HomeUncategorizedDI BALIK @PASAR-POLITIK

DI BALIK @PASAR-POLITIK

Hari ke-3 Ramadan 2013

 

                Matahari belum muncul sempurna ketika saya sampai di Pasar Modern Bumi Serpong Damai, Tangerang, Kamis, 11 Juli 2013.  Saya berangkat dari rumah di kawasan Kalimalang, perbatasan Jakarta-Bekasi, sesaat setelah menunaikan salat Subuh.  Jalanan via tol masih lancar jaya.  Jam menunjukkan angka 05.25 WIB ketika saya tiba di lokasi. Pedagang sayur dan daging tengah membenahi dagangannya.  Puluhan kios masih tutup.  Pembeli masih bisa dihitung dengan jari.   PasMod BSD, begitu sebutannya, mencuri perhatikan publik karena menjadi contoh bahwa “pasar basah” atau pasar tradisional bisa dikelola dengan cara modern, dalam arti bersih dan nyaman.  Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini: http://ekbis.sindonews.com/read/2013/04/05/34/734958/pasar-modern-bsd-jadi-acuan-revitalisasi.

                Yang nampak beda, pagi ini saya bersama 25-an kru produksi dan news ANTV.  Para pedagang sempat bingung melihat pagi-pagi kog sudah bersliweran orang-orang berseragam hitam, seragam kerja ANTV.  Empat mobil operasional membawa beragam alat produksi termasuk belasan gulung kabel dan empat kamera, lengkap dengan perangkat master control alias studio mini.  Pagi itu kami akan merekam acara bincang-bincang spesial, @PASAR_POLITIK.  Narasumbernya adalah Pak Jusuf Kalla, yang bertindak sebagai tokoh nasional, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, dan politisi yang juga Wakil Sekjen Partai Golkar, Nurul Arifin. 

Sebenarnya kami mengundang juga Nurhayati Asegaff, Ketua Fraksi Partai Demokrat.  Pukul  5 pagi itu ia mengirimkan pesan pendek.   Mendadak berhalangan hadir karena semalaman anaknya yang terkecil sakit, sehingga harus dibawa ke dokter.  Duh!  Pemberitahuan mendadak, padahal kami merencanakan rekaman Pk 07.30 wib, tentu sulit mencari gantinya.  Saya berupaya mengontak Hayono Isman, Saan Mustopa dan Ferial Sofyan, ketiganya kader Partai Demokrat, agar bisa menggantikan Nurhayati Assegaf.  Mereka sudah punya kegiatan pagi itu.  Saya putuskan, rekaman tetap dilakukan, tetapi agar berimbang tim liputan TOPIK ANTV akan mewawancarai kader PD secara khusus, untuk disisipkan dalam proses pasca produksi.

Tema @PASAR_POLITIK pagi ini adalah “Ekonomi dan Politik Di Bulan Ramadan”.  Acara dipandu Melisa Gandasari, salah satu wartawan dan presenter berita ANTV.  Ini pengalaman pertama bagi Melisa memandu acara bincang-bincang.  Selalu ada yang pertama, bukan?  J

Narasumber yang kami kontak bertanya, “kog namanya @PASAR_POLITIK?”

Tiga pekan lalu saya membaca naskah seorang reporter peserta  Profesional Learning Program (PLP), program magang kerja selama enam bulan di ANTV.  Soal ini saya ceritakan dalam kesempatan berikut.  Naskah itu menceritakan seorang menteri sidak ke Pasar Tebet untuk mengecek harga kebutuhan sehari-hari.  Si menteri hanya 10 menit di pasar itu, melihat sejenak lalu mejeng di depan kamera,  membuat pernyataan bagi wartawan peliput yang diundang kantornya. Sepuluh menit???!!! What??!!!

 

 Membaca laporan itu saya kian gemas.  Belakangan para pejabat dan politisi memang seliweran di  media dengan pose bersama pedagang.  Foto-foto juga di-upload di akun jejaring sosial mereka.  Kayaknya kalau sudah ke pasar jadi dekat dengan rakyat gitu???

Siang harinya setelah saya  membaca laporan itu saya mengikuti Rapat Komite Program di ANTV .  Hari itu bahasannya kesiapan program Ramadan.  Di tengah rapat saya memonitor percakapan di jejaring sosial Twitter.  Lagi-lagi, berita soal pejabat yang “blusukan” di pasar.  Berita pejabat dan politisi ujug-ujug berpihak ke pasar tradisional dan membawa kru media berkunjung dari pasar ke pasar menjadi menu harian di media kita dalam setahun terakhir.  Semangat pencitraan agar dinilai merakyat sangat kental.  Pasar jadi tempat favorit politisi.  

Nah, saya pikir mendingan dijadikan program saja.  Sebuah acara bincang-bincang yang membahas tema apa saja yang aktual, tapi dilakukan di tengah pasar.  Riil.  Audiennya para pedagang dan pembeli, mayoritas perempuan. Pas dengan audien yang dituju ANTV. Ide awalnya, “Pasar Politik, Politik Pasar”, dengan tagline: “karena blusukan adalah koentji…eh, kunci”….heurey yaaach J.  Kata Eko, manajer TOPIK,  biar singkat diganti @PASAR_POLITIK.

Tidak mudah meyakinkan rapat agar ide acara bincang-bincang ini diterima.  Maklum, kami punya sister company yang notabene televisi berita.  Di sanalah etalase beragam format program berita, termasuk bincang-bincang ditayangkan.  Dengan pertimbangan kemasan yang berbeda dan lebih “hidup” ketimbang acara yang direkam di studio atau menyewa ruangan di hotel, ide ini diterima.  Go!

Saya meminta Manajer Produksi Berita Eko Ardiyanto dan Manajer Program Current Affairs Angghi Muliya Ma’mur untuk menindaklanjuti  ide ini.  Yang krusial adalah ijin lokasi dan narasumber yang kompeten.  Sejak awal saya terpikir melakukannya di PasMod BSD.  Ini yang pernah saya pikirkan pertengahan 2009, saat musim kampanye Pemilihan Presiden.  Ketika itu saya ditantang pimpinan untuk membuat acara dialog atau debat Capres yang berbeda.  Televisi lain melakukannya di ballroom hotel atau “nebeng” memproduksi dan menyiarkan debat yang diadakan Komisi Pemilihan Umum ataupun organisasi, misalnya KADIN. 

Saya ingin ANTV punya kemasan yang beda, sesuai target audien.  “Saya mau buat talkshow Capres di Pasar,” itu jawaban saya pada pimpinan.  Doi sempat kaget.  Di Pasar??   Komplikasi pelaksanaan di lapangan sempat membuat pimpinan ragu. Apa mungkin? Bagaimana soal keamanan?  Kan ada ratusan, ribuan orang?  Apa Capres yang juga petahana (incumbent) seperti Pak SBY mau hadir? Bu Megawati? Pak JK? Cawapres Pak Wiranto? Pak Prabowo? Pak Budiono?  Biayanya pasti mahal…dst..dstnya. Sejurus kemudian dia senyum, dan mendukung.

Dua lokasi yang terpikir oleh saya saat itu,yakni Pasmod BSD dan Pasar Grosir Blok A Tanah Abang.  Saya punya kontak pengelola Pasar Grosir Blok A Tanah Abang, maka mereka saya kontak lebih dulu.  Alhamdulilah mereka menyambut baik, dan bahkan membantu sepenuhnya kegiatan yang bagi mereka adalah promosi bagi pasar grosir itu.  Iya, sih , siapa yang tidak ingin tempat yang dikelolanya didatangi tokoh nasional termasuk Presiden?;-).  Singkat kata, soal lokasi tidak ada masalah.  Tinggal meyakinkan para Capres, termasuk Pak SBY. 

Alhamdulillah juga, ketiga Capres, yakni Pak SBY, Bu Mega dan Pak JK bersedia hadir.Malah bersemangat. Dua cawapres saya panggungkan bersama, yakni Pak Wiranto dan Pak Prabowo.  Pak Budiono tidak hadir.  Singkat kata, empat episode “Capres Turun Ke Pasar 2009” sukses digelar di Pasar Grosir Tanah Abang, disaksikan ribuan pedagang dan pengunjung di delapan lantai yang ada di sana.  Pengelola memasang puluhan CCTV agar pedagang dan pengunjung bisa mengikuti acara tanpa meninggalkan kegiatannya.  Pedagang dan pengunjung juga bisa langsung bertanya ke Capres dan Cawapres.  Suasananya seru dan cair.

Cerita soal program ini bisa dibaca di sini: http://log.viva.co.id/news/read/66154-antv_raih_rekor_muri_capres_turun_ke_jalan,  dan http://cangkang.vivanews.com/ramadan/news/read/65631-sby_dikerubuti_pedagang_dan_pengunjung_pasar

                Kembali ke @PASAR-POLITIK, pagi tadi alhamdulillah rekaman berjalan lancar.  Thanks to narasumber, kru dan pengelola Pasmod BSD.  Pedagang dan pembeli antusias nonton di lokasi.  Walhasil, kami tak perlu menyewa PSK (penonton studio komersil) yang biasanya diundang memeriahkan acara di TV;-).  Acara ditayangkan malam ini juga.  Masih banyak perbaikan yang harus dilakukan.  Moga-moga dikasi slot lagi.  Punch-line Pak
JK di acara ini, “ Bahaya kalau politik bersatu dg pasar, bisa menjadi perdagangan politik.” #JLEB.  Dah kejadian kan Pak…

                Kemasan beda memang tantangan bagi program TV.  Saat Pilkada DKI digelar tahun lalu, teman-teman di news ANTV punya ide menarik, debat Cagub di dalam Bis Trans Jakarta yang melaju dari Stasiun Dukuh Atas menuju Stasiun Pasar Minggu.  Seru juga!;-)

Yang jelas syuting di pasar ada manfaatnya juga buat saya, bisa sekalian belanja.  Pagi tadi saya belanja keperluan seminggu ke depan termasuk beli pete;-).  Baru ketemu pete setelah lama menghilang akibat pohonnya tak berbuah. Sempat heboh di pemberitaan, dan jadi alasan menteri untuk sidak #halah! :p   Selembar pete harganya Rp 4.000, tiga kali lipat dibanding kondisi dua bulan lalu.  Nggak apa-apa deh, yang penting makan pete.   Saya beli 5 papan. Sampai di rumah, ada Ibu saya tengah menemani anak saya, Darrel.  Melihat pete, mama langsung bilang, “ini buat mama ya, adikmu kan senang sambal pete.” Waks! #end

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *