HomeUncategorizedMEDIA SOSIAL MENJAUHKAN HUBUNGAN SOSIAL?

MEDIA SOSIAL MENJAUHKAN HUBUNGAN SOSIAL?

Rabu siang (9/11), saya menghadiri working lunch di sebuah restoran di Hotel Mulia, atas undangan Dubes Australia di Indonesia, Greg Moriarty.  Acara itu diselenggarakan untuk menyambut kunjungandelegasi Komisi I, parlemen negeri Kanguru itu. Komisi itu membawahkan soal luar negeri, pertahanan, perdagangan dan HAM.  Ketua delegasi adalah Michael Danby, MP dari Melbourne Post Victoria, yang juga ketua komisi itu.

Beragam social media. Mana yang Anda follow?

Istilah working lunch adalah bisik-bisik antara saya dan Bu Clara Joewono, direktur CSIS. Kami sering bersama-sama dalam undangan kedubes asing.  Disebut working, karena selama makan, yang biasanya dengan meja bulat atau persegi  dan set menu, kita kudu siap menjawab pertanyaan tuan rumah dan tamunya.  Istilah gak ada makan siang gratis itu bener banget.
MP Danby duduk di ?kepala meja? sebelah kanan saya.  Di seberang saya adalah Prof. Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan. Dubes Moriarty duduk di sebelah Pak Juwono. Samping kiri saya adalah Laurie Ferguson, anggota parlemen yang mengurusi soal HAM.  Danby berusia 56 tahun.

Ferguson lebih tua.  Ngobrol dengan keduanya menarik.  Topik obrolan beragam, dari soal Papua, HAM, Arab Springs, Islam di Indonesia sampai kue khas Australia. Tapi agak lama kami ngobrol soal perkembangan IT, pasar alat komunikasi dan media sosial di Indonesia.  ?Amazing!?, kata Dubes Moriarty.

Pembicaraan soal maraknya media sosial dan penggunaannya di kalangan politisi mengalir.  Dubes Moriarty menjelaskan betapa media sosial berperan besar dalam memberikan informasi kepada masyarakat di Indonesia, termasuk dalam kasus bentrok di Ambon.  Dalam nuansa positif tentunya.

Pak Danby bilang, ?”Duh, saya nggak punya Twitter, Facebook. Buat apa?  Cukup email saja.?”  Ucapannya diamini  Prof. Juwono dan MP Ferguson.  ?Saya cukup email dan sms,? kata Pak Juwono yang super kalem. Weh, sebagai pekerja media lama, sekaligus penggiat media baru, saya sibuk menjelaskan manfaat media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk penyebaran informasi dan menjalin komunikasi.

Lha iyalah, kalau enggak, ngapain politisi di Indonesia rame-rame buka akun FB dan Twitter? Tidak Cuma itu, bahkan Presiden AS Barack Obama sudah mengadakan Town Hall Meeting via FB, kemudian Twitter.

Kegiatan pelatihan oleh akademi berbagi, bagi para tunanetra.

?Saya pernah baca, media sosial menjauhkan hubungan personal ya.  Pada anak-anak dan remaja, mereka jadi suka menyendiri, tidak bersosialisasi,? kata Pak Danby.  Tetapi kan sejak jaman FB marak, acara reunian jadi giat dilakukan? Itu argumentasi saya.  Belum lagi adanya ?tweet-up meeting? gara-gara kenalan di Twitter dan merasa punya ide yang bisa dikerjakan bersama.  Kopi darat juga jalan tuh. Dari yang kecil sampai massal.

Sejak membuka akun Twitter pada 25 Oktober 2009, saya punya banyak teman baru dan kami sering bertemu, bahkan momong anak bersama.  Nah!  Kumpulan #lovecabe, misalnya, terbentuk gara-gara Twitter. Ada juga yang sama-sama peduli gemari buah lokal #GemBuL, setiap Jumat pagi kami mengicaukan soal ini. Dan saya yakin ratusan, ribuan kumpulan lainnya juga terbentuk.

Tidak cuma kumpul-kumpul haha-hehe, tapi belajar bersama seperti @akademiberbagi, dan membuka bisnis bersama seperti @nulisbuku, @startuplokal dan lainnya. Belum lagi kicauan-kicauan inspiratif yang memberikan semangat kepada sesama pengguna Twitter, dan gerakan sosial lainnya. Sesuatu banget lah.

Menurut saya sih, sebelum media sosial marak, kecenderungan menyendiri pada anak-remaja sudah ada, karena mereka lebih suka bergelut dengan mainan teknologi.  Mulai dari PS sampai Wii. Jadi bukan karena media sosial dong *ngeyel mode-on* 😉
Dua sisi media sosial.

Tapi saya mengakui, setiap hal punya dua sisi: baik dan buruk.  Media sosial berperan positif dalam sebuah revolusi baik politik maupun sosial, itu faktanya banyak.  Berperan buruk pun banyak. Di media sosial banyak pemalsuan identitas dan perang informasi.  Bagaimana memilahnya, memilih yang benar, itu tantangan tersendiri.  Tapi bukan mediumnya yang salah, melainkan penggunanya. IMO.

Dan, betul juga sih, ada juga teman yang sebelumnya cukup akrab, jadi jauh gara-gara berbeda pendapat dalam diskusi di Twitter.  Biasanya karena berbeda pendapat dalam sebuah gerakan.  Harusnya sih enggak begitu ya?
Orang-orang seperti Pak Danby, Pak Juwono dan Pak Ferguson, cukup banyak.  Mereka masih alergi dengan media sosial.  Karena dianggap bisa mengalihka konsentrasi kerja. Padahal di era 24 hour news cycle, seorang dalam posisi pejabat publik perlu mengetahui apa yang terjadi dan segera meresponnya.

Saya mengakui, Twitter itu cukup mengganggu kekhusyukan membaca buku, bahkan menonton pertandingan sepakbola klub favorit.  Alih-alih konsentrasi pada pertandingan, malah sibuk live-tweet.  Walhasil, beberapa kali saya melakukan kesalahan informasi yang saya sampaikan via akun menyangkut data pemain.  Malu deh.  Buru-buru minta maaf;-).

Kalau mau membaca buku, saya harus menjauhkan telpon seluler saya beberapa jam agar bisa konsentrasi menyelesaikan bacaan. Bagi saya, selain untuk berkomunikasi, Twitter dan FB sudah menjadi alat bekerja.  Saya memonitor aspirasi publik via media sosial.  Termasuk jika ada koreksi atas hasil kerja kami di redaksi ANTV.  Info Breaking News.

Saya juga mendorong teman-teman liputan News ANTV untuk bersikap transparan dan membagi cerita di balik layar peliputan mereka kepada khalayak. Sudah tak terhitung banyaknya liputan yang inspirasinya saya dapatkan dari Twitter.  Saya percaya ?The Power of Social Media for Journalism?.  Ketikkan kalimat itu di mesin pencari data, Anda bisa dapatkan banyak informasi dan pengalaman soal itu.

Tulisan Ayu Noor dari @saling-silang berikut ini:http://salingsilang.com/baca/10-hal-yang-bisa-dilakukan-jurnalis-di-media-sosial, dari Diskusi soal Social Media Facts and Numbers yang digelar Dewan Pers, LIRNEAsia sebuah lembaga riset ICT berpusat di Colombo, Srilanka, dan InMark Digital, konsultan pemasaran digital,

Dari acara makan siang itu saya meluncur ke Rakornas Menkominfo yang digelar di Hotel Ciputra, Jakarta Barat. Saya ditugasi mewakili Ketua Umum ATVSI (Asosiasi Televisi Swasta Indonesia), untuk berbicara soal Peran dan Strategi Asosiasi Penyedia Siaran Televisi dalam Memperkuat Karakter Bangsa. Berat euy, topiknya.

Yang ingin saya sampaikan di tulisan ini adalah, diskusi menurunnya sikap sosial yang saya diskusikan di acara makan siang di atas,  ternyata dibahas oleh  Pak Ashwin Sasongko, Direktur Jendral Aplikasi Informatika, Kemenkominfo. Pak Dirjen menyampaikan presentasi berjudul: Strategi Membangun Konten Teknologi Informasi Dalam Memperkuat Karakter Bangsa.  Ketika membahas soal Tantangan dan Permasalahan, Pak Ashwin merumuskannya sebagai berikut:

1.      Terbatasnya aplikasi dan konten publik dan e-gov
2.      Rendahnya E-Literacy
3.      Tingginya cybercrime
4.      Tingginya pembajakan perangkat lunak
5.      Banyaknya layanan konten dan website yang tidak sesuai ketentuan
6.      Tumbuhnya karakter Netizen: rasa ingin tahu, Over Informasi (terutama dari luar negeri), Semua gratis, Turunnya sikap sosial, dll

Nah! Pembahasannya?  Mirip-mirip lah dengan yang kami bahas di makan siang  ;-).

Apa pendapat Anda, twemans?

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Previous post
Menjadi delegasi RI ke ASEM-Interfaith Dialogue ke-7 di Manila
Next post
Jelang 3rd Bali Media Forum

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *