka yang mengerikan.

Anda tentu masih ingat, tiga bulan lalu, bom juga meledak di bandar udara. Kali ini yang jadi sasaran adalah bandar udara Brussels. Belgia, negara yang dikenal aman tenteram, menjadi korban teror. Sebanyak 34 orang tewas, dan 136 orang terluka.

Saya jadi teringat tulisan yang banyak dikutip:

“Satu nyawa manusia hilang adalah tragedi, ribuan nyawa melayang adalah statistik”.

Kutipan menarik ini pertama kali dimunculkan di koran The Washington Post pada 1947 oleh kolumnis Leonard Lyons untuk melukiskan bencara kelaparan yang menimpa Ukraina, ketika itu masih di bawah Uni Soviet.

Tentu Anda, juga saya, tidak sepakat terhadap kutipan yang seolah menyepelekan makna sebuah nyawa. Setiap orang yang tewas di bandar udara Attaturk, juga di Brussels, adalah manusia dengan tanggung jawab sosial maha penting.

Mereka adalah pelancong yang sehari-hari di rumah, atau kepala keluarga pencari nafkah, ibu rumah tangga, pengelola perusahaan dengan ratusan pegawai, atau mungkin seorang mahasiswa. Dampak sosial dan kemanusiaan yang ditimbulkan akibat aksi bom ini sungguh dahsyat.

Bandar udara kini memang menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang berniat jahat. Di masa lampau, bandar udara merupakan tempat paling aman dari aksi teror dibandingkan terminal transportasi lain, baik itu pelabuhan, stasiun kereta api, maupun pelabuhan.

Aturan mengenai keamanan bandar udara dibuat dengan sangat detail. Silakan klik di sini untuk mengetahui dengan rinci.

Pemerintah Indonesia juga memiliki aturan keselamatan penerbangan. Secara umum, aturan itu diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Di bawahnya ada aturan yang lebih rinci, berupa Peraturan Presiden, Keputusan Menteri Perhubungan, dan Keputusan Dirjen Perhubungan Udara.

Di saat semua berjalan lancar, pengamanan bandara relatif longgar. Tetapi begitu ada masalah, pengamanan bandara jadi superketat. Setelah tragedi 11 September 2001, yang meluluhlantakkan gedung kembar di New York, Amerika Serikat, pemeriksaan bandara jadi ekstra ketat.

Sebelum tragedi 9/11 yang meruntuhkan dua menara kembar Pusat Perdagangan Dunia (WTC) di kota New York itu, setiap kali masuk bandara kita cukup menunjukkan tiket. Barang-barang cukup lewat pemindai, sekali menjelang check-in, sekali menuju ruang tunggu.

Calon penumpang harus melewati berbagai pengecekan setelah terjadi 3 kali ledakan bom bunuh diri di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki, pada 28 Juni 2016. Foto oleh Sedat Suna/EPA

Calon penumpang harus melewati berbagai pengecekan setelah terjadi 3 kali ledakan bom bunuh diri di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki, pada 28 Juni 2016. Foto oleh Sedat Suna/EPA

Sekarang barang-barang diperiksa lebih komplit: Apakah ada gunting, pemotong kuku, cairan lebih dari 100 mililiter. Kita juga dipaksa untuk mencopot jaket, ikat pinggang, tas pinggang, dan arloji. Pokoknya komplit. Selain itu, kini kita harus menunjukkan tiket plus kartu identitas. Untuk ke AS, di bandara keberangkatan kita harus menunjukkan alamat tempat menginap selama di negeri Paman Sam.

Ketika terjadi Serangan Paris kedua, saya sedang transit di Bandara Internasional Doha, Qatar, dalam perjalanan menuju Miami, AS. Benar saja, tiba di Miami, butuh dua jam untuk antri melalui pemeriksaan sekuriti.

Begitu pintu pesawat dibuka, sudah ada 10 petugas berseragam militer memelototi satu per satu penumpang. Banyak penumpng warga Asia Selatan. Sebagian diminta menepi, untuk diperiksa secara khusus.

Sesudah itu kami masih harus menjalani dua “pintu” pemeriksaan. Biasanya cukup di pintu imigrasi.

Masalahnya, bagaimana bila ada orang yang nakal, misalnya, membuat identitas palsu? Sangat dimungkinkan. Cukup dengan Rp 250.000, Anda bisa membuat KTP palsu di Jalan Pramuka, Jakarta Timur.

Program investigasi sebuah televisi pernah menelisik soal KTP palsu. Wartawan stasiun tersebut membuat KTP di Jalan Pramuka, dan sukses membuat rekening bank. Rekening itu dijual ke komplotan penipu. Mungkin si penipu itu pernah menghubungi Anda dengan menyebut, “Selamat, Anda memenangkan hadiah … bla..bla..bla..’’

