HomePolitikAntara #TrumpTapes dan bocornya pembicaraan telepon Habibie

Antara #TrumpTapes dan bocornya pembicaraan telepon Habibie

Debat redaksi tentang relevansi konten bocoran rekaman dengan upaya mengecek keaslian rekaman

Kandidat Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, saat berkampanye di Fredericksburg Expo Center, Virginia, pada 20 Agustus 2016. Foto oleh Molly Riley/AFP

Kandidat Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, saat berkampanye di Fredericksburg Expo Center, Virginia, pada 20 Agustus 2016. Foto oleh Molly Riley/AFP

Mendapatkan scoop, atau informasi eksklusif, adalah peristiwa penting bagi seorang jurnalis dan media di tempat ia bekerja.

David A. Fahrenthold, jurnalis koran The Washington Post, mendapatkan sebuah scoopsekitar pukul 11:00 waktu setempat, pada 7 Oktober 2106. Fahrenthold meliput kampanye pemilu presiden Amerika Serikat dengan intensif.

Ia menggunakan metode urun daya (crowdsourcing) dari media sosial saat menelisik pembayaran pajak perusahaan dan yayasan terkait kandidat presiden Donald Trump dari Partai Republik.

Informasi yang diterima Fahrenthold ternyata sebuah rekaman suara antara Trump dan Billy Bush, pembaca acara tayangan Access Hollywood, program hiburan yang diproduksi oleh NBC Entertainment, dari sebuah episode yang diproduksi pada 2005, sebelas tahun lalu. Rekaman percakapan itu dilakukan di dalam bus yang membawa Trump dan Bush ke studio.

Trump adalah tamu untuk acara tersebut. Keduanya mengetahui bahwa sepanjang perjalanan yang mengantarkan Trump ke studio, ada kru yang merekam seluruh pembicaraan. Termasuk ucapan-ucapan Trump yang sarat dengan pelecehan terhadap perempuan. Trump mengaku pernah mencoba melecehkan seorang perempuan bernama Nancy.

Washington Post menurunkan artikel Fahrenthold pada hari itu juga, pukul 4 sore waktu setempat di situs daring koran itu. Dalam waktu sekejap, artikel terkait rekaman pembicaraan Trump dengan Bush diakses oleh 100 ribu pembaca dalam waktu bersamaan.

Saking banyaknya pembaca yang mengakses situs tersebut sempat mengangguserver penerbitan daring itu. Yang terjadi selanjutnya adalah sejarah dalam politik AS.

Artikel itu menjadi titik penting dalam proses kampanye pilpres AS karena dimanfaatkan oleh kubu Hillary Clinton dan Partai Demokrat untuk memojokkan Trump sebagai kandidat yang tidak menghargai perempuan. Bahkan sejumlah tokoh Partai Republik yang mendukung Trump menarik dukungannya.

Trump dianggap tidak pantas menjadi presiden AS. Artikel itu terbit menjelang debat kedua antara Trump dan Hillary. Sebelumnya, kubu Trump mengancam akan menggunakan skandal seks yang dilakukan Presiden Bill Clinton, untuk melawan gencarnya serangan kubu Hillary atas skandal pembayaran pajak Trump selama 18 tahun terakhir.

Antara relevansi dan orisinalitas rekaman

Sampai hari ini, debat kontroversi bocoran rekaman suara video #TrumpTapes itu masih jadi bahasan utama media di AS, dan terus menggedor hati nurani pemilih AS. Cukup banyak yang sudah menyatakan akan mendukung Trump, dan ingin mengakhiri dominasi Demokrat yang dua periode menghuni Gedung Putih melalui kepemimpinan Barack Obama.

Di balik heboh terbitnya berita rekaman suara video itu, sempat terjadi perdebatan di redaksi WaPo. Sebelum WaPo menerbitkan rekaman suara video Trump itu, redaksi NBC News yang notabene satu kepemilikan dengan NBC Entertainment, NBC Universal, berencana menerbitkan rekaman itu.

Yang pertama kali menemukan video rekaman itu adalah staf di Access Hollywood, yang ingat bahwa mereka pernah merekamnya. Sebagaimana biasanya, WaPo dan NBC condong ke calon Demokrat dalam setiap pilpres.

Access Hollywood dan NBC News tengah berhitung potensi somasi hukum dari pihak Trump, ketika datang upaya konfirmasi dari Fahrenthold. Pasalnya Trump sedang gencar mengumbar ancaman hukum kepada media yang dianggap merugikan dalam hal pemberitaan. Rencananya, Access Hollywood sebagai pemilik materi rekaman akan menayangkannya, sesudah itu disusul NBC News.

Upaya konfirmasi WaPo memaksa NBC News mempercepat penayangan rekaman suara video itu. Reporter NBC News on air dengan tayangan video #TrumpTapes, tujuh menit setelah Wapo menerbitkannya.

Martin Marty Baron, editor eksekutif WaPo, menceritakan perdebatan di ruang redaksinya. Kita mengenal sosok Marty Baron dalam film Spotlight, tentang tim investigasi Boston Globe yang menelisik praktik pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur di kalangan gereja Katolik di Boston. Liputan itu diganjar hadiah Pulitzer tahun 2002.

Film Spotlight yang diangkat dari kisah nyata tim investasi Boston Globe, diganjar hadiah Oscar 2016 untuk kategori Film Terbaik. Marty Baron adalah editor eksekutif Boston Globe saat investigasi itu dilakukan.

Mengingat banyak kata dan kalimat yang memuat kata tidak senonoh yang datang dari ucapan Trump, redaksi membahas sejauh mana bisa menerbitkan rekaman seutuhnya. Bagian mana yang harus diedit?

Mereka menyadari bahwa materi rekaman bakal diakses oleh anak-anak yang kini mengonsumsi informasi dari internet terutama, dan televisi. Menurut Marty Baron, hal lain yang tak kalah penting adalah menjawab dua pertanyaan: Apakah materi rekaman suara video #TrumpTapes otentik? Apakah materinya relevan?

Marty Baron mengatakan bahwa tidak ada keraguan atas relevansi dari materi dalam rekaman video. WaPo harus melakukan verifikasi apakah video rekaman itu otentik. Fahrenthold berhasil mendapatkan konfirmasi bahwa video rekaman itu otentik. WaPo memberitakan bocoran rekaman video itu.

Tidak hanya mengguncang Partai Republik, bocoran itu juga mengguncang masyarakat AS yang mulai merasa pemilu kali ini menempatkan negeri itu pada dua pilihan yang sangat bertentangan. Mirip Pilpres Indonesia pada 2014.

Bocornya rekaman pembicaraan telepon Presiden BJ Habibie >>

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *