HomeBukuDarah dan Air Mata di Jalur Pantura

Darah dan Air Mata di Jalur Pantura

Spanduk politik menghiasi jalan pantura.

SETIAP mudik lebaran, seperti tahun 2018 ini, jutaan orang melewati jalur pantai utara Jawa. Para pemudik ini sebagian besar meninggalkan Jakarta untuk menuju kampung halamannya: bertemu saudara, handai tolan. Yang terpenting adalah bertemu bapak dan ibu.

Tahun ini pemudik lebaran diperkirakan mencapai 22-25 juta jiwa. Jalan pantai utara saat ini relatif lebih siap ketimbang tahun lalu. Jalan tol sudah bertambah banyak, meski sebagian masih fungsional.

Mudik tahun ini dihiasi dengan perang spanduk. Para pendukung Presiden Jokowi memasang spanduk, mengingatkan para supporter calon lain untuk sadar bahwa jalan tol yang mereka lewati dibangun oleh Jokowi. Sebaliknya, pendukung calon lain mengingatkan, Jokowi tidak boleh klaim karena jalan tol ini Cikampek dibangun oleh Pak Harto, dan Cipularang diresmikan oleh Pak SBY.
Kalau ramai, maklum saja, ini kan tahun politik.

Sebagian Jalan Raya Pos di Cibabat, Cimahi, pada era kolonial. Sumber foto: Tropenmuseum.

Bila sejarah yang jadi acuan, yang paling berhak mengklaim barangkali Herman Willem Daendels. Ia gubernur Hindia Belanda pada 1808-1811, menggantikan penguasa sebelumnya, Albertus Henricus Wiese. Daendels adalah yang memulai pembangunan La Grande Route, dikenal juga sebagai De Groote Postweg, atau the Great Mail Road, atau Jalan Daendels.

Jalan Raya Pos itu panjangnya kurang lebih 1.000 kilometer, membentang dari Anyer sampak Panarukan. Pada tiap-tiap 4,5 kilometer didirikan pos sebagai tempat penghentian dan penghubung pengiriman surat.

Adanya jalan pos membuat pengiriman barang dan orang bisa berlangsung cepat. Tak hanya itu, pasukan Belanda yang bermarkas di Batavia bisa bergerak dengan cepat ke Semarang, Surabaya, dan daerah-daerah lain yang memerlukan. Di awal mula membangun Jalan Pos, tujuan Daendels memang untuk alasan pertahanan.

Untuk mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman tentara Inggris, Daendels tak hanya butuh tentara kuat. Ia juga perlu jalan yang lebar dan lurus. Daendels ketika itu membuat tempat pelatihan militer di Batavia, diperuntukkan bagi pribumi. Adapun pabrik senjata terletak di Semarang.

Rute Jalan Raya Pos HW Daendels. Sumber: Tropenmuseum

 

Untuk membangun Jalan Pos, Daendels harus berusaha keras. Pemerintah Belanda ketika itu tidak memiliki duit. Ia mendapat surat dari Pemerintah Den Haag, untuk mengirit biaya, termasuk ongkos untuk pegawai. Juga ada ancaman dari Inggris.

Herman Willem Daendels, berdasar lukisan Raden Saleh. Sumber: www.rijkmuseum.nl

 

Daendels kemudian menggunakan jalan pintas: kerja paksa. Setiap kepala daerah yang berada di wilayah kekuasaan Hindia Belanda, diwajibkan mengerahkan rakyatnya untuk membuat jalan. Mereka yang menentang harus siap digantung, ditembak, atau diseret ke penjara.

Sir William Thorn, tentara yang juga sejarawan menulis dalam bukunya ‘’Memoir of The Conquest of Java’’ –Penaklukan Jawa, bahwa pembangunan ‘’The Great Military Road’’ itu menelan 12.000 jiwa. William Thorn ketika itu seorang perwira kavaleri. Ia dipindahtugaskan dari India ke Batavia mengikuti penugasan Kerajaan Inggris. Ia tiba di pantai Cilincing, Jakarta Utara, pada 4 Agustus 1811.

Dalam memoirnya, Thorn menulis bahwa pembangunan jalan militer itu bisa berlangsung cepat karena model tangan besi yang diterapkan Daendels. Ia memasang target, dalam satu pekan, harus jadi sekian kilometer. Mereka yang gagal harus siap dihukum, bila perlu dibunuh.

Jalan Raya Pos melewati daerah dekat Bogor. Lukisan di era kolonial. Sumber: Tropenmuseum.

 

Kisah tentang kekejaman Daendels juga bisa Anda baca di buku karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer: Jalan Raya Pos Jalan Daendels. Ia menyebut, pembangunan Jalan Daendels merupakan salah satu peristiwa genosida paling mengerikan. Pramoedya menulis dengan runtut. Dimulai dari Blora, lalu ke Anyer. Dari Anyer kemudian menuju kota-kota yang dilewati, hingga titik akhir di Panarukan.

Prestasi Daendels untuk membangun Jalan Raya Pos tak bisa dipungkiri. Tapi Daendels sendiri, meski berhasil membangun jalan itu dalam waktu singkat, ia gagal membendung kedatangan tantara Inggris.

Sekarang terpulang kepada Anda bagaimana melihat Daendels dari sisi mana: dari sisi kelamnya yang penuh kekejaman, atau dari sisi keberhasilannya membangun infrastruktur.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *