HomeKepemimpinanMelihat Pengalaman Rezim Marcos, Mungkin Saja Keluarga Cendana Balik ke Panggung Politik

Melihat Pengalaman Rezim Marcos, Mungkin Saja Keluarga Cendana Balik ke Panggung Politik

Soeharto dan Berkarya. Sumber foto: berkarya.id

 

BERGABUNGNYA Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto ke Partai Berkarya merupakan salah satu cara untuk mengembalikan keluarga Soeharto ke puncak kekuasaan. Soeharto berhenti dari jabatan presiden pada 1998, menyusul pergolakan politik yang terjadi di Indonesia. Pergolakan politik itu diwarnai dengan tumbal: tewasnya mahasiswa, rakyat, munculnya penjarahan di banyak kota. Ujungnya, setelah 32 tahun menjabat. Soeharto dipaksa berhenti.

Turunnya Soeharto dari kekuasaan ikut mempengaruhi perjalanan bisnis, juga politik, keluarganya. Bersamaan dengan turunnya Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut, juga lengser dari jabatan menteri sosial. Tak lama setelah itu, Tutut kehilangan televisi yang ia bidaninya, Televisi Pendidikan Indonesia alias TPI, ke tangan pengusaha Harry Tanoesoedibjo. Pengalihan TPI dari Tutut ke Harry Tanoe hingga kini masih jadi persoalan hukum.

Bisnis Bambang Trihatmodjo juga terpengaruh. Stasiun televisi yang dibidaninya, RCTI, juga beralih ke Harry Tanoe. Tak hanya itu. Bimantara Citra, kelompok usaha yang dirintis Bambang Tri bersama konco-konco dekatnya, juga ikut diambil alih Harry Tanoe.

Perjalanan Hutomo Mandala Putra, alias Tommy Soeharto, lebih berwarna. Ia sempat masuk penjara, karena dipidana atas keterlibatannnya dalam pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita. Hutomo sempat mendekam di penjara Nusakambangan.

Upaya untuk mengusung kembali kewibawaan Soeharto ke panggung politik sudah berlangsung beberapa kali, melalui beberapa jalur. Hanya empat tahun setelah Soeharto lengser, berdiri Partai Karya Peduli Bangsa pada 2002. Pendirinya adalah Jenderal (purnawirawan) R. Hartono, Ary Mardjono, dan Namoeri Anoem.

PKPB, partai yang menjual Soeharto. Gagal di pemilu 2004.

Hartono dikenal dekat dengan keluarga Soeharto. Posisi terakhirnya di militer adalah Kepala Staf Angkatan Darat. Setelah itu, ia menjadi menteri penerangan pada 17 Maret 1997-16 Maret 1998, menggantikan Harmoko yang pindah pos sebagai Ketua DPR-MPR.

Adapun Ary Mardjono jabatan terakhirnya adalah Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Baik Ary maupun Hartono dikenal loyal kepada Soeharto. Pada Maret 1998 mereka tidak ikut mengirim surat pernyataan ke Presiden Soeharto yang isinya tidak bersedia diangkat menjadi menteri, seandainya terjadi perombakan kabinet.

Namoeri Anoem adalah pensiunan tentara. Ia lulusan Akademi Militer angkatan 1965. Ia tiga tahun lebih senior ketimbang R. Hartono.

Dalam pemilihan umum 2004, PKPB mengusung Siti Hardijanti Rukmana sebagai calon presiden. Kalimat R. Hartono yang terkenal ketika itu, ‘’Saya bersedia menjadi antek Soeharto.’’ Memori akan kebesaran Soeharto berusaha dibangkitkan kembali, dengan kalimat yang terkenal hingga kini, ‘’Enak jamanku to le?’’ dilengkapi dengan gambar Soeharto tersenyum.

Tapi, upaya PKPB menjadikan Tutut sebagai presiden gagal. Pada pemilu 2004 itu PKPB hanya berhasil memperoleh 2,11% suara, dan dua kursi di DPR. Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilu tahun itu terpilih menjadi presiden.

Partai lain yang dekat dengan keluarga Cendana adalah Partai Nasional Republik, biasa disingkat Partai Nasrep. Aslinya partai ini adalah Partai Sarikat Indonesia, berdiri pada 2002. Pada 2012, berubah nama menjadi Partai Nasrep, dengan ketua umunya Jus Usman Sumanegara .

 

Menjual kerinduan kepada Soeharto. Menonjolkan sisi yang baik-baik saja.

 

Sebagai sekretaris jenderal adalah Neneng A. Tutty. Neneng A. Tutty belakangan kita kenal sebagai Ketua Umum Partai Berkarya. Setelah partainya lolos verifikasi, Neneng menyerahkan jabatannya sebagai ketua umum ke Hutomo Mandala Putra, dalam Rapat Pimpinan Nasional ke-3, 11 Maret 2018 di Hotel Lorin, Solo, salah satu hotel milik Tommy.

Tanggal 11 Maret tampaknya sengaja dipilih bersamaan dengan ulang tahun Supersemar –Surat Perintah Sebelas Maret, yang menaikkan Soeharto ke puncak kekuasaan Indonesia.

Partai Nasrep, kini bergabung ke Berkarya.

Partai lain yang mengusung semangat Cendana adalah Partai Karya Republik, menyingkat dirinya dengan Pakar. Partai Karya Republik didirikan oleh cucu Soeharto, Ari Sigit Soeharto. Ia putera Sigit Harjojudanto, anak kedua Soeharto.

Ari Sigit juga dikenal sebagai pengusaha. Salah satu usahanya yang kontroversial adalah bisnisnya melalui kelompok Arbamass yang hendak memonopoli peredaran sarang burung walet, dan minuman beralkohol. Arbamass juga sempat melontarkan ide untuk mengoordinasi pasokan sepatu seragam bagi anak sekolah, pada 1997. Ide ini tidak terlaksana, karena Presiden Soeharto keberatan.

Partai Karya Republik juga tidak lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum, sehingga gagal ikut pemilihan umum.

Kini, harapan keluarga Cendana bertumpu pada Partai Berkarya. Kali ini, anak Soeharto, juga cucunya, kompak. Retnosari Widowati Harjojudanto, dikenal sebagai Eno Sigit, yang selama ini aktif di Partai Gerindra, kini bergabung ke Berkarya.

Ketua DPP Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang, sebagimana dikutip CNNIndonesia, mengatakan bahwa Eno Sigit pindah ke Berkarya karena ingin bergabung dengan omnya, Hutomo Mandala Putra. ‘’Ibu Eno Sigit akan menjadi pengurus DPP Partai Berkarya,’’ kata Andi.

Titik Soeharto juga bergabung ke partai besutan Tommy itu. Maka, warna Cendana kini makin jelas terlihat di Partai Berkarya. Partai ini akan mengusung Tommy sebagai calon presidennya. Bila yang jadi ukuran adalah kepiawaian Tommy mengendalikan bisnisnya, kemungkinan besar Tommy akan menuai hasil.

Saat ini, bisnis Tommy terus berkembang pesat, dengan berbagai bendera. Di sepanjang Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, ia memiliki proyek properti nilainya bertriliun-triliun. Di Kawasan Semanggi, proyek propertinya adalah Mangkuluhur City, diambil dari nama anak sulungnya, Dharma Mangkuluhur.

Sekitar 2 kilometer ke arah timur, proyek properti lain tengah dibangun, Gayanti City, diambil dari nama anak bungsunya, Gayanti Hutami. Tommy juga punya proyek properti tersebar di Jakarta, Solo, Bali, Bangka, dan banyak kota lain. Beberapa hotel dengan nama Lorin, seperti di Solo dan Sentul, adalah miliknya.

Tommy Soeharto alias Hutomo Mandala Putra. Sumber foto: berkarya.id

Tommy merupakan contoh pengusaha yang cepat menyesuaikan dirinya dengan perkembangan zaman, mengingat di masa lalu, bisnisnya lebih menyandarkan pada fasilitas yang diberikan oleh negara: mulai dari Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC), mobil Timor, hingga bisnisnya di Pertamina.

Kembalinya rezim lama ke dunia politik, bukan hal yang baru. Bila kita menengok ke negara sebelah, yakni Filipina, kita akan melihat bahwa keturunan Ferdinand Marcos kini juga sukses masuk ke dunia politik.

Pada 1986 Ferdinand Marcos tercampak dari kekuasaan, tak kuasa menghadapi kekuatan massa. Hanya dalam lima tahun, keluarga itu balik lagi ke panggung politik.

Pada 1991, Presiden Corazon Aquino, rival keluarga Marcos, mengizinkan Imelda Marcos, istri Ferdinand Marcos, balik ke Filipina dari pengasingannya di Amerika Serikat, untuk menghadapi dakwaan menerima sogokan dan kasus pajak. Prakteknya, ia juga mengonsolidasikan kekuatan politiknya.

Pada 1992, Imelda Marcos maju sebagai calon presiden. Tema kampayenya: Filipina Kembali Berjaya. Ia kalah, berada di posisi kelima. Juaranya adalah Jenderal Fidel Ramo

Bong Bong dan Imee Marcos. Mereka cepat kembali ke panggung politik. Sumber: The Japan Times.

Tiga tahun kemudian, pada 1995, Imelda Marcos berhasil menjadi senator. Ia menang mutlak di kampung halamannya, Provinsi Leyte, Filipina bagian tengah. Selama suaminya berkuasa, Imelda Marcos memberi perlakuan istimewa bagi Leyte. Kini ia menuai hasil.

Pada 1998, lagi-lagi Imelda Marcos maju ke pemilihan presiden. Tapi ia mundur sebelum saat pemilihan, setelah melihat hasil survei menempatkannya jauh di bawah kandidat lain. Namun, anaknya, Bongbong, berhasil terpilih menjadi gubernur Ilocos Norte. Sementara kakak perempuan Bongbong, Imee Marcos, terpilih menjadi senator mewakili Ilocos Norte.

Sejak itu, jalur politik terbuka lapang. Bahkan, pada 2016, Bongbong maju ke pemilihan wakil presiden. Ia kalah. Meski demikian, ia masih tetap menjadi senator. Konco keluarga Marcos, Rodrigo Duterte, terpilih menjadi Presiden Filipina.

Sah-sah saja bila kini putera-puteri Soeharto ingin tampil kembali ke panggung politik nasional. Apalagi keluarga Marcos sudah membuktikan: meski sang ayah jatuh karena aksi rakyat, dalam waktu singkat istri dan anaknya bisa kembali berkuasa.

 

 

 

 

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *