MANIS PAHIT LEBARAN 1434
Hm..hari yang panjang. Lebaran hari pertama sebetulnya tidak melelahkan. Santai saja kog. Sesudah shalat Ied Fitri di mesjid yang ada di komplek tempat tinggal kami, saya balik ke rumah. Saya janji akan membawa Nasi Kebuli dan Tengkleng Kambing ke rumah orang tua saya. Lumayan, buat menambah penuh meja hidangan yang sudah sesak dengan hasil karya Mama dan adik perempuan saya. Jadi, usai shalat saya memanaskan Tengkleng yang sudah saya masak sebelumnya, dan membuat Nasi Kebuli.
Tamu yang datang ke rumah saya hari ini adalah dua keluarga. Keluarga stafsus rumah tangga dan keluarga sopir. Keduanya tinggal di belakang rumah saya. Masing-masing membawa anak-anaknya. Jadi cukup ramai. Biasanya mereka melayani saya, pagi tadi saya melayani mereka. Menyuguhkan kue dan minuman. Mau mencuci gelas pun mereka saya larang. Kan tamuJ
Di rumah ortu ada beragam hidangan Lebaran: Opor Ayam, Sambal Goreng Ati, Sayur Godog Buncis, Ketupat, Balado Ikan Sale, Tekwan, Oseng Tempe…dan entah apa lagi. Penuh lah. Kue-kue maniiisss tersedia. Adik laki-laki datang bersama istrinya membawa kue-kue dan salad buah yang syedap. Kami ngobrol ngalor-ngidul saja. Bulan Ramadan ini lumayan sering ketemu. Papa nampak asyik menghembuskan asap rokok….bebas euy..!!! mungkin itu pikir beliau yang harus menahan hobi beratnya itu selama sebulan penuh. Alhamdulillah Papa dan Mama sehat. Begitu juga kami sekeluarga. Tak lupa suasana diramaikan dengan kucing-kucing peliharaan adik-adik saya.
Siang saya sempatkan mampir ke kantor untuk bersilaturahim dengan teman-teman yang tetap bekerja selama Lebaran. Makan kue keju yang…maniiiiisss….. (gawat, ketahuan Kak “PT” biasa diomelin). Saya sempat membaca kembali sebuah naskah program mingguan yang menurut saya perlu diperhalus bahasanya.
Sore hari saya lewatkan dengan tidur siang. Wuah, enak banget. Hujan deras pula. Tahu-tahu bangun sudah malam, jelang Isya. Waduh….perut terasa lapar karena sejak pagi justru tidak memakan nasi. Di atas meja sudah ada kiriman tetangga Betawi di belakang rumah. Jadah alias tetel…ketan putih itu lho…yang dimakan dengan jodohnya, tape ketan yang manissss dan legit. Lalu ketupat dan semur sapi ala Betawi yang lekker punya…empuk pula. Menggoda . Ini godaan tiap tahun sih, karena dapat kirimannya tiap tahun.
Baru hari pertama Lebaran saya sudah kangen dengan masakan favorit saya: oseng-oseng Pare. Saya perlu menetralisir yang manis-manis yang sudah saya cicipi seharian. Ya sudah, ke dapur masak Pare. Ibu saya membiasakan makan Pare sejak kecil. Kata Mama, Pare yang pahit rasanya itu filosofinya adalah membuat kita bisa bertahan, sepahit apapun keadaan. Hidup kan tidak selalu manis…#tsaaah..:-)
Ketika Papa didiagnosa kena diabetes beberapa tahun lalu, saya riset beragam jenis masakan, dan menemukan bahwa kandungan dalam buah Pare bagus untuk mengontrol gula darah. Maka, bagi saya makan Pare itu punya filosofi tambahan:
“ Karena yang pahit itu sesungguhnya bisa menyehatkan.”
#dobeltsaaaahh:p
Maaf Lahir Batin….
8 Agustus 2013
No Comment