HomeEkonomi/BisnisTatkala Mudik Diancam Mogok dan Merapi

Tatkala Mudik Diancam Mogok dan Merapi

Salah satu maskapai Garuda Indonesia. Sumber foto: Garuda-indonesia.com

BAGI Anda yang tahun ini berlebaran dengan pesawat Garuda terbang ke Semarang, Solo, dan Jogjakarta, ada dua ancaman yang bias mengganggu perjalanan Anda. Yang pertama adalah gangguan akibat ulah Gunung Merapi. Yang kedua, ancaman aksi mogok oleh pilot dan karyawan maskapai Garuda.

Dalam beberapa pekan terakhir ini, Merapi menggeliat lagi. Dua bandara, di Semarang dan Solo, Jumat 1 Juni 2018 kemarin ditutup selama tiga jam, jam 15.30-18.30. Penutupan itu dilakukan setelah pihak pengelola bandar udara, Angkasa Pura I, menemukan adanya unsur material gunung api di bandara.

Dalam siaran persnya, Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura I, Israwadi, menjelaskan sebanyak 15 penerbangan yang menggunakan bandara Semarang, terganggu. Untuk bandara di Solo, sebanyak 12 penerbangan yang terganggu.

Syukurlah, penutupan itu hanya berlangsung selama tiga jam. Setelah itu, bandar udara dibuka kembali. Yang mengkhawatirkan adalah bila setelah itu batuknya Merapi makin keras. Melihat erupsi yang makin sering, para ahli gunung berapi mengibaratkan Merapi seperti ibu hamil tua yang sudah mau melahirkan. Sewaktu-waktu bayinya bisa lahir.

Bila Anda ingin mengetahui status terkini Gunung Merapi, silakan klik situs web ini.

Ancaman kedua yang bisa mengganggu perjalanan Anda adalah aksi mogok pilot beserta karyawan Garuda. Bila Anda terbang menggunakan maskapai lain, Anda tetap aman. Semoga tidak ada aksi mogok, atau keterlambatan.

Ancaman mogok pilot Garuda sudah berkali-kali didengungkan. Dalam pernyataannya pada 31 Mei 2018 lalu, Ketua Asosiasi Pilot Garuda Bintang Hardono menyatakan, 1.300 pilot dan 5.000 kru Garuda akan mogok dalam waktu dekat, tapi waktunya kapan belum disebut. Bila perlu, aksi mogok itu berlangsung di saat lebaran, masa yang kita kenal sebagai puncaknya musim penerbangan.

Bila ini dilakukan, pasti hujatan dan cacian akan banyak dilontarkan oleh para penumpang yang terlantar, kepada para pilot, karyawan, dan maskapai.

Aksi mogok itu dilakukan karena Asosiasi Pilot dan serikat pekerja menilai, kondisi Garuda terus memburuk. Mereka tidak ingin Garuda gulung tikar, sebagaimana yang dialami maskapai Merpati Nusantara.

Yang membuat Garuda menderita, kata mereka, karena maskapai ini tidak dikelola oleh orang yang mengerti dunia penerbangan. Tetapi malah oleh orang perbankan.

Meski tidak menyebut nama, namun bisa diduga, yang dimaksudkan adalah Direktur Utama Garuda, Pahala N. Mansury. Sebelum menjadi direktur utama Garuda, Pahala adalah salah satu bankir Bank Mandiri.

Pahala direkrut oleh Menteri BUMN Rini Sumarno untuk menjadi direktur utama Garuda pada rapat umum pemegang saham, April 2017. Ia menggantikan Arif Wibowo. Direksi lain yang diangkat adalah Helmi Imam Satriyono (direktur keuangan dan manajemen risiko), Nicodemus P. Lampe (layanan), Puji Nur Handayani (produksi), Nina Sulistyowati (marketing dan teknologi informasi), Linggarsari Suharso (SDM dan umum), Sigit Muhartono (kargo).

Dalam pandangan Asosiasi Pilot, direksi urusan kargo serta marketing dan teknologi informasi, tidak diperlukan.

Direktur Utama Garuda, Pahala, menilai perombakan direksi merupakan kewenangan pemegang saham. Ia mempersilakan Asosiasi Pilot menyampaikan aspirasinya ke pemegang saham. Namun ia juga siap berdialog, untuk mendengar gagasan para karyawan dan pilot.

Secara umum, kinerja Garuda sebenarnya membaik. Dalam laporan kinerja kuartal pertama, Januari-Maret 2018, yang diumumkan pada awal Mei lalu, kerugian bersih mengecil. Jumlah penumpang juga meningkat. Pendapatan juga meningkat. Silakan buka link ini untuk membaca lebih jauh laporan kinerja Garuda kuartal pertama.

Semoga saja, kinerja Garuda semakin membaik, dan terbangnya semakin tinggi. Agar kinerja yang masih merah itu menjadi biru, tentu Garuda tak boleh sampai beristirahat terbang. Aksi mogok hanya akan membuat sayap Garuda makin tak berdaya.

Tetap Beroperasi Normal

Pada Sabtu malam, 2 Juni 2018, Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N. Mansury mengeluarkan siaran pers. Intinya, Garuda Indonesia memastikan layanan operasional penerbangan jelang lebaran tetap berjalan normal menyusul komitmen dari Asosiasi Pilot Garuda Indonesia (APG) dan Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) untuk tidak melaksanakan aksi mogok pada periode peak season Lebaran.

Pahala N. Mansury mengungkapkan, “Kami juga menyampaikan apresiasi terhadap APG dan Sekarga yang tetap mengedepankan kepentingan nasional dan komitmen pelayanan operasional terhadap konsumen di periode peak season ini”.

Pahala mengungkapkan, “Kami harapkan agar para pengguna jasa tetap tenang dan tidak perlu kuatir tentang rencana mogok di Garuda Indonesia. Kami pastikan layanan operasional penerbangan tetap berlangsung normal. Seluruh awak pesawat dan jajaran karyawan Garuda Indonesia juga telah turut bersiap dalam mengamankan operasional penerbangan pada periode peak season ini”, jelas Pahala.

“Kami percaya bahwa spirit kebersamaan merupakan platform penting dalam mengawal upaya keberlangsungan peningkatan kinerja perusahaan. Untuk itu, kami berharap komitmen untuk memperbaiki kinerja ini bisa terus kita upayakan bersama termasuk dengan rekan APG dan Sekarga”, papar Pahala

Sejalan dengan upaya peningkatan kinerja operasional jelang peak season Lebaran 2018, Garuda Indonesia Group menyiapkan sedikitnya 150.510 kursi penerbangan ekstra untuk mengantisipasi peningkatan trafik penumpang selama periode arus mudik dan arus balik Lebaran 2018, yang diperkirakan akan berlangsung pada tanggal 8 Juni 2018 hingga 24 Juni 2018 (H-7 s/d H+9) baik untuk rute domestik dan internasional.

Kapasitas penerbangan tambahan tersebut terdiri dari 768 frekuensi penerbangan tambahan yaitu 480 penerbangan Citilink dan 288 penerbangan Garuda Indonesia. Kapasitas tambahan tersebut meningkat sebesar 39 persen dibandingkan tahun lalu yang sebesar 107.750 kursi.

Lebih lanjut, upaya peningkatan kinerja operasional perusahaan jelang peak season juga terus menunjukan tren yang semakin menjanjikan. Secara operasional, on time performance Garuda Indonesia pada periode Jan- Mei  2018 berhasil mencapai 89%, lebih baik dibanding periode yang sama di 2017.

Bahkan baru baru ini OAG Flightview sebuah lembaga pemeringkatkan OTP independent  menempatan Garuda Indonesia sebagai salah satu dari 10 maskapai penerbangan global dengan capaian OTP terbaik di periode April 2018 dengan capaian sebesar 85.1 persen.

Peningkatan aspek kelancaran operasional terus dilakukan termasuk dengan menambah komposisi jumlah crew baik cabin maupun cockpit. Dari sisi safety, jumlah incident per 1000 departure terus menurun.

Dari sisi pelayanan pun Garuda Indonesia secara konsisten juga berhasil mempertahankan capaian status bintang 5 dari Skytrax yang diraih pada February 2018 lalu. Hal ini juga turut menjadi salah satu wujud komitmen manajemen dalam memberikan konsistensi kualitas layanan yang optimal kepada pengguna jasa.

 

Catatan: Tulisan ini pada Sabtu, 2 Juni 2018, jam 20.50, dilengkapi dengan siaran pers Garuda Indonesia.

 

 

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *