HomeEkonomi/BisnisIngat Om William Wongso Gara-gara Black Garlic Tutup

Ingat Om William Wongso Gara-gara Black Garlic Tutup

Sebuah berita yang dimuat di koran berbahasa Inggris, The Jakarta Post membuat saya teringat kepada Om William Wongso.  Black Garlic, sebuah usaha rintisan (start-up) yang menyediakan layanan pembelian bahan makanan yang sudah ditakar, dilengkapi dengan resep dan cara memasak, harus menutup layanannya.  Black Garlic didirikan oleh Michael Saputra dan Olivia Wongso, putri Chef ternama, William Wongso.  Selain menawarkan konsep baru di Indonesia dengan semboyan, “Now everyone can cook”, Black Garlic mempromosikan setiap resep dibuat oleh para chef profesional di bawah pengawasan sang master chef, William Wongso. MSG-free.  Gaya hidup sehat.

CEO Michael Saputra mengatakan bahwa kendati perusahaan mampu menarik lebih dari 10.000 pelanggan dalam dua tahun terakhir sejak layanan ini diluncurkan pada 2015,  sulit mempertahankan mereka.  “Pasar belum siap untuk membuat Black Garlic menjadi bagian dari keseharian mereka,” kata Michael, sebagaimana dikutip Jakarta Post.

Jujur saja, saya rada “kudet” alias kurang update tentang layanan semacam ini.  Sejak menikah beruntung memiliki asisten rumah tangga yang lumayan pintar memasak.  ART saya yang pertama bahkan memasak makanan ala Padang lebih lezat ketimbang rasa makanan yang saya beli di restoran.  Biasanya saya mengajak mereka makan di restoran, atau membawa pulang, lantas meminta ART masak.  “Bisa enggak bikin yang rasanya seperti ini?”.

Saya juga pernah mengikutsertakan ART saya dalam cooking lesson, memasak masakan Thailand yang diadakan viva.co.id bekerjasama dengan sebuah restoran Thai terkemuka di Jakarta.  Di lain waktu, ART saya daftarkan ikut kursus di Klub Nova.

Sebenarnya saya juga bisa masak, setidaknya untuk makanan sehari-hari.  Almarhum Ibu saya jago masak, dan bisa masak untuk 50-100 orang tanpa bantuan.  Kami tak pernah punya ART sejak kecil, jadi belajar masak otodidak dengan membantu Mama di dapur.  Sejak Lebaran 2016 saya mulai pesan layanan go-food.  Suami menginstal aplikasi itu agar saya tidak repot saat ART mudik lebaran.  Saya bisa konsentrasi ke beberes, menyapu, ngepel, mencuci dan setrika.

Jadi, kembali ke cerita Black Garlic, malam minggu ini saya membuka laman layanan makanan itu.  Terpampang gambar rendang ala Willliam Wongso.  Menggiurkan.  Saya teringat pertemuan terakhir dengan Om William di Hotel Hilton New Orleans River Side, akhir April 2017.  Dalam acara Gala Dinner yang menjadi bagian dari Diaspora’s Indonesia Festival, Om William Wongso didapuk menyajikan resep makanan Indonesia unggulan, termasuk rendang.

Makanan disajikan dengan cantik, tumpeng nasi kuning dan teman-temannya.  Dessert-nya?  Kolak pisang.  Karena diberitahu bahwa semua makanan disajikan di bawah supervisi William Wongso, kami memakan dengan penuh khidmat.  Setiap iris rendang dinikmati.  Kepada tamu warga AS yang duduk semeja, saya ikut mempromosikan. Ini masakan unggulan Indonesia yang dimasak oleh chef unggulan pula.

Saking kangennya, sebelum makan saya mencari Om William ke ruangan tempat makanan disiapkan.  Ketemu, foto.  Bareng dengan Pak Robert Manan, ketua gugus tugas kuliner di Diaspora Indonesia.  Saya kenal Pak Robert Manan dan istrinya, Bu Fify, ketika kami dijamu makan malam di Atlanta, saat acara Specialty Coffee America Association, sebulan sebelumnya.

Saya cukup sering bertemu Om William sekitar tahun 1997 – 2005 an. Saat itu saya masih bekerja di Majalah Panji Masyarakat, kemudian di TV7.  Sebagai pemimpin redaksi paling muda, satu-satunya perempuan saat itu untuk media umum, saya jadi tempat kontak untuk acara diskusi informal, sifatnya back ground information, yang diadakan Jakarta Editors Club.  Forum informal para pemimpin redaksi dan wartawan senior.

Saat itu sosok seperti Pak Jakob Oetama,  Pak Sabam Siagian, Pak Fikri Jufri, Mas August Parengkuan dan senior lain masih aktif.   Cukup sering pertemuan dengan sejumlah narasumber dalam suasana santai kami adakan di William Kafe Artistik, yang letaknya di Panglima Polim Jakarta Selatan. Semacam private party, yang bayar adalah urunan bos-bos media besar.  Disampingnya ada Vineth Bakery.

Di kafe yang beneran keren dan artistik itu saya kenal Om William.  Ikut mengintip ke dapurnya, berkenalan dengan tim dapur, dan tentu saja bertanya rahasia di balik segarnya sop buntut daun kedondong, sampai kepiting soka yang lembut, renyah, syuper lezatnya. Om William keliling ke meja-meja menemui tamu-tamu, sambil menjelaskan makanan.

Setiap ke sana puas banget.  Kafe yang artistik, makanan yang syuper lezat, tuan rumah dan obrolan hangat dan info seru.   Bonusnya adalah menyaksikan beberapa tokoh penting menyanyiJ.  Zaman itu belum ada ponsel, jadi tidak ada yang upload foto-foto di media sosial.

Sesudah itu bertemu di beberapa acara, tapi kami tak pernah lagi ke kafe itu. Lalu, di era media sosial sejak tahun 2010-an, saya melihat Om William aktif di komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI).  Dan, tentu saja promosi masakan Indonesia di berbagai event internasional.  Saat Bu Mari Pangestu menjabat Menteri Perdagangan, saya sempat mencicipi rendang dalam, kemasan William Wongso yang ditujukan ke pasar ekspor.  Dagingnya tentu “prime” ya.

Way to go, Om.  Ikut bangga tentunya.  Apalagi rendang kemudian masuk dalam makanan terpopuler sejagat versi CNN travel.  Tahun ini juga.  Saya sempat kesal, saat menumpang Phillipine Airlines dua tahun lalu, dalam menu dicantumkan rendang sebagai kuliner Malaysia L.  Enggak terima.

Malam ini, gara-gara berita tutupnya layanan Black Garlic, saya mengontak Om William.  Mengapa ya Om?  “Sepertinya market belum siap.  Padahal banyak penggemar,” jawab Om William, persis jawaban Michael.  Masalah kultur.  Kebiasaan.  Dugaan saya juga demikian.

Padahal Black Garlic dikemas dengan keren.  Bahan makanan dikemas dalam boks, dan masing-masing bahan juga dikemas plastik.  Biayanya mungkin  cukup besar untuk aspek kemasan ini.  Bahan-bahan makanan dipilih yang kualitas tinggi.  Saya menduga, pada awalnya, pelanggan penasaran ingin menikmati masakan sendiri, yang resep dan rasanya, ala Chef William Wongso.  Saya pun menyesal belum pernah mencoba, karena belum tahu.

Tapi, berapa banyak yang kemudian kembali memesan layanan ini?  Lagipula, datang layanan yang lebih mudah, dan tinggal santap.  Bisa pilih restoran pula, dari kelas mahal fine dining sampai warung pinggir jalan yang populer.  Efek distruption layanan go-food rupanya lebih besar ketimbang usaha rintisan macam Black Garlic, yang mungkin lebih berpotensi di negara yang lebih maju, di mana menggaji ART lebih mahal, padahal ingin masak sendiri agar lebih sehat, tanpa penyedap rasa.

Saya sendiri mengandalkan dua pasar tradisional yang jaraknya cuma 1,5 km dari rumah.  Ke pasar setiap akhir pekan, seringkali jalan kaki sekalian olahraga. Di pasar ada pedagang bumbu basah, bapak-bapak, yang jago meracik bumbu dengan takaran yang pas tanpa ditimbang.  Tanpa lihat resep.  “Beli bumbu untuk rendang daging 1 kilo, Bang.”  Atau, “beli bumbu pesmol untuk ikan 1 kilo.” Sering juga, “beli bumbu gule untuk 1 kilo iga kambing.” Si Abang dengan cekatan meracik.

Sampai rumah saya tinggal menambahi garam, gula, bumbu lain seperti sereh dan daun jeruk jika diperlukan, begitu juga santan. No MSG.  Untuk rendang, masak dengan api kecil selama 2-3 jam sesudah santan mendidih, rendang yang empuk siap disantap.  Semua bahan dari pasar. Mudah, lebih murah, dan rasanya, lumayan lah.  Kalau sempat masak sendiri,  atau serahkan kepada ART.

Orang-orang seperti saya ini mungkin yang belum siap menjadi pelanggan setia layanan seperti Black Garlic.  Warga kelas menengah yang masih suka ke pasar, atau sesekali kalau tidak sempat dan sudah kesorean, ya ke ritel modern.  Makan siang di luar saat hari kerja, atau pesan go food di saat “mager” alias males gerak.

Golongan konsumen yang price conscious juga.  Kalau dalam sepekan sudah makan 2-3 kali di restoran yang menghabiskan sekian ratus ribu, maka harus diimbangi dengan mengirit, belanja dan masak sendiri, yang modalnya Rp 100 ribu bisa untuk 3 kali makan sekeluarga. Balanced.

Begitupun, saya masih kangen rendang ala William Wongso, dan yang lebih kangen lagi sop buntut daun kedondong-nya.  Pernah nyoba masak sendiri untuk sop buntut, kog rasanya belum seenak racikan Om William. Ya iyyalah….

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *