HomeBukuSejarah Waktu, Buku yang Mengorbitkan Stephen Hawking

Sejarah Waktu, Buku yang Mengorbitkan Stephen Hawking

Sumber: bigthink.com

WAFATNYA ahli fisika terkemuka, Stephen Hawking, Selasa (13/3/2018),  mengingatkan orang pada buku yang mengorbitkannya: A Brief History of Time, From Big Bang to Black Holes.

Di edisi aslinya, buku ini diterbitkan pada 1988, oleh Bantam Dell Publishing Group.  Kabarnya, buku ini terjual 10 juta kopi.

Penerbit Gramedia menerjemahkan buku itu ke Bahasa Indonesia dengan judul A Brief History of Time: Sejarah Singkat Waktu, pada Agustus 2017. Buku ini dibandrol dengan harga Rp 70.000 per buah.

Salah seorang yang terlibat dalam penulisan buku ini adalah Dr. Simon Mitton, ahli sejarah sains dari Universitas Cambridge, Inggris. Simon menuturkan, pada 1982 ia mendapat tanggung jawab untuk membantu Stephen Hawking menyiapkan buku ketiganya, ‘’Superspace and Supergravity’’. Ia mengumpulkan begitu banyak bahan, kertas seminar, serta berbagai penjelasan yang sifatnya sangat teknis.

Simon kemudian menyarankan kepada Stephen Hawking untuk mencoba sesuatu yang lebih mudah dipahami: sebuah buku mengenai alam semesta, yang cocok bagi masyarakat umum. Stephen Hawking merenungkan ide itu.

Saat itu, Stephen sudah memiliki reputasi internasional sebagai ahli fisika teori yang sangat memahami mengenai lobang hitam serta teori gravitasi.

Tapi, ia juga memiliki persoalan lain yang sangat manusiawi: keuangan. Penyakit yang menyerang otot motoriknya membuat tak satu pun perusahaan asuransi yang mau menjadikannya sebagai klien. Padahal asuransi sangat dibutuhkan, tak hanya bagi Stephen, melainkan juga untuk anak dan istrinya.

Stephen kemudian menyiapkan buku popular. Kali ini tujuannya adalah komersial. Ia lalu menyisihkan waktu untuk membuat rancangan buku.

Ketika itu sudah ada beberapa buku di pasaran yang sifatnya non-teknis, mengenai asal-usul alam semesta dan lobang hitam.

Stephen mengambil jalan berbeda.

Ia memutuskan untuk menulis kejadian alam semesta dari sudut pandang personal, dengan menjelaskan hasil risetnya di kosmologi dan teori kuantum.

Stephen beberapa kali menyatakan bahwa tema yang ia minati telah menjadi hal yang sangat teknis, dan hanya segelintir ahli yang bisa memahami.

Untuk menulis buku ‘’History of Time’’, Stephen mengawali dengan mengambil beberapa tema yang ia berikan di kursus tingkat lanjut yang ia berikan di Universitas Harvard. Tema-tema yang ia sampaikan sangat menarik: ‘’Ujung ruang waktu’’, ‘’Lobang hitam dan termodinamika’’, serta ‘’Gravitasi kuantum’’.

Dr. Simon Mitton, dalam artikelnya di laman BBC menerangkan, pada 1980-an, kantornya dan kantor Stephen terletak di halaman yang sama di Universitas Cambridge. Ia pun sering bercakap-cakap dengan ahli fisika itu mengenai rencana penerbitannya.

Suatu siang, Stephen mengundang Simon untuk mendiskusikan naskah bukunya. Simon datang. Di luar dugaan, Stephen ingin bicara lebih dahulu mengenai nilai komersial buku itu.

Katanya, untuk menulis buku ini, Stephen terpaksa meninggalkan riset untuk sementara waktu.

Padahal itulah ladang penghasilannya. Maka ia minta penerbit buku memberi uang muka. Dari setiap hasil penjualan buku, ia juga meminta royalty.

Stephen menghendaki buku karyanya dipajang di bagian utama toko buku di Amerika Serikat dan Inggris, serta setiap bandara.

Naskah awal buku Stephen dinilai oleh Simon masih terlalu teknis. Terlalu banyak persamaan matematika.

‘’Steve, setiap rumus matematika yang nongol akan mengurangi pasar separuhnya. Tolong dihilangkan,’’ katanya.

Naskah kedua hasil revisi, sudah jauh lebih mudah dipahami. Tidak lagi terlalu teknis. Semua rumus matematika sudah dihilangkan, kecuali satu: e = mc2. . Karena unsur teori sudah banyak hilang, Steve, panggilan akrab Stephen Hawking,  kemudian memilih untuk menerbitkan bukunya di penerbit umum: Bantam, bukan lagi di penerbit universitas.

Buku itu mendapat sambutan luar biasa. Selama lima tahun sejak peluncurannya, The Brief History menempati peringkat pertama buku sains paling laris di dunia.

Dampaknya bagi ilmu pengetahuan juga tak terhitung. Masyarakat jadi lebih memahami mengenai lobang hitam, kaitan antara ruang dan waktu, serta asal usul alam semesta.

By IQH

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *