Ternyata Banyak Anak-anak Menonton Film Pengkhianatan G30S/PKI

Rating yang dicapai TVOne lebih besar ketimbang penyiaran final Piala Dunia 2014

JAKARTA, Indonesia – Entah rindu, ataukah penasaran. Film Pengkhianatan G30S/PKI yang ditayangkan di stasiun televisi TVOne pada 29 September 2017 banyak mengundang penonton. Lembaga riset media Nielsen yang mengukur TV Rating menunjukkan angka rata-rata TVR/Share 4,0/32,2% untuk penayangan film yang dimulai sejak pukul 21.30 wib. Film yang aslinya berdurasi 271 menit itu ditayangkan persis sepanjang itu di layar TVOne.

Data per 30 menit tayang untuk film yang diputar selama 4,5 jam menyentuh rata-rata TVR/Share tertinggi 4,7/39,3% pada 30 menit yang kelima. Gara-gara menayangkan film besutan sutradara Arifin C. Noer itu, TVOne mendapat angka share saluran sebesar 11,1% pada seharian penuh, 29 September 2017. Ini tergolong tinggi. Pada hari itu ANTV di peringkat pertama dengan share saluran 13,3%, RCTI 13,1%, MNCTV 11,7%. TVOne di peringkat ke-4 mengalahkan Indosiar.

Sebagai catatan, TV Rating menunjukkan rata-rata pemirsa pada suatu program yang dinyatakan sebagai persentase dari kelompok sampel atau potensi total. Pengertian yang lebih mudah, rating adalah jumlah orang yang menonton suatu program televisi terhadap populasi televisi yang dipersentasekan. Rumusnya adalah: Rating (100%) = Total Pemirsa/Universe x 100%. Pada tahun 2017 universe adalah sejumlah 54.133.421 orang. TVR menunjukkan kuantitas, bukan kualitas suatu program televisi.

Audience share, atau share adalah persentase penonton program TV tertentu terhadap keseluruhan penonton pada saat tertentu. Rumusnya adalah: Share (%) = Total Pemirsa Program/Total Pemirsa seluruh televisi pada saat tertentu x 100%. Pengukuran TVR dan share dibuat dengan metode Television Audience Measurement yang dilakukan Nielsen Media Research. Metode ini selalu digugat oleh mereka yang peduli kualitas tayangan televisi. Tetapi hingga kini, industri televisi Indonesia dan lebih dari 20-an negara lain menggunakan metode yang sama.

Pencapaian TVR/Share penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI tergolong tinggi untuk tayangan di TVOne sejak menjadi stasiun televisi berita. Sebagai sebuah perbandingan, saat menayangkan final Piala Dunia 2014, TVOne mendapatkan TVR/Share 3,5/25,6%, atau di bawah TVR/Share film Pengkhianatan G30S PKI.

Banyak ditonton anak-anak

Siapa yang menonton film yang dianggap sebagai propaganda rezim Orde Baru yang didukung ABRI itu? Ini menarik. Kelompok penonton anak, usia 10-14 tahun mencatatkan TVR/Share 5,2/39,7%, tertinggi dibandingkan rata-rata kategori umur lainnya.

Padahal, film ini dianggap mengumbar eksploitasi kekerasan. Itu sebabnya TVOne menayangkannya di jam malam.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sempat mengingatkan agar kegiatan nonton bareng (nobar) film ini tidak mengikutsertakan anak-anak usia sekolah dasar. Berdasarkan laporan kegiatan nobar di sejumlah daerah, antusiasme cukup tinggi, termasuk dari kalangan pelajar. Kegiatan nobar di Bandung, misalnya, diapreasiasi pelajar yang baru pertama kali nonton film yang pernah menjadi tontonan wajib setiap tanggal 30 September ketika Presiden Soeharto berkuasa.

Lewat akun Twitter-nya, @studiyanto, Budi Studiyanto mengaku mengajak anaknya untuk menonton film ini.

Ada sejumlah orang yang menjawab senada dengan Budi ketika saya menanyakan soal ini di ranah Twitter. Bukan tidak mungkin banyak anak-anak lain yang juga dibiarkan menonton tayangan tersebut oleh orang tuanya

Segmen penonton laki-laki secara umum mendatangkan TVR/Share 4,5/30,6%. Penonton laki-laki (Male) dan perempuan (Female) usia 45-54 tahun mendatangkan TVR/Share4,7/28,4%. Male/Female usia 35-44 tahun mencatatkan TVR/Share 4,3/27,2%, sedangkan penonton Male/Female usia 25-34 tahun mendatangkan TVR/Share 4,1/28,8%.

Kelompok sosial ekonomi menengah ternyata lumayan banyak menyumbang TVR/Shareterhadap film yang memicu debat di antara kelompok yang menganggap paham komunis dan PKI masih menjadi ancaman bagi bangsa, dengan kelompok yang menganggap paham komunis tak perlu ditanggapi dengan sikap paranoid, karena terbukti gagal di berbagai negara. Rata-rata TVR/Share kelompok menengah ini 4,4-4,8/31,2-29,1%. Kelompok pekerja juga masuk dalam kelompok indeks tinggi, dengan TVR/Share 4,6/30,4%. Pelajar mendapatkan TVR/Share 3,6/29,3%.

Debat publik, promosi gratis

Mereka yang lahir tahun 1990-an, apalagi tahun 1998 ketika Soeharto lengser tentu belum pernah menonton film ini. Tafsir tunggal yang ditetapkan rezim Soeharto atas Gerakan 30 September 1965 untuk sementara dipinggirkan sejak reformasi. Termasuk dari pengajaran di sekolah. Kalaupun ada, guru menginformasikannya secara sekilas. Tidak menjadi sebuah kewajiban, sebagaimana wajibnya para mahasiswa menjalani Penataran Pedoman Pengamalan dan Pemghayatan Pancasila (P4) selama 100 jam saat itu.

Film ini, kalah pamor dibandingkan dengan film-film genre horor lainnya yang banyak diproduksi dan ditayangkan di televisi maupun bioskop. Produksi nasional, maupun besutan sutradara Hollywood, AS.

Ketika terjadi debat publik dalam dua pekan terakhir, yang bisa diikuti hanya dengan sentuhan jari di layar telepon seluler, semua usia bisa mengikuti. Bagi yang belum tahu, menimbulkan rasa penasaran. Minimal mereka mencari informasi dan siapa tahu ada videonya di internet. Manakala ada yang mengajak nobar, ini kesempatan baik. Apalagi ketika ada stasiun televisi yang memutarnya.

Puncak dari debat publik yang justru menjadi promosi gratis itu adalah ketika Presiden Joko “Jokowi” Widodo pun ikut nobar film Pengkhianatan G30S/PKI di Korem 061/SK Kodam III/Siliwangi di Bogor.

Bahkan yang menganggap film ini dibuat dengan sengaja melenceng dari kebenaran peristiwa itu pun tertarik menonton lagi. Mengapa? Karena dulu menontonnya setengah dipaksa, dan sekedar hadir di sekolah saat pemutaran film. Ketika diputar di TVRI setiap 30 September tak pernah benar-benar menyimak, karena saat itu tak ada debat publik tentang konten dan kebenaran film.

Belum ada media sosial yang menemani kita saat menonton film sehingga bisa menikmati sekaligus komentar yang ada. Sekarang banyak yang setelah menonton dan membaca kembali referensi pembanding bertanya: Kok yang menculik dan menembaki para jenderal Angkatan Darat, ya tentara juga? Jadi ini konflik diantara sesama tentara? Di mana posisi Presiden Soekarno sebenarnya? Dan seterusnya.

Jadi, bisa dikatakan ide yang secara resmi datang dari Panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk memutar kembali film ini, ternyata sukses, kalau ukurannya adalah perolehan TVR/Share TVOne.

Usai nobar, lewat akun Twitter-nya, Presiden Jokowi menulis satu cuitan agar peristiwa di tahun 1965 itu tidak terulang kembali.

Bagi mereka yang selama ini menganggap PKI dan paham komunis sebagai ancaman, pemutaran film ini ibarat obat rindu, kangen yang terbalaskan setelah kehilangan selama 19 tahun.

Menurut saya adalah wajar jika Jokowi yang kerap menuai tudingan bahwa keluarganya terlibat PKI, menunjukkan sikap seperti itu. Harus. Setidaknya ucapan itu dan kehadiran Jokowi nobar di markas militer ingin menunjukkan dia sepakat dengan sikap Jenderal Gatot dan militer. Ini posisi yang aman.

Secara politis juga mengirimkan sinyal positif kepada kelompok Islam yang menganggap paham komunis masih berbahaya. Militer dan Islam, dua kelompok besar yang penting bagi Presiden di Indonesia, siapapun sosoknya.

Masalahnya, bagaimana dengan berbagai kekejaman dan pelanggaran HAM yang pernah terjadi selama ini? Yang belum disentuh oleh Pemerintahan Jokowi?

Rappler

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*