Pada 7 Februari 2005, media dari Amerika Serikat, Slate, memuat hasil investigasi yang berjudul, A Dangerous Loophole in Airport Security. Tulisan ini dibuat berselang empat tahun setelah tragedi 9/11.

Penjagaan di bandara di AS masih ekstra ketat. Salah satu titik kebocoran keamanan yang ditemukan si wartawan adalah online check-in. Pemilik tiket pesawat tinggalcheck-in di rumah, atau di kantor, dengan mengisi tiket, nomor penerbangan, dan kartu identitas. Ia kemudian tinggal mencetak boarding pass hasil check-in itu.

Ketika sampai di bandara, calon penumpang itu tidak perlu check-in lagi. Ia cukup menunjukkan boarding pass dan kartu identitas.

Wartawan Slate dua kali menggunakan identitas palsu untuk check-in. Dan,alhamdulillah, ia aman-aman saja. Kalaulah penumpang biasa bisa mengakali check-indengan menggunakan kartu identitas palsu, teroris pasti juga bisa melakukan hal serupa. Duh, moga-moga tidak terjadi.

Makanya saya sepakat dengan ucapan Tito Karnavian, Kapolri yang baru dipilih oleh Presiden dan disetujui rapat paripurna DPR.

“Yang paling penting adalah informasi intelijen untuk mencegah aksi terorisme, dengan memonitor percakapan dan gerak-gerik mereka,” kata Tito.

Masalahnya, para teroris yang berusia muda-muda ini makin canggih memanfaatkan teknologi, termasuk berkomunikasi dengan beragam pilihan medium media sosial.

Tim medis mengangkut seorang warga Turki yang terluka akibat ledakan bom bunuh diri di Bandara Ataturk, Istanbul, pada 28 Juni 2016. Foto oleh Deniz Toprak/EPA

Tim medis mengangkut seorang warga Turki yang terluka akibat ledakan bom bunuh diri di Bandara Ataturk, Istanbul, pada 28 Juni 2016. Foto oleh Deniz Toprak/EPA

Lubang keamanan lain yang bisa membahayakan adalah pemeriksaan keamanan bagi awak penerbangan, yang acap kali dikesampingkan.

Media televisi CBS dari AS tahun lalu mengeluarkan investigasinya di bandara-bandara besar, di antaranya di New York, Florida, dan Atlanta. Ketika para calon penumpang harus rela antre untuk pemeriksaan keamanan, awak kabin, pilot, dan petugas penerbangan lain, bisa berlenggang melewati pintu lain. Tanpa ada pemeriksaan identitas maupun barang yang dibawa.

Mungkin karena si petugas keamanan sudah merasa kenal dengan si awak pesawat. Tetapi dampaknya acap kali bukan hal sepele.

Pada 2014, seorang petugas Delta Airlines di bandara Atlanta, AS, terbongkar beberapa kali menyelundupkan senjata laras panjang untuk diangkut pesawat yang terbang ke New York. Tidak main-main, jumlah yang berhasil dibawa sampai 100 pucuk. Petugas itu dengan gampang melenggang melewati pintu pemeriksaan yang dijaga puluhan aparat, membawa senjata berbahaya itu.

Jatuhnya pesawat Rusia di Sinai, Mesir, pada 31 Oktober 2015, juga akibat keteledoran pemeriksaan keamanan. Pesawat jet yang mengangkut 217 penumpang dan tujuh kru itu jatuh berkeping-keping setelah meledak di udara. Sebuah bom cair yang dimasukkan dalam minuman kaleng diledakkan di udara.

Mengapa bom itu bisa masuk ke dalam pesawat? Muncul dugaan, bom itu dibawa kru pesawat, kemudian diletakkan di salah satu kursi penumpang.

Hilangnya pesawat Malaysia Airlines, MH370, yang terbang dari Kuala Lumpur ke Beijing pada 8 Maret 2014, hingga kini masih misterius. Apakah karena ada gangguan pada pesawat, atau ada penyebab lain, belum ada jawaban. Pesawat itu, sesaat setelah naik, tiba-tiba saja peralatan pelacaknya mati total, sehingga menyulitkan pencariannya.

Begitu naik pesawat terbang kita seperti menyerahkan keselamatan kita kepada pilot, dan awak penerbangan lainnya. Kita bersyukur, dari ratusan ribu penerbangan yang ada setiap hari di muka bumi ini, hampir semua pilot dan awak penerbangan adalah orang-orang profesional yang menjalankan tugasnya dengan benar.

Namun catatan kelam dunia penerbangan juga menunjukkan, adanya segelintir pilot yang punya niat tersembunyi untuk mencelakakan dirinya, dan penumpang. Semoga itu tak terjadi pada kita, juga penumpang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*