HomeBukuBenarkah Pandemi Munculkan Sifat Baik atau Buruk Manusia?

Benarkah Pandemi Munculkan Sifat Baik atau Buruk Manusia?

Pandemi COVID-19 telah membunuh demokrasi.  Ucapan ini muncul dari Dahlan Iskan.  Saya mewawancarai jurnalis senior yang kini mengelola Harian Disway itu, dalam program #OurNewsRoom edisi spesial yang disiarkan secara live lewat Instagram IDN Times (21/10/2020).

Menilik bagaimana sejumlah penguasa melakukan tindakan otoriter, ucapan Pak Dahlan benar adanya.  Fenomena ini terjadi di berbagai tempat. “Mereka yang memiliki ambisi atau kecenderungan totaliter mendapatkan tempat dalam pandemi ini,” ujar sosok yang membesarkan Harian Jawa Pos dan pernah menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu.

Menurut Dahlan, kecenderungan merebaknya sikap anti demokrasi, juga dibarengi oleh sikap warga yang cenderung tidak mau memikirkan banyak soal orang lain.  Warga sibuk dengan dirinya sendiri-sendiri, bagaimana bisa bertahan melalui pandemi yang panjang ini, bagaimana tidak kena sakit. “Orang berpikir what it means to me, tidak lagi to us,” ujar Dahlan. Di sini peluang bagi penguasa bertindak semaunya.

Para psikolog menyebutkan bahwa pandemi, sebagaimana peristiwa transformasi lainnya, memunculkan kualitas terbaik, pula sikap terburuk kita, individu manusia.  Antara baik dan buruk.  Malaikat vs Setan, Ups!

Apa buktinya sejauh ini?

Pada awalnya, terkesan pandemi COVID-19 membawa warga bersatu, bersama menghadapi bencana non alam ini.  We are in this together.  Warga yang terpaksa mengurung diri di rumah masing-masing karena pemberlakuan karantina wilayah (lockdown), digambarkan punya waktu  lebih bersama keluarga. Bonding.

Bulan Maret 2020, kita ingat dari Italia, negara yang terdampak parah, dan kewalahan tangani pandemi, mencuat aksi solidaritas. Bagaimana video dan foto viral penyanyi opera menghibur tetangganya dari balkon. Viral. Hampir setiap malam warga menyanyi dari teras apartemennya untuk menghibur dan menyatakan terima kasih kepada para dokter dan tenaga kesehatan.

Fenomena ini menulari banyak warga di kawasan Eropa untuk melakukan hal yang sama.  Jangan lupakan berbagai aksi solidaritas bersama yang dilakukan warga. Semacam sensitivitas kolektif.  Hal yang sama terjadi di Indonesia juga.  Sejumlah pihak menggalang dana, mengumpulkan penjahit untuk membuat masker dan alat pelindung diri (APD) bagi nakes dan dokter, bahkan mengirimkan makanan dan obat-obatan termasuk vitamin.

Di mana-mana, aksi kebaikan, sikap murah hati dan kepedulian kepada sesama menjadi hal yang normal.  Pada awal pandemi sikap kerjasama, ide-ide komunitas,  mau mengorbankan kepentingan pribadi dan bersedia mengurusi orang lain memuncak.

Mimpi mobilitas kelas menghilang ketika masyarakat terkunci di balik pintu rumahnya, ekonomi macet, jumlah kematian meningkat dan masa depan semua orang seolah membeku, berhenti seketika.

Sejumlah observasi memunculkan  pertanyaan apakah betul pandemi memunculkan hal terbaik dari diri manusia dan dalam konteks itu memicu upaya untuk mencari makna lebih dalam? Banyak pertanyaan yang terlintas di benak orang, “ apakah pandemik melahirkan sikap lebih baik pada individu-invidu manusia?  Memunculkan dunia yang lebih baik? Apakah akan dikuti oleh pergeseran nilai-nilai?  Apakah orang jadi lebih peduli dan mau untuk memelihara ikatan antar sesama? Dan lebih berminat untuk menjaga hubungan sosial kita?

Sederhananya: Apakah kita menjadi lebih peduli dan penyayang?

Dari sejarah kita melihat, bencana alam seperti angin topan, tsunami dan gempa bumi membuat orang menyatu, warga terdampak tinggal bersama di pengungsian. Sementara pandemi seperti COVID-19  berbeda banget, membuat kita terpisah.

Didera bencana alam mendadak, yang memakan banyak korban jiwa, masyarakat biasanya bersama-sama, saling bantu, dan ingin agar segera pulih.  Secara kontras, pandemi, biasanya berjalan lebih lama, diikuti peristiwa-peristiwa yang tak jarang memicu rasa tidak percaya (distrust) satu sama lain, yang berakar kepada takut sakit dan sekarat. Sikap “memusuhi”  warga yang terjangkit COVID-19 sempat merebak.

Kita membaca analisis banyak ahli. Secara psikologis, konsekuensi dari pandemi adalah melahirkan ketidakpastian yang dalam, yang seringkali menjadi sumber dari kecemasan.  Kita, misalnya, gak tahu apa yang akan terjadi besok? Apakah akan ada gelombang kedua pademi?  Apakah virus akan menyengat orang yang kita sayangi?  Orang dekat? Keluarga? Apakah krisis kesehatan yang memicu krisis ekonomi akan membuat kita kehilangan pekerjaan? Ketidakpastian itu membuat perasaan kita gak nyaman dan itu menganggu banget.

Pasalnya, sebagai manusia, kita selalu ingin kepastian,  selalu ingin mencari jawaban atas hal yang mengganggu pikiran kita, yang membuat kita merasa gak berfungsi secara normal.

Dalam konteks pandemi, risikonya sangat kompleks, susah untuk diperkirakan dan semua tidak paham. Sampai hari ini.  Jadi, ketika dihadapkan dengan situasi itu, orang cenderung menahan diri, berhemat, ketimbang melihat kebutuhan orang lain.  Seperti dikatakan Pak Dahlan, orang memikirkan dirinya sendiri-sendiri.

Dan ini berbeda dengan apa yang digambarkan saat pertama kali oleh media. Aksi-aksi solidaritas seketika di awal pandemi.

Ini menjadi sumber rasa malu yang mendalam, sentimen kunci yang mendorong sikap seseorang dan reaksi selama pandemi. Hal yang dibahas dalam Bab Individual Reset, dalam buku yang diterbitkan Forum Ekonomi Dunia (WEF): COVID-19, The Great Reset.

Di buku ini dibahas, rasa malu adalah emosi moral yang senada dengan perasaan buruk : sentimen tidak nyaman, campuran antara penyesalan, membenci diri sendiri dan perasaan “tidak terhormat” karena tidak melakukan hal yang “benar”.  Rasa malu dideskripsikan dan dianalisa di banyak novel dan literatur berkaitan dengan pandemi. Bentuknya bisa sangat  radikal dan buruk, seperti orang tua yang menelantarkan anaknya menjalani takdirnya.

Di permulaan The Decameron, serial novel yang menceritakan  laki-laki dan perempuan yang berlindung di sebuah vila saat Black Death mengepung Florence pada tahun 1348, sastrawan  Giovanni Boccaccio menuliskan bahwa, “para ayah dan ibu telah menelantarkan anak-anak mereka, tak terurus,tak dikunjungi, sampai menjemput  takdirnya.”

Black Death atau Wabah Hitam adalah pandemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Terjadi mulai 1346 sampai 1353.

Dalam nafas senada, banyak literatur yang mengulas pandemi, mulai dari A Journal of The Plague Year tulisan Daniel Defoe (1722) tentang wabah pes di London dan  The Betrothed  by Alessandro Manzoni, tentang wabah pes di Milan, juga memuat bagaimana sering kali ketakutan akan kematian berujung mengenyampingkan semua emosi manusia lainnya.  Dalam setiap situasi, individu dipaksa untuk mengambil keputusan soal menyelamatkan hidupnya, yang berujung kepada rasa malu karena sikap egois, peduli hanya kepada diri sendiri sebagai pilihan utama.

Syukurnya, selalu ada pengecualian, sebagaimana yang kita lihat selama pandemi COVID-19. Misalnya bagaimana para tenaga kesehatan dan dokter menunjukkan sikap dan tindakan yang penuh kepedulian dan keberanian, melewati tugasnya, sebuah pengecualian yang luar biasa.

Dalam buku The Great Influenza, The Story of The Deadliest Pandemic in History (2005),  yang membahas efek dari Spanish Flu di AS pada akhir Perang Dunia I, sejarawan John Barry mencatat bahwa tenaga kesehatan tak bisa mendapatkan cukup relawan untuk membantu.  Makin ganas virus influenza, makin sedikit orang yang jadi relawan. Takut.

Rasa malu kolektif yang terjadi barangkali menjadi salah satu alasan mengapa pengetahuan umum soal pandemi yang terjadi tahun 1918-1919 sangat sedikit, meskipun faktanya, di AS saja, pandemi influenza itu membunuh sebanyak 12 kali lebih banyak dari pada perangnya.

Para psikolog menyebutkan bahwa “cognitive closure”, atau keinginan mencari jawaban atas hal yang tidak jelas atau ambigu, sering mencari solusi yang hitam-putih dan menggampangkan – sebuah medan yang menguntungkan bagi teori konspirasi dan penyebaran rumor, fake news, ketidakbenaran dan ide-ide jahat.

Kita melihat hal itu terjadi saat pandemi COVID-19.  Warga dikepung informasi palsu, alias hoaks.

Dalam konteks ini kita berharap kepada kepemimpinan, otoritas dan kejelasan. Artinya bahwa pertanyaan soal kepada siapa kita bisa percaya (di dalam komunitas terdekat dan diantara pemimpin kita), menjadi sangat mendesak.  Penting.

Secara alamiah perasaan rentan dan rapuh meningkat, sebagaimana perasaan bergantung kepada sekitar kita, dalam keluarga inti terutama, dan komunitas. Keterikatan kepada orang dekat meningkat, dibarengi dengan rasa apresiasi terhadap mereka yang kita cintai: keluarga dan teman.  Namun, bersamaan dengan itu, ada sisi gelap yang juga mencuat, situasi pandemi juga memicu sentimen patriotik dan nationalisme, yang  sering dibarengi dengan datangnya masalah berkaitan dengan agama dan etnis.

Pada akhirnya, kombinasi sikap yang saling bertentangan ini  membawa hal buruk dari kita atau kelompok.

Orhan Pamuk, penulis asal Turki yang mendapatkan Hadiah Nobel untuk literatur pada tahun 2006, dan akan menerbitkan novel berjudul Nights of Plague di akhir tahun 2020, mencatat bahwa orang selalu merespons epidemi dengan menyebarkan rumor dan informasi palsu serta menggambarkan penyakit sebagai kiriman asing dan dibuat dengan tujuan jahat.   Menurut Pamuk, dalam tulisan berjudul, “What the Great Pandemic Novels Teach Us”, yang dimuat di koran New York Times (23/4/2020), sikap ini membawa kita untuk mencari kambing hitam, sesuatu hal yang selalu terjadi dalam sejarah pandemi.

Menurut saya, contoh kasat mata dari yang disampaikan Pamuk dalam COVID-19 adalah pernyataan-pernyataan Presiden AS Donald J Trump yang menjadikan Tiongkok sebagai sasaran kemarahan gara-gara dia gagal menangani pandemi di AS.

Hal serupa muncul dari sejumlah masyarakat di Indonesia, bisa kita lihat dari percakapan di media sosial.  Muncul sikap xenofobia, anti asing.  Sikap yang kian menguat saat ini ketika urusan vaksin menghangat.

Pamuk menuliskan, “sejarah dan literatur tentang wabah menunjukkan kepada kita bahwa intensitas dari kesengsaraan, ketakutan akan kematian, ketakutan metafisik, dan perasaan luar biasa yang dialami oleh rakyat yang tertimpa musibah juga akan menentukan kedalaman kemarahan dan ketidakpuasan politik mereka.”

COVID-19 secara jelas menunjukkan kepada kita,  bahwa kita hidup di dunia yang saling berhubungan dan kita mendapatkan manfaat dari solidaritas diantara negara-negara, juga di dalam negara.  Sepanjang periode harus di rumah saja, banyak contoh luar biasa solidaritas personal yang muncul, bersamaan dengan contoh sikap yang egois, hanya peduli diri sendiri.  Di tingkat global, dorongan untuk saling bantu menguat, bersamaan dengan dorongan “my country first”.

Apakah COVID-19 akan membuat orang menarik dirinya, lebih mementingkan diri sendiri, atau justru bakal menyuburkan rasa empati dan kolaborasi yang mengarah ke solidaritas yang lebih besar? Ini akan menentukan apakah kita bisa menangani tantangan global yang kita hadapi bersama-sama.

Saya cenderung sepakat bahwa tidak ada negara yang aman, sampai virus COVID-19 hengkang dari setiap sudut planet bumi ini.

Masalahnya, apakah sensitivitas kolektif, trust, solidaritas, empati dan kolaborasi, bisa terwujud jika kecenderungan penguasa membunuh demokrasi justru menguat?

#OurNewsroom bersama Dahlan Iskan

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *