HomeInspirasiFestival Menulis IDN Times di Masa Pandemi COVID-19

Festival Menulis IDN Times di Masa Pandemi COVID-19

Indonesia Writers Festival 2020

Passion is energy.  Feel the power that comes from focusing on what excites you.  Kalimat milik pembaca acara kondang, Oprah Winfrey ini pas untuk menggambarkan Indonesia Writers Festival 2020, #IWF2020, yang digelar secara virtual, tanggal 21-26 September 2020.   Acara tahunan yang dimulai sejak 2018 ini, dipersembahkan oleh Community Writers IDN Times, sebuah platform bagi penulis di luar tim editorial kami.  Pandemik COVID-19 membuat semua kegiatan harus dilakukan lewat teknologi komunikasi, dalam hal ini aplikasi Zoom.  Ada 14 sesi selama acara enam hari, yang melibatkan 16 pembicara.

“Saya senang, karena IWF 2020 yang digelar secara digital bisa diikuti lebih banyak  peserta, tidak terbatas kepada anggota community writers,” ujar Ernia Karina Ayu, community writers manager IDN Times, saat kami melakukan obrolan One on One (6/10/2020). Ernia adalah penanggungjawab acara ini. Bersama tim lintas rubrik, lintas departemen, mereka melakukannya dengan passionate, sepenuh hati.

Rata-rata sesi diikuti oleh 250-300 an peserta secara langsung, lewat Zoom, Instagram maupun YouTube streaming. Yang tidak bisa mengikuti langsung mengaksesnya di akun YouTube IDN Times, semua sesi ada di sana. Setiap saat.

IWF yang mengusung misi “Empowering Indonesian Through Writing” kami mulai di kawasan wisata sejuk, Ijen, Banyuwangi, September 2018.  Tahun kedua kami selenggarakan di Kampus Universitas Multimedia Nusantara, dihadiri oleh 2.000-an peserta.  Rekaman videonya pun masih bisa dinikmati di YouTube  IDN Times.

Saya belajar banyak dari materi yang disampaikan pembicara di #IWF2020.  Kecuali mantan menteri Ignasius Jonan, pembicara lain adalah para penulis, penggiat kreatif yang dikenal baik di kalangan millennial.  Tema #IWF2020 adalah “Be Creative During Pandemic”.

Tema yang disajikan tahun ini : Penulisan Biografi (Fenty Effendy), Kelas Dasar SEO (Septi Riyani), Aksara, Sketsa, Suara (Nadhifa Tsana, @RintikSendu),  Perempuan dalam Kata-Kata (Kalis Mardiasih dan Ligwina Hananto), Bedah Buku dan Kelas Fiksi (Wisnu Suryaning Aji dan Brillian Yotenega dari Storial.co), Inklusivitas dalam Sastra (Indah Darmastuti, Difalitera), Social Media Conversation to Online Articles (IDN Times, Yukepoo, Hipwee), Kearifan Lokal dalam Film (Fajar Nugros), Editor’s Talk (tim community writers editors IDN Times), It’s Ok To Watch Kdrama (Rasyid Baihaqi ‘Cine Crib”),  Be Creative During Pandemic (Ignasius Jonan), Mengulik Lirik-Lirik Musik (Nadin Amizah dan Sal Priadi), Riset dalam Penulisan Novel (Agus Noor) dan Sopan Santuy dalam Media Sosial (Ivan Lanin).

Saya menonton semua sesi. Lantas untuk mendorong semangat keep learning attitude, saya meminta semua tim IDN Times tanpa kecuali termasuk saya sebagai pemimpin redaksi, membuat laporan masing-masing tiga paragraf dari enam sesi. Mengapa saya “memaksa” mereka untuk menonton minimal enam sesi itu?  Harapan saya tentunya agar kualitas konten IDN Times makin baik.  Mengapa harus membuat laporan?  Karena dengan mencatat, membuat laporan, kita menjadi lebih ingat.  Seperti yang pernah kita alami saat sekolah dulu. Saya pun melakukannya.

Pasti ada yang misuh-misuh, keberatan dengan sikap saya.  Tapi, setiap kali memaksa tim untuk belajar hal yang baru, saya tidak pernah menyesalinya. Saat ini mereka menggerutu, semoga kelak mereka menyadari manfaatnya.  Bagi saya, belajar bisa dari mana saja, dan tidak boleh berhenti.  Harus bersyukur, bahwa sesi-sesi di IWF selalu memberikan pencerahan, wawasan baru. Menginspirasi.  Menyegarkan.

Saya teringat ratusan kegiatan pelatihan jurnalistik yang saya lakukan di seluruh Indonesia sekak 2003, saat saya bertugas di Dewan Pers.  Betapa teman-teman di daerah merindukan akses mengikuti pelatihan menulis.  Sering saya diundang oleh komunitas blogger di kota tujuan, yang mendapatkan informasi keberadaan saya di kota itu lewat media sosial.

Kali ini, di IWF 2020,  praktis teman-teman community writers editor merencanakan tema secara mandiri.  Mereka sudah terlatih dengan kegiatan tahunan ini.  Saya betul-betul tut wuri handayani.  Mengikuti dari belakang, membantu di mana perlu.  Gak banyak. Penyelenggaraan acara sederhana tapi bermakna. Tim video yang memproduksi acara juga sudah terlatih.  Begitu juga tim pengembangan khalayak (audience development). Selama pandemik kami sudah menggelar 300-an kegiatan daring secara langsung.  Tahun ini kami bekerjasama dengan sejumlah universitas yang menugasi mahasiswanya untuk mengikuti sesi-sesi yang ada.

Tentu saya berharap agar acara ini bermanfaat bagi yang mengikuti.  Juga menjadi momen pertemuan bersama bagi anggota komunitas penulis yang sudah jadi bagian dari keluarga besar IDN Times.  Kini, lebih dari 32 ribu anggota terdaftar. Sekitar 5 ribuan adalah anggota aktif yang rajin mengirimkan tulisan minimal satu kali dalam satu bulan.

Salut dan terima kasih untuk semua yang menyukseskan #IWF2020.

Cerita soal asal mula kegiatan ini bisa diikuti di Indonesia Writers Festival (http://unilubis.com/2019/09/19/dari-ijen-banyuwangi-lahir-indonesia-writers-festival-by-idn-times/)

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *