HomeBukuASTRA, Perjalanan Menjadi Kebanggaan Bangsa

ASTRA, Perjalanan Menjadi Kebanggaan Bangsa

 

Ini minggunya Alibaba.  Raksasa e-commerce Tiongkok yang dirikan oleh Jack Ma itu, kembali mencetak rekor penjualan daring terbesar dalam sejarah, untuk periode 24 jam.   Pada acara belanja diskon tahunan, Singles’ Day yang digelar 11 November 2017, Alibaba mencetak penjualan senilai US$ 25 miliar.

Ketika menuliskan rekor penjualan Alibaba, saya mengenang kembali kunjungan ke kampus mereka di Hangzhou tahun lalu, dan mengingat salah satu kalimat Jack Ma, yang menjadi mantra dalam bisnis e-commerce dan menginspirasi para pendiri usaha rintisan (start-up).

Dalam memulai usaha, Jack Ma mengingatkan, “Jika ingin (usaha) tumbuh, temukan peluang yang baik.  Hari ini, jika Anda ingin membangun perusahaan yang hebat, pikirkan tentang problem sosial apa yang dapat kamu pecahkan dengan perusahaan itu.”  Jack Ma mendirikan Alibaba tahun 1999.  Mantra itu menginspirasi setelah Alibaba mencetak sukses, terutama setelah tahun 2009, dimulainya inovasi “customer experience” dengan menggelar Singles’Day di Tiongkok.

Lalu, saya membaca buku “ASTRA, on becoming Pride of the Nation”.  Membalik halaman-halaman dalam buku setebal 518 halaman ini  saya tertegun. Menyadari bahwa William Soeryadjaya, pendiri Astra, sudah melahirkan prinsip yang sama, 60 tahun lalu, saat mendirikan Astra, perusahaan yang kini memiliki 213 perusahaan anak, dengan 215 ribu karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kebesaran Astra bukan pada jumlah profit atau teknologi baru yang dihasilkan, tetapi bisnis baru dan lapangan kerja terus tercipta.” Kalimat ini kita baca dalam pengantar Bab I buku yang ditulis oleh Yakub Liman, alumnus Astra yang pernah memimpin Astra Management Development Institute.

Kalau menggunakan kalimat lebih sederhana, sukses itu adalah ketika kita bisa memberi manfaat bagi orang lain.  Menjadi solusi masalah.

Dalam konteks global saat ini, menciptakan lapangan kerja dan inovasi yang memudahkan masyarakat adalah program terpenting semua pemerintahan, termasuk Indonesia. Di sini bisa kita lihat benang merah antara filosofi yang dihantarkan Om William,  dengan Jack Ma, Richard Liu pendiri JD.com, dan seterusnya, para raksasa bisnis baru berbasis internet.

Catatan yang perlu digarisbawahi, Astra tahun ini berusia 60 tahun.  Kita belum tahu bagaimana ketahanan bisnis Jack Ma dan generasi pebisnis internet ini.

Perusahaan Blue Chip

Dalam beragam acara di dalam dan luar negeri, cukup sering saya ditanyai, “menurut Anda, perusahaan mana yang pantas dibanggakan di Indonesia?”.  Tanpa ragu sedetikpun saya selalu menjawab, “Astra.”  Padahal banyak grup perusahaan besar lainnya yang pemiliknya saya kenal, minimal pernah saya wawancarai.

Mengapa?

Pertama, ketika saya mulai bekerja sebagai wartawan di Majalah Warta Ekonomi, awal tahun 1990, sejak pekan pertama saya sudah mengenal Astra International sebagai perusahaan yang blue chip.  Ini merujuk kepada kinerja moncer saham Astra International di lantai bursa.  Astra Int mencatatkan sahamnya di Bursa Efek pada April 1990,  beberapa bulan setelah saya mulai bekerja.

Ratusan, mungkin ribuan purnama dilewati, sampai 60 tahun, status perusahaan blue chip itu tetap terjaga.  Bisa dibilang, saham Astra memberikan rasa aman bagi investornya.  Bahkan ketika Om William, demikian panggilan akrab William Soeryadjaya mengalami krisis, dan harus melepaskan kepemilikan sahamnya pada tahun 1992, Astra relatif stabil.

Keputusan Om William melepas kepemilikan di perusahaan yang dibangun dari Nol, gara-gara harus membayar kredit macet di Bank Summa, yang notabene adalah bisnis putranya, Edward Soeryadjaya, menunjukkan komitmennya mendahulukan kepentingan Astra dan semua pemangku kepentingan, dibanding kebanggaan pribadi.

Secara kinerja, Astra juga go international dengan mengekspor produk mobilnya.  Selama 30 tahun, Toyota Indonesia telah mengekspor 1,1 juta unit kendaraan, ke 80 negara. Dimulai dengan ekspor mobil Toyota Kijang Super ke Brunei tahun 1987-an.

Alasan kedua, bagi saya (dan bagi publik), Astra identik dengan perusahaan yang profesional.  Ada tujuh perusahaan di kelompok Astra yang sudah go public. Yang jelas, ketika Astra Int melantai di bursa, mereka termasuk yang pertama.

Go public artinya komitmen terhadap keterbukaan laporan keuangan.  Sesuatu hal yang biasanya lebih sulit dilakukan oleh perusahaan yang didirikan sebagai private entity, kami dulu menyebutnya dengan istilah, “perusahaan keluarga”.

Profesionalisme juga ditunjukkan dengan komitmen menempatkan orang-orang yang profesional di posisi kunci.  Astra melahirkan sosok TP Rachmat, mantan CEO-nya yang kini membangun bisnis sendiri, dan terus menjadi inspirasi bagi pebisnis di tanah air.  Seorang yang mumpuni dalam manajemen bisnis.

Top eksekutif seperti almarhum Michael D. Ruslim menjadi sosok CEO panutan dan meninggalkan warisan strategi bisnis yang masih relevan sampai kini. Begitu pula kini, Prijono Sugiharto yang memimpin Astra di era digital.

Astra juga melahirkan Rini Mariani Soemarno, seingat saya tahun 1990an itu menjadi salah satu perempuan eksekutif yang pertama di posisi puncak perusahaan besar di negeri ini. Rini menjadi direktur keuangan, lantas CEO.  Ada kesetaraan gender di sini.

Tak pelak lagi, melambungnya nama Rini di Astra mengantarkan dia ke serentetan jabatan publik, dari pimpinan Badan Penyehatan Perbankan Nasional, sampai posisi menteri di kabinet.  Sampai sekarang.

Ketiga, Astra termasuk perusahaan yang sejak awal memiliki kegiatan membina usaha mikro kecil dan menengah, sebuah kegiatan corporate social responsibility (CSR) yang sejalan dengan prinsip perusahaan yang berkelanjutan.  Karena dalam posisi sebagi Chief Financial Officer (CFO) Bu Rini tidak banyak bicara, saya justru lebih banyak mendengar cerita tentang Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) darinya.

Lalu, dalam dua tahun terakhir di Rappler, hampir setiap minggu saya menerima kiriman siaran pers kegiatan Astra di seluruh pelosok Indonesia.  Kegiatan pendidikan, kesehatan, mendukung wirausaha di daerah, lingkungan hidup dan banyak lagi.  Sibuk.

BACA:  Mensos Khofifah jadikan kampung Keputih sebagai contoh Kampung Berseri

Keempat, Astra menunjukkan sikap peduli tentang lingkungan.  Terus-terang dalam 15 tahun bekerja di televisi, itu adalah masa-masa di mana saya tak banyak berurusan atau meliput ekonomi, bisnis dan korporasi.  Buat penonton televisi, ini jenis liputan yang “garing”.  Mayoritas penonton TV dari status sosial ekonomi menengah ke bawah.  Lebih suka berita kriminalitas, tragedi, skandal dan hiburan.  Jadi, sangat jarang saya berurusan dengan Astra.  Bertemu setahun sekali, saat diundang buka puasa bersama.

Tetapi saya tahu sejak awal, Astra mendukung Eco-Park di kawasan Taman Hiburan Ancol.  Sejak anak saya masih balita, kami sering ke sana untuk menemaninya belajar naik sepeda.  Ada plang Astra di sana. Saya dan suami, bahkan pernah dengan orang tua, jalan kaki sehat mengitari taman itu, sejak pepohonan di sana baru ditanam.  Belum serindang sekarang.

Kelima, Astra menjalin hubungan baik dengan pemangku kepentingan.  Dengan investor, dalam hal kinerja.  Dengan masyarakat, lewat beragam kegiatan termasuk CSR.  Dengan pemerintah, jelas bahwa perusahaan ini menjadi barometer penting dalam perumusan kebijakan di bidang otomotif, perkebunan sawit, keuangan, dan iklim usaha.

Pimpinan Astra memiliki hubungan konsisten baik dengan semua era pemerintahan.  Yang paling unik dengan media massa.  Setiap tahun, undangan buka puasa bersama dari Astra Int adalah ajang reuni dan silaturahim wartawan dari generasi Old yang sudah pensiun tapi masih hidup, sampai wartawan pemimpin redaksi generasi Now.

Yang hadir di acara ini ratusan.  Kehadiran di acara serupa oleh korporasi atau pihak lain tak sebanyak itu.  Kalangan pemerintah, BUMN, dan swasta biasanya juga mengundang pemimpin redaksi/wartawan yang masih aktif.  Astra menjaga hubungan baik bahkan dengan yang sudah pensiun.  Buka puasa Astra menyatukan kubu wartawan PWI dan AJI.  Mereka semua hadir di sana. Ini gesture yang baik.

Dengan teman-teman pewarta foto dan kelompok media lainnya pun Astra memiliki hubungan baik.  Belum lagi pelibatan dalam acara-acara perusahaan.  Sebagai juri.  Sebagai pembicara.  Sebagai mitra.

Saya harus memberikan kredit kepada jajaran divisi humas Astra Int, mulai dari Pak Aminudin dan timnya, sampai Bang Yulian Warman dan tim.  Pak Am kini berkiprah di grup perusahaan yang didirikan oleh Pak TP Rachmat. Mereka sosok yang low profile, rendah hati, pandai silaturahim.  Enggak pernah ngecek-ngecek apakah siaran pers-nya dimuat atau tidak. Ini sikap yang baik, mementingkan hubungan jangka panjang, yang sangat bermanfaat jika suatu waktu terjadi krisis dalam perusahaan.

Saya juga memperhatikan Astra selalu berupaya mendukung kegiatan terkait dengan media dengan memasang iklan maupun mendukung kegiatan terkait pers termasuk Hari Pers.

Saya sendiri di Rappler belum pernah sih disponsori Astra (hahaha ini curcol).  Teman-teman senior pemimpin redaksi menyampaikan hal ini dalam tiga tahun terakhir di depan pimpinan Astra ketika ekonomi melemah dan iklan pun menurun.  “Jangan sampai Astra yang selama ini paling stabil iklannya, justru memotong dana iklan.”

Jawaban Pak Prijono Sugiharto diplomatis. “Kami selalu berusaha tetap mendukung teman-teman media.  Memang situasinya sulit, penghematan harus kami lakukan agar kami terhindar dari program mengurangi karyawan sebagaimana yang terjadi di perusahaan lain,” kata Pak Pri.

Dia juga menceritakan bagaimana rapat tahunan yang biasanya di hotel yang lumayan mewah, karena pantas lah untuk ukuran perusahaan blue chip, kini pindah ke hotel yang lebih murah.  Dan seluruh pimpinan tanpa kecuali menginap di hotel yang sama.  Jawaban seperti ini membungkam jajaran bos media, hehehe.  Sekelas Astra pun kena penghematan.

Minimal lima alasan itu yang membuat saya menjawab, Astra adalah perusahaan Indonesia yang bisa menjadi contoh.  Astra memiliki hal yang diimpikan semua orang semua entitas: Nama Baik.

Karena itu yang membuat perusahaan ini bisa dibanggakan.

Dalam jalur yang benar on becoming Pride of the Nation.

Riwayat Astra, Potret Indonesia

Lima alasan di atas adalah hasil observasi saya.  Pekan ini saya membaca buku ASTRA on becoming Pride of  the Nation, karena diminta berbicara dalam Bedah Buku rangkaian 60 tahun HUT Astra di Makasar, 17 November 2017.

Rupanya pengamatan saya tidak meleset.  Buku dengan 12 bab ini menceritakan detil bagaimana perjalanan Astra selama 60 tahun.  Membacanya, seperti mengikuti potret perjalanan Indonesia. Bonusnya adalah menyelami lautan dalam dan kaya yang membuat perusahaan bertahan sehat selama 60 tahun, dengan reputasi istimewa.

Nama baik melebihi apapun.  “Dengan sifat-sifat tersebut, hoki dengan sendirinya datang.  The universe conspires to help him.”  Ini kenangan seorang narasumber dalam buku ini tentang Om William, sang pendiri.

Si Om ditinggal ayah bunda-nya yang meninggal dunia saat dia berusia 12 tahun.  Sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, Om William yang lahir dengan nama Kian Liong, harus menggantikan peran orang tua baik adik-adiknya.  Tanggung jawab berat.

Om Wiliam putus sekolah pada usia 19 tahun karena alasan ekonomi dan politik.  Sejak itu, pemuda yang lahir pada 20 Desember 1922 itu mencari uang untuk hidup dan masa depan adik-adiknya.  Dia berdagang apa saja, dari kain tenun, minyak kacang hingga beras dan gula.

Riwayat hidupnya menggambarkan kerja keras dan tekad kuat,  ketajaman menangkap peluang bisnis.  Jatuh bangun, bahkan pernah masuk penjara karena difitnah.  Semangat pantang menyerah dalam membangun bisnis terus dia lakoni bahkan di usia 70 tahun.

“Bersama Kian Tie adiknya, dan seorang sahabat baiknya, Liem Peng Hong, William membeli sebuah perusahaan kecil yang beralamat di Jalan Sabang No 36, Jakarta.  Perusahaan pemegang izin ekspor-impor ini menjadi benih yang meluncurkan Astra International.  Astra diambil dari nama Dewi Astrea, dari mitologi Yunani yang terbang ke langit menjadi bintang.  Nama inilah yang didaftarkan pada 20 Februari 1957 di hadapan notaris Sie Khwan Djioe di Jakarta. Seperti namanya, Astra melesat menjadi salah satu dari perusahaan publik blue chip di negara ini,” demikian tertulis dalam Bab I.

Saya mengecek perjalanan saham Astra sebagai perusahaan blue-chip.  Paling gampang bertanya kepada praktisi keuangan.  Budi G. Sadikin, bankir senior yang pernah menjadi pimpinan di beberapa bank, memastikan bahwa kinerja saham-saham Astra masih tergolong blue chip.  “Masiiiih dong,” kata dia, Kamis pagi, 16 November 2017.

Budi kini menjabat dirut sebuah BUMN Tambang, PT Inalum.  Dia pernah menjadi dirut Bank Mandiri, sebuah bank pelat merah juga.

Triple-P (Portofolio, People and Public Contribution) road map sebagai strategi mencapai goal Astra 2020 dibahas lumayan detil dalam buku ini, yang  menggambarkan sejarah berdirinya Astra, filosofi pendiri, sampai tantangan yang dihadapi.

Penulis juga menulis cukup dalam, menggambarkan transformasi berkaitan dengan perubahan perilaku pelanggan, perkembangan teknologi, perubahan demografi serta tren pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.   Kita bisa membaca uraian tentang Triple-P yang diinisiasi Michael D. Rusli, yang diformalkan dalam President Letter tahun 2010.

Michael meyakini bahwa ukuran kesuksesan perusahaan tidak melulu dilihat dari sukses profitabilitasnya.  Baginya, laba hanya merupakan akibat dari proses usaha yang baik.  Lebih dari itu, perusahaan  sebagai bagian dari komunitas harus melakukan fungsi sosialnya.  Meskipun demikian, Michael berpendapat bahwa kontribusi sosial Astra tidak hanya berupa sumbangan, melainkan dikemas sebagai program yang berkelanjutan.

Menengok ke belakang, ke visi Om William, Triple-P adalah implementasinya.  Sejak awal pendiri Astra memberikan perhatian kepada aspek sosial.  Tahun 1974 Astra sudah mendirikan Yayasan Toyota Astra yang memberikan beasiswa pendidikan bagi pelajar dari keluarga miskin.  Om William percaya bahwa pendidikan adalah kunci penting memutus lingkaran setan kemiskinan.

Kemudian, ketika mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra tahun 1980-an, Om William melaksanakan visi bahwa selain mencetak manusia yang berkualitas lewat pendidikan, perlu dibukakan akses untuk mandiri secara ekonomi dengan mendukung UMKM, yang pada gilirannya bermanfaat saling mendukung dengan Astra.  Setelah mengakses pendidikan, orang perlu difasilitasi untuk memnerikan nilai tambah bagi bangsa. Konsep income generating activities (IGA)

Bayangkan, masyarakat yang terdidik dan membaik kemampuan ekonominya adalah potensi pelanggan bagi produk Astra, bukan?  Manfaat sosial juga menjadi pertimbangan ketika Om William memutuskan masuk ke bisnis perkebunan.  Menyejahterakan petani yang jumlahnya signifikan, adalah jalan mengangkat taraf ekonomi mereka, sehingga bisa menjadi pelanggan pula.

Michael mendapat inspirasi Triple-P dari Triple bottom line yang dikembangkan John Elkington yang mengusulkan kerangka baru untuk mengukur kinerja perusahaan di Amerika pada pertengahan 1990-an.  “Dengan pola pikir akuntansi, John menciptakan kerangka yang lantas dikenal sebagai Triple bottom line,” demikian ditulis dalam buku ini.

Konsep Triple bottom line menambahkan pengukuran faktor lingkungan dan sosial ke hal-hal yang sudah lazim, seperti laba bersih, laba atas investasi dan share holder’s value.  Dengan menggunakan pengukuran yang lebih komperehensif seperti itu, yaitu kinerja yang berdasarkan dengan profit, people dan planet, metode pelaporan ini menjadi alat penting mendukung perusahaan berkelanjutan.  Sejalan dengan tujuan global SDGs.

Contohnya?  Buku ini memberikan banyak studi kasus, pengalaman nyata dari seluruh unit usaha Astra.  Ada 36 studi kasus.  Menggambarkan inovasi, upaya bertahan di masa sulit, dan sinergi antar unit usaha untuk menghasilkan manfaat baik berupa laba maupun kontribusi kepada masyarakat.

Contoh pelaksanaan Triple-P, misalnya ketika Astra meluncurkan kendaraan hemat energi dengan harga terjangkau, atau dikenal dengan istilah low cost green car, dengan merek Astra Toyota Agya dan Astra Daihatsu Ayla.  Di sini perusahaan membangun reputasi dalam hal pro lingkungan.  Saya memiliki perhatian khusus dalam isu lingkungan, dan meskipun akhirnya batal meliput ke COP 23 di Bonn, yang berakhir 17 November 2017, setiap hari saya menulis tentang isu perubahan iklim dari pertemuan tahunan itu.

BACA:  Linimasa Konferensi Perubahan Iklim COP 23 di Bonn

Dari sisi masyarakat, keberadaan kedua kendaraan “hijau” di atas memenuhi harapan kendaraan yang relatif terjangkau harganya, dan ini penting mengingat transportasi publik di negeri ini masih buruk.  Tambahan kendaraan memang menambah kemacetan di jalanan.  Padat.  Tapi setidaknya tidak menambah emisi karbon dalam jumlah full.

Bagi karyawan Astra yang ikut memproduksi kedua kendaraan ini, ada aspek peningkatan kompetensi, pengalaman dan kepercayaan diri karena berhasil mengalahkan desainer kelas dunia.  Produk ini ramah lingkungan.

Bagaimana menghadapi dunia yang berubah?  Jejaknya dimulai dari krisis yang dialami langsung oleh Om William saat peristiwa Malari 1974.  Gejolak politik, menjadi peluang membangun loyalitas pelanggan.  Ketika muncul sentimen terhadap produk Jepang yang menjadi principal Toyota, banyak mobil dirusak.  Om William memutuskan mengganti seluruh kendaraan yang rusak.

Perubahan dari sisi teknologi seperti masuknya era digital, disikapi dengan antara lain memberikan kesempatan kepada anak-anak muda memimpin unit-unit bisnis.

Para pelanggan muda yang baru muncul sebagai kelas menengah baru memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap perusahaan.  Dalam buku ini disajikan bagaiman acara pelanggan menginginkan produk dengan teknologi tercanggih, kualitas terbaik, unik, layanan prima.  Yang terakhir tidak begitu sulit karena inilah keunggulan yang dibentuk sejak awal perusahaan berdiri.  Layanan purna jual yang prima.

Tantangannya kini adalah layanan di era digital yang harus serba cepat dan tepat agar keluhan tidak terlanjur viral.  Konsumen kini menghendaki pengalaman unik saat membeli produk.  Era kian pentingnya costumer experience.

 Operational Excellence

Teknologi informasi membuka jalan menuju cara bisnis di era 4.0.  Di bidang media, kita bisa melihat perubahan yang datang memaksa pengelola media harus berubah.  Going digital is a must.  Tapi itu tidak cukup sekedar pindah platform.  Cara pandang dan bekerja harus menyesuaikan pula.

Di era Old media, konten diproduksi berdasarkan ide dan pemikiran internal redaksi.  Di era Now, publik menjadi editor.  Kami mencermati apa yang ada, topik apa yang jadi percakapan di media sosial, dan merumuskan ide dan peliputan dari percakapan yang ada.  Memenuhi keinginan audiens.

Dalam bisnis, termasuk di Astra, pelanggan merupakan salah satu alasan utama mengejar apa yang disebut operational excellence.  Buku ini banyak membahas tentang hal itu.

Bagaimana Astra menciptakan nilai terbaik bagi pelanggan yang didefinisikan  sebagai quality, cost, delivery melalui penerapan prinsip, sistem dan tools yang tepat.  Pelanggan didefinisikan sebagai pengguna produk (end customer) dan juga penerima hasil kerja di proses internal (the next process is your costumer).

Seorang pelanggan datang ke diler membawa tabungannya yang dikumpulkan susah-payah, dan ingin membeli motor.  Sebuah proses pengalaman yang personal.  Selain menjadi alat transportasi pribadi, sepeda motor ini merepresentasikan seluruh hal-hal yang berharga yang dimilikinya dan keluarga, yang dibuku ini digambarkan sebagai: keintiman, kenyamanan, ketangguhan, kebanggaan.

Tidak ada ruang untuk kesalahan, apalagi produk cacat, yang bisa merusak reputasi dan nama baik.  Ini menjadi kredo yang dipegang teguh.  Trust tidak dibangun dalam semalam, tapi bisa luntur dalam beberapa menit.  Maka prinsip best quality-cost-delivery menjadi sasaran operational excellence.

Di buku ini kita membaca bagaimana transformasi budaya dari principal Jepang yang dikenal sebagai bangsa yang tinggi disiplinnya, diterapkan.  Istilah-istilah seperti Jidoka (sebuah mekanisme sederhana yang dibangun untuk menghentikan proses produksi secara otomatis manakala terdeteksi ketidaknormalan) sampai kaizen (perbaikan berkelanjutan) dibahas.

Saya membayangkan, betapa visionernya pendiri Astra ketika 60 tahun lalu memutuskan memanfaatkan kesempatan bermitra dengan prinsipal Jepang.  Dari Negeri Sakura pula, kita membaca sejarah merek dan perusahaan yang usianya melampaui satu abad, dan loyalitas karyawan.

Jadi, inti dari operational excellence, adalah:

  • Proses yang baik memberikan hasil baik
  • Konsep ini menghasilkan proses dengan kinerja, mutu, biaya dan waktu terbaik
  • Persistensi dan kedisplinan dalam menjalankan sistem dan menjadi kunci dalam membangun budaya keunggulan

Catur Dharma

Saya ingat saat masih kuliah di IPB.  Setiap semester, dipasang pengumuman peluang bekerja di Astra.  Berduyun-duyun  yang melamar.  Bekerja di Astra bagaikan kesempatan menimba ilmu di kampus terpercaya dalam bisnis dan manajemen.  Mendapatkan gaji adalah bonusnya.

Saya percaya situasinya masih sama, kendati banyak bisnis baru termasuk yang berbasis internet bermunculan.  Ada perasaan nyaman dan aman yang bisa dijanjikan Astra.  Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh, karena dua keponakan saya memilih bekerja di Astra.

Yang berbeda mungkin, dan ini mestinya sudah disadari Astra lewat survei millennial-nya, ini generasi yang tak betah lama di satu tempat bekerja.  Bagaimana Astra merespons situasi ini?  Itu antara lain yang ingin saya dengar langsung dari diskusi bedah buku yang menghadirkan unsur pemimpin Astra.

Di awal saya membuktikan benang merah, jalur yang tepat yang dilakukan sejumlah pebisnis zaman Now, yang sudah dilahirkan dan diterapkan oleh pebisnis zaman Old seperti Om William.  Relevan, seperti Catur Dharma yang menjadi falsafah perusahaan.

Ditularkan dari generasi ke generasi oleh pendiri dan terus disesuaikan dengan perubahan yang ada.  Butir-butir Catur Dharma itu adalah:

  • Menjadi milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara
  • Memberikan Pelayanan yang terbaik kepada pelanggan
  • Menghargai individu dan membina kerjasama
  • Senantiasa berusaha mencapai yang terbaik.

Selama 60 tahun falsafah ini jadi penjuru bersama moto “Per aspera ad Astra” yang diwariskan Om William, yang artinya cita-cita “Sejahtera Bersama Bangsa”.

Falsafah itu pula yang mendasari keputusan masuk ke lini bisnis utama, kini ada tujuh: otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan,  agribisnis, infrastruktur dan logistik , teknologi informasi, property.

Tidakkah Anda melihat alur yang sama dengan apa yang selama ini menjadi program kunci pemerintah Indonesia?

Membaca empat butir di atas, saya mengundang pembaca untuk berkomentar:  Apakah keempatnya masih relevan?

Selamat HUT ke-60 keluarga besar Astra, semoga lancar memasuki  periode 60 tahun yang kedua.

Dengan penuh keingintahuan, mari kita menyaksikan bagaimana ASTRA menjadi Pride of the Nation yang digambarkan dengan 4 hal: distinctive achievement, result that makes a difference, others try to emulate, national ambassador of products.

Makasar, 17 November 2017

Uni Lubis

 

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *