HomeInspirasiTahun-tahun Gelap Sekitar G30S di Mata Anak Kolong

Tahun-tahun Gelap Sekitar G30S di Mata Anak Kolong

Membaca ‘pembantaian” tahun 1965 dari sudut pandang yang tak biasa

JAKARTA, Indonesia – “Tulisan yang menggetarkan hati, itu adalah sastra,” ujar Ahmad Tohari. Penulis, sastrawan yang kita kenal terutama lewat karyanya ‘Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu’ secara khusus datang dari Banyumas untuk membahas Buku “Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet”, karya Rusdian (Yan) Lubis.

“Sudah lama kita menunggu buku dengan genre sastra realisme seperti ini,” ujar Ahmad Tohari dalam peluncuran buku yang berlangsung Minggu, 15 Oktober 2017. Selain Tohari, ekonom HS. Dillon ikut membedah buku ini.

Menurut Tohari, yang karyanya diterjemahkan ke beberapa bahasa asing, sudut pandang yang dipilih oleh Rusdian Lubis menarik. Buku Anak Kolong menyajikan pengalaman pribadi, ditambah referensi pengetahuan sejarah, dan tulisan yang humoris, membuat buku ini layak dinikmati.

“Sebuah buku yang menggetarkan hati pembacanya, adalah sebuah karya sastra,” ujar Tohari, mengapresiasi buku perdana Rusdian Lubis ini.

Tepat waktu

Saya merampungkan membaca buku ini ketika media sosial tengah bergunjing tentang video yang menunjukkan baku-hantam antara seorang yang kemudian dikenal sebagai Bimantoro, dengan Lettu Satrio.

Dari video nampak Si Bimantoro ini percaya diri memukul sang prajurit TNI. Tak ayal, mereka sempat bertukar bogem mentah. Ketika ketahuan bahwa Bimantoro adalah keluarga TNI juga, sejumlah komentar di media sosial kira-kira bunyinya: “Pantesan berani. Keluarga TNI juga.”

Rasa percaya diri yang ditunjukkan Bimantoro (meskipun tindakannya salah), mengingatkan akan stigma yang dilekatkan ke anak kolong. Sebenarnya kepada keluarga ABRI saat itu. Siapa anak kolong? Dalam pengantar buku, penulis memberikan semacam definisi: Mereka adalah anak-anak tentara yang lahir atau tumbuh kembang di asrama, barak atau garnisun tentara.

Apakah benar anak-anak kolong nakal? Menurut penulis buku, “stigma negatif ini sulit dihilangkan. Mungkin benar, karena watak mereka sering kali terbentuk oleh kondisi sosial ekonomi yang pas-pasan, ketiadaan ayah (karena sering tugas operasi), ditambah lagi karena beban ‘stres” yang dialami ketika ayah mereka bertugas di medan perang.

Dan masih panjang lagi, sengaja saya berhenti di sini supaya pembaca tertarik untuk membaca langsung di bukunya, untuk memahami pengalaman hidup seorang anak kolong.

Rusdian Lubis, penulis buku ini menyebut dirinya seorang profesional bidang pengelolaan sumberdaya alam lingkungan hidup, lulusan Institut Pertanian Bogor, mendapatkan gelar Phd di Oregon State University, AS, post doctoral studies di Sidney University Australia, dan pernah menimba ilmu di Kennedy School of Government di Harvard University, juga di AS.

Karir profesional penulis buku ini cukup lengkap. Dari dosen, Bank Dunia, eksekutif puncak di PT Freeport Indonesia dan Bank Pembangunan Asia. Rusdian Lubis adalah anak kolong. Baca selengkapnya..

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *