HomeKepemimpinanPak Jokowi, Pak Amien, dan Pak Prabowo

Pak Jokowi, Pak Amien, dan Pak Prabowo

 

Surat suara pemilihan presiden 2004. Prabowo dan Amien Rais turut meramaikan pemilu tahun itu.

PERTEMUAN di Mekkah, antara tiga pentolan politik, Amien Rais, Prabowo Subianto, dan Rizieq Shihab, mengundang reaksi beragam dari banyak pihak. Para pendukung Prabowo mengatakan, pertemuan itu sebagai hal yang penting, dan membuat suasana jadi adem.

Seorang pengagum Rizieq menulis di facebook-nya, kedatangan Amien dan Prabowo ke Mekkah untuk bertemu Rizieq menunjukkan bahwa si ulama memang memiliki sifat maksum – bebas dari salah. Kalau ada kasus yang membeli Rizieq, kata si pengagum ini, itu adalah rekayasa penguasa.

Sebaliknya, mereka yang berada di seberang Prabowo menilai, pertemuan itu sebagai ‘’politisasi umrah’’. Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni, menilai pertemuan itu dilihat dari berbagai indikator sebagai hal yang gagal. Prabowo dan Amien tidak berhasil membujuk Rizieq Shihab kembali ke Jakarta, untuk mempertanggungjawabkan masalah hukum yang membelitnya.

Selain itu, sepulang dari di Mekkah, komposisi presiden, wakil presiden, juga belum jelas. Oleh karena itu, Raja Juli Antoni menilai, pertemuan politik di Mekkah itu gatot – singkatan dari gagal total.

Pertemuan di Mekkah itu berlangsung dalam dua babak. Yang pertama adalah antara Rizieq, Prabowo, dan Amien, bersama dengan sejumlah orang. Setelah itu tertutup, hanya bertiga: Amien, Rizieq, dan Prabowo.

Dalam berbagai pernyataannya, Amien Rais mengatakan, Partai Amanat Nasional akan ikut koalisi yang mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Pernyataan itu antara lain ia sampaikan pada 26 April 2018, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta. Amien, pendiri PAN sekaligus ketua Dewan Kehormatan PAN mengatakan, ia lebih tahu dibanding Zulkifli Hasan, besan sekaligus ketua umum PAN. Katanya, dari keliling ke berbagai daerah, ia mendapat masukan dari rakyat untuk mendukung Prabowo sebagai calon presiden. PAN akan berkoalisi dengan Gerindra dan PKS.

‘’Sudah jelas arah PAN mau ke mana dalam rapat kerja akhir Mei nanti, yaitu mendukung Prabowo Subianto,’’ kata Amien. Hingga tulisan ini diturunkan, 5 Juni 2018, PAN belum membuat pernyataan resmi mendukung siapa yang bakal menjadi calon presidennya.

Amien dan Prabowo Subianto memang memiliki hubungan akrab. Pada pemilu presiden 2014, PAN mendukung Prabowo sebagai calon presiden, dan Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN ketika itu, sebagai calon wakil presiden. Amien Rais, ketika itu Ketua Majelis Pertimbangan, menyebutkan bahwa duet Prabowo – Hatta mengingatkannya pada pasangan pendiri bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.

Jauh sebelumnya, ketika masih era Orde Baru, tatkala Prabowo masih menjadi orang kuat di sekitar Presiden Soeharto, Amien sering berdiskusi dengan Prabowo. Menurut Prabowo, sebagaimana dikutip di detikcom, diskusi itu berlangsung tertutup, di tempat rahasia.

Di buku biografi ‘’Mohammad Amien Rais Putra Nusantara’’, terbit pada November 2003, saat-saat ketika Amien disibukkan pencalonannya sebagai presiden, Amien Rais banyak menceritakan kritikannya terhadap Presiden Soeharto.

Di halaman 74, Amien antara lain menyebut, ‘’ketika Indonesia di bawah Soeharto mencapai prestasi ekonomi dan stabilitas politik, tidak ada alasan untuk menghambat proses demokratisasi. ‘Demokrasi Pancasila’ Soeharto diterima sebagai suati sistem untuk menstabilkan bangsa yang besar dengan beragam suku ini. Namun sistem ini sekaligus juga dianggap sebagai bentuk terselubung dari sifat otoritr atas lembaga hukum dan birokrasi…’’

‘’Ditinjau dari segi usia, Soeharto sudah cukup tua. Soeharto sudah 77 tahun pada 1998. Apabila MPR tetap menghendakinya sebagai presiden, ia akan memegang posisi itu sampai berusia 82 tahun…’’

Pada 20 Maret – 22 Mei 1998 itu, tahun ketika Amien Rais gencar mengritik Soeharto, Prabowo Subianto adalah jenderal bintang tiga. Ia menjabat Panglima Kostrad. Sebelumnya, dari 1995-1998, ia adalah Komandan Jenderal Kopassus. Sebagai Komandan Jenderal, ia dinilai bertanggungjawab atas penculikan sejumlah aktivis pada 1998. Prabowo dinyatakan bersalah oleh Dewan Kehormatan Militer, dan disuruh berhenti dari ketentaraan..

Namun buku biografi Amien Rais itu tak menulis peran Prabowo. Kisah penculikan aktivis, salah satu yang mempercepat keruntuhan rezim Sooeharto, tak disinggung.

                                                         

Pertemuan Amien, Prabowo, dan Rizieq di Mekkah. Foto: tribun.

***

Pada 1998, ketika Indonesia mengalami perubahan drastis di kehidupan ekonomi dan politik, Jokowi masih berada di Solo, sebagai pengusaha mebel CV Rakabu. Ia baru terlibat di politik pada 2005, ketika ia mencalonkan diri menjadi walikota Solo. Sebagaimana kita ketahui bersama, Jokowi sukses menjadi walikota Solo, hingga masuk ke periode kedua. Ia kemudian menjadi gubernur Jakarta, hanya dua tahun. Setelah itu ia dicalonkan menjadi presiden, dan sukses. Karier yang luar biasa cepat.

Adapun Prabowo, pada 2005 itu baru saja kalah dalam penjaringan calon presiden di Partai Golongan Karya. Setahun sebelumya ia mengikuti penjaringan calon presiden dari Golkar, mendapat suara paling kecil, 39, dan langsung tereliminasi pada putaran pertama.

Amien Rais pada 2005 juga baru saja kalah dalam pemilihan presiden. Setahun sebelumnya, ia berpasangan dengan Siswono Judohusodo sebagai calon wakil presiden. Amien kalah pada putaran pertama. Yang terpilih sebagai presiden ketika itu adalah Susilo Bambang Yudoyono.

Dua pentolan politik, Amien dan Prabowo, kini bersekutu kembali untuk mengeroyok ‘’si anak bawang’’ Jokowi. Bahkan, mereka akan didukung oleh kekuatan tambahan, dari Rizieq Shihab.

Mari kita tunggu dengan seksama, jurus apa yang akan dimainkan Amien, Prabowo, dan Rizieq. Semoga bukan isu agama atau kesukuan, yang bisa memecah-belah kerukunan.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *