HomeKepemimpinanLima Tahun Setelah Edward Snowden Membocorkan Aksi Rahasia Intelijen Amerika

Lima Tahun Setelah Edward Snowden Membocorkan Aksi Rahasia Intelijen Amerika

Logo National Security Agency, lembaga yang menyadap data pemakai telepon di Amerika. Sumber foto: wikipedia.org

 

LIMA tahun lalu, pada 6 Juni 2013, sebuah berita mengejutkan terpampang di koran terkemuka, The Guardian. Judulnya: NSA merekam percakapan telepon jutaan pelanggan Verizon setiap hari. Verizon adalah salah satu operator telepon selular terkemuka di Amerika Serikat. Silakan baca berita lengkapnya di sini.

NSA adalah kependekan dari National Security Agency, Dewan Keamanan Nasional, lembaga intelijen tingkat nasional, di bawah Kementerian Pertahanan Amerika Serikat. Untuk mengumpulkan data percakapan telepon itu, NSA sudah mendapatkan izin yang diperoleh secara rahasia dari pengadilan. The Guardian, koran terkemuka yang terbit dari Mancherster, Inggris, itu sudah mengantongi kopi izinnya.

Perintah dari pengadilan itu menyebutkan, Verizon harus mengumpulkan data harian, untuk memberi informasi kepada NSA semua panggilan telepon di sistemnya, baik di dalam negeri Amerika Serikat maupun ke luar negeri.

Itulah untuk pertama kalinya terungkap bahwa Pemerintahan Barack Obama ternyata menyadap jutaan telepon warga Amerika, baik si warga itu tersangka ataupun tidak.

Di era Presiden George Bush, petugas lembaga keamanan secara terbuka menyampaikan kepada wartawan bahwa pihaknya mengumpulkan data warga, selengkap-lengkapnya. Rakyat Amerika mengira bahwa di era Presiden Barack Obama, yang dikenal lebih ramah terhadap masyarakat dan internasional, kegiatan itu tidak dilangsungkan lagi. Pemikiran ini ternyata salah.

Karena data yang dikumpulkan tidak hanya komunikasi di internal Amerika Serikat, bisa jadi surat elektronik Anda, yang disediakan oleh perusahaan asal Amerika, seperti Google, Yahoo, Apple, dibaca oleh Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat.

Media elektronik mengenai jurnalistik, Columbia Journalism Review, dalam terbitannya yang diluncurkan tanggal 6 Juni lalu menyatakan, pengumpulan data secara besar-besaran oleh NSA merupakan hal tidak biasa. Perintah pengadilan untuk mengumpulkan data biasanya spesifik menyebut nama, tujuan, dan jangka waktu.

Perintah pengadilan secara jelas juga melarang Verizon mengungkapkan kepada publik ihwal kegiatannya.

Hakim Roger Vinson memerintahkan Verizon untuk menyerahkan salinan ‘’semua panggilan telepon atau ‘telephony metadata’’ yang menggunakan Verizon, baik komunikasi di internal Amerika Serikat atau ke luar negeri, juga termasuk panggilan telepon lokal.

Kegiatan NSA memata-matai warganya itu dibocorkan oleh Edward Snowden. Snowden, pada 21 Juni lalu berusia 35 tahun, adalah ahli komputer warga Amerika. Ia pernah bekerja di lembaga telik sandi Amerika, CIA, dan bekas kontraktor pada Pemerintah Amerika Serikat. Ia, tanpa izin NSA, mengopi dan membocorkan kegiatan NSA itu pada 2013. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh lembaga telik sandi Amerika Serikat, dan sekutunya, ia umbar ke seluruh dunia.

Senggolan Snowden pernah menyengat hubungan Australia dan Indonesia, yang membuat duta besar Indonesia di Canberra, ditarik sementara waktu. Sebagaimana dimuat di The Guardian, serta lembaga pemberitaan Australia, ABC, Direktorat Sinyal Australia menyadap komunikasi telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, lingkaran dalam Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Luar Negeri, serta pejabat penting lainnya.

Edward Snowden. Foto: kaskus.co.id

 

Ulah nakal Pemerintah Australia itu dimuat di laman berita abc.net.au, dengan judul ‘Australian spied on Indonesian president, Susilo Bambang Yudhoyono, leaked Edward Snowden’’. Beritanya bisa diklik di sini. Presiden SBY murka. Dutabesar Nadjib Riphat Kesoema, ditarik pulang. Selama enam bulan ia ditarik ke Jakarta, dan baru kembali setelah Pemerintah Indonesia menilai, Australia menunjukkan sikap penyesalannya.

Kegoncangan yang ditimbulkan oleh Snowden terjadi di banyak negara. Sejumlah negara di Eropa juga marah pada Amerika Serikat, yang merasa ternyata selama ini mereka dimata-matai. Percakapan telepon antara Kanselir Jerman, Angela Merkel, dengan para pembantu utamanya, disadap oleh mata-mata NSA.

Laman CJR menulis, tindakan Edward Snowden itu turut mempengaruhi kewaspadaan orang terhadap keamanan data digital yang mereka gunakan. Inilah yang turut memicu pengungkapan skandal pencurian data pemakai Facebook oleh Cambridge Analytica. Para pengguna laman aplikasi makin sadar, mereka, mungkin juga termasuk Anda, setiap saat data digitalnya gampang disadap oleh pihak lain.

Makin muncul kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap data digital, terutama milik personal. Akhir-akhir ini mungkin Anda mendapat pemberitahuan dari penyedia jasa email maupun aplikasi, mengenai ‘’updates to our privacy setting.’’—pembaruan terhadap pengaturan kerahasiaan.

Desakan publik terhadap pengaturan kerahasiaan data sebetulnya sudah berlangsung sebelum 2013. Arusnya makin kuat semenjak terungkapnya data penyadapan oleh NSA. Bila tidak ada perubahan aturan penyetelan data personal, diperkirakan email dan aplikasi akan tetap longgar, sehingga gampang disadap pihak lain.

Sebagaimana ditulis oleh CJR, perusahaan di Amerika dan Eropa, yang juga was-was akan kerahasiaan data mereka, memiliki pengaruh penting dalam pembuatan aturan kerahasiaan data digital. Ketika mereka tengah berdebat dengan para anggota parlemen dan tim lobinya, di luar dugaan mereka dibantu oleh kekuatan asing yang datangnya tak diduga: Edward Snowden.

Edward Snowden sendiri kini tinggal di tempat yang dirahasiakan, di Moskow. Ia menjadi buruan Amerika Serikat. Pada 21 Juni 2013, Kementerian Kehakiman Amerika mengeluarkan dua dakwaan terhadap Snowden, yakni melanggar Undang-Undang Spionase 1917, serta mencuri data milik Pemerintah. Pemerintah Amerika kemudian membatalkan paspornya.

Dua hari setelah dakwaan itu dikeluarkan Pemerintah Amerika, Snowden terbang ke Bandara Sheremetyevo. Ia ditolak meninggalkan imigrasi, sehingga harus tinggal di bandara selama sebulan. Berkat campur tangan Presiden Rusia, Vladimir Putin, Snowden bisa mendapatkan status suaka selama setahun, dan diperpanjang berkali-kali, paling tidak hingga 2020.

Pada awal 2016, Edward Snowden diangkat menjadi Presiden Yayasann Kebebasan Pers (Press Freedom Foundation), sebuah organisasi yang diniatkan untuk melindungi para wartawan dari penyadapan dan pengawasan pemerintah. Sejak 2017, Snowden tinggal di sebuah tempat di Moskow, pada lokasi yang dirahasiakan.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *