HomeBukuJurnalisme Omongan Versus Jurnalisme Verifikasi

Jurnalisme Omongan Versus Jurnalisme Verifikasi

Buku tentang media

Catatan: Ini bagian (2)  dari serangkaian artikel soal jurnalisme verifikasi yang saya kutip seutuhnya dari buku Sembilan Elemen Jurnalisme (Bill Kovach & Tom Rosenstiel)

Teknologi jelas membantu kerja jurnalistik. Tetapi, teknologi juga menjadi penyebab melemahnya metodologi verifikasi wartawan.  “Internet dan Nexis (plus jasa yang dikembangkan selama sekitar satu dekade terakhir untuk berbagi dan menyebarkan video) memberikan wartawan akses mudah kepada berita dan kutipan tanpa mereka perlu melakukan investigasi mereka sendiri,” demikian yang didapatkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dari sebuah forum Commitee of Concerned Journalists sebagaimana ditulis dalam buku “Sembilan Elemen Jurnalisme”.

Berikut selanjutnya yang dituliskan soal tema ini.

Fakta telah menjadi komoditas, mudah diperoleh, dikemas ulang dan didaur ulang.  Di masa siklus berita 24 jam, wartawan sekarang menghabiskan waktu untuk lebih banyak mencari sesuatu untuk menambahi berita yang sedang berlangsung, biasanya interpretasi, dan bukannya mencoba secara independen mendapati dan memverifikasi fakta baru.  Begitu sebuah kisah ditetaskan, maka bergulirlah perilaku segerombolan wartawan.  Sebuah kisah ditentukan oleh sebuah medium – satu surat kabar atau laporan televisi-.  Hal ini sebagian disebabkan karena organisasi berita makin terkonsolidasi (satu berita dipakai bersama-sama.  Jurnalisme kloning. Terjadi juga di reportase elektronik.  “Kita dijejali oleh masukan yang sama,” kata Overholser, jurnalis dalam forum CCJ.

Dalam buku disebutkan soal kasus kandidat presiden AS, Al Gore, sebagai contoh bagaimana teknologi bisa melemahkan proses verifikasi.  Saat Gore berkampanye dalam pemilihan umum 2000, pers mulai fokus pada kecenderungan yang kelihatannya melebih-lebihkan pencapaiannya di masa silam.  Sebuah laporan menyebut “problem Pinokio” yang dimiliki Gore, yang lain menyebutnya seorang “pembohong,” dan ada yang menyebutnya, seorang “pengkhayal”.

Yang dianggap sebagai bukti, pernyataan yang diduga dilontarkannya, yaitu Gore yang mendapati adanya tempat pembuangan limbah beracun Love Canal di wilayah utara negara bagian New York.  Problemnya, Gore tidak pernah membuat pernyataan semacam itu.  Ia hanya mengatakan kepada serombongan siswa sekolah menengah New Hampshire, bahwa ia pertama kali belajar tentang bahaya limbah beracun ketika sekelompok pendukungnya memberi tahu tentang sebuah kota yang terpolusi di Tennesses bernama Toone, dan Gore ingin menggelar dengar pendapat tentang masalah itu.

“Saya mencari ke seluruh negeri tempat yang sama seperti itu,” katanya kepada para siswa.  “Saya lalu menemukan  tempat kecil di wilayah utara negara bagian New York yang bernama Love Canal.  Saya lalu mengadakan dengar pendapat tentang masalah ini, dan Toone, Tennessee –yang tidak kalian ketahui.  Padahal ini awal dari semuanya.

Hari berikutnya, The Washington Post, salah mengutip Gore (kandidat dari Partai Demokrat), sepenuhnya, dengan menyebutkan, “Saya yang memulai semuanya.”  Dalam sebuah rilis pers, Partai Republik mengubah kutipan itu menjadi, “Sayalah yang memulai semuanya.” New York Times mencetak salah kutip yang sama seperti halnya The Post.  Segera saja pers beranjak dan bergegas mengandalkan laporan keliru yang dipasang di basis data Nexis dua koran terkemuka itu.  Tak seorang pun yang memperhatikan bahwa The Associated Press memberitakan kutipan yang benar.  Persoalan ini belum selesai sampai siswa sekolah menengah itu sendiri mengajukan keluhan.

Saat wartawan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencari data dari internet (ketimbang verifikasi langsung), risikonya adalah mereka menjadi lebuh pasif, lebih menjadi penerima, ketimbang pengumpul (ini problem makin berat selama krisis seperti pandemik, ketika wartawan makin jarang ke lapangan, meliput, pen).

Untuk melawan ini, pemahaman yang lebih baik tentang makna asli onjektivitas dapat membantu menempatkan berita pada pijakan yang lebih kukuh. “Jurnalisme dan ilmu datang dari akar intelektual yang sama,” kata Phil Meyer, profesor jurnalisme dari Universitas North Carolina, yaitu, “dari pencerahan pada abad ke-17 dan ke-18.”.   Objektivitas metode penting, termasuk menggunakan metode ilmiah.

Dilihat dari sisi ini, sikap tidak berat sebelah (fairness) dan keseimbangan (balance) bisa punya makna baru.  Dua hal ini bukan merupakan prinsip utama jurnalisme, dan sesungguhnya lebih merupakan teknik dan alat untuk membantu wartawan dalam mengembangkan dan memverifikasi laporan mereka. Keduanya juga  bukan tujuan dari jurnalisme. Keduanya bernilai dalam membawa kita untuk lebih dekat pada verifikasi menyeluruh dan versi yang lebih bisa diandalkan dari berbagai peristiwa.

Ketidakberatsebelahan (fairness) harus dimaknai, wartawan berlaku adil terhadap fakta dan pemahaman warga atas fakta-fakta itu.

Lebih ketatnya disiplin verifikasi yang dilakukan wartawan adalah penawar terbaik bagi jurnalisme yang sedang tergilas oleh jurnalisme baru yang berupa omongan.

Berikut konsep inti yang membentuk disiplin verifikasi, yang sebenarnya sama dengan metode ilmiah dalam laporan intelektual/ilmia

  1. Jangan pernah menambahi sesuatu yang tidak ada
  2. Jangan pernah menipu audiens.
  3. Berlakulah setransparan mungkin tentang metode dan motivasi Anda
  4. Andalkan reportase Anda sendiri.
  5. Bersikaplah rendah hati

John Hersey, pemenang hadiah Pulitzer lewat tulisannya, “Hiroshima”, berupaya mengungkapkan prinsip untuk membuat jurnalisme bisa memikat tanpa menyeberangi batas antara fakta dan fiksi.  “Jangan pernah mengarang. Kredo tak tertulis jurnalis adalah, “di sini tak ada satupun yang direka-reka.”

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *