HomeLuar NegeriKlub Bola Rusia: Bertabur Uang, Mencari Bintang

Klub Bola Rusia: Bertabur Uang, Mencari Bintang

 

 

 

Suporter Rusia merayakan kemenangan timnya, setelah mengalahkan Saudi Arabia 5-0. Sumber foto: RT.com

DI antara peserta perhelatan akbar sepakbola sejagat, yang pada Kamis 14 Juni 2018 ini dimulai di Moskow, sang tuan rumah, Rusia, merupakan tim paling lemah menurut peringkat FIFA. Ia ada di posisi 70. Tim musuhnya di pertandingan pembukaan, Saudi Arabia, tiga tingkat lebih tinggi, 67.

 

Suporter tim Saudi Arabia. Sumber foto: RT.com

Saudi Arabia lebih banyak dijagokan ketimbang Rusia, di pertandingan pembukaan Piala Dunia 2018. Apalagi, perjalanan keduanya untuk mencapai babak 32 finalis jauh berbeda. Saudi Arabia harus berpeluh, berjuang keras untuk meraih tiket Rusia 2018. Sedang tim Sbornaya –julukan tim Rusia yang bermakna ‘’Tim Nasional—bisa melenggang begitu saja, otomatis dapat tiket karena status tuan rumah.

Rusia, yang diasuh mantan kipper tim nasional, Stanislav Salamovich Cherchesov, bisa menjungkirkan ramalan itu. Meski penguasaan bola Rusia hanya 38%, tetapi serangannya lebih efektif. Mereka bisa memorakporandakan pertahanan Saudi Arabia. Di menit ke-12, Saudi Arabia sudah kegolan. Menjelang babak pertama berakhir, satu gol lagi masuk ke gawang Arab.Tiga gol tambahan tercipta di babak kedua.

Stanislav Cherchesov. Sumber foto: RT.com

Cherchesov diangkat menjadi manajer timnas Rusia pada 2016. Ia diberi target cukup berat, mencapai semi final, mengingat prestasinya di Piala Dunia Sepakbola tidak istimewa. Bahkan, pada 2006 dan 2010, Rusia tidak berhasil lolos.

Pada 2014, ketika Piala Dunia digelar di Brazil, Rusia tersingkir di babak penyisihan grup. Ketika itu Rusia satu grup dengan Belgia, Aljazair, dan Korea Selatan. Rusia menempati posisi ketiga, Korea Selatan jadi juru kunci. Dua tim teratas, Belgia dan Aljazair yang lolos ke fase berikutnya.

Kali ini, sebagai tuan rumah, tentu Rusia sangat berambisi bisa melaju sejauh mungkin. Meski demikian publik juga maklum, peluang untuk menjadi juara, bila yang jadi dasar hitungan adalah peringkat di FIFA, tetapi sangat tipis. Ada Jerman, Spanyol, Brazil, Portugal, dan tim papan atas lain, yang juga ikut bermain di Rusia 2018.

Bakat Terpendam Belum Dilirik

Rusia, negeri dengan penduduk hampir 145 juta, diyakini memiliki bakat terpendam di sepakbola. Koran Inggris, The Guardian, dalam tulisannya pada 13 Juni lalu menulis, sepakbola saat ini merupakan olahraga paling popular di Rusia. Bahkan kini sudah mengalahkan hoki, yang sebelumnya paling menarik minat warga Rusia.

Kalau saat ini prestasi bola Rusia belum moncer, hal ini disebut karena pemanduan bakat tidak berjalan dengan baik. Mereka yang terbukti unggul juga tidak dipupuk dengan tepat. 

Pemain Rusia merayakan gol ke gawang Saudi Arabia. Sumber foto: RT.com

Kunci persoalan bukan pada uang. Banyak pengusaha kaya di Rusia yang menggemari bola. Roman Abramovich, misalnya, pengusaha yang dikenal dekat dengan Presiden Vladimir Putin, justru memilih berinvestasi di Inggris dengan membeli klub Chelsea. Alisher Usmanov, pengusaha baja kelahiran Rusia, kini memiliki 30% saham klub Inggris Arsenal. Konglomerat Dmitry Rybolovlev, adalah pemilik klub bola AS Monaco, Perancis.

Para pengusaha Rusia juga berinvestasi dengan membeli klub di dalam negeri. Tetapi, duit mereka tidak dibelanjakan dengan baik. Mereka ingin jalan pintas, secepat mungkin meraih juara. Akibatnya, bukan pembinaan akademi muda, serta peningkatan sarana latihan yang diperhatikan. Mereka ingin segera meraih juara dengan cara mendatangkan pemain asing. Akibatnya, duit gede malah dinikmati  pemain asing dan agennya.

Samuel Eto’o

Sebagai contoh, pada 23 Agustus 2011, klub bola Rusia, Anzhi Makhachkala, mendatangkan pemain asal Kamerun, Samuel Eto’o dari Inter Milan. Ketika itu, Eto’o dibayar €20 juga per musim –sekitar Rp 310 miliar untuk kurs sekarang, menjadikannya pemain bola termahal di planet bumi, saat itu. Gaji yang didapat Eto’o jauh di atas yang didapat pemain asli Rusia.

Situasi yang terjadi saat ini jauh berbeda dengan era 1990-an, ketika Uni Soviet terpecah belah.Ketika itu, sepakbola Rusia terseok-seok. Krisis ekonomi membuat klub bola sulit untuk hidup. Maka, para pemain berbakat berjuang keras untuk meninggalkan liga di negaranya, untuk merumput di negeri orang.

Pemain top semacam Igor Shalimov dan Igor Kolyvanov mendapat tempat di Seri A Italia. Andrei Kanchelskis terbang ke Inggris, bergabung dengan Liga Primer. Valery Karpin, Aleksandr Mostovoi dan Vikrot Onopko bergabung ke La Liga, Spanyol. Adapun Sergei Kiryakov mencari nafkah ke Bundesliga, Jerman. Ada pula yang bergabung dengan liga yang kastanya lebih rendah, seperti ke Israel.

Kepergian para pemain top ke luar negeri itu segera diisi bakat-bakat muda. Mereka tetap bahagia, karena ada peluang untuk berkembang.

Merumput di Luar Negeri

Di era tahun 2000-an, sejumlah pemain Rusia merumput di luar negeri. Anda tentu masih ingat nama-nama Andrey Arshavin, Aleksandr Kerzhakov, Roman Pavlyuchenko, dan Pavel Pogrebnyak. Di era ini, bayaran di klub papan atas Rusia, seperti Spartak Moscow dan Zenit St Petersburg, juga tinggi. Namun para pemain itu merumput di luar untuk mencari liga yang kelasnya lebih tinggi daripada di dalam negeri.

Kedatangan Samuel Eto’o, Hulk (pemain Brazil yang nama aslinya Givanildo Vieira de Sousa), turut mendongkrak penghasilan pemain lokal. Hulk dibeli Zenit Petersburg dari FC Porto, Portugal, dengan transfer €60 juta, pada 2012. Harga mahal, tapi tak sia-sia.

Hulk membawa Zenit menjuarai liga, dan berhasil menjadi pencetak gol terbanyak. Pada 2016, Hulk pindah ke klub Shanghai SIPG, di China, dengan harga €58,5 juta. Rekor transfer termahal untuk sebuah klub di Asia. 1  € saat ini sekitar Rp 16.000.

Federasi Sepakbola Rusia belajar dari pengalaman masa lalu, ketika pemain asing yang lebih banyak mendulang manfaat. Maka Federasi menerapkan aturan kuota. Jumlah pemain asing di tiap permainan dibatasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan peran pemain lokal. Aleksandr Kokorin, striker muda dari Dynamo Moscow, ikut menuai untung dari aturan itu. Demi mencegah agar Kokorin tak pindah ke luar negeri, klub membayarnya €5 juta, sekitar Rp 80 miliar, setahun.

Pesta Champagne Rp 4 miliar

Padahal, kualitas Kokorin belum teruji. Bahkan diperkirakan, untuk menggaji sepertiga dari yang dia terima dari Dynamo, tak ada satu pun klub di luar Liga Rusia yang mau. Merasa kaya raya, dan selalu terpakai, para pemain muda ini tergoda untuk menghamburkan duitnya.

Media lokal di Moskow menyoroti habis perilaku para pemain muda yang bergelimang harta, dan menghambur-hamburkan duitnya dengan seenaknya. Pada 2016, Kokorin dan temannya di tim nasional, Pavel Mamaev, berpesta champagne menghabiskan €250.000 –sekitar Rp 4 miliar di Monte Carlo.

Padahal, ketika itu tim nasional Rusia baru saja tersingkar dari Piala Eropa, Euro 2016. Dengan segera Kokorin dan Mamaev dihujat para pencinta bola. Mereka membela diri dengan mengatakan, angka yang disebut untuk membeli champagne terlalu dilebih-lebihkan.

Kokorin dan Mamaev tidak sendiri. Alan Dzagoev pernah disebut sebagai salah satu pemain berbakat di jagat, sepuluh tahun lalu. Tetapi pemain tengah itu lebih suka merumput di dalam negeri, bergabung dengan CSKA Moskow. Pilihannya kurang pas. Kemampuannya tak berkembang.

Oleg Shatov, juga lahir pada era 1990-an, juga dinilai memiliki bakat hebat. Ketika Rusia pada 2010 terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia, usia mereka di kisaran 20-an. Tapi mereka kini tak terpilih menjadi bagian tim nasional di Piala Dunia 2018.

Tidak adanya perencanaan dituding sebagai biang mandeknya perkembangan pemain muda. Ini membuat pemain veteran, Sergei Ignashevich, yang pada Piala Dunia 2018 ini berulang tahun ke-39, terus saja dimainkan. Hal ini karena klub belum menemukan orang Rusia yang bisa menjadi centre-back. Bila Ignashevich pensiun, tim nasional Rusia harus berjuang keras mencari penggantinya.

Pelatih Rusia, Stanislav Cherchesov, harus rela untuk mencari pemain pelapis yang belum berpengalaman. Sistem liga di Rusia membuat para pemain berbakat dan kuat yang bergabung dengan klub di Siberia, termonitor. Para pemain berbakat itu pada akhirnya kembali ke pekerjaan rutinnya, sebagai pekerja tambang.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